Sembunyi

Sembunyi
7-2


__ADS_3

Kaki jenjang Dassa melangkah dengan pasti masuk kedalam toko buku . Hari ini , salah satu penulis kesayangannya meluncurkan novel terbaru musim ketiga . Bahkan ,Dassa sampai tak nyenyak tidur karena terlalu antusias untuk datang ke toko itu .


Tidak perlu mencari , karena tempat tumpukan buku yang ia sukai selalu penuh diserbu oleh penikmat novel . Ada yang hanya membaca sekilas lalu pergi , ada juga yang tanpa membaca langsung membawa buku itu pergi ke kasir . Bahkan , ada yang berlama-lama berdiri di sana tanpa menyentuh buku sama sekali , entah apa yang mereka lakukan . Sang penulis selalu mendapatkan respons yang baik jika ia membukukan karyanya . Dassa sedikit tergesa membelah lautan manusia didepannya untuk segera menggapai buku itu .


Setelah dapat , Dassa segera meninggalkan gerombolan manusia dengan sedikit menggerutu . Pasalnya , kaki Dassa sempat terinjak dan pantatnya sempat di raba-raba oleh salah satu oknum gay ! Najis .


Dassa menuju peralatan sekolah . Ia membutuhkan buku , meskipun sekolah sudah menggunakan laptop untuk belajar , terkadang Dassa lebih suka menulis . Lalu , pulpen dan sekawannya juga akan ia beli hari ini . Jangan tanya kemana Irina sekarang , lelaki itu bahkan belum bertemu dengannya sejak negosiasi terakhir mereka kemarin .


Perhatian Dassa tertarik pada display pulpen yang tertata sangat rapi di sudut ruangan .



" Wah , ini sangat - Menarik . " Ujarnya pada diri sendiri . Ia berjalan mendekat dan menyentuh satu per satu pena yang tersusun dengan rapi itu .


" Lihatlah , turunan warna yang mereka susun , aku sampai terpana . " Dia masih terkagum , hingga akhirnya mata legam itu melirik salah satu warna yang sangat disukai seseorang . Merah muda .


" Hai , apa kabarmu penggemar merah muda ? " Dassa terkekeh lalu memasukkan pena berwarna merah muda itu kedalam keranjang belanjaannya .


Semua yang ia butuhkan sudah didapat . Besok , ia akan kembali melanjutkan study-nya . Dia sudah mempersiapkan segala hal dengan sangat matang . Membayar semua dan melangkah pergi dari toko itu .


...***...


Cahaya menghembuskan nafasnya kasar . Lagi-lagi panic attack-nya kembali kambuh . Jika sudah begini , Cahaya harus menyendiri terlebih dahulu . Napasnya sesak dan perut terasa sedikit mual . Parah .


Ia mondar-mandir di toilet . Mulutnya komat-kamit , tak tau apa yang ia katakan . Hanni yang melihat itu sedari tadi hanya menundukan kepala . " Sudah 15 menit , apakah kau sudah baikan ? "


Cahaya menggeleng . Wajahnya semakin memucat . Bahkan , ia hampir menangis .


Melihat itu , Hanni langsung turun dari meja yang menyatu dengan wastafel di toilet itu . Ia memegang tangan Cahaya . Dingin .


"Kita tidak bisa seperti ini lebih lama lagi , Cahaya . Kelas akan dimulai . "


" Dan akan ada perkenalan yang tak penting diantara kita . " Cahaya mencicit dengan suara yang sangat kecil . Tenaganya sudah terkuras habis .


" Begitulah jika kau hidup di lingkungan manusia . " Hanni memutar matanya jengah melihat Cahaya yang sangat egois .

__ADS_1


" Aku akan masuk ke kelas , apa kau harus aku antar ke UKS ? "


" Ini hari pertama dan aku menghancurkannya . "


" Tak apa , masih ada hari esok . Aku akan mengantarmu . "


Cahaya hanya mengangguk tanda setuju . Lagi pula , ia sedang tidak bergairah untuk berdebat bersama Hanni .


Setelah sampai , Hanni meninggalkannya sendiri . UKS sepi hari ini . Hanya ada beberapa anak PMR dan seorang dokter yang berjaga di meja depan .


Wanita bermata coklat itu duduk dengan selimut tipis yang menutupi paha jenjangnya . Perlahan gemetar yang ia rasakan tadi sedikit menghilang , begitukan suhu tubuhnya mulai normal .


Ia bosan .


' Apa sebaiknya , aku kembali ke kelas ? '


' Tapi , bagaiamana jika penyakit sialan ini kambuh lagi ditengah jalan ? '


' Tapi kapan kau akan berani jika selalu kalah oleh keadaan ? '


Setelah mendapat izin untuk kembali ke kelas dari dokter yang berjaga , Cahaya kembali ke kelasnya . Opss , ada salah satu anak PMR yang menemaninya menuju kelas .


" Kau ada di kelas berapa ? " Lelaki itu mulai membuka pembicaraan , pasalnya selama perjalanan mereka hanya bergelut dengan pikiran masing-masing .


" Tujuh . " Si anak PMR hanya menggangguk .


"Tujuh berapa ? "


" Tujuh - Dua . "


Anak PMR itu menghentikan langkah kemudian sedikit menoleh ke arah Cahaya dengan alis yang sedikit menukik , " Bisa gunakan akhiran ' kak ' disetiap kalimatmu ? Kau tak sopan . "


Sialnya , Cahaya malah membalas tatapan itu dengan tatapan dingin , " Cukup tunjukan dimana kelasku , Mr. - " Ucapannya terhenti dan sedikit melirik ke arah name tag yang ia gunakan , " Mr.Stele ?! "


" No , Just Zander . Kak Zander . Without Stele , meskipun nama lengkapku Zander Stele ." Anak PMR yang ternyata bernama Zander itu mengulurkan tangan tanda perkenalan . Namun , Cahaya hanya melihat lalu melewati tangan itu dan melanjutkan perjalannannya .

__ADS_1


Zander , hanya tersenyum kecut . Dan kembali mengejar Cahaya yang mulai jauh .


" Kau sangat dingin , ya . Siapa namamu ? "


Astaga , kenapa lelaki yang berada disampingnya ini sangat cerewet ? Tak bisakah hanya mengantarnya saja ?


" Hei , setidaknya sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengantarmu sampai ke tujuan dengan selamat . Dan jangan lupa sebutkan namamu . " Zander mengerlingkan sebelah matanya . Mereka sudah ada didepan kelasnya Cahaya . Jika tidak ditemani oleh Zander , mungkin dirinya sudah tersesat karena terlalu banyak lorong disini .


" Namaku , Cahaya Senja . Terima kasih . " Kaki jenjang itu memasuki kelas yang tampak sunyi . Belum - ia belum membuka pintu kelas .


Zander yang dilewati begitu saja menutup matanya erat sambil terkekeh melihat kesombongan dari wanita kecil yang baru saja memasuki sekolah itu .


Akhirnya , ia pergi dari kelas itu seraya bersiul dan tujuannya kembali ke UKS , jam piketnya masih panjang hari ini .


Sebelum mendorong pintu masuk , Cahaya menyempatkan diri untuk menghembuskan nafas dengan pelan . Ia seperti akan berangkat perang . Namun , dia sudah memilih untuk masuk kekelas . Jika ia urungkan niat itu dan kembali ke UKS , dirinya akan bertemu pria menyebalkan tadi .


Jika ia ke kantin , NO ! Ini hari pertamanya di SMP , setidaknya hari ini Cahaya ingin memberikan kesan yang baik di sekolah . Cahaya tak ingin terlalu berburu-buru menunjukan eksistensinya .


Ketika ia mendorong pintu kelas , semua masih sama . Hening . Tak ada yang berbicara , semua mata tertuju pada sosok yang baru saja memasuki kelas .


" Hai , sayang . Apa kau juga tersesat ? " Seorang guru sedikit paruh baya menghampiri dan menatap matanya .


Cahaya seketika gugup , tubuhnya bergetar , lidahnya kelu . Panic attack itu menggodanya kembali .


Ia hanya menggeleng sebagai respons .


" Permisi , Ma'am . Dia salah satu murid di kelas ini . Tadi pagi aku mengantarnya ke UKS karena dia mengalami serangan panik . " Seseorang memecahkan kebingungan di antara murid . Hanni , wanita berponi itu yang bersuara .


Mata guru itu sedikit membesar dan terkejut lalu menatap Cahaya lagi dengan lekat . " Apakah semua baik-baik saja ? "


"Y-ya , Ma'am . Aku sudah merasa sedikit baikan sekarang . " Guru yang bernama Silas itu hanya mengangguk . " Silahkan duduk di samping kursi nona itu . "


Cahaya menegakkan kepala , lalu melihat Hanni melambaikan tangan padanya .


...***...

__ADS_1


__ADS_2