Sembunyi

Sembunyi
Senja yang Tak Menjingga


__ADS_3

Dassa berjalan setengah mati berusaha untuk tetap tenang menuju ruang guru . Jantungnya seperti akan lepas dari rongga dada itu .Panik mendominasi dirinya. Ini tidak benar .


Fikiran buruk langsung ia buang sampai keakar-akarnya . Keringat dingin menjalar disekujur tubuh , tangan lebar itu bahkan rela mengeluarkan keringat .


Ketika Dassa sudah menghilang dari hadapan Cahaya , Dirinya langsung berlari seperti orang kesetanan . Menabrak apa saja yang menghadang . Hanya ada satu kemungkinan , dan kemungkinan itu sangat besar .


Tanpa permisi , Dassa langsung membuka dan membanting pintu guru dengan kuat . Ia akan urus kerusakan jika itu memang mengharuskan . Tapi nanti , setelah ia berhasil tau apa yang membuatnya di panggil ke ruang guru .


Ia sangat berharap bahwa para guru akan menghukumnya karena nilai TO yang gagal atau apapun itu , asal jangan ...


Matanya menatap sayu seseorang yang sedang berbicara bersama beberapa guru . Terlebih wali kelasnya . terduduk , Dassa bahkan ia hampir menjerit jika tangan seseorang itu tak langsung mendekapnya erat .


Memeluknya sampai kepala lelaki itu tenggelam di dadanya .


" Tuan muda , kita harus pulang . Tuan besar sudah menunggu . "


" ka-kapan ayah pu-pulang ? "


Astaga , bahkan Dassa sudah menangis tersedu sekarang .


" Pagi tadi , bahkan ia sempat mencarimu kemarin . "


Tanpa berfikir panjang Dassa langsung berdiri dengan ditopang oleh sekretaris ayahnya .


...***...


" Ayah mencariku ? " Dassa membuka suaranya setelah beberapa waktu melihat ayahnya . " Sektretaris tua bodoh itu yang memberitahuku , bahkan ia sampai menjemput ku ke sekolah . Seperti tak ada waktu lagi ."


Dassa terkekeh sambil mengusap air mata yang sedari tadi menghiasi wajah dinginnya " Aku senang ayah pulang . "


Semua orang yang berada disana menangis pilu melihat tingkah anak kecil itu . Ya , ayahnya pulang setelah operasi transplantasi jantung saat di benua Amerika - New York itu , gagal .


Jack Daniel Allaric , menghembuskan nafas terakhirnya di meja operasi yang dingin . Kemarin sore .

__ADS_1


Rasa sesak bertalu-talu memeluknya . Sang ibu bahkan tak bisa lagi berdiri dengan baik , ditambah melihat bagaimana sang anak semata wayangnya meratapi jasad kaku Jack .


Setelah 16 menit , Dassa terbangun dari duduknya , ia melihat sekeliling dan mendapati sang sekretaris ayah sedang menenangkan ibunya , Inara Bexley Allaric .


Dengan cepat Dassa berlari dan menerjang Randy , sang sekretaris dari belakang . Amarah sudah membucah sekarang .


Ketika melihat Randy tersungkur disebelah Inara , Dassa langsung membalikkan dan menduduki tubuh ringkih itu . Ia mencengkram kerah baju lelaki berusia sekitar 38 tahun itu .


Semua orang , termasuk Inara berteriak karena gerakan dari Dassa . Ada beberapa melerai , tapi sepertinya Dassa tak berniat untuk menghentikan semua .


" Baji*gan ! Kau bilang , dokter itu adalah dokter spesialis jantung terbaik di NY . Tapi , kenapa ayahku bisa mati di meja operasi , huh ! " Dassa menggoyang - goyangkan cengkraman di kerah baju lelaki itu . Ia berteriak seperti orang gila . Entah dari mana kekuatan yang ia punya saat ini , karena hampir banyak orang yang tak bisa memisahkan mereka .


" Sekretaris gadungan ! kau secara tidak langsung membunuh ayahku ! Kembalikan ayahku ! " Dassa masih berteriak . Wajahnya sangat memerah . Urat-urat di leher dan di tangannya , keluar begitu saja .


Bughhhh


Telak ! pukulan itu mengenai sasaran . Sudut bibir Randy mengeluarkan darah .


" Itu diluar kuasa kita , tuan muda . " Randy masih menatap Dassa dengan tenang , ia tau bahwa Dassa masih remaja dan emosi serta pikiran nya sangat mudah terbakar . Layaknya dedaunan kering yang tersentuh api .


Bugh... Bughhh...Bughh ..


Lagi dan lagi Dassa meninju wajah lelaki itu , tujuannya satu . Wajah lelaki itu harus hancur agar ketika Dassa melihat dirinya , emosi yang ia punya takkan tersulut kembali .


Setelah berhasil di lerai , Dassa masih terlihat memberontak . Randy berdiri dibantu oleh beberapa pelayat yang hadir . Inara hanya bisa menangis . Ia sudah masuk kekamar untuk lebih tenang .


" Tubuh tuan besar menolak jantung yang yang sudah di pasang , tuan . Bahkan , ketika diberi rangsangan pun , jantung tak memberikan respon . Dokter sudah semaksimal mungkin dalam operasi kemarin tapi - "


" Persetan dengan mereka , Sial*n ! "


Dassa kembali menggila . Jika sudah begini , ia harus di tenangkan . Dassa di angkat oleh beberapa orang dewasa , dan terkunci dari luar di kamarnya .


Tak sampai disitu , Dassa kembali mengamuk memecahkan apa saja yang ada di kamar . Sprai yang rapi sudah terongok di lantai , beberapa kaca yang menjadi sekat di kamarnya pun hancur tak tersisa .

__ADS_1


Dassa bahkan masih belum bisa menerima keadaan jika seseorang yang sangat ia cintai pergi meninggalkan nya .


2 Jam berlalu ketika ketukan itu terdengar . Dan suara kunci berbunyi .


Seorang wanita setengah paruh baya namun masih sangat cantik mendekat , Dassa sedang duduk meringkuk di ujung balkon . Ia sampai lupa mengganti baju . Air mukanya sangat berantakan .


" Pemakaman akan dimulai . Kau ingin ikut mengantar ayah , hhmm ? "


Inara mengusap pelan surai hitam putra tunggal miliknya dengan Jack . Mereka sama hancurnya sekarang . Terlebih beban yang Inara tanggung sangat berat kedepan , setelah ini dapat ia pastikan bahwa secara tidak langsung ia akan semakin kehilangan putra nya .


Dassa hanya dekat dengan Jack . Inara adalah Seorang ibu tiri . Ibu kandung Dassa pergi meninggalkan ia dan Jack saat sang suami baru merintis menjadi seorang seniman . Hanya ayah Dassa yang tau dimana ibunya berada sekarang .


Dassa tak memberi respon sama sekali . Tatapannya kosong .


" Kalau begitu , bagaimana jika makan ? Kau , tentu belum makan sedari tadi , kan . " Ucapan Inara yang masih setia mengusap surai itu . " Akan aku siapkan ayam bakar kesukaanmu , kau mau menunggu ? "


" Pergilah , temani ayah sampai ke tempat terakhirnya . Dia harus mendapati itu . "


"Tapi , Kau belum makan ."


" Aku bisa mengurus hidupku sendiri , seperti yang sudah - sudah . Aku yang lebih tau kondisi badanku saat ini . Jadi , pergilah . "


Selepas pengusiran halus itu , Dassa kembali sendiri . Langit tampak redup . Senja tak berjingga sekarang , melainkan abu .


Langit pun tau - hingga ia pun tak ragu untuk ikut berduka .


Ketika tenggelam dalam lautan rasa sakit tak bertepi . Dalam diam , akhirnya Dassa mengangkat kepala . Lalu berdiri dan mengambil ponsel yang terletak di lantai , yang sempat ia banting beberapa kali tadi . Tangan kirinya mencoba menghidupkan tombol power , dan berhasil . Ponsel itu menyala meskipun ada beberapa bagian yang pecah dan di perparah dengan layarnya yang tergores .


" Setidaknya aku tidak rugi mengeluarkan beberapa juta hanya untuk ponsel seperti ini ." Hiburnya pada diri sendiri sembari membolak - balikkan ponsel yang sudah ' remuk ' itu .


Segera ia menuju ikon buku telpon , dan memencet tombol hijau . Ia menunggu seseorang mengangkat telpon darinya .


Dering pertama , masih tersambung , begitupun kedua sampai ketujuh . Namun untuk yang kedelapan dan seterusnya , hanya nada operator yang terdengar . Dassa hanya tersenyum miris . Baiklah jika itu yang kau inginkan . Tanpa basa basi Dassa langsung melempar kembali ponselnya ke dinding berkali - kali sampai tak ada yang tersisa disana .

__ADS_1


...***...


__ADS_2