Sembunyi

Sembunyi
Tengah malam


__ADS_3

" Oh astaga ! "


Cahaya berteriak ketika melihat sebuah bayangan sedang duduk di kursi makan . Lampu mati dan hanya ada sinar rembulan yang menembus sela-sela pintu kaca itu.


Panic attack-nya kembali membasahi diri , gemetar hingga badannya sedikit lemas karena efek dari keterkejutannya barusan .


Hari sudah menunjuk pukul 2 dini hari dan Cahaya terpaksa turun kebawah karena haus . Ia lupa menyuruh maid untuk menyiapkan air minum di nakas kamarnya tadi sore .


Bayangan itu hanya menoleh sebentar lalu tak memperdulikan Cahaya yang masih syok .


Karena teriakan dari sang nona , beberapa pengawal yang sedang berjaga langsung datang menghampiri dan sebagian lagi ada yang menghidupkan lampu .


" Apa nona baik-baik saja ? " Tanya salah satu pengawal sambil membantu Cahaya berdiri dari duduknya .


" Menurutmu ? aku hampir mati terkejut jika tak langsung sadar bahwa bayangan disana adalah seongok manusia tak berguna ! " sarkasnya .


Tak mau memperpanjang masalah , ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju dapur . Ia ingin mengambil minum dan segera pergi melanjutkan tidur .


Cahaya melewati ayahnya begitu saja . Tiba-tiba nyeri dihati kembali tanpa izin . Air mata sudah di ujung pelupuk mata . Tak ada sapaan , tak ada pelukan . Cahaya menertawakan fikiran nya sendiri yang terlalu lancang menginginkan hal semacam itu .


" Bagaimana sekolahmu ? "


Cahaya membeku . Apakah ia sedang berhalusinasi ? tapi itu suara arahnya .


' Cepat naik , kau butuh tidur bodoh . ' perintahnya pada diri sendiri .


Lalu anak manis itu lebih memilih untuk mengabaikan rasa bahagia yang ia harapkan beberapa saat yang lalu .


" Apakah sekolah nyaman untukmu ? " Alex menjeda , mengambil nafas dan terkekeh pelan .


" Ya , tentu saja kau nyaman , karena kau menumbalkan saudara tirimu demi kebahagiaan dirimu sendiri , menyedihkan ." Lanjutnya .


Ah , lelaki baj*ngan itu sedang mabuk ternyata .


Rasa kantuknya tiba-tiba pergi . Emosi sudah mulai menyerang . Bodohnya dia yang berharap ayahnya akan benar-benar menanyakan perihal kehidupan pribadinya tanpa mengaitkannya dengan anak haram itu .


" Aku sudah dengar semua dari wanita tercintaku bagaimana kau mempermalukan nya disekolah beberapa waktu yang lalu . "


Alex menyesap vodka-nya lagi . Tak ia fikirkan bagaimana perasaan Cahaya sesaat setelah mendengar apa yang ia sampaikan .


Baginya yang terpenting hanya tentang ia dan kehidupannya bersama wanita simpanannya, Elisabeth Petrov .


Tangan wanita kecil itu mengepal hingga buku-buku tangannya memutih semua . Amarah benar-benar sudah menguasai diri . Terserah jika Alex memprovokasinya dengan segala cara , namun mendengar bahwa dia yang seolah mencari masalah , itu sangat mengganggu .

__ADS_1


" Gara-gara perbuatan tak terpujimu itu , anak laki-laki kesayanganku sampai tak berani pergi ke sekolah . "


Lagi , Alex menghujani Cahaya dengan sejuta peluru tak kasat mata , persetan dengan kesayangan .


Perlahan , Cahaya mengendalikan semua amarahnya . Tak kan ada gunanya jika ia memukul orang yang sedang mabuk sekarang , meskipun kesempatan untuk memukul orang itu sampai mati sangat besar , namun Cahaya tidak sepengecut itu dalam bertindak .


Ia ingin menghancurkan keluarga yang di banggakan oleh ayahnya secara perlahan . Bukan , bukan sekarang lelaki baj*ngan itu mati .


Dengan berat hati Cahaya kembali memutar haluannya dan kembali ke meja makan , ia akhirnya memilih untuk membuat lelaki ini marah . Toh , kantuknya juga sudah hilang entah kemana .


Setelah dirasa sudah cukup dekat , Cahaya berdiri di depan lelaki itu .


Tangannya bersikedap di dada , lalu sebelum memulai kata ia sedikit menggaruk pelipis matanya dengan jari telunjuk .


" Dengar , Mr.Maxmillan . Katakan pada anak haram mu itu . Jangan menjadi seorang pengecut seperti ayahnya . "


Hanya dengan beberapa kalimat , tubuh Alex menegang . Urat-urat disekujur tubuhnya hampir menonjol semua .


" Dan aku ingatkan - jika kau lupa , aku pemegang sabuk merah bela diri taekwondo . Pasti kau paham , jika aku tak akan pernah kesusahan untuk mematahkan tenggorokan manusia sebayaku hanya dalam waktu 5 detik . "


Alex menggenggam gelas kaca itu dengan kuat , bahkan nyali nya untuk mendekat pada anak yang menantangnya saat ini pun tak ada . Keberaniannya sudah di pangkas habis oleh kedudukan Cahaya . Ia di ancam dengan sangat mudah .


Mata madu mereka menyatu , tak ada ketakutan disana . Cahaya sangat tenang . Bahkan gesturnya sangat mendukung .


Cahaya tersenyum manis lalu melangkah pergi menuju kamarnya . Air mata sungguh tidak bisa diajak kompromi .


...***...


" Dimana? dimana ? dimana aku menyimpannya ? Astagaaaa ! "


Cahaya mondar mandir di kamar nya mencari buku yang selalu ia bawa kemanapun . Tapi hari ini buku itu lenyap , hilang entah kemana .


Cahaya hampir menangis dibuatnya . Buku itu sangat penting . Itu seperti mantra penguatnya disetiap hari . Dengan sedikit kuat ia meremas rambutnya , mondar mandir berusaha mengingat letak buku kecil itu .


Untuk kesekian kalinya ia kembali mengacak-acak kamarnya , namun hasilnya masih tetap sama .


Akhirnya ia menidurkan badannya diatas kasur yang sangat ia cintai . Terlentang dan menutup mata dengan salah satu tangannya . Apa yang akan terjadi jika buku itu benar-benar hilang ?


Dretttt.....Dreetttt....


Ponsel di nakasnya berbunyi . Cahaya mengabaikan , tapi itu sangat mengganggu . Berulang dan selalu berulang . Tanpa membuka mata ia langsung meraba ponsel yang berada di nakas dan menjawab dengan malas


" Katakan ! "

__ADS_1


" Ini sudah jam 7.45 dan kau masih belum datang ? Kau lupa jika kita akan Try Out ? where are you , mad women ? " Suara tak ramah itu langsung membahana di telinganya .


" Jam berapa TO dimulai ? "


" 8 tepat , kau dimana ? "


" Seperti nya kau memang cocok menjadi seketarisku . "


" Kau mau mati ? " Hanni semakin menaikan nada bicaranya .


" Terimakasih atas tawarannya . Aku akan pergi sekarang , siapkan tempat dudukku . "


Tanpa menunggu amukan dari Hanni , Cahaya langsung cepat-cepat mematikannya . Biarkan saja ia mengamuk nanti ketika ia sampai , yang jelas ia akan pergi dulu sekarang .


Untuk terakhir kali Cahaya kembali mengacak kamarnya . Matanya menatap ke setiap sudut kamarnya .


" Baiklah , mungkin para penunggu rumah ini ada masalah denganku sehingga mereka mencuri barang terpentingku !"


Teriaknya frustasi . Bagaimana mungkin buku itu bisa hilang ? Cahaya masih berusaha untuk berfikiran positif .


' Bisa jadi aku meninggalkannya di loker sekolah .'


Dengan tergesa-gesa ia segera mengambil peralatan sekolah , memasuki ke dalam tas dan membanting pintu kamarnya . kembali tergesa-gesa melewati lorong lantai 2 , hingga turun dengan kecepatan super tiada tara . Ketika sampai di tangga terakhir , ia sedikit tertegun .


Semalam seperti mimpi .


Ia tersenyum kecut ketika mengingat kembali kejadian semalam . Meja itu sudah bersih sekarang , tak ada sisa seseorang minum disana .


Perlahan ia maju dan menyentuh tempat duduk yang sempat diduduki ayahnya semalam .


" Kau belum berangkat ? "


Suara Malikka mengagetkannya .


" Sepertinya aku harus minum susu dulu . "


Dengan cepat Cahaya langsung mengalihkan tangannya dari kursi yang ia sentuh dan mengambil acak minuman yang sudah tersedia dimeja makan , lalu langsung menghadap ibunya dengan sedikit tersenyum yang sedari tadi ia punggungi .


" Tapi itu teh, sayang . Bukan susu ." Malikka langsung datang mendekat dan mengelus surai hitam itu .


" Ah , aku sedang bercanda . Aku pergi sekarang , bu . "


...***...

__ADS_1


__ADS_2