
Rambut panjang itu mulai di belai mesra oleh angin , perlahan mentari sedikit turun untuk menenggelamkan diri , tapi Cahaya masih betah di sini bahkan ia sudah menghabiskan berjam-jam duduk di rooftop sekolah . Duduk sendiri .
Matanya masih nanar , bertanda bahwa amarah masih belum lepas sejak sedari tadi memeluk dirinya .
Sesekali ia tertawa bahkan sesekali juga ia membuang kaleng bekas minuman bersoda yang sudah kosong .
Menyebalkan .
Tapi dia harus apa agar semua kembali seperti semula , toh semua sudah terjadi , setidaknya bagian inti dari permasalahannya dan Ari belum terkonsumsi publik sepenuhnya .
Ya , Ari dan Cahaya adalah saudara tiri . Mereka sama-sama memiliki gelar ' Maxmillan ' di belakangnya .
Kakek Cahaya , Maulana Anjas Benjamin adalah salah satu orang tersukses di negara tropis ini . Namanya selalu dieluh-eluhkan karena nominal kekayaan yang tak terhitung jumlahnya .
Bisnis menggurita dimana-mana , Fashion , kuliner , properti dan yang terbaru BENJAMIN LUXURY COMPANY juga melirik teknologi seperti ponsel dan sebagiannya .
selalu ' memukul mundur ' semua perusahaan yang berpotensi untuk menjadi saingan . Jika itu proyek maka BENJAMIN LUXURY COMPANY akan selalu memenangkan tender , Jika itu fashion mereka selalu menciptakan trand yang tak dapat dianggap sebelah mata , jika itu bidang properti mereka akan selalu menomor satukan kemewahan dan kenyamanan di setiap inci bangunan dan masih banyak yang lainnya .
" kau masih betah disini ? " Suara itu mengagetkan tapi tidak lantas Cahaya menoleh karena ia tau itu pasti Dassa .
Cahaya tak menjawab , lebih tepatnya entah dia harus menjawab apa .
Dassa melangkah untuk mendekat . Ketika sampai ia langsung bersenderan di pagar beton pembatas tepat didepan Cahaya .
" Sinar matahari terlalu terang , itu bisa merusak matamu . "
God ! Dassa seperti malaikat . Tubuhnya berwarna emas dimandikan sinar matahari . Cahaya sampai lupa diri .
Jantungnya berdegup . Ini sungguh di luar kendali . Didalam perutnya seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang disana . Namun diwaktu yang sama pula , sakit itu perlahan menyingsing hati . Itu seketika mengingat bagaimana Dassa lebih membela anak miskin itu dibanding dirinya .
Heiiii ..... wake up !
Ini bukan waktu yang tepat untuk merasakan roman picisan , dimana harga dirimu !
Berkali-kali Cahaya menampar dirinya sendiri untuk tetap waras . Tak ada yang lebih memabukkan ketimbang berdua dengan lelaki manis ini .
Tak mau lebih lama lagi berada di posisi membingungkan ini , Cahaya akhirnya memilih pergi dari sana .
Bahkan disaat dirinya hampir mencapai pintu turun , Dassa tak sedikitpun berusaha untuk mencegah atau apalah itu namanya .
...***...
" Apa yang sedang kau pikirkan , huh ! "
__ADS_1
PRANG
Untuk kesekian kalinya suara pecahan kaca menghiasi ruangan berdominasi warna maroon itu .
Ari hanya terdiam , tidak di sekolah atau dirumah ia selalu saja lemah . Bahkan dirumah ia turut menjadi sasaran emosi ibunya , Elisabeth Petrov .
" Aku tanya apa yang kau pikirkan ? kenapa kau bisa mengatakan itu di depan orang banyak , huh ! " Teriakan itu kembali Ari rasakan di sudut telinganya . Ibunya berteriak bak orang gila .
" Apa harus aku ulangi kalau kau itu BUKAN anak sah dari Alexander Kusuma Maxmillan ! "
Sambil menunjuk muka Ari , Elisa memberikan sedikit tekanan disalah satu kata yang ia ucapkan guna secara tidak langsung menampar keangkuhan anaknya .
" Bukan berarti aku lemah terhadap anak sah-nya . Bahkan , ayah lebih mencintai anak haramnya ketimbang wanita si*lan itu ! "
Sudah , cukup . Perkataan ibunya sangat mencubit harga dirinya . Siapa yang ingin dilahirkan dengan gelar menjijikan seperti itu ' anak haram ' .
Elisa terdiam , lalu tertawa terbahak-bahak .
" Wahh , kau sangat luar biasa ! "
Elisa modar-mandir dengan beberapa goresan di kakinya . Jujur saja , ia panik dengan kondisi anak semata wayangnya kedepan . Ia tau anaknya masih anak-anak dan mudah untuk di provokasi , tapi ini sudah di luar kendali . Ini akan menjadi bumerang kedepannya .
Semua rencana yang telah ia bangun akan hancur sia-sia begitu saja .
" Tapi aku bangga ayah lebih mencintaiku . "
" Kau tidak membutuhkan itu , kau menbutuhkan warisannya ! "
Ibunya kembali berteriak . Ari kembali terdiam . Apa yang harus ia lakukan sekarang ?
...***...
" Kakek memanggilku ? "
Cahaya masuk ketika sudah mengetuk pintu 3x . Ia berjalan dan duduk dengan anggun disalah satu kursi tamu di ruang kerja kakeknya .
Benjamin memunggungi Cahaya , ia masih sibuk melihat hiruk pikuk padatnya kehidupan di ibukota . Setelah 3 menit , ia berbalik dan melihat Cahaya dengan seksama .
" Kau sudah datang ? "
Kakeknya berjalan dan duduk di sebelah nya .
Basa-basi yang sangat basi batinnya .
__ADS_1
" Apa ada sesuatu yang mengacaukan mu , akhir-akhir ini , sayang ? "
Benjamin sedikit mengerutkan kening dan alisnya yang sedikit memutih , dan Cahaya tercekat , kondisi ini sudah ia prediksi . Anak haram sia*an !
" Ya , ada sedikit masalah tapi aku bisa menjinakkannya , kek . " Bahkan Cahaya terpaksa tersenyum kaku untuk meyakinkan sang kakek .
" Ah , aku rasa ada yang berbeda dari senyummu . ku rasa ini sedikit - dipaksakan . Apa aku benar ? "
Benjamin menyentuh satu per satu tiap bagian dari wajah cucu kesayangannya , mata-hidung dan berakhir di pipi tirus wanita bermanik coklat madu itu .
ingin sekali rasanya mulut ini mengumpat , Cahaya yakin kakeknya pasti sudah tau apa yang terjadi namun dia masih bertanya tanpa dosa .
" Baiklah aku akan jujur , dan aku takkan panjang lebar karena pasti kakek sudah tau detail-nya seperti apa . "
Cahaya menghembuskan napasnya kasar , jika harus diingat kembali kejadian tadi siang , kepalanya terasa sangat mendidih .
" Tunggu , bagaimana aku bisa tau sedangkan aku tak disana ?"
" Jangan lupakan kalau BENJAMIN LUXURY COMPANY sudah merambah ke dunia tehnologi . Aku bahkan berani bertaruh bahwa CCTV di kelasku sudah kakek retas sedemikian rupa tanpa sepengetahuan pihak sekolah . "
Cahaya tidak bersikap formal lagi sekarang . Dan lihatlah posisi duduknya saat ini , kedua kakinya sudah mendarat diatas meja dan pundak bersandar di kursi lalu kedua tangannya sedikit memijat kepala .
Benjamin tertawa ringan melihat kelakuan cucunya . Tak salah jika ia sudah mantap untuk mendudukkan Cahaya di kursi Komisaris selanjutnya .
" Kau tampak sangat frustasi , sayang . "
" Bagaimana jika hal seperti tadi terjadi , bahkan aku belum siap untuk mempermalukan anak jal*ng itu tapi dia malah mengumpan dirinya sendiri ."
" Dia saudara tirimu . " Benjamin sedikit berdehem untuk meringankan aura gelap di kantornya . Cucunya sangat mendominasi .
" Aku tunggal ! tak ada siapa pun selain aku . "
Cahaya berteriak , ia menunjuk dirinya sendiri karena tak terima selalu disandingkan dengan Ari .
" Lantas kenapa tak kau lanjutkan saja mempermalukan , Ari ? "
" Apa perlu aku jelaskan ? jika masalah ini benar-benar terekspos , para dewan direksi tak akan segan-segan menarik suntikan dana dari mereka . Aku tau hal itu takkan membuat goyah kekayaan kita . "
" Lantas ? " Benjamin semakin penasaran dengan apa yang di pikirkan oleh cucu kesayangannya .
" Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri . Aku ingin mempermalukannya di depan banyak orang , aku ingin dia dipandang rendah oleh semua orang . Tapi bukan sekarang , Nanti ketika aku sudah mantap menjadi CEO BENJAMIN LUXURY COMPANY , maka aku akan melaksanakan nya . Hanya aku yang boleh menyakiti nya "
...***...
__ADS_1