
Untuk yang pertama kali dalam hidupnya , Dassa merasa hancur berkeping - keping . Tak ada lagi yang tersisa untuknya . Ia meraung di dalam rumah yang terasa kosong itu .
Tak pernah Dassa pikirkan akan kehilangan ayahnya secepat ini . Bahkan untuk di dalam mimpi pun , ia rasa , lelaki bermanik legam itu tak sanggup .
1 jam lagi , peringatan hari pertama kematian ayah terkasih . Dassa bangkit dari kasur , ia berjalan tanpa sadar bahwa luka ada disekujur tubuhnya , terutama kaki yang tertancap beberapa serpihan kaca di lantai . Darah menghiasi setiap titik perjalanannya menuju kamar mandi . Percayalah , ini tak lebih sakit daripada kehilangan orang yang ia sayangi .
Dassa mulai membersihkan diri , mengguyur seluruh luka dengan air . Pandangannya kosong . Ia kembali menangis di bawah air yang mengalir dari shower .
Setelah 10 menit , ia keluar dengan kimono yang melekat di badan jangkung eksotis itu . Di atas tempat tidurnya , sudah tergeletak sepasang jas dan sarung tangan untuk ia pakai . Perlahan Dassa angkat setelan yang terlihat sangat mahal di hadapannya .
...***...
Dassa turun setelah mengenakan setelan yang entah siapa yang telah menyiapkan hal tidak penting itu .
Dan , hei Dassa bahkan bisa saja hanya mengenakan kaos oblong alih-alih menggunakan jas . Itu sangat memuakkan !
Ketika ia turun , semua mata melihatnya . Wajah lelaki manis itu tertunduk , ia masih belum bisa menguasai kesedihan yang ia miliki sekarang. Dengan langkah yang linglung , ia berjalan menuju foto yang bertengger di tengah ruangan .
Beberapa kolega ayahnya menghampiri dan ada beberapa yang sibuk berbisik - bisik .
Dasar manusia tak tau malu !
Dassa masa bodo , bahkan ia nampak tidak perduli dengan orang yang mengucapkan bela sungkawa pada nya . Irina hanya memperhatikan dari kejauhan . Ia tak berani untuk mengambil tindakan lebih jauh karena ini bukan porsinya untuk maju . Dassa anak yang sangat sulit di pahami dan dimengerti .
Irina tak mau ceroboh. Ia tak mau kehilangan anak semata wayangnya .
Dassa menghampiri foto sang ayah , air matanya kembali terjun bebas . Ia kembali teringat bagaimana perjuangan sang ayah membesarkannya seorang diri sebelum bertemu Irina .
Jack rela untuk pergi pagi dan pulang tengah malam demi menawarkan beberapa lukisan kepada galeri-galeri besar di berbagai belahan kota . Namun , Jack tak pernah mengeluh dan bahkan ia semakin semangat serta yakin dengan apa yang ia kejar saat itu .
__ADS_1
Meskipun sang ayah lulusan di kampus terbaik didunia , bukan berarti ayahnya mau menjadi ' babu ' di perusahaan besar . Jack tak suka itu . Ia adalah pria berkelas , ia berjiwa bebas .
Dassa juga ingat ketika mereka tak makan hampir 2 hari . Orang tua Jack hampir merebut Dassa karena di anggap tidak bisa menghidupinya . Jack berjanji dalam kurun 3 tahun , ia akan membuka galerinya sendiri . Dan Jack bisa membuktikan itu sekarang .
Dassa kembali memegangi jantungnya yang perih . Bagai di hantam ribuan ton besi , membuat kepalanya sakit bukan kepalang . Ia termundur beberapa langkah . Tubuhnya bergetar . Dassa tak memiliki energi karena ia belum makan seharian .
Lelaki jangkung itu terduduk sambil memegang kepala , pandangannya mengabur yang ia ingat hanya beberapa orang yang berteriak , Irina yang berusaha menggapai nya namun terlambat , gelap lebih dulu memeluknya .
...***...
Ketika Dassa terbangun serangan di kepalanya kembali membabi buta . Hantaman demi hantaman terus ia rasakan . Kepalanya berdenyut bukan main . Bahkan lehernya terasa kaku .
Lelaki bermanik legam itu mengedarkan pandangan . Ini bukan kamarnya . Dengan cepat , Dassa menyingkap selimut yang membalut kaki jenjang itu . Saat ia baru akan turun -
Klik
Pintu terbuka dan Irina masuk dengan semangkok sup serta teh hangat untuknya . " Oh kau sudah sadar ? duduk dan sarapan dahulu ." Sapaan hangat dari Irina adalah hal pertama yang ia dapat setelah kematian ayahnya .
" kamarmu hancur berantakan , aku rasa ada pencuri yang mampir semalam . " Irina menyindir dengan senyuman dibibir merahnya . Lalu , Irina berjalan untuk menaruh nampan sup nya di nakas .
" kenapa harus disini ? kamar tamu tak masalah ." Dassa membalik badan karena Irina sudah melewatinya .
" Jangan mendebatkan hal yang sudah terjadi , Boy . Karena itu tak mengubah apapun ." Ucap Irina . " Duduklah disini , aku akan menyuapimu ." Irina menepuk pelan kasur yang sempat di tiduri putranya semalam .
" aku , akan makan dibawah ."
" Astaga , kau sangat berbeda dengan Jack . " Irina memegang kepala sambil berpura-pura merajuk .
" Baiklah , aku akan makan bukan karena aku ingin . Tapi karena kau sudah susah payah membawakan sup keatas . " Dassa berjalan mendekat dan duduk di kasur . Irina berbinar . Apakah semudah itu untuk membujuk anak sedingin ini ?
__ADS_1
" Akhirnya ! Aku akan su- "
" I can do it for my self , jangan pernah meremahkanku . " Dassa dengan cepat memotong Irina dengan cepat . Dia bukan bayi yang makan harus selalu di suapi .
" Aku hanya ingin memanjakan mu , Dassa . " Binar bahagia itu kembali meredup . Tampaknya , Dassa masih belum bisa menerima Irina sepenuhnya .
" Aku tak suka hal seperti itu . "
" Tapi k- "
" Aku akan keluar sekarang ." Dassa bangkit dan berjalan dengan cepat menuju pintu . Irina membuatkan mata lalu berlari menghadang pintu itu .
" No..no..no wait . Ok , aku akan pergi sekarang dan kau kembalilah beristirahat , ya ." Ucapnya sambil memajukan kedua tangannya tanda stop sambil memaksakan senyuman terbaiknya .
" Aku akan pergi kesekolah ."
" No , honey . Randy sudah mengurus izinmu . Lebih baik kau istirahat untuk memulihkan tenagamu yang terkuras kemarin . Lagi pula kita masih dalam keadaan berduka ."
" Aku akan pergi sekolah , Irina . Kau tak berhak mengatur hidupku ."
" You are my son and i am your mom ! aku berhak mengatur jalan hidupmu . Ayahmu mempercayakan kau sepenuhnya kepadaku . " Iriana masih bersikap tenang dengan pemberontakan anak lelaki nya itu . Ya tuhan , menghadapi orang yang sedang pubertas memang melelahkan .
" YOU ARE MY STEP MOM ! " Dassa berteriak ketika tidak mendapat persetujuan dari Irina . Meskipun tingginya hanya sampai bahu wanita itu , namun ia tak takut sama sekali .
" Astaga , Dassa ! Watch your mouth ! "
Irina terkejut . Nafasnya sesak . Tak pernah ia bayangkan bahwa Dassa dalam diamnya ternyata masih menolak status dirinya sebagai ibu pengganti . Hell , ini cukup menyedihkan .
" Jika kau ingin sekolah , maka pergilah . Setidaknya jangan sampai melukai perasaan orang lain demi kepentingan pribadi mu . Untuk kali ini , aku akan memaafkanmu karena kita masih berduka . Tapi kalau itu sampai terjadi lagi , aku akan benar - benar menghukummu . "
__ADS_1
Irina memandangi iris hitam itu sejenak . Namun , Dassa sepertinya memang lahir tanpa ekspresi setelah melukai sesuatu . Irina perlahan membuka pintu dengan tangan kirinya . Menatap mata hitam itu sekali lagi , dan berusaha untuk kembali tersenyum meskipun itu sulit dan melangkah pergi dari sana .
...***...