Sembunyi

Sembunyi
Buku Berwarna Merah Muda


__ADS_3

Setelah pertengkaran sengit dikelas tadi , Cahaya memilih melarikan diri . Pilihannya jatuh untuk memeriksa loker miliknya di lantai 2 untuk mencari buku yang hilang .


Sudah 2 dan 3 kali ia mencari dengan teliti , buku itu masih tidak terlihat . Kemungkinan demi kemungkinan yang pernah ia fikirkan pagi tadi mulai muncul kepermukaan satu per satu .


Namun , dengan Cepat Cahaya langsung menepisnya .


" Pasti ada disekitar sini. " desahnya tak karuan .


NIHIL .


...***...


Cahaya sudah pasrah dengan keadaan . Dirinya tak ingin lagi mencari buku 'mantra' itu . Biarlah , jika nasibnya memang harus terbongkar , ia sudah siap .


Rasanya ingin menangis .


Sekarang , Hanni dan Cahaya ada di kelas , setelah makan siang yang lezat mereka terduduk tidak berdaya . Kepala mereka tidur kan di meja , wajah mereka saling berhadapan namun mereka tak berbicara . Hanya nafas yang menderu satu sama lain .


Hanni sibuk dengan sisa-sisa rasa kenyangnya , sedangkan Cahaya ...


DIMANA BUKU SI*LAN ITU , ANJ$(&+$+%%+% !


Sebenarnya , dirinya masih tidak iklas jika buku berwarna pink itu hilang begitu saja .


Tiba-tiba.


" Ada yang tau siapa pemilik buku ini ? "


Buku yang ia cari tepat di hadapannya sekarang . Sedikit disodorkan di depan muka manisnya . Mata mereka berdua saling melirik satu sama lain .


Akhirnya , Cahaya berdehem lalu menegakkan badannya , dan menatap lurus orang yang menemukan buku yang ia cari beberapa hari ini .


Astaga ! Dassa , Dassa Allaric !


Cahaya masih bersikap tenang , padahal kakinya sudah gemetar tanpa ingin berhenti . Ketika anak manis itu akan menyambar buku yang di pegang , Dassa dengan sigap langsung menariknya .


Celakalah dia .


" Apakah ada yang harus dijelaskan ? "


" ak-aku ."


" aku tunggu di kantin , 5 minute ! "


Dassa berlalu begitu saja sambil melambai - lambaikan buku berwarna pink itu .


Cahaya membenturkan keningnya dimeja berulang - ulang . Gosh ! Dari semua manusia , kenapa harus Dassa yang memegang nya ?


Hanni masih kebingungan , bahkan ia tak mengubah posisi sedikitpun hanya mata nya saja yang melirik kesana dan kemari .


...***...


Kaki Cahaya seperti jelly , sangat lembek untuk di gerakkan . Ia menguntit Dassa dari belakang . Lelaki itu masih tampak tenang , sepertinya ia belum tau isi dari buku si*lan itu .


Cahaya semakin merapalkan doa ketika mereka telah sampai di kantin .


" Duduk ." Titah Dassa tanpa ingin di bantah .


" Ta-tapi , sebentar lagi bel akan berbunyi " Astaga kenapa ia jadi gagap seperti ini ?


" kelas kita jam kosong , guru sedang sibuk mempersiapkan TO . Ada alasan lain , Ms. Maxmillan ? "

__ADS_1


Cahaya duduk tanpa membantah . Aura Dassa terasa sangat dingin , sama persis seperti pertemuan pertama kali mereka .


" Bisa kita mulai ? "


" Bagaimana jika kita membeli minum terlebih dahulu , aku yakin kita membutuhkan air nanti. "


Sedetik kemudian , Dassa langsung berdiri dan mengambil minuman setelah memasukan beberapa lembar uang kedalam vending mecine .


Wah , semakin Dassa mendekat maka semakin besar ardenalin Cahaya terpacu . Ini gila . Bahkan tangannya sampai berkeringat , rasanya ia ingin berlari saja .


Dassa sangat berbeda hari ini , ia tak sehangat dan seramah biasanya .


Tiba-tiba rasa di hatinya mencolos . Entah kenapa , perasaannya sama seperti diabaikan ayahnya , padahal Dassa pun belum melakukan apa-apa .


Cahaya tertunduk ketika lelaki bermanik legam itu menatapnya lekat .


" Kau suka soda , kan ? "


Cahaya hanya mengangguk .


" Ada lagi yang kau butuhkan selain soda ? aku tak ingin ada alasan lain yang mengganggu . "


Cahaya menggeleng .


" Baiklah . "


Perlahan Dassa mengeluarkan buku yang ia selipkan di pinggang bagian belakang , punggung Dassa sandarkan ke kursi dan kakinya dilipat dengan sangat - keren ?


ASTAGA CAHAYA KAU MASIH SEMPAT MENGAGUMI PRIA YANG AKAN MEMBONGKAR KEDOK MU ? LUAR BIASA !


Satu per satu lembaran buku ia buka , Dassa tampak masih santai . Tapi bisa dilihat jika sesekali ia tersenyum sedikit meremehkan .


'Aku hanya penikmat gerakan tipis dari bibirmu, Dassa , tapi bukan pegukir apalagi pemiliknya '


' Tak selalu tentang AKU MENCINTAIMU untuk orang tau bahwa kau mencintainya '


" Lalu di bagian ke tiga . "


' Aku melihatmu sebagai teman , namun terlalu lama melihat , akhirnya aku menyukai mu '


" Dan , ini -"


" Stop ! "


Gerakan tangan Dasar terhenti . Mata itu bergerak dari buku menuju dirinya . Wah , dia persis psikopat sekarang .


" Aku bahkan belum seperempat perjalanan , kenapa ? " Dassa menaiki salah satu alisnya .


" Di-dimana kau menemukan buku itu ?"


Astaga , Cahaya masih saja tergagap sekalipun ia sudah ketahuan . mukanya memerah menahan malu , dan tentu saja ia ingin menangis sekarang .


" Kau menjatuhkannya - ketika menjebakku - bersama anak bersurai perak tak jelas itu . "


Dassa menekan setiap kata nya , Lelaki itu seperti menahan amarah . Rahangnya mengeras satu dengan yang lain .


" Bisa kau jelaskan ? " Ucapnya sambil menutup buku kecil itu dan melemparnya kemeja .


Hati Cahaya semakin menjadi-jadi . Luka itu semakin melebar belum lagi siraman air cuka disetiap lukanya semakin memberi kesan liar disana .


" Aku rasa kau cukup pintar untuk menganalisa semua tulisanku ."

__ADS_1


Dengan susah payah ia membuka mulutnya . Pelupuk itu sudah penuh . Seketika ia menadahkan pandangannya keatas , melihat deretan lampu yang bersinar . Ini , Menyakitkan .


" Tapi kita sudah sepakat untuk menjadi teman ."


PERSETAN DENGAN TEMAN, BO*OH !


" Apakah kau bertanya padaku tentang itu ? "


Cahaya mulai berani menaiki nada suaranya . sudah cukup ia terlihat bodoh .


" Tentu saja , aku selalu bertanya padamu , dan kau menjawabnya ."


" Aku hanya mengangguk ! "


" Kau mempermainkan ku ? "


Mata monolid mempesona itu melebar .


" Apa untungnya aku mempermainkan mu ? "


" Lalu kenapa kau malah menyukaiku ? "


Astaga , lelaki gila ini .


" Apa aku salah jika menyukaimu , huh ? "


Tak tahan , akhirnya Cahaya memilih untuk berdiri dan berkancak pinggang . Pembahasan ini sangat menguras emosi .


" Tentu saja , kau teman terbaik ku , dan akan selalu begitu , Cahaya ."


Cahaya menatap iris legam itu dengan nanar , Masih tentang teman rupanya .


" Kenapa kau memperlakukan ku selayaknya orang yang kau sayangi ? "


Nah , ini masih yang sangat tidak bisa Cahaya pahami , mau di fikir bagaimanapun , ia tak akan pernah bertemu dengan titik temu .


Bahkan Dassa dengan lancang berani untuk mengelus rambutnya , menenangkan nya , menghiburnya , dan memberikan rasa nyaman yang selalu wanita itu impikan .


" Aku memang menyayangimu , tapi tidak dengan saling menyukai ."


" Kenapa kau selalu menunggu di pagi buta ? "


" jangan melebar , Cahaya !"


" Astaga kita bertengkar seperti sepasang suami istri ."


Ia tertawa sumbang . Tepatnya menertawakan dirinya sendiri . Bo*oh !


" aku pergi . "


Baru beberapa langkah , Dassa berkata dengan suara khas yang sangat Cahaya sukai .


" Cahaya , jangan bertindak bodoh . Berhentilah menyukaiku ."


" Sudah ku coba sejak detik pertama saat aku sadar bahwa aku menyukaimu ."


Cahaya berbalik dan kembali beberapa langkah untuk mendekat pada Dassa


" Biarku beri saran , jangan pernah bersikap manis kepada semua orang terkhususnya pada wanita , mereka mudah salah tanggap . Bijaklah dalam bertindak . Dan terima kasih atas minumannya ."


Tanpa BA-BI-BU Cahaya langsung pergi meninggalkan Dassa dan segala keterkejutannya .

__ADS_1


...***...


__ADS_2