
" Oh astaga ! "
Cahaya berteriak ketika melihat sebuah bayangan sedang duduk di kursi makan . Lampu mati dan hanya ada sinar rembulan yang menembus sela-sela pintu kaca itu.
Panic attack-nya kembali membasahi diri , gemetar hingga badannya sedikit lemas karena efek dari keterkejutannya barusan .
Hari sudah menunjuk pukul 2 dini hari dan Cahaya terpaksa turun kebawah karena haus . Ia lupa menyuruh maid untuk menyiapkan air minum di nakas kamarnya tadi sore .
Bayangan itu hanya menoleh sebentar lalu tak memperdulikan Cahaya yang masih syok .
Karena teriakan dari sang nona , beberapa pengawal yang sedang berjaga langsung datang menghampiri dan sebagian lagi ada yang menghidupkan lampu .
" Apa nona baik-baik saja ? " Tanya salah satu pengawal sambil membantu Cahaya berdiri dari duduknya .
" Menurutmu ? aku hampir mati terkejut jika tak langsung sadar bahwa bayangan disana adalah seongok manusia tak berguna ! " sarkasnya .
Tak mau memperpanjang masalah , ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju dapur . Ia ingin mengambil minum dan segera pergi melanjutkan tidur .
Cahaya melewati ayahnya begitu saja . Tiba-tiba nyeri dihati kembali tanpa izin . Air mata sudah di ujung pelupuk mata . Tak ada sapaan , tak ada pelukan . Cahaya menertawakan fikiran nya sendiri yang terlalu lancang menginginkan hal semacam itu .
" Bagaimana sekolahmu ? "
Cahaya membeku . Apakah ia sedang berhalusinasi ? tapi itu suara arahnya .
' Cepat naik , kau butuh tidur bodoh . ' perintahnya pada diri sendiri .
Lalu anak manis itu lebih memilih untuk mengabaikan rasa bahagia yang ia harapkan beberapa saat yang lalu .
" Apakah sekolah nyaman untukmu ? " Alex menjeda , mengambil nafas dan terkekeh pelan .
" Ya , tentu saja kau nyaman , karena kau menumbalkan saudara tirimu demi kebahagiaan dirimu sendiri , menyedihkan ." Lanjutnya .
Ah , lelaki baj*ngan itu sedang mabuk ternyata .
Rasa kantuknya tiba-tiba pergi . Emosi sudah mulai menyerang . Bodohnya dia yang berharap ayahnya akan benar-benar menanyakan perihal kehidupan pribadinya tanpa mengaitkannya dengan anak haram itu .
" Aku sudah dengar semua dari wanita tercintaku bagaimana kau mempermalukan nya disekolah beberapa waktu yang lalu . "
Alex menyesap vodka-nya lagi . Tak ia fikirkan bagaimana perasaan Cahaya sesaat setelah mendengar apa yang ia sampaikan .
Baginya yang terpenting hanya tentang ia dan kehidupannya bersama wanita simpanannya, Elisabeth Petrov .
Tangan wanita kecil itu mengepal hingga buku-buku tangannya memutih semua . Amarah benar-benar sudah menguasai diri . Terserah jika Alex memprovokasinya dengan segala cara , namun mendengar bahwa dia yang seolah mencari masalah , itu sangat mengganggu .
__ADS_1
" Gara-gara perbuatan tak terpujimu itu , anak laki-laki kesayanganku sampai tak berani pergi ke sekolah . "
Lagi , Alex menghujani Cahaya dengan sejuta peluru tak kasat mata , persetan dengan kesayangan .
Perlahan , Cahaya mengendalikan semua amarahnya . Tak kan ada gunanya jika ia memukul orang yang sedang mabuk sekarang , meskipun kesempatan untuk memukul orang itu sampai mati sangat besar , namun Cahaya tidak sepengecut itu dalam bertindak .
Ia ingin menghancurkan keluarga yang di banggakan oleh ayahnya secara perlahan . Bukan , bukan sekarang lelaki baj*ngan itu mati .
Dengan berat hati Cahaya kembali memutar haluannya dan kembali ke meja makan , ia akhirnya memilih untuk membuat lelaki ini marah . Toh , kantuknya juga sudah hilang entah kemana .
Setelah dirasa sudah cukup dekat , Cahaya berdiri di depan lelaki itu .
Tangannya bersikedap di dada , lalu sebelum memulai kata ia sedikit menggaruk pelipis matanya dengan jari telunjuk .
" Dengar , Mr.Maxmillan . Katakan pada anak haram mu itu . Jangan menjadi seorang pengecut seperti ayahnya . "
Hanya dengan beberapa kalimat , tubuh Alex menegang . Urat-urat disekujur tubuhnya hampir menonjol semua .
" Dan aku ingatkan - jika kau lupa , aku pemegang sabuk merah bela diri taekwondo . Pasti kau paham , jika aku tak akan pernah kesusahan untuk mematahkan tenggorokan manusia sebayaku hanya dalam waktu 5 detik . "
Alex menggenggam gelas kaca itu dengan kuat , bahkan nyali nya untuk mendekat pada anak yang menantangnya saat ini pun tak ada . Keberaniannya sudah di pangkas habis oleh kedudukan Cahaya . Ia di ancam dengan sangat mudah .
Mata madu mereka menyatu , tak ada ketakutan disana . Cahaya sangat tenang . Bahkan gesturnya sangat mendukung .
Cahaya tersenyum manis lalu melangkah pergi menuju kamarnya . Air mata sungguh tidak bisa diajak kompromi .
...***...
" Dimana? dimana ? dimana aku menyimpannya ? Astagaaaa ! "
Cahaya mondar mandir di kamar nya mencari buku yang selalu ia bawa kemanapun . Tapi hari ini buku itu lenyap , hilang entah kemana .
Cahaya hampir menangis dibuatnya . Buku itu sangat penting . Itu seperti mantra penguatnya disetiap hari . Dengan sedikit kuat ia meremas rambutnya , mondar mandir berusaha mengingat letak buku kecil itu .
Untuk kesekian kalinya ia kembali mengacak-acak kamarnya , namun hasilnya masih tetap sama .
Akhirnya ia menidurkan badannya diatas kasur yang sangat ia cintai . Terlentang dan menutup mata dengan salah satu tangannya . Apa yang akan terjadi jika buku itu benar-benar hilang ?
Dretttt.....Dreetttt....
Ponsel di nakasnya berbunyi . Cahaya mengabaikan , tapi itu sangat mengganggu . Berulang dan selalu berulang . Tanpa membuka mata ia langsung meraba ponsel yang berada di nakas dan menjawab dengan malas
" Katakan ! "
__ADS_1
" Ini sudah jam 7.45 dan kau masih belum datang ? Kau lupa jika kita akan Try Out ? where are you , mad women ? " Suara tak ramah itu langsung membahana di telinganya .
" Jam berapa TO dimulai ? "
" 8 tepat , kau dimana ? "
" Seperti nya kau memang cocok menjadi seketarisku . "
" Kau mau mati ? " Hanni semakin menaikan nada bicaranya .
" Terimakasih atas tawarannya . Aku akan pergi sekarang , siapkan tempat dudukku . "
Tanpa menunggu amukan dari Hanni , Cahaya langsung cepat-cepat mematikannya . Biarkan saja ia mengamuk nanti ketika ia sampai , yang jelas ia akan pergi dulu sekarang .
Untuk terakhir kali Cahaya kembali mengacak kamarnya . Matanya menatap ke setiap sudut kamarnya .
" Baiklah , mungkin para penunggu rumah ini ada masalah denganku sehingga mereka mencuri barang terpentingku !"
Teriaknya frustasi . Bagaimana mungkin buku itu bisa hilang ? Cahaya masih berusaha untuk berfikiran positif .
' Bisa jadi aku meninggalkannya di loker sekolah .'
Dengan tergesa-gesa ia segera mengambil peralatan sekolah , memasuki ke dalam tas dan membanting pintu kamarnya . kembali tergesa-gesa melewati lorong lantai 2 , hingga turun dengan kecepatan super tiada tara . Ketika sampai di tangga terakhir , ia sedikit tertegun .
Semalam seperti mimpi .
Ia tersenyum kecut ketika mengingat kembali kejadian semalam . Meja itu sudah bersih sekarang , tak ada sisa seseorang minum disana .
Perlahan ia maju dan menyentuh tempat duduk yang sempat diduduki ayahnya semalam .
" Kau belum berangkat ? "
Suara Malikka mengagetkannya .
" Sepertinya aku harus minum susu dulu . "
Dengan cepat Cahaya langsung mengalihkan tangannya dari kursi yang ia sentuh dan mengambil acak minuman yang sudah tersedia dimeja makan , lalu langsung menghadap ibunya dengan sedikit tersenyum yang sedari tadi ia punggungi .
" Tapi itu teh, sayang . Bukan susu ." Malikka langsung datang mendekat dan mengelus surai hitam itu .
" Ah , aku sedang bercanda . Aku pergi sekarang , bu . "
...***...
__ADS_1