
Ari duduk meringkuk di sudut kamarnya , hari masih terlalu gelap jika di sanding kan dengan pagi . Tadi setelah setelah makan malam , ibunya membicarakan kejadian yang ia alami disekolah beberapa waktu lalu dan tentu saja ayahnya tampak menahan emosi .
Yang benar saja , bahkan ibunya berani mengatakan bahwa Cahaya yang selalu mencari masalah padanya . Bagaimana jika Cahaya sampai menyangkal ? Apa yang harus di lakukan ?
Ari semakin meringkuk seperti bayi , kepalanya serasa mau pecah berserakan . Elisabeth selalu menjadikan dirinya umpan untuk menyingkirkan anak si*lan itu . Jadi sebenarnya siapa yang si*lan disini ? ibunya atau Cahaya ?
Sudah beberapa kali ia memaksakan matanya untuk terpejam , namun lagi - lagi semua hal tentang kemungkinan yang akan terjadi kedepan selalu menghantui . BAGAIMANA dan BAGAIMANA !!
Sejak kejadian ceroboh yang dilakukannya beberapa hari yang lalu , Ari bahkan tak berani untuk masuk sekolah . Sebenarnya , tidak ada yang mem-bully nya secara terang-terangan tapi Ari selalu merasa banyak mata yang menyudutkan dirinya .
Bahkan ia malu untuk bertemu para antek-antek nya .
" CAHAYA SI*LAN ! "
Ari berteriak seperti orang gila . Otaknya sudah tak mampu berfikir lagi .
...***...
Cahaya berlari memasuki lobby , firasat nya mengatakan bahwa dia benar-benar terlambat sekarang .
Memencet tombol lift khusus murid dengan tidak sabaran , sesekali netra coklat itu melirik jam di tangan kanannya . Bagaimanapun caranya dalam 2 menit dia harus sampai di kelasnya .
Setelah pintu terbuka , Cahaya langsung melesat masuk tanpa menghiraukan teriakan murid lain yang meminta untuk di tunggu . Ia tak punya waktu . Ini TO pertama dan dia sudah terlambat , Sempurna !
Selagi menunggu , Cahaya kembali memutarkan ingatannya tentang buku yang sedang ia cari . Cahaya berusaha merangkai adegan demi adegan yang ia lalui kemarin , dan ...
TING
Pintu lift berdenting , menghamburkan konsentrasi dirinya . Dirinya bahkan sampai melonjak terkejut .
Tak menghiraukan emosi , Cahaya kembali berlari menuju pintu kelasnya . Sebentar lagi , dia akan sampai dan .....
Pintu terbuka .
Keningnya berkerut melihat teman kelasnya yang tampak - Asik mengobrol ?
" Heii , disini ! "
Hanni berteriak sambil melambai-lambaikan tangan . Cahaya tersadar dari keterkejutannya langsung berjalan kearah Hanni .
" Kenapa semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing ? "
Netra coklat itu masih melihat sekeliling . Itu aneh , bukankah mereka akan TO untuk pertama kali , dan tak ada satupun diantara mereka yang memegang buku pelajaran ?
" Oh , kau tak baca pengumuman di website resmi sekolah ? "
" Apa aku terlihat ada waktu untuk hal semacam itu ? "
Cahaya malah balik bertanya seperti tanpa beban . Namun raut wajahnya mengatakan bahwa ia bersungguh-sungguh tidak mengerti apa yang sedang Hanni katakan .
" Sebenarnya kau sibuk apa sampai-sampai hal semacam ini pun kau tak bisa ? "
Cahaya hanya mengidikkan bahu tanpa bersalah .
" Dasar manusia goa ! Bagaimana bisa kau ... ! "
__ADS_1
Hanni sedikit menekankan setiap katanya , lalu tiba-tiba ia megang tengkuk leher belakangnya sambil memejamkan mata pasrah .
"Ah sudahlah , aku sedang tak ingin berteriak kepadamu ."
" Jadi , apa yang terjadi ? "
Cahaya masih penasaran kenapa sampai jam yang ditentukan , pengawas TO malah belum menampakkan hidungnya . Hanni menarik nafas dengan sukar lalu menghembuskan nya kasar .
" TO diundur , kemungkinan minggu depan baru dilaksanakan ? "
" Kenapa ? "
" Jangan tanya padaku , girl . Aku bukan mesin pencarian . "
Hanni mengayun - ayunkan tangannya malas .
" Bukan , maksudku kenapa kau tidak memberitahuku ? Aku berlari setengah mati dari lobby kekelas ! "
Cahaya sedikit berteriak dan melempari Hanni dengan bola kertas yang sudah ia buat sedari tadi . Wahh , Hanni benar - benar keterlaluan .
" Kau berbohong . "
" Tentang apa aku berbohong ? "
" Tentang 'aku yang berlari setengah mati dari lobby ke kelas ' ."
Hanni menirukan gaya bicara Cahaya sambil tersenyum meremehkan .
" Dan kau hanya memberiku tugas untuk menyiapkan tempat duduk mu , remember ! "
" kau menyebalkan , Ms.Westlly ."
" suatu kehormatan mendapatkan pujian darimu , Ms. Senja . Atau harus ku panggil - Ms.Maxmi-"
" Berhenti atau kau tak akan pernah bisa bicara lagi ! "
Hanni mendekatkan tangan nya kearah bibir dan bertindak seolah-olah ia sedang mengunci bibir tipis itu lalu tersenyum geli . Menggemaskan .
Sedikit Hening . Cahaya beberapa kali melirik pada teman sebangku nya .
" Jadi ... "
Hanni yang sedang bermain ponsel tiba-tiba berhenti dan memutar tubuhnya untuk menghadap Cahaya .
" Jadi ? " Hanni mengulang kembali ucapan dari Cahaya .
" Jadi kau tak marah padaku perihal Ari ? " Ragu-ragu ia bertanya.
Hanni tersenyum .
" Awalnya memang aku marah , aku dendam padamu , aku bahkan kecewa . Tapi saat Dassa memberikanku pengertian tentang posisimu , aku jadi paham sekarang ."
" Ya , aku ingin menyusulmu waktu itu . Tapi sepertinya , anak sok itu memberi kode bahwa lebih baik dia yang menemuimu . "
" Apa yang dia katakan ? "
__ADS_1
" Dassa bilang kalau : Memang benar Cahaya adalah temanmu . Tapi , tak semua hal tentang hidupnya bisa kita ikut campuri . Dia punya privasi , begitupun denganmu . Apapun yang dia lakukan , aku rasa ada alasan dibalik itu semua , dan tugasmu sebagai teman adalah mendukung apapun yang teman nya lakukan selama itu masih di garis batas wajar . "
Cahaya tertegun . Lelaki yang ia anggap menyebalkan itu ternyata memiliki fungsi yang cukup baik .
Mereka berdua saling tersenyum dan menggenggam satu sama lain .
" Ya , dia memang pintar memotivasi orang lain ."
" Aku tak akan mendesakmu untuk berbicara , itu adalah pilihan . seperti kata lelaki sok cool itu , aku akan selalu mendukungmu ."
" Terima kasih ."
" Astaga , kau mengucapkan terima kasih ! bisa kau ulang ? "
Lagi - lagi Hanni kembali bertingkah seperti anak kecil .
" kenapa ? "
" Aku akan merekamnya dan akan aku jadikan suara alarm ku dipagi hari . "
Hanni berkutat dengan ponsel nya mencari fitur perekam suara . Lihatlah , Bahkan Hanni tak melepaskan senyuman khas seperti orang bodoh itu .
" Dimana lelaki ter-sok di alam semesta ini ? "
" Dassa ? "
" Apakah ada kandidat lain selain pria jelek itu ? "
Hanni menggelengkan kepala , tak mau memperpanjang masalah . Untuk hari ini , ia sudah puas berdebat dengan Cahaya .
" Ah , aku lupa mengatakan padamu . Dia sedang berkencan ! "
Hanni memberitahu dengan sangat antusias , bahkan tanpa sadar ia menepuk-nepukkan kedua tangannya .
" God ! Stop it ! "
" why ? "
" WE'RE ONLY 11 ! " Cahaya mulai risih jika berhubungan dengan kata ' kencan ? ' entahlah yang jelas ia tak nyaman .
" why not ? this is first love ."
Hanni bahkan sampai mengerutkan keningnya . Tak biasanya Cahaya akan merespon berlebihan jika itu tidak serius untuknya . DEMI NEPTUNUS , tau bahwa ia akan bangkrut saja , Cahaya masih sempat menggodanya . Bagaimana bisa ?
Cahaya memutar otak untuk mencari jawaban yang sedikit masuk akal , dan...
" Bahkan kita belum lulus TO ."
ASTAGA CAHAYA , APA TAK ADA ALASAN YANG LEBIH BERBOBOT ?
" kenapa kau jadi sangat menggebu-gebu ? it's ok , RILEX ."
" i-i- i didn't . "
" yes , you did , Girl ! "
__ADS_1
...***...