
" Dimana letak kesalahpahaman itu wahai alien ? " Sahut Cahaya tak mau terlihat lemah . Lelaki itu tampak mengerutkan kening lalu tersenyum tipis .
" Jawab pertanyaan Hanni , kenapa kau menganggap aku adalah hantu ? " Mata itu sangat tajam , di tambah hitam nan tegas nya alis itu .
...***...
Cahaya sedikit tersentak saat lelaki misterius itu menyebut nama temannya , Hanni . Lengkaplah sudah kesalahpahaman ini . Ia sangat yakin harga diri nya akan tenggelam sekarang .
" Begini , akan aku luruskan . " Hanni sedikit maju untuk menarik Cahaya kembali duduk di sebelahnya . Cahaya sedikit enggan tapi Hanni sangat bersikeras .
Setelah menduduki tempat asal nya , barulah Hanni yang bertugas sebagai MENTOR itu membuka percakapan . " Bukankah ms.Ponix sudah mengumumkan bahwa hari ini kita akan mendapatkan teman baru ? "
Nyali Cahaya semakin mengecil , tak di ragukan lagi , sudah jelas ia sangat malu sekarang. Tapi kapan ? kapan Ms.Ponix mengatakan nya ?
" Ah , aku lupa . Saat pengumuman terjadi , bukankah kau sedang sibuk ? " Hanni menyindir nya secara terang-terangan dengan wajah imut yang sangat menjijikan .
Cahaya tersenyum ketika melihat wajah menjijikan Hanni .
" Ya , aku sedang sibuk saat itu . Sibuk menyusun strategi baku hantam selanjut nya . Apakah kau mau bergabung ? kebetulan aku butuh seorang suporter seimut dirimu . " Cahaya berbicara sambil memainkan kepang dua milik Hanni .
" NO , HOW DARE YOU ! "
" Baiklah , anggap saja aku salahpaham di sini dan aku rasa semua sudah tuntas . Aku akan kekelas sekarang . " Cahaya sudah siap beranjak untuk pergi . Lagipula , hujan sedikit mulai mereda sekarang .
" Benar . Begini lebih benar . Melarikan diri secara terhormat .HAHA , Cahaya kau benar-benar ahli dalam bernegosiasi . " Cahaya benar-benar bangga dengan dirinya saat ini .
" Heii , tunggu . Kau sudah meluruskan kesalahpahaman pada dirimu . Bagaimana denganku ? " Ujar lelaki itu .
" DEMI TUHAN , apa yang sedang lelaki itu lakukan ! " Cahaya hanya berteriak dalam hati , ia sangat ingin memukul tenggorokan lelaki di depan teman nya itu .
Cahaya menggenggam tas nya erat . Ya , bagaimanapun ia harus mengakui kesalahan dan cepat pergi dari kantin terkutuk ini . Ditambah kantin yang sudah mulai ramai dan itu sangat mengganggu .
Tak ada cara lain , Cahaya kembali duduk dan menatap Hanni dengan sedikit kesal . Yang ditatap hanya tersenyum tak karuan .
" Sekarang kesalahpahaman yang pertama . Mengapa kau mengganggapku hantu ? " Tanpa BA-BI-BU lelaki itu langsung menebak tepat sasaran . Cahaya dibuat meringis olehnya .
" Kau . Kau tak tampak sedang bernafas . " Jujur saja ia malu mengatakan itu , tapi bukankah ia harus jujur sekarang . Jangan katakan bahwa muka Cahaya memerah sekarang . Argh.... memalukan !
" Kau mudah menilai orang rupanya . " Ujar lelaki itu . " Lalu , kenapa kau berlari ? " Sambungnya .
" Karena , kau tidak bernafas. " Kapan sesi tanya jawab ini akan berakhir ?
__ADS_1
" Lalu , kenapa kau sebut aku alien ? " Kenapa lelaki ini terus bertanya !
" Karena kau tampak asing . " Asal lelaki itu dapat jawabannya , ia takkan perotes kan ?
"Astaga ! " Hanni menutup mulutnya dengan kedua tangan .
Ini antara lucu dan seru . Mereka terlihat sangat akrab .
Melihat mereka yang mulai kehilangan arah pembicaraan , Hanni dengan PROFESIONAL mulai mengambil alih suasana . Mencairkan secair mungkin .
" Lain kali , kau harus fokus ketika di sekolah , nona . Oke , kita akhiri saja sekarang . Dan - " Hanni melirik sebentar ke arah Dassa dan Cahaya , menimbang apakah ia harus memperkenalkan kedua nya . " Perkenalkan , ini Dassa . Dassa Alaric . Dia anak pindahan dari kota sebelah . Oh iya , dia tinggal di kompleks perumahanku , itulah kenapa ia tau namaku . "ujar Hanni panjang lebar .
" Ya , aku tau daerah kumuh kompleks perumahanmu . " ujar Cahaya sambil sedikit tersenyum melirik kearah Dassa .
KUMUH KATANYA ! Bahkan biaya keamanan disana saja 50 juta setahun !
Dassa mengangkat tangan nya untuk berjabat tangan , namun Cahaya langsung pergi begitu saja tanpa pamit . Lagi dan lagi Dassa hanya tersenyum melihat diri nya diabaikan begitu saja .
Melihat itu , Hanni berinisiatif untuk mengulurkan tangan menyambut tangan lelaki itu . " Maafkan dia , dia memang seperti itu . Namanya Cahaya . Cahaya senja . Dia wanita tertomboy disekolah . Setiap hari pasti ribut dengan mereka , jadi aku harap kalian bisa berteman baik . "
Hanni melepaskan tangan nya sambil tersenyum manis . Begitu pun Dassa.
Ketika Hanni sudah menjauh beberapa langkah untuk meninggalkannya , Dassa memanggil , lalu Hanni berbalik dengan cepat . Dassa berjalan mendekat .
Wajah Hanni mendatar tanpa ekspresi .
" Menurutmu ? kau duduk di sudut meja , tidak menghidupkan lampu , sibuk dengan buku yang kau baca tanpa tau bahwa itu adalah salah satu adegan film horor yang paling menyeramkan , lalu dengan idiot nya kau bertanya apakah kau semenakutkan itu ? "
" Oh ya tuhan ! kau benar-benar membuatku emosi sekarang ! pergi dan jangan ganggu aku , Boy . " Hanni memijat kepalanya sambil bersender di meja terdekat .
" Tapi aku tidak ber-"
" Sama , temanku juga tidak bermaksud untuk salahpaham padamu. " Tungkas nya .
...***...
Suasana masih agak canggung sekarang , terlebih Dassa duduk tepat di samping Cahaya . Mereka sama-sama diam , sibuk dengan pikiran masing-masing .
Untuk menghilangkan sedikit rasa malu nya , Cahaya menutup kepala dengan kedua tangan dan tertidur diatas meja .
Kelas matematika baru saja selesai , dan ia sangat-sangat butuh istirahat sekarang . Otak nya sudah melebur entah kemana .
__ADS_1
Ditengah kenikmatan nya itu , tiba-tiba..
BRUGHHHH...
Suara meja yang dipukul dengan tangan melintasi pendengeran satu kelas . Cahaya mengangkat kepala dengan malas .
" Pergi . Aku sedang tidak ingin berbicara dengan mahluk astral . " Ujarnya . Namun , mereka masih setia berdiri di depan wanita itu .
BUGHHHH....BUGGHHH...BUGGHHHH
Yang ada malah mereka semakin menjadi memukul meja itu . Kesabaran nya sudah diujung tanduk sekarang . Cukup ! Dari pagi ia sudah sangat sabar . Bahkan mungkin ini rekor tersabar nya . Sekarang tidak lagi .
Tanpa aba-aba , Cahaya langsung berdiri dan mengambil kursi di samping , mengayun dan melempar kursi di samping mereka .
Mereka . Mereka adalah sekelompok geng anak laki-laki . Musuh buyutan Cahaya . Mereka membentuk geng untuk menjajah Cahaya . Pemimpin nya bernama Ari , Ari Maxmillan .
Entah sejak kapan mereka mulai membully Cahaya . Menurut mereka , Cahaya wanita yang tahan banting , tidak mudah menangis sekalipun mereka sedang baku hantam .
Ari tertawa terbahak-bahak , diikuti oleh beberapa anak buah ingusan nya , ewwwww... menjijikan .
" Lihatlah , Cahaya sedang pusing . Apakah aku harus membawanya ke dokter hewan sepulang sekolah nanti ? " Ari membuka pembicaraan dengan sangat santai .
Sedangkan Cahaya , dadanya naik turun untuk mengatur nafas yang seolah enggan untuk ramah .
Disudut mata nya , Dassa sempat beberapa kali melirik cahaya . Ia tak sabar menantikan hal apa yang akan terjadi .
" Pergilah , Ri . Aku sedang tidak waras sekarang . " Ujarnya .
"Maka aku akan melihat ketidak warasanmu itu . " Tantang lelaki bertubuh putih itu .
Dalam hitungan detik , Cahaya berhasil menjambak rambut bagian depan Ari lalu menghantam kepala nya keatas meja .
Sontak saja semua merasa terkejut , tak terkecuali , Dassa .
Ini diluar ekspetasi !
" Kau menantangku ? apa kau ingin sesuatu yang lebih tidak waras lagi ? " Katanya saat melihat Ari meringis memegang kepala depan nya .
Ari bergerak untuk membalas , tapi dengan cepat Cahaya menghindar dan mengeluarkan semprotan merica yang selalu ia simpan dari ibu nya .
" Kalau kau berani menyentuh ku saat ini , akan aku pastikan kau akan menyesal . Jadi pergilah sekarang atau kita akan melanjutkan ini . "
__ADS_1
...***...