Sembunyi

Sembunyi
Perkara Puisi dan Warna


__ADS_3

" Sama seperti biasa , Pagi akan datang jika malam telah berlalu , dan senja akan pulang jika malam segera berlabuh .


Namun berbeda dengan selasa terakhir di bulan Desember tahun ini , cuaca mendung , dari pagi hingga menjingga . Bahkan mentari pun tak kuasa untuk menikamkan sinarnya untuk bumi . "


" Ewww , Drama sekali ." Cahaya memicingkan mata . Menatap jijik kata demi kata yang telah Tonny ukir untuknya .


Cahaya beranjak dari kasur empuk itu dan segera turun kebawah mencari biang keladi tulisan itu .


Ruang Gym , dapur khusus staff dan garasi sudah ia datangi tapi Tonny tidak ada disana . Frustasi , akhirnya ia memilih duduk di ruang santai dan memakan sedikit camilan yang selalu tersedia di atas meja . Ruangan bernuansa emas itu sangat sepi meskipun banyak maid dan pengawal lalu lawang disana .


" Anda mencari saya , nona ? "


Suara itu tepat di belakang kursi yang sedang ia duduki saat ini . Cahaya yang tadi akan memasukkan keripik kentang rasa rasa original itu ke dalam mulut , terpaksa berhenti .


Tanpa menoleh kebelakang Cahaya menaruh keripik itu dan berkata dengan sedikit sewot .


" Aku sudah lelah berkeliling mencarimu kesana dan kemari , tapi kau tak ada . Dan ketika aku sudah bosan mencarimu kau malah datang seperti tidak ada dosa . "


Tonny hanya terdiam . Masih menunggu nona mudanya untuk mengeluarkan semua keluhannya . Cahaya menoleh kebelakang , dengan posisi masih sedikit duduk .


" Dari mana saja kau ? " Tanyanya dengan dagu yang sedikit mendongak .


" Aku libur hari ini , nona . "


Cahaya mengerutkan kening nya tanda ia sedang kebingungan " Lalu kenapa kau disini sekarang ? "


" semua staff yang nona datangi ' BERLOMBA-LOMBA ' meneleponku , nona ."


Yaaa , benar . Para staff seperti kesetanan ketika menelponnya . Dari ponsel khusus kantor , telpon rumah dan bahkan mereka menelpon melalui ponsel pribadinya . Kacau .


Sepertinya Tonny tak ada waktu privasi sekarang .


" Mereka tak mengatakan bahwa kau sedang libur , wajar saja aku mencarimu kesana kemari ."


'BAJ*NGAN ! MEREKA TAU , NONA !' Tonny berteriak di dalam hati . Sepertinya ia harus menghabisi nyawa staff itu satu per satu .


" Lalu ada hal penting apa kau mencariku , nona ? "


Seperti teringat sesuatu , Cahaya pergi dengan sedikit berlalu , menaiki tangga marmer berwarna putih susu itu " Oh , tunggu disini , aku akan kembali . "


Tonny memijat sedikit kepalanya . Memang akan merepotkan jika berurusan dengan anak kecil .


" Dimana , Senja ? " Suara Malikka terdengar mendekat lalu matanya beredar kesana kemari mencari putri kesayangannya . Dress biru bermandikan gliter putih sangat kontras dengan tubuh putihnya .


" Nona sedang naik ke atas , nyonya . Dia menyuruhku untuk menunggu , sebentar lagi dia akan kembali. " Sahut Tonny dengan suara tenang lalu mempersilahkan Malikka untuk duduk .


Malikka tersenyum manis lalu duduk . Menunggu putri kecilnya .


Hening , tak ada percakapan diantara mereka .


" Dia , masih disana ? " Lagi suara Malika memecah kesunyian di ruangan besar ini . Suaranya agak sedikit bergetar .


Dengan berat hati , Tonny sedikit mengangguk pasrah . Sejujurnya ia tak tega , bagaimanapun wanita di hadapannya ini jauh lebih cantik jika di bandingkan dengan Elisabeth Petrov , wanita simpanan yang di cintai suaminya .


Senyum teduh itu kembali menghiasi wajah cantiknya . Wanita itu tampak kesakitan .


" Apa dia sudah makan ? " kali ini Malikka hanya bergumam sendiri dan Tonny berinisiatif untuk pura-pura tidak mendengar .


Perlahan-lahan suara langkah kaki Cahaya yang menuruni tangga terdengar dan terhenti ketika melihat ibunya sedang duduk di kursi minimalis itu .

__ADS_1


" Kenapa ibu disini ? aku kira ibu sedang menanam bunga . " Cahaya menunjuk halaman belakang melalui jendela besar di samping kirinya .


" Ibu baru saja selesai . Kau mau belanja ? "


Wajah cahaya bersinar , bagaimanapun Cahaya masih anak-anak dan jika di hubungkan dengan berbelanja maka yang pertama kali ia fikirkan adalah semua hal yang berwarna pink akan ia masukkan di keranjang .


" Baiklah jika ibu memaksa ."


Malikka mengerutkan kening lantas tertawa renyah mendengar opini tak masuk akal dari anak perempuannya itu


" Memaksa ? ibu bahkan baru mengatakannya 1 kali ."


" Coba katakan sekali lagi tentang ajakan darimu barusan. "


" Ayo berbelanja . " Ucap ibunya lebih antusias .


" Ibu sudah 2 kali mengajakku , apakah itu bukan termasuk tindakan pemaksaan ? "


Mata bulat indah beriris hitam itu sedikit mengedip beberapa kali . Astaga ia di permainkan ." Tidak mungkin , bocah ."


" Kenapa tidak mungkin ? bagaimana jika kita bertanya pada Tonny ." keempat mata itu langsung menuju pada Tonny .


Tonny tak merespon . Sudahlah , ia masih cukup kesal siang ini .


" Astaga , aku lupa jika tonny adalah manekin , bu " ucapnya sedikit berbisik namun masih bisa Tonny dengar .


Kemudian mereka tertawa sekali lagi . Ketika ibunya sudah menyentuh tangan Cahaya , anak kecil itu menarik lembut tangan ibunya .


" Sebelum itu aku ada urusan sedikit dengan Tonny , bagaimana jika ibu bersiap terlebih dahulu . " Cahaya tersenyum dengan sedikit memelas .


" Kau akan lama ? "


Bukannya tersindir , Malikka malah tersenyum malu pada anak manis itu .


" Baiklah ibu akan keatas , jika kau sudah selesai tunggu ibu di mobil . " Malikka mulai berjalan untuk pergi ke kamar utama miliknya-dan suami yang tak pernah pulang .


" Mobil yang mana ? warna apa ? " Tanya Cahaya . Ibunya seorang kolektor . Apa saja akan dikoleksi . Entah itu mobil , tas , baju , dan mata uang dunia . Bahkan ibunya punya 2 ruang garasi pribadi untuk mobilnya sendiri .


Malikka yang sudah sedikit jauh pun menoleh , dan sedikit berfikir . Tangannya pengetuk-ngetuk pegangan tangga .


" Ah ibu lupa , warna mobil harus sesuai dengan warna baju bukan ? "


" Astaga ! " Tonny bahkan sampai keceplosan . Apakah hal seperti ini akan kembali di perdebatkan ?


" Baiklah bagaimana jika warna hijau ? "


" Apa tidak terlihat seperti mobil dinas kebersihan ? "


" Merah ? "


" Pemadam kebakaran ? "


" biru ? "


" Hei Tayo Hei Tayo ."


Malikka menghembuskan nafasnya pelan . Susah jika sudah dihadapkan dengan pengikut aliran " HARUS SERASI " seperti ia dan Cahaya .


" Baiklah keputusan ada di tanganmu . "

__ADS_1


" kalau begitu kita gunakan mobil berwarna hijau ."


Bahkan Tonny hampir tersedak oleh nafas yang sedang ia hirup saat ini . Lantas apa yang mereka ributkan jika pada akhirnya mobil yang pertama yang akan mereka gunakan .


" Tapi kau bilang seperti dinas kebersihan ." tanya Malikka keheranan .


" Orang kaya suka yang mencolok , ibu ."


Malikka dan Cahaya kembali tertawa sejenak , lalu ibunya melanjutkan untuk pergi ke kamarnya .


Setelah ibunya menghilang di tangga yang berbentuk melingkar itu , air muka Cahaya kembali datar . Lalu kembali memusatkan segala perhatiannya pada Tonny .


" Baiklah , aku ingin bertanya padamu ."


Tonny masih diam .


" Apa maksud dari tulisanmu ini ? " Cahaya sedikit menggeprak meja untuk menaruh kertas itu . Lalu melipat kedua tangannya di dada .


Tonny diam namun ia sedang membaca tulisan yang Cahaya berikan . God ! ini adalah tulisan yang dia buat beberapa hari yang lalu .


" Kau menyukaiku ? "


Mata Tonny membesar , Demi tuhan apa yang sedang wanita gila ini fikirkan . Dengan cepat ia menyangkal tuduhan 'gila' seperti itu .


" Tidak mungkin-"


" Terimakasih sudah merespon . " Cahaya memotong pembicaraan


" Aku belum selesai menjelaskan . " Tonny tampak sedikit frustasi sekarang .


"Maka lanjutkan ."


" Apa anda lupa jika ini tugas bahasa sastra mu ? "


Tubuh Cahaya sedikit membeku . Sialan . Seperti nya ia terlupa sesuatu .


" Kenapa kau yang mengerjakan ? " tanyanya , tentu saja dengan suara angkuh selangit .


" Karena kau yang memaksaku , nona


" Good , bahkan Tonny berbicara sedikit menggeram sekarang .


" Ah pantas saja bahasanya sangat menggelikan , rupanya kau terpaksa ."


" Bukan sepert- "


" Lupakan , kau sudah selesai ." Cahaya kembali memotong pembicaraan .


" Jadi maksud anda-"


" Ya , aku mencarimu untuk sebuah klarifikasi ini ." Kembali memotong pembicaraan . Cahaya ingin cepat pergi dari sini . Ia memerah . Bagaimana mungkin ia menuduh sopir pribadi menyukai dirinya .


" Bahkan disaat waktu libur ku ,nona ? " Ya ampun suara Tonny sedikit menyedihkan sekarang . Pasti ini sangat berat untuknya . Hahaha .


" Aku sudah katakan kalau aku tak tau jika kau sedang libur . " Cahaya mengelak sedemikian rupa . Akhirnya Tonny hanya bisa mengalah , berbalik akan pergi dan sedikit mengumpat .


" astaga ! $?%+%+($#($+$+%!$!##+"


" aku mendengarnya , Tonny . "

__ADS_1


...***...


__ADS_2