
Setelah pertengkaran sengit dikelas tadi , Cahaya memilih melarikan diri . Pilihannya jatuh untuk memeriksa loker miliknya di lantai 2 untuk mencari buku yang hilang .
Sudah 2 dan 3 kali ia mencari dengan teliti , buku itu masih tidak terlihat . Kemungkinan demi kemungkinan yang pernah ia fikirkan pagi tadi mulai muncul kepermukaan satu per satu .
Namun , dengan Cepat Cahaya langsung menepisnya .
" Pasti ada disekitar sini. " desahnya tak karuan .
NIHIL .
...***...
Cahaya sudah pasrah dengan keadaan . Dirinya tak ingin lagi mencari buku 'mantra' itu . Biarlah , jika nasibnya memang harus terbongkar , ia sudah siap .
Rasanya ingin menangis .
Sekarang , Hanni dan Cahaya ada di kelas , setelah makan siang yang lezat mereka terduduk tidak berdaya . Kepala mereka tidur kan di meja , wajah mereka saling berhadapan namun mereka tak berbicara . Hanya nafas yang menderu satu sama lain .
Hanni sibuk dengan sisa-sisa rasa kenyangnya , sedangkan Cahaya ...
DIMANA BUKU SI*LAN ITU , ANJ$(&+$+%%+% !
Sebenarnya , dirinya masih tidak iklas jika buku berwarna pink itu hilang begitu saja .
Tiba-tiba.
" Ada yang tau siapa pemilik buku ini ? "
Buku yang ia cari tepat di hadapannya sekarang . Sedikit disodorkan di depan muka manisnya . Mata mereka berdua saling melirik satu sama lain .
Akhirnya , Cahaya berdehem lalu menegakkan badannya , dan menatap lurus orang yang menemukan buku yang ia cari beberapa hari ini .
Astaga ! Dassa , Dassa Allaric !
Cahaya masih bersikap tenang , padahal kakinya sudah gemetar tanpa ingin berhenti . Ketika anak manis itu akan menyambar buku yang di pegang , Dassa dengan sigap langsung menariknya .
Celakalah dia .
" Apakah ada yang harus dijelaskan ? "
" ak-aku ."
" aku tunggu di kantin , 5 minute ! "
Dassa berlalu begitu saja sambil melambai - lambaikan buku berwarna pink itu .
Cahaya membenturkan keningnya dimeja berulang - ulang . Gosh ! Dari semua manusia , kenapa harus Dassa yang memegang nya ?
Hanni masih kebingungan , bahkan ia tak mengubah posisi sedikitpun hanya mata nya saja yang melirik kesana dan kemari .
...***...
Kaki Cahaya seperti jelly , sangat lembek untuk di gerakkan . Ia menguntit Dassa dari belakang . Lelaki itu masih tampak tenang , sepertinya ia belum tau isi dari buku si*lan itu .
Cahaya semakin merapalkan doa ketika mereka telah sampai di kantin .
" Duduk ." Titah Dassa tanpa ingin di bantah .
" Ta-tapi , sebentar lagi bel akan berbunyi " Astaga kenapa ia jadi gagap seperti ini ?
" kelas kita jam kosong , guru sedang sibuk mempersiapkan TO . Ada alasan lain , Ms. Maxmillan ? "
__ADS_1
Cahaya duduk tanpa membantah . Aura Dassa terasa sangat dingin , sama persis seperti pertemuan pertama kali mereka .
" Bisa kita mulai ? "
" Bagaimana jika kita membeli minum terlebih dahulu , aku yakin kita membutuhkan air nanti. "
Sedetik kemudian , Dassa langsung berdiri dan mengambil minuman setelah memasukan beberapa lembar uang kedalam vending mecine .
Wah , semakin Dassa mendekat maka semakin besar ardenalin Cahaya terpacu . Ini gila . Bahkan tangannya sampai berkeringat , rasanya ia ingin berlari saja .
Dassa sangat berbeda hari ini , ia tak sehangat dan seramah biasanya .
Tiba-tiba rasa di hatinya mencolos . Entah kenapa , perasaannya sama seperti diabaikan ayahnya , padahal Dassa pun belum melakukan apa-apa .
Cahaya tertunduk ketika lelaki bermanik legam itu menatapnya lekat .
" Kau suka soda , kan ? "
Cahaya hanya mengangguk .
" Ada lagi yang kau butuhkan selain soda ? aku tak ingin ada alasan lain yang mengganggu . "
Cahaya menggeleng .
" Baiklah . "
Perlahan Dassa mengeluarkan buku yang ia selipkan di pinggang bagian belakang , punggung Dassa sandarkan ke kursi dan kakinya dilipat dengan sangat - keren ?
ASTAGA CAHAYA KAU MASIH SEMPAT MENGAGUMI PRIA YANG AKAN MEMBONGKAR KEDOK MU ? LUAR BIASA !
Satu per satu lembaran buku ia buka , Dassa tampak masih santai . Tapi bisa dilihat jika sesekali ia tersenyum sedikit meremehkan .
'Aku hanya penikmat gerakan tipis dari bibirmu, Dassa , tapi bukan pegukir apalagi pemiliknya '
' Tak selalu tentang AKU MENCINTAIMU untuk orang tau bahwa kau mencintainya '
" Lalu di bagian ke tiga . "
' Aku melihatmu sebagai teman , namun terlalu lama melihat , akhirnya aku menyukai mu '
" Dan , ini -"
" Stop ! "
Gerakan tangan Dasar terhenti . Mata itu bergerak dari buku menuju dirinya . Wah , dia persis psikopat sekarang .
" Aku bahkan belum seperempat perjalanan , kenapa ? " Dassa menaiki salah satu alisnya .
" Di-dimana kau menemukan buku itu ?"
Astaga , Cahaya masih saja tergagap sekalipun ia sudah ketahuan . mukanya memerah menahan malu , dan tentu saja ia ingin menangis sekarang .
" Kau menjatuhkannya - ketika menjebakku - bersama anak bersurai perak tak jelas itu . "
Dassa menekan setiap kata nya , Lelaki itu seperti menahan amarah . Rahangnya mengeras satu dengan yang lain .
" Bisa kau jelaskan ? " Ucapnya sambil menutup buku kecil itu dan melemparnya kemeja .
Hati Cahaya semakin menjadi-jadi . Luka itu semakin melebar belum lagi siraman air cuka disetiap lukanya semakin memberi kesan liar disana .
" Aku rasa kau cukup pintar untuk menganalisa semua tulisanku ."
__ADS_1
Dengan susah payah ia membuka mulutnya . Pelupuk itu sudah penuh . Seketika ia menadahkan pandangannya keatas , melihat deretan lampu yang bersinar . Ini , Menyakitkan .
" Tapi kita sudah sepakat untuk menjadi teman ."
PERSETAN DENGAN TEMAN, BO*OH !
" Apakah kau bertanya padaku tentang itu ? "
Cahaya mulai berani menaiki nada suaranya . sudah cukup ia terlihat bodoh .
" Tentu saja , aku selalu bertanya padamu , dan kau menjawabnya ."
" Aku hanya mengangguk ! "
" Kau mempermainkan ku ? "
Mata monolid mempesona itu melebar .
" Apa untungnya aku mempermainkan mu ? "
" Lalu kenapa kau malah menyukaiku ? "
Astaga , lelaki gila ini .
" Apa aku salah jika menyukaimu , huh ? "
Tak tahan , akhirnya Cahaya memilih untuk berdiri dan berkancak pinggang . Pembahasan ini sangat menguras emosi .
" Tentu saja , kau teman terbaik ku , dan akan selalu begitu , Cahaya ."
Cahaya menatap iris legam itu dengan nanar , Masih tentang teman rupanya .
" Kenapa kau memperlakukan ku selayaknya orang yang kau sayangi ? "
Nah , ini masih yang sangat tidak bisa Cahaya pahami , mau di fikir bagaimanapun , ia tak akan pernah bertemu dengan titik temu .
Bahkan Dassa dengan lancang berani untuk mengelus rambutnya , menenangkan nya , menghiburnya , dan memberikan rasa nyaman yang selalu wanita itu impikan .
" Aku memang menyayangimu , tapi tidak dengan saling menyukai ."
" Kenapa kau selalu menunggu di pagi buta ? "
" jangan melebar , Cahaya !"
" Astaga kita bertengkar seperti sepasang suami istri ."
Ia tertawa sumbang . Tepatnya menertawakan dirinya sendiri . Bo*oh !
" aku pergi . "
Baru beberapa langkah , Dassa berkata dengan suara khas yang sangat Cahaya sukai .
" Cahaya , jangan bertindak bodoh . Berhentilah menyukaiku ."
" Sudah ku coba sejak detik pertama saat aku sadar bahwa aku menyukaimu ."
Cahaya berbalik dan kembali beberapa langkah untuk mendekat pada Dassa
" Biarku beri saran , jangan pernah bersikap manis kepada semua orang terkhususnya pada wanita , mereka mudah salah tanggap . Bijaklah dalam bertindak . Dan terima kasih atas minumannya ."
Tanpa BA-BI-BU Cahaya langsung pergi meninggalkan Dassa dan segala keterkejutannya .
__ADS_1
...***...