Sembunyi

Sembunyi
Rumor


__ADS_3

Layaknya musim semi , peperangan dingin yang sengit itu mulai menghangat . Tak ada lagi tatapan sinis diantara mereka . Dassa dan Cahaya .


Semua tampak lebih indah seperti bunga yang sedang bermekaran . Sempurna .


Entah kenapa , akhir-akhir ini Cahaya lebih suka tersenyum sendiri . Jangankan melihat Dassa , memikirkan namanya saja sudah seperti orang kesetanan .


Jelas saja ini bukan efek dari penyakit sialannya , Panic Attack . Ini justru lebih berbahaya , jatuh cinta .


Hahhhh , akhirnya ia terpilih menjadi orang-orang yang beruntung untuk mengecap manisnya cinta .


Tapi , apakah ini masih terlalu dini ? ia masih duduk di kelas 6 SD , tepatnya 1 bulan yang lalu ia menjejakkan bayangannya di kelas itu . Kelas dengan KASTA tertinggi di sekolah . Yapp , Cahaya adalah senior sekarang , bukankah itu sangat baik untuk ' karir pertarungannya ' saat ini .


Masa bodo , yang jelas ia tampak sangat berbahagia sekarang .


Seolah sudah merubah lautan buih menjadi padang ilalang .


Hari-hari nya yang berat seolah terangkat jika ia berhadapan dengan kata 'SEKOLAH' . Ia lebih semangat bangun pagi .


Seperti pagi ini , Cahaya datang seperti biasa , lebih pagi dari beberapa siswa yang lalu . Hanya untuk menunggu si pencuri perhatiannya beberapa bulan belakangan .


Ketika sampai di muka pintu kelas .


" BOO ! selamat pagi . " Suara itu nyaring mengisi kekosongan di kelas .


Matanya membesar , ia terkejut , tubuhnya sedikit menegang , napasnya sedikit tercekat . Namun , beberapa saat kemudian Cahaya sudah bisa mengendalikan emosinya lagi .


" Kau ! kenapa kau datang pagi sekali ? " Tanyanya sambil mengintip sedikit kedalam kelas .


" Oh , aku semalam tak bisa tidur . Kau tau , saham perusahaan keluarga ayahku sedikit menurun akhir-akhir ini jadi dirumahku agak sedikit gaduh ." jelas nya .


" Apakah itu baik-baik saja ? " Cahaya basa-basi bertanya namun matanya tak lepas mencari sosok lain .


" Nevermind . Terima kasih sudah mengkhawatirkanku . Ini hanya untuk beberapa minggu . Aku yakin ayahku pasti bisa mengatasinya , kami tidak akan bangkrut , aku berani jamin itu . " Hanni berbicara dengan sedikit sombong . Mengangkat dagu dan tersenyum miring .


" Apa yang sedang kau cari ? " Sambungnya ketika ia merasa Cahaya tak menggubris pembicaraannya . Ya , Cahaya memang secuek itu , tapi ini sedikit lain .


" Hmm ... Apa ? " akhirnya Cahaya menghentikan pencariannya . Sosok yang ia cari sedang tak berada di kelas itu .


" Kau dari tadi mengintip kelas tak ada habisnya . Siapa atau apa yang kau cari ? " Hanni menyipitkan mata tajamnya itu .


" Oh itu . Apakah ada orang lain yang berada dikelas selain dirimu ? "


Hanni menengok kebelakang , tak ada siapapun sedari ia masuk kelas tadi .


" Nope . Mungkin aku terlalu pagi . dan , Heiii ini baru jam 05.56 pagi dan kau sudah ada di kelas ." Hanni bersorak tak karuan ketika melihat jam tangan berlogo centang itu di tangannya . Ia baru menyadari KEGANJILAN ini .

__ADS_1


Ini sungguh ajaib , ini sangat diluar dugaan . Cahaya adalah salah satu spesies mahluk hidup yang memegang teguh motto '1 menit sebelum terjadi ' , dan apa ini ?


Bahkan sekolah masuk jam 8 pagi . Ya tuhan !


" Apa kau adalah calon sekretaris dimasa depanku ? kenapa kau sangat ingin tau jadwal kehidupan pribadiku ? " Elaknya sambil masuk dan menabrak sedikit bahu temannya itu .


Hanni menoleh dengan mulut yang sedikit menganggap tidak percaya .


" Kau sedang mengejekku ? bahkan ayahku belum bangkrut dan kau sudah berani mengejekku ? " Sambil mengejar Cahaya yang sudah duduk di singgasananya .


" Apa harus aku pertegas company siapa yang lebih mendominasi di beberapa belahan dunia ? aku rasa kau akan sedikit malu jika aku beberkan , bukan ? Jadi terima saja . "


" Heiii , bahkan dengan temanmu saja kau bisa berbicara setajam itu . Wajar saja tidak ada yang mau berteman denganmu ."


" Apa aku perlu mereka ? " Cahaya memang pintar membalikkan keadaan . Wajar saja ia adalah calon penerus ayahnya .


" Ya , kau tidak perlu mereka karena kau bukan manusia tapi kau adalah beruang . "


" kenapa harus beruang ? " Hanni benar-benar tak jelas .


" Karena hampir separuh hidupnya di gunakan untuk ber-hibernasi . " Hanni berbicara tak kalah sengit dari sahabatnya itu .


Cahaya tertawa renyah mendengar pernyataan konyol dari bocah berkepang dua itu lalu dengan bangga ia menggeser nyesek kan jempol dan telunjuknya


" Iya aku ini memang , BER-UANG . "


" Yes , i am sist . " Jawabnya ringan sambil sedikit memukul-mukul dadanya .


...***...


" Apa kau tau rumor baru pagi ini ? "


" Apa ? "


Cihhh , wanita dan segala rasa ingin taunya . Cahaya benar-benar benci itu . Bisa-bisanya mereka membicarakan orang lain tanpa rasa bersalah . Mereka bahkan bergosip di loker . Wajar saja mereka semakin ganas menggosip , kan baru selesai makan siang .


Sebenarnya tak ada niatan dirinya untuk menguping tapi sepertinya ini sangat mengganggu . Jadi ia ikuti saja alurnya .


" kau tau Dassa , kan ? "


DEG...DEG...DEG....


Ada apa ini ? wanita centil itu hanya menyebut namanya , tapi respons tubuhnya sangat berlebihan .


" Rumornya , pagi ini ada salah satu anak melihatnya sedang duduk di depan rumah penjaga sekolah . "

__ADS_1


Cahaya semakin gemetaran . Entah apa yang terjadi . Oksigen serasa di hirup tanpa sisa . Ia berusaha berpikir jernih .


Bahkan Cahaya masih pura-pura tak mendengar dan membersihkan beberapa barang yang sebenarnya tak perlu di bersihkan di loker miliknya .


" Sepertinya , ia sedang berkencan dengan anak penjaga sekolah , Nana . "


Salah satu anak menutup mulut dan memberikan ekspresi yang sangat terkejut , mungkin .


" Aku tau ini sangat mengejutkan , tapi kau tau itulah yang terjadi . "


" Kau gila . Jangan sembarangan menyebar rumor . Kita masih kecil , kita seharus belajar bukan malah berkencan . "


" Aku tidak gila , mereka yang gi-" Ucapan wanita itu terpotong ketika


Duarrrrrrrr


Cahaya langsung menutup loker-nya dengan tenaga dalam yang ia miliki . Lorong pun seketika hening tak bersisa . Tak terkecuali kedua anak wanita yang tadi sedang bergosip di samping .


Wajah itu Cahaya buat sedatar mungkin lalu menoleh kearah kedua bocah itu .


" Apa kalian disekolahkan untuk menjadi penyebar rumor profesional, huh ? "


Mereka terdiam , bahkan wajah mereka pun pucat pasi .


" Berhenti membuatku marah dan pergi dari hadapanku . "


" Aku ... aku ingin tau hal apa yang membuat... membuatmu marah . Rumor itu atau jam istirahatmu ? "


Wanita berkuncir satu itu menaikan salah satu alisnya . Menangkupkan kedua tangannya di dada lalu sedikit menyandarkan tubuhnya di loker yang ia tutup tadi .


" Apa kau bisa memberikan 1/4 dari saham ayahmu di SYSTEM.NZ jika aku memberi tahukan hal yang kau tanyakan tadi , hmm ? "


Tanpa pertimbangan salah satu anak yang bertanya tadi langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat .


" Heii pelan-pelan , kau bisa mematahkannya . Kalau kau mau , aku bersedia melepaskannya untukmu . " Cahaya menunjuk lehernya sendiri .


" Jika kau tak sanggup maka jangan pernah berpikir untuk bisa bernegosiasi denganku lagi. " Lanjutnya sambil menatap kedua anak perempuan itu .


Yang satu menunduk dan sedikit bergetar di daerah bahunya , ahh.. mungkin saja dia adalah salah satu tipikal anak manja yang cengeng . Memuakkan .


Dan yang satu lagi . Lupakan . Anak itu pengecut . Tidak berani mengambil keputusan dalam masa kritisnya .


Benar saja , sepanjang perjalanan di lorong atau dimanapun Dassa menjadi ' tranding topic ' disekolah . Bak kertas yang tersiram bensin , api dengan bahagia melahapnya .


Kemudian

__ADS_1


Cahaya dihadang oleh beberapa orang , wanita manis itu sedikit menghembuskan napas kasarnya dan terdiam beberapa saat .


...***...


__ADS_2