
"Hufttt....Kenapa pagi terlalu cepat datang ya tuhan ?! " Cahaya mendesah kasar Ketika hendak memasuki kelas , bayang-bayang tentang kehadiran Dassa kemarin kembali bermain di benaknya . Ia masih tidak percaya bahwa lelaki sok itu kembali . Apa alasannya pergi jika akhirnya dia kembali lagi ?
Akhirnya ? Ah , bisa saja ini baru awal perjalanan .
Ya , sesuai kesepakatan dengan wanita berponi itu kemarin . Dia harus membiarkan Dassa untuk menjelaskan semua , agar masalah diantara mereka segera mereda .
Cahaya menyentuh gagang pintu , tapi masih belum mau mendorongnya . Dirinya masih belum siap jika Dassa sudah ada didalam .
" Cahaya , tunggu !! " Suara Hanni menggelegar di lorong sekolah yang masih sepi . Ini masih jam 7 pagi . Bahkan staff kebersihan sekolah masih tampak lalu-lalang disekitaran kelas .
Cahaya tak menjawab , tapi wanita itu memberhentikan gerak tubuhnya . Menunggu wanita itu datang menghampiri . Hanni sedikit beda hari ini . Ia tak mengkuncir 2 rambutnya seperti waktu di SD . Penampilannya sedikit stylish sekarang .
" Kenapa pagi sekali datangnya ? " Hanni masih ngos-ngosan saat bertanya . Ia menyempatkan diri untuk berjongkok sebentar . Mengambil napas dan kembali berdiri.
" Aku tau , kau masih berusaha untuk menghindar dari Dassa , kan ? Ya , kan ?! " Cahaya menggeleng dengan tidak bersemangat . Dia yang mengajukan pertanyaan - dan dia juga yang menjawab . Sehebat itu beban hidup seorang Hanni Westlly .
" Aku bertanya padamu . " Hanni mulai mengoceh lagi seperti beo.
" Sudahlah , kau memang wajib untuk dihiraukan . "
Mereka berhenti berdebat dan masuk kekelas . Kelas masih sepi . Belum ada yang datang ternyata . Mereka menghembuskan napas lega lalu berjalan ke kursi , namun baru tiga langkah ...
Brakk !
Suara pintu di belakang mereka tertutup dengan sangat kuat , ralat - dibanting dengan kuat . Wajar jika kedua sejoli itu langsung menjerit dan menoleh kebelakang . Bajingan ! Oh , astaga . Cahaya sampai terjatuh di lantai karena terkejutnya .
Dassa pelakunya .
Lelaki itu berdiri dengan kepala sedikit tertutup topi hoodie berwarna hijau tua , jangan lupakan pose sok cool yang lelaki itu lakukan . Kedua tangan yang dimasukan di kantong hoodie , lalu tatapan mata yang intens , senyuman yang terlihst seperti smirk - Ah , belum lagi salah satu kaki yang tertekuk menempel di dinding . Sempurna .
" Aku kira siapa , ternyata tukang ghosting . " Hanni berbicara sambil menatap Cahaya yang sedang terduduk di lantai . Yang ditatap juga mengangguk-angguk ria . Mereka kembali untuk berjalan ketempat duduk masing-masing .
Dassa tercengang . Apa , tukang ghosting katanya !!
" Aku sudah menunggu kalian hampir 20 menit hanya untuk masuk kesini dengan semua drama yang sudah terjadi didepan . Dan aku mendengarnya ! Dan apa ini ? kalian menganggap seperti angin lalu ?! " Lelaki itu masih berada di tempat , tepatnya di belakang pintu saat ia bersembunyi tadi .
__ADS_1
Bukan sahutan , Dassa hanya mendapat tatapan datar dari kedua wanita yang sudah duduk di bangku itu .
" Come on , girls . Kakiku sampai keram terlalu lama menunggu kalian ." Adu lelaki itu , tapi anehnya - Dassa masih setia dengan pose itu sedari tadi . Bahkan , ia sempat membenarkan kakinya yang sedikit melorot di dinding.
" Yang aku lihat , kau hanya sok cool di depan sana sejak beberapa menit yang lalu . " Cahaya masih belum berani menimpali . Tatapannya memang datar , tapi didalam hatinya - ia bergemuruh . Angin ribut seolah memporak-porandakan akal sehatnya untuk berlari kesana dan memeluk lelaki yang sangat menggemaskan itu .
" Dan , kau ! Hei , kau . Jawab kalau aku bertanya . " Dassa mengalihkan pandangannya pada Cahaya . Lelaki itu memancing emosinya agar Cahaya berbicara. Oh , lihat . Dia bahkan menaiki intonasi suaranya seperti seorang senior disekolah .
Dengan cepat , Cahaya menggerakkan salah satu tangan seolah mengunci mulut . God damn , how cute they are .
Dassa semakin membelalak tidak percaya . Apakah ia harus memulai dari awal lagi untuk mendekati Cahaya seperti dulu ? Itu tidak akan susah baginya . Tapi , apakah mungkin akan berjalan semulus dulu ? Pasti tidak , kan ?
Dassa berjalan dengan tak semangat . Tujuannya hanya satu , bangku Cahaya . Wanita itu sudah panas dingin ketika Dassa sudah hampir dekat . Tenggorokannya serasa kering kerontang , dan bibirnya serasa sudah di cor berton-ton semen.
Ketika sudah sampai dibangku Cahaya , Dug !
Dassa menjatuhkan diri , dengan kedua lutut menjadi peyangga berat badannya . kemudian , dagu itu ia taruh di atas meja dengan sedikit tertunduk .
' Apa lagi ini ? ' Cahaya masih membantin . Hanya itu yang dia bisa lakukan sedari tadi .
Tak lama , bahu itu bergetar . Semakin lama semakin keras . Cahaya tau apa yang terjadi , lelaki itu menangis .
5 menit , tidak 6 menit sudah Dassa menangis . Namun , tak ada tanda bahwa ia akan berhenti .
' Apa sesesak itu ? '
' Apa lebih menyesakkan ketika dirinya menghilang tanpa pamit ? '
Perlahan , tangan wanita bermanik coklat itu terulur . Sangat pelan . Ia takut mengganggu lelaki itu . Tapi , nuraninya berkata bahwa ia harus menenangkan pujaan hatinya itu .
Ceilehhhh.... pujaan hati .
Ketika akan sampai , Dassa malah mengangkat kepalanya .
Mereka hening sejenak . Tangan yang menganggur di udara , kedua insan itu saling menatap binggung apa yang akan tangan itu lakukan sekarang .
__ADS_1
Refleks , Cahaya langsung memukul jidat lelaki itu dengan sekuat tenaga . Akan sangat memalukan jika Cahaya meneruskan keinginannya tadi , meskipun sejak dulu Cahaya sudah sangat tergoda ingin membelai surai selegam mata yang dimiliki lelaki itu . Gagal sudah .
"Aww ! Kau , betina ! Apa yang kau lakukan , hiks . Aku sedang terisak sekarang . " Dassa meringis , dan karena sangkin kuatnya Cahaya memukul , kepala Dassa sedikit terdorong kebelakang .
" Kau terisak di mejaku , coba kau lihat ini . " Cahaya menunjukkan beberapa genangan air mata yang terjatuh dari mata Dassa dengan wajah yang dibuat seemosi mungkin . " Mejaku yang bersih , malah sudah tergenang dengan air mata yang bercampur dengan lendir ingus milikmu . "
" Aku tidak semenjijikkan itu ! " Ah , lelaki itu tak terima di rendahkan ternyata .
" LALU INI APA , MR.ALLARIC ! " Cahaya memukul mejanya dengan sedikit kuat . Tentu saja Dassa termundur kebelakang karena terkejut . Macan betina sudah terpancing umpan .
" I-itu , aku hanya terbawa suasana . "
" Kau MEN-JI-JIK-KAN ! Bersihkan ini atau aku akan mematahkan kakimu menjadi dua ! " Tak lupa Cahaya menekan kata 'menjijikkan ' agar Dassa tersinggung dan segera membersihkan meja .
" Setidaknya- "
" Sekarang ! " Kesabaran Cahaya mulai sedikit terkikis . Napasnya sedikit memburu .
" Tap-"
" Ahh , kau lebih memilih untuk ku patahkan , ya . Hmm ?! " Tak ada pilihan lain , Cahaya segera berdiri dan menggerakan kepalanya kekiri dan kanan guna seolah sedang melakukan pemanasan . Melihat itu , Dassa juga segera berdiri dan menarik scraf yang manis di rambut Hanni dengan sedikit tergesa .
( Jadi rambutnya Hanni udah mulai stylish kek gini ya , dan itu scarf yang di tarik oleh Dassa .)
Hanni yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia itu terkejut langsung menggapai scarf -nya . Tak terjadi . Dassa lebih gesit . Dan , disinilah akhir tragis dari scarf yang baru ia beli beberapa hari lalu bersama Cahaya .
Scarf itu sudah tak ada harga diri lagi . Benang sutra itu sudah ternodai dengan ingus dari lelaki biadab itu .
Hanni naik pitam . Wajahnya sangat merah .
Dia berdiri dan langsung memukuli Dassa yang sedang membersihkan meja . Ia membabi buta , telinga , leher , wajah atau apapun yang bisa ia gapai terkena imbas . Dassa ingin melepaskan diri , tapi Hanni lebih dulu mengunci pergerakannya dengan menduduki punggung Dassa yang terkelungkup , lalu tak segan untuk menjambak rambut dengan kasar yang otomatis Dassa langsung mendongak . Tentu saja , tenggorokkannya menjadi sakit . Rambutnya seolah terkuliti .
Dassa berteriak , Hanni tak perduli . Ia sangat murka sekarang . Begitu pun Cahaya yang hanya tersenyum sinis di tempat duduk .
__ADS_1
' Mereka berdua ini , Psikopat ! ' Dassa menjerit didalam hati .
...***...