
Brakk ....
Lawan latihan Cahaya kembali jatuh diatas matras untuk yang kesekian kalinya ketika ia menendang tepat dikepala yang sudah di pakaikan head guard. Napasnya sedikit terengah tapi , matanya masih menatap tajam lawan yang sudah ia tumbangkan .
Kemudian lawan itu berdiri dan mereka saling membungkukkan badan pertanda bahwa pertarungan diantara mereka berdua telah usai .
" Meski latihanmu sangat memukau , tapi kau sudah melakukan beberapa kesalahan selama latihan tadi . " Ucap sang pelatih yang datang menghampirinya . Cahaya sedang menenggak habis air di dalam botol mini .
Ya , setelah kejadian di rofftop tadi , Cahaya langsung 'melarikan diri ' ke gedung pelatihan taekwondo tempat ia biasa berlatih . Ia bolos sekolah dengan alasan sakit perut . Tentu ia harus berakting untuk mendapatkan kepercayaan dari penjaga UKS . Dan sialnya , kenapa Zander selalu rutin menjadi penjaga disana ?
Apa ia tak pernah belajar ?!
Tak ada jawaban , malah Cahaya terkesan acuh dengan kehadiran sang pelatih .
" Setiap manusia pasti ada masalah , Cahaya . Tapi bukan berarti masalah itu menghambat atau lebih parah menghancurkan konsentrasi . " Sang pelatih , sebut saja namanya Ardie itu sedikit kesal ketika Cahaya hanya menyunggingkan sebelah bibir seraya memasukkan barang-barang kedalam tas . Anak itu ingin pulang .
" Aku sedang berbicara , Cahaya . " Cahaya berbalik dan sedikit mendongak melihat Ardie yang ada tak jauh dari tubuhnya . Lelaki itu sedang bersikedap dada . Anak didiknya satu ini memang sedikit menguras tenaga - terlebih emosi .
Cahaya tak bersuara . Dia kembali memasukkan barang terakhir ke dalam tas dan segera melenggang pergi jika saja Ardie tidak menarik tasnya dari belakang .
" Apa ? " Dia melirik dengan sedikit menunjukkan kekesalannya secara langsung .
" Kau punya sopan santun ? Aku pelatihmu disini . " Ardie mulai kehabisan cara . Ia tau bahwa Cahaya berlatih hari ini untuk melampiaskan emosi yang entah kepada siapa . Tapi , membiarkan ia pergi seperti ini , Ardie merasa sangat tidak bijak .
Emosinya bisa membahayakan orang lain , terlebih ia adalah pemegang sabuk merah .
" Aku hanya mendengarkanmu jika kita sedang ada di matras . Sekarang , waktu berlatih sudah selesai jadi aku tak perlu repot-repot mendengarkanmu . Kau di bayar , jadi jaga batasanmu . "
Cahaya mengatakan itu hanya dengan sekali tarikan napas . Astaga , kenapa semua orang menyebalkan didunia ini ?!
__ADS_1
Dia butuh pelepasan , itulah alasannya pergi kesini . Dia sengaja melakukan kesalahan selama latihan tadi . Melanggar poin-poin yang sebenarnya tidak boleh dilakukan . Seperti , dia dengan sengaja hampir menendang kepala belakang lawannya tadi . Hampir .
Selanjutnya , dia pergi begitu saja . Tanpa memikirkan lawan bicara yang sudah tersinggung oleh lidah tajamnya .
Ardie yang melihat itu hanya tersenyum kecut . Dasar anak yang sedapenmencari jatidiri .
...***...
" Sampai kapan kakek akan mengacuhkan aku ? " Benjamin masih tidak memalingkan pandangan dari berkas yang sedang ia pelajari sebelum di setujui dan di tandatangani . Cahaya sudah 1 jam disini , namun kakeknya yang sudah keriput itu seolah tak melihatnya .
Diacuhkan begitu saja .
Ia berjalan dengan tak sabaran dan berakhir menggebrak meja kebesaran Benjamin . Lelaki tua itu hanya menghela napas kasar , bukannya tidak mau meladeni - tapi ia juga sibuk sekarang .
" Kakek sedang sibuk . Tak bisakah bersabar sedikit ? Atau kau bisa menunggu kakek sembari makan di kafetria ." Benjamin melempar Cahaya dengan kotak tisu . Benjamin tak pernah marah , dirinya hanya tak ingin diganggu .
" Ya tuhan ! Kenapa semua orang semenyebalkan penciptanya ?! " Cahaya hanya bisa menggerutu . Dia sedikit menunduk dan mengambil kotak tisu yang di lempar oleh Benjamjn barusan . Kemudian , ia duduk dengan tangan jahilnya yang mulai mengeluarkan tisu satu persatu hingga kosong . Ia ingin membuat Benjamin menyesal karena sudah mengacuhkannya .
Mata Cahaya membulat . " Apa kakek memata-matai aku ? "
" Kau baru menyadarinya ? Sekarang ? "
" Apa kakek sadar apa yang kakek sudah lakukan ? Itu melanggar privasi-ku ?! "
" Tidak ada privasi selama kau masih menjadi bagian dari BENJAMIN LUXURY COMPANY . " Kakeknya berkata dengan sedikit dingin . Wah , kakeknya mulai seriud sekarang .
Seorang seketaris mengintrupsi kegiatan mereka , mengetuk pintu dan masuk . Tak lupa ia tersenyum hangat sebelum menaruh segelas jus jeruk dan bronis keju . Dan Benjamin , ia mendapatkan sebuah secangkir kopi tanpa gula di atas meja kerja .
Cahaya hanya berdehem saat seketaris itu terseyum . Dia tidak dalam mode beramah tamah saat ini .
__ADS_1
" Jus jeruk ? " Sekteratis itu menghentikan pergerakannya . Apa ada yang salah ? Wanita itu hanya berdiri sedikit melirik pada Benjamin yang tak menggubris ketegangan yang sedang seketarisnya itu rasakan . Atasan tua sialan .
" Apa ada minuman khusus yang anda sukai , nona ? " Ujar seketaris itu hati-hati . Salah sedikit , perkerjaan akan melayang begitu saja . Seperti merpati liar yang di lepas . Tidak akan kembali lagi .
Benjamin masih terlihat enggan untuk masuk kedalam percakapan mereka . Biarkan saja Cahaya mengoceh selama ia tak merugikan saham perusahaan .
" Tentu . " Ujarnya sambil sedikit mengerutkan dahi . Suaranya terdengar sedikit angkuh , jangan lupakan bahwa ia sedang berdikedap tangan sekarang .
Hening . Seketaris itu masih menunggu minuman seperti apakah yang akan ia buat untuk Cahaya . Tanpa sadar , ia sedikit menghapus jejak keringat dingin di pelipisnya .
" Vodka . Aku ingin vodka ." Ia berbicara seolah usianya sudah legal untuk meneguk minuman haram itu .
" Ahh , Jangan lupa untuk membawa seloki . " Ujarnya sambil mengerlingkan salah satu mata kepada sang seketaris .
Semua orang yang berada didalam ruangan itu terperangah , mungkin setan juga dibuat tak bisa berbicara oleh sikap ajaib anak tak tau diri ini . Bahkan , Benjamin sampai tersedak kopi yang luar biasa pahit yang tadi ia sesap sedikit .
Benjamin terbatuk sampai wajahnya memerah . Seketaris tak tinggal diam , ia langsung memukul ringan punggung Benjamin . Cahaya yang belihat itu hanya terkekeh geli dan segera membereskan barang yang ia bawa untuk segera pergi . Cahaya tak mau mati konyol . " Kalian berdua tak bisa diajak bercanda . "
Benjamin berusaha berdiri di sela batuknya . Ia sudah bertekat memukul kepala Cahaya dengan tongkat golf yang tersimpan di sudut ruangan . Cahaya benar-benar sudah merusak konsentrasimya .
Pertama - Dia datang tanpa membuat janji terlebih dahulu dan memaksa masuk , menerobos keamanan dengan melumpuhkan para penjaga . Karena tau Cahaya adalah calon pewaris , penjaga tak bisa berbuat apa-apa .
Kedua - Mengganggu konsentrasinya selama sejam , bahkan Benjamin harus membaca dokumen sampai tiga kali karena terganggu ocehan anak kecil itu .
Dan ketiga , yang sekarang . Cahaya harus menanggung kosekuensi yang sudah ia lakukan . Cucu tak berguna - setidaknya untuk sekarang .
Sebelum sampai pada tujuan , Cahaya sudah lebih dulu berlari dan meninggalkan kantor Benjamin . Ia berlari sambil tertawa ketika Benjamin berteriak histeris memanggilnya untuk kembali .
" Huhh ... Siapa suruh mengejekku disaat mood-ku sedang buruk . Rasakan , bagaimana mood yang sedang tidak baik tapi banyak hal yang harus pikiran !! "
__ADS_1
...***...