Sembunyi

Sembunyi
Maxmillan


__ADS_3

Kelas mulai sesak dipenuhi oleh beberapa siswa dan siswi untuk melihat pertengkaran mereka , ini sungguh mengganggu . Bahkan reaksi tubuhnya mulai keterlaluan .


Cahaya gemetaran . Bukan karena ia takut tapi karena semua mata lapar itu terus menatap Cahaya . Tak ada yang lebih buruk selain kambuhnya penyakit menjijikan ini . Seolah ia dipukul mundur tanpa perlawanan sedikit pun .


Tubuhnya mulai tak imbang , bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri , Cahaya tidak jamin ia akan bisa .


" Kau memanggilku keparat ? "


Ari berdiri , maju selangkah demi selangkah , meskipun dia tau bahwa hanya meja yang memisahkan mereka saat ini . Tak ada kata kapok baginya meski telah di permalukan sedemikian rupa oleh Cahaya . Lelaki menyedihkan .


Wajah itu memerah . Cahaya benar-benar marah . Ia harus pergi dari sini , terlalu menyesakkan disini meskipun kelasnya sangat luas .


" Ayo , kita tak punya waktu untuk anak miskin seperti dia . " Cahaya menarik tangan Hanni dan berusaha untuk pergi dari sana .


Tapi keberuntungan memang tidak berpihak kepadanya . Dengan cepat Ari dan para dayangnya sudah memblokir jalan keluar .


Iris coklat itu saling berpadu . Ari menyunggingkan senyum tipisnya . " Ah , untuk pertama kalinya kita bisa saling melihat lebih dekat , apakah kau sadar jika warna mata kita sedikit sama ? "


Bajingan , sudah cukup . Ia muak untuk di sama-samakan dengan orang lain terlebih pada lelaki idiot dihadapannya ini .


Hanni yang berada di belakang Cahaya sedikit memiringkan kepala untuk melihat apa yang di katakan oleh Ari .


" Aku benci mengakui ini tapi ,untuk kali ini si anak ingusan itu berkata benar . Warna mata kalian sangat mirip . " Bisik Hanni dengan sedikit serak .


Cahaya menutup mata dan sedikit memijat pangkal hidungnya . Ini sudah melewati batas sabarnya .


Dan benar saja semua orang mulai termakan oleh provokasi dari Ari . Dassa yang baru masuk langsung buru-buru membelah lautan manusia itu .


Dassa sudah berfirasat bahwa sahabatnya itu akan terkena masalah sebab semua anak di lorong berlari menuju kelasnya . Dan itu benar , tapi untuk kali ini Dassa cukup tau diri , ia berusaha menempatkan kaki di jalur semestinya . Tak terlalu jauh namun tak terlalu dekat juga .


" Jangan mengalihkan topik , dude . Katakan kepadaku mengapa kau meragukan tali persahabatan kami . " Hanni mulai angkat bicara , sepertinya ia sudah kesal . Bagaimana mungkin ada yang tak tulus di antara mereka berdua .


" Easy , girl . "


Genggaman Cahaya semakin mengerat ketika lelaki itu mulai mengeluarkan suara , Holly **** . sebenarnya ada apa !


Ari berpura-pura sedikit menimbang apakah harus ia katakan atau tidak , padahal jelas-jelas ia sedang 'menggoreng' rasa ingin tau semua orang .


" Baiklah , aku harus mulai dari mana , Ms.Maxmillan ? "


Senyum miring tercetak jelas di wajah lelaki gila itu . Semua orang semakin membeku . Otak mereka bahkan berhenti berpikir .


Bahkan Tenggorokan Cahaya sedikit tercekat . Iris coklat itu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun .

__ADS_1


Keterkejutan Hanni pun sama halnya dengan yang lain . Ini gila , apa ini sebuah lelucon ?


" is it April moop ? " Suara Hanni memecah keheningan , genggaman Cahaya sedikit mengendur .


" This March , beib . " Ari semakin menjadi-jadi , " Astaga , bahkan hal sekecil ini pun dia tidak memberitahumu , poor Hanni ."


Hanni melepaskan tautan tangannya dari Cahaya dan pergi begitu saja tanpa kata . Ketika akan mengejar , Dassa sudah terlebih dahulu mengode untuk tetap tenang dan lelaki itu pergi meninggalkan nya .


Ari dan seluruh dayangnya tertawa lepas . Ia bahagia telah benar-benar merusak hidup Cahaya .


Seluruh siswa dan siswi masih sibuk berbisik-bisik . Ini akan benar-benar menjadi tranding topic di sekolah . Ya , pasti .


Cahaya menekan semua rasa sakit di hatinya . Wanita itu menekan getaran yang semakin hebat , mengendalikan emosi dan napasnya yang semakin menipis .


" Kau , punya nyali ternyata ."


Cahaya mundur selangkah dan duduk di kursi . Menyenderkan bahu dan menyilangkan kakinya . tersenyum tipis dan menatap iris Ari dengan tajam .


Ia tersenyum dan menunduk melihat pantulan wajah Ari dari lantai marmer kelasnya . Yang ditanya malah masih tertawa ria .


" Oh tuhan , pasti mereka berpikir bahwa aku anak haram sekarang . "


Cahaya mengangkat kepalanya kembali . Bahkan mungkin banyak yang sudah mencelanya didalam hati .


Ari sedikit mengerutkan keningnya , memikirkan apa yang salah dari tindakannya barusan . Detik di saat dia sadar , ia akan melarikan diri , Namun Cahaya dengan sigap menarik kerahnya hingga Ari terduduk di bawah kaki jenjang milik Cahaya .


" Pergi sebelum aku menghancurkan kalian semua . " Desisnya dengan dingin . Semua yang mendengar tergopoh-gopoh pergi dari kelas itu . Cahaya terlalu menakutkan jika sudah mode marah . Tak ada satu pun yang berinisiatif memisahkan mereka . Bahkan untuk memanggil guru pun mereka tak berniat .


Ari berusaha berdiri tapi entah kenapa kakinya tak sanggup untuk menopang dirinya sendiri , ketakutan sudah sangat merajalela pikirannya .


" Lihat , pecundang . Bahkan babumu saja pergi meninggalkanmu . " Cahaya sedikit menunduk dan berbicara kecil di telinga kirinya .


Ari tak bersuara , ia mungkin akan berakhir disini .


Bagaimana ia tidak ketar-ketir , tanpa diketahui siapapun Cahaya sebenarnya sudah menguasai sabuk merah di taekwondo sejak usia 9 tahun .


Cahaya melepaskan pegangannya dengan sedikit mendorong hingga Ari jatuh tersungkur di lantai licin itu . Cahaya berjalan dengan pelan menuju pintu masuk dan KLIK suara pintu terkunci .


Cahaya bersender di pintu dengan 1 kaki ia topang di dinding . Ia harus sedikit menenangkan diri dengan menjauh dari mangsanya .


" Aku hargai usaha tololmu untuk menjatuhkanku , adik tiriku tersayang . Apa kau senang sekarang , hmm ? "


Cahaya sedikit menggaruk pelipis matanya . Menunggu reaksi dari adik tercinta , namun Ari masih diam , bahkan mulutnya setia untuk tidak terbuka .

__ADS_1


" Siapa kali ini yang membuatkan strategi murahan ini ? " Cahaya menjeda , berpura-pura berpikir , lalu ia tersenyum miris , " Ah , kalau di kaitkan dengan murahan , ini pasti dari ibumu , kan ? "


" Jangan katakan ibuku murahan , s*alan ! " Didetik itu juga Ari berteriak , matanya melotot , wajahnya menahan amarah . Dude , ia bahkan dengan mudah terpancing oleh provokasi ' kakak tiri ' nya .


" Jangan berteriak padaku , anak haram ! " Cahaya melampiaskan kekesalannya dengan membanting kursi dan berjalan cepat kearah Ari , amarahnya sudah tak terbendung lagi .


" Aku bahkan bisa mematahkan tulang keringmu sekarang ! Aku berbaik hati untuk tidak pernah menggubrismu , tapi kau malah semena-mena kepadaku . "


Wanita itu sedikit mencengkram kerah baju musuhnya .


" Perlu kau garis bawahi . Aku bukan takut , tapi aku bahkan tak ada waktu untuk meneladenimu . Aku memberikanmu kesenangan untuk pura-pura membully ku , agar kau terlihat layaknya manusia pada umumnya . "


"Aku calon CEO BENJAMIN LUXURY COMPANY dan kau hanya anak haram . jadi ingat posisi mu ! "


Lagi , Cahaya melepaskan cengkeramannya dengan sedikit mendorong . Ari kembali terhuyung ke belakang . Untuk sekedar bergerak saja ia tak bisa .


" kali ini , aku akan mentolerir kebodohan yang di ilhami oleh jal*ng itu . tapi jika kau berbuat diluar batas sekali lagi , aku bisa pastikan kalau kau tidak bisa berbicara lagi besok . "


Anak itu masih terdiam . Cahaya seperti berbicara dengan mahluk astral saja .


" Jawab aku , Bod*h . "


Ari masih terdiam , tapi tubuhnya semakin bergetar , pun dengan bibirnya yang sedari tadi ia gigit agar tidak terisak menangis .


Ari benci menjadi lemah jika sudah berhadapan dengan Cahaya . Ia tak bisa berbuat apaapa . Bahkan dirinya sendiri mengkhianati . Si*lan .


" Hey , dimana kebenarianmu beberapa menit yang lalu , Dude . Kau bahkan meneriakiku tadi ."


Cahaya menampar kecil pipi putih itu , ia butuh respons untuk bisa mendapat jawaban , setidaknya anggukan kecil sudah cukup .


Cahaya berdiri dan berniat untuk meninggalkan kelas yang berantakan .


" Bersihkan seluruh kekacauan yang kau buat , SEMUA ! Termasuk rumor yang mungkin akan tersebar beberapa menit lagi . "


" Ah , aku lupa . Aku tak jamin jika kakek tidak ada mata-mata disekolah ini , jadi aku harap semoga besok kau masih bisa bernapas meskipun dengan alat bantu seadanya . "


Senyum itu , menjijikan . Ari semakin frustasi dibuatnya .


Tanpa Cahaya sadar bahwa sedari tadi Dassa sudah mendengar kata per kata yang mereka keluarkan .


...***...


FYP : Warna merah pada sabuk taekwondo melambangkan matahari yang bersinar. Artinya, taekwondoin harus mulai belajar untuk mengendalikan kekuatannya agar tidak justru membahayakan orang lain mengingat teknik, ilmu, dan kemampuan fisiknya yang terus meningkat.

__ADS_1


__ADS_2