
Ujian benar-benar telah usai . Yang artinya , Cahaya dan Hanni sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk ke sekolah menengah yang akan mereka tempuh .
Pilihan mereka jatuh kepada , SMP Nirwana International School . Sedikit menggelikan , memang . Tapi , mereka berdua sudah kompak untuk ' kembali mengulang ' pendidikan mereka di NIS .
Jika ada yang bertanya , kenapa mereka memilih untuk mengulang di NIS , sebenarnya tak ada alasan yang cukup memuaskan yang keluar dari mulut mereka .
Hanni bersabda , " Aku takkan sanggup untuk berjauhan dari Cahaya . Jadi , kemana pun wanita ' jadi-jadian ' itu pergi , aku akan setia mengekori . "
Dan untuk Cahaya , ia berkata , " Sekolah dimana pun akan tetap sama . Jadi , untuk apa aku terlalu memikirkannya ? "
Astaga . Wanita itu benar-benar tidak memikirkan masalah pendidikannya . Dia terlalu cuek dengan segala hal .
Hari ini mereka berdua sedang duduk di meja yang terpisah , sebentar lagi tes akan segera dimulai .
Hanni sibuk komat-kamit membaca doa agar di permudahkan segala soal yang diberikan . Dan Cahaya , ia malah sedang sibuk meraut pensil yang baru dibelinya pagi tadi .
" Kau tak berdoa ? " Hanni menyepatkan diri untuk menyikut tangan Cahaya sebentar sebelum petugas memberikan mereka lembar soal yang harus dikerjakan . Bahkan , gadis kecil berponi itu berbicara setengah berbisik .
Cahaya menghentikan kegiatannya dan menoleh , lalu tak lupa ia sedikit mengerutkan kening ," Untuk apa aku berdoa ? "
" Tentu saja untuk kelancaran tes-mu , pintar ! "
" Ah , aku tak butuh doa , Hanni . Yang aku butuhkan saat ini adalah ," Cahaya tersenyum mencibir , lalu menunjukan pensil yang sudah ia raut barusan , " ini . "
" Aku hanya takut Tuhan akan murka padamu . "
" Tak masalah bagiku . Toh , selama ini apa Diri-Nya pernah mengasihiku ? "
" Aku tak ikut-ikutan , Tuhan . " Ujar Hanni sambil mendongak melihat ke atas dan menangkupkan tangan seolah meminta maaf .
...***...
" Tadi , pertanyaan nomor 5 apa jawabanmu ? C atau D ? " Hanni masih membolak-balikkan buku karena masih sangat penasaran jawaban IPS yang ia isi tadi .
" Aku malah menjawab A . "
__ADS_1
Hanni langsung menutup bukunya dengan sekuat tenaga , " Darimana kau bisa memilih A , sedangkan C dan D pilihan itu yang paling mendekati . "
" Dari menghitung kancing di bajuku . " Jawabnya tanpa ada rasa berdosa sedikit pun .
" Kau serius melakukan hal semacam itu ? " Sekarang , Hanni menatapnya dengan sangat horor .
" Semacam itu ? memangnya apa yang sudah aku lakukan sampai kau berteriak padaku ? " Cahaya yang sedari tadi sibuk dengan keripik kentangnya itu , seketika menoleh dengan tatapan yang sedikit - terluka . Katakanlah begitu .
Suara Hanni terasa tercekat di tenggorokan . Tak masuk dan juga enggan untuk keluar , " Ya tuhan ! kau mengundi kancing bajumu hanya untuk mendapatkan jawaban . Kau benar-benar sudah akut . "
" Dengarkan aku . " Cahaya menaruh keripik kentang itu di atas meja . Tak lupa , wanita bersurai hitam itu menepuk tangannya berkali-kali agar remahan keripik itu terjatuh dari tangannya .
"Lagipula , meskipun aku tak mencapai nilai standar NIS , mereka akan tetap ' menyambutku ' dengan tangan terbuka jika tau bahwa aku kembali ke sekolah ini . Jadi , coba pikirkan dengan bijak , untuk apa aku bersusah payah mengerjakan soal itu jika pada akhirnya mereka tidak akan menyentuh lembar jawabanku , Hanni ."
Ya . Bagaimana pihak sekolah akan menolak cucu pemilik salah satu Company terbesar di dunia ?
Secara tidak langsung , Cahaya meningkatkan rating sekolah hanya dengan dia bersekolah disini . Tanpa harus sekolah mengeluarkan modal besar hanya untuk iklan sana-sini .
Ditambah , Benjamin juga tak pernah ' pelit ' apabila bersinggungan dengan dana sekolah . Apa yang kurang ?
Hanni hanya mengangguk pasrah mendengar jawaban Cahaya yang cukup masuk akal . " orang kaya memang mengerikan . " Tentu saja itu hanya batin yang berbicara .
...***...
" Masih tetap tidak mau kembali ke sekolah ? "
Irina menatap manik legam Dassa dengan lekat . Ini sudah hari kelima ujian praktik sekolah dilaksanakan . Tapi , anak itu masih keukeh untuk tidak mau pergi .
Dassa hanya mengangguk samar . Matanya masih beradu pandang dengan Irina . Agak lama mereka beradu pandangan , baik Irina maupun Dassa tak tertarik untuk mengalah .
Kemudian , Irina mendesah kasar . Lalu ia menggosok sisi lengan kanan dengan telapak kanan miliknya . Irina gusar .
Akhirnya , Irina membuang pandangannya dan jatuh pada tirai biru yang melayang-layang di tiup oleh angin siang . Mereka sedang berada di ruang baca milik Irina .
" Lalu , apa inginmu sekarang ? " Suara Irina memecahkan keheningan diantara mereka . Tadi , hanya ada suara deru angin yang di hasilkan oleh pendingin ruangan .
__ADS_1
Dassa tertawa . Meskipun itu adalah tawa tersumbang yang pernah ia lakukan , " Kau selalu bertanya tapi tak pernah kau wujudkan . Sebenarnya , aku yang harus bertanya . Apa maumu , Irina ? "
" Perhatikan kata-katamu , Dassa . Aku ibumu . " Irina mulai muak dengan sikap dingin Dassa yang tak pernah mencair barang sedikit pun . Itu menyakitkan . Dirinya hanya ingin dihormati selayaknya ibu .
Dassa menarik salah satu bibirnya dan sedikit tertawa meremehkan , " Aku selesai . " Lantas dengan santai ia pergi meninggalkan Irina .
" Dassa , aku memohon kali ini padamu , pergilah sekolah . Setelah itu kau bebas memilih sekolah mana yang akan kau masuki . "
Dassa yang tadi sempat memegang gagang pintu itu , terhenti . Ia berusaha untuk menimbang perkataan dari Irina .
" Aku sudah pernah kecewa . Kau , memisahkan aku dengan teman-temanku . Kau menjauhkan aku dari mereka , padahal kau tau bahwa aku sangat menyukai mereka . " Ia tak berbalik , masih dengan menyentuh gagang pintu .
" Berapa kali harus aku katakan bahwa ini demi kesehatan mental-mu , Dassa . Kau takkan pernah sembuh dari kenangan ayahmu jika kita masih dirumah yang sama . Aku hanya ingin kau baik-baik saja . "
Tanpa diduga , jawaban Irina berhasil membangkitkan emosi yang selama ini ia tekan dalam-dalam . Tangan itu menggenggam gagang pintu itu hingga tangannya terasa kebas . Rahang kokoh itu semakin mengeras .
Dassa berbalik , mata legam itu semakin menakutkan . Astaga , emosi sudah mengendalikan kontrol dirinya .
" Kesehatan mental , katamu ? Aku kehilangan ayahku . Orang yang paling aku cinta melebihi hidupku sendiri . Aku tak ada disampingnya ketika sekretaris si*lan itu berkata bahwa ayah mencariku , Irina .
Wajar jika aku terluka . Itu sangat wajar ketika kau kehilangan seseorang . Bahkan , ayahku belum 1 bulan pergi lalu kau ingin aku bersikap baik-baik saja dan melupakan semua kenangan tentang ayahku ? Aku jadi penasaran , kesehatan siapa yang sebenarnya harus di pertanyakan . "
Ucapan demi ucapan yang Dassa lontarkan sukses membuat Irina terdiam seribu bahasa .
" Aku mela- " Sebelum itu Dassa terlebih dahulu menyela cepat perkataan Irina .
" Do whatever you fuc*ing wanna do , Irina . I dont care anymore ! " Untuk pertama kalinya , Dassa berteriak dihadapan Irina .
Meskipun lelaki berkulit eksotis itu tak menyukainya , tapi Dassa tak pernah bersikap kurang ajar kepadanya , apalagi sampai berteriak .
Brakk
Pintu tertutup . Ternyata Dassa telah pergi dari hadapannya . Irina tertegun . Apakah ia memang berlebihan beberapa hari belakangan ?
...***...
__ADS_1