Sembunyi

Sembunyi
7 Minutes


__ADS_3

" Apa aku mengganggu jam patah hatimu , Ms.Senja ? "


Cahaya hanya berdecih . Ia bahkan tak tau pasti apa yang sedang ia rasakan sekarang tapi anjing gila ini seenaknya mengatakan bahwa dirinya sedang dirundung patah hati . Luar biasa .


Cahaya masih berusaha mengabaikan , tapi pria yang sedang berhadapan dengan nya saat ini benar-benar menguji ketebalan imannya .


" Wahhh , bahkan kau tak menyanggah sedikit pun . Berarti apa yang aku katakan tadi benar bukan , kau anak kecil yang sedang patah hati . " Gelak tawa mereka memenuhi lorong itu .


" Bukankah aku sudah memenuhi syarat untuk menjadi teman yang baik , ya , kan . " Ari masih mencoba untuk semakin menggoyahkan kesabaran .


" Bahkan Ari memperhatikan tindak tandukmu setiap saat . " Sahut salah satu dari babunya .


Mereka adalah komplotan musuh bebuyutan yang sangat Cahaya benci , Ari dan para babunya .


Tadi , saat Cahaya sedang berjalan di lorong menuju kelas , ia dihadang oleh beberapa babu Ari . Cahaya dibawa ke arah lorong kosong tempat mereka sering bertemu .


Melihat sang macan masih terlihat tenang , perlahan Ari sedikit mendekat dan berbisik di telinga kiri Cahaya , " Biar sedikit ku perjelas , itu bukan rumor tapi itulah kenyataannya ."


" Dan aku tidak asal berbicara , aku bahkan sudah beberapa kali mendapati bukti seperti ini ."


Cahaya mengepalkan tangannya . Si*lan . kenapa mulutnya diam saja , kenapa tak ada bantahan barang sedikit pun !


" Oh , Ms.Senja yang malang . Pantas saja 'cahaya'-mu agak meredup hari ini . Nyatanya Hatimu yang belum siap sempurna itu malah sudah terkoyak lebih dulu . "


Ari tertawa di iringi para babu miliknya . Lelaki itu bahkan berperan seolah sedang memberikan simpati .


Wajah manis itu memerah . Emosi sudah melahap habis napasnya .


" Apa kau sikat gigi tadi pagi ? aroma mulutmu seperti bangkai tikus . " Cahaya menutup hidung . Seketika Ari terdiam tanpa berkata .


Ia dengan mudahnya diserang balik , bahkan ketika kondisi anak itu sedang tidak stabil . Keterlaluan .


" Jika tidak ada urusan lagi aku akan pergi dan aku sarankan agar kau segera menggosok gigi kuning milikmu itu . Aku tau ibumu orang miskin , tapi setidaknya ia masih mampu membelikanmu sikat gigi . "


Cahaya pergi sambil menampakkan senyum miring di bibirnya .


Jujur saja dirinya hampir terprovokasi oleh mulut murahan milik musuh sehidup sematinya itu . Ari Maxmillan .


...***...


" Kau sudah makan siang ? "


Cahaya hanya mengangguk . Ia masih fokus di earphone yang sedang ia gunakan . Bahkan matanya ikut tertutup .


" Tumben tak mengajakku ." Tanya seseorang dengan lembut dan duduk di hadapannya .


Mata coklat itu sedikit terbuka , melirik ponsel dan kembali tertutup . Tak memandang yang lain .


" Heii , aku sedang berbicara denganmu . "


" Dan aku sedang tak ingin berbicara denganmu , dude ! "


" Kau mengabaikanku ? "


" Jika kau merasa di abaikan maka pergilah dari sini , apa kau b*doh ! "


" Cahaya Senja ."

__ADS_1


"Berhenti memanggil namaku ! "


" Cahaya Senja . "


" Aku tidak akan menjawab ."


" CAHAYA SENJA , APA KAU TIDAK MENDENGARKAN AKU ! "


Hatinya bergemuruh , jika ia buka matanya , bulir air itu akan terjatuh .


" BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU , SI*LAN ! "


Tentu saja Cahaya hanya berteriak di hati kecilnya .


Tak ada panggilan lagi . Tak ada sampai earphone itu terangkat dan menjauh dari telinga .


" Apa karena earphone ini kau jadi mengacuhkan temanmu yang tampan ini , huh ? astaga harga diriku jatuh melihat earphone murahan ini . "


Cahaya masih terdiam , matanya masih setia tertutup . Kenapa lelaki itu selalu berusaha untuk menarik perhatian darinya ?


" Senja . "


ia tak bergeming.


" SENJA ! " Akhirnya Dassa memilih untuk meneriakkan nama wanita yang sedang berada dihadapannya .


Namun , sang pemilik mata memilih untuk mengeluarkan bulirnya bukan terbuka seperti yang orang lain pinta . Cahaya bahkan kalah telak oleh keinginan keras kepala air matanya yang ingin keluar begitu saja .


Dassa terdiam . Apa dirinya terlalu kasar tadi ? jangan salahkan dia , siapa yang tidak kesal di abaikan seperti tadi ?


Cahaya membuka mata , tatapannya tajam menghunus tepat pada kristal pekat milik Dassa .


Cahaya memilih diam beberapa saat lalu mulai meluncurkan kalimat tajam .


" Apa aku terlihat seperti lelucon bagimu ? "


" Kenapa kau berkata seperti itu ? "


" Aku yang seharusnya bertanya padamu ' kenapa kau seperti itu ' ? "


Dassa mengerutkan alis menawannya .


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan ? kau terus bertanya tanpa tujuan yang jelas . Maksudku , kau berputar-putar . "


Cahaya tertawa masam . Air matanya pun masih terjun dengan sendirinya .


" Lupakan . Pergi dari sini . " Cahaya menarik earphone yang di pegang oleh Dassa . Namun , Dassa menahan earphone itu agar tak mudah di rebut .


" Hei , bukankah kita adalah teman ? teman akan selalu saling membantu . Sekarang katakan padaku apa yang mengganggu mu , apa ini ada hubungannya dengan Ari ? "


Lagi dan lagi Cahaya hanya memilih diam , tangannya masih sibuk menarik .


" Apakah ada hubungannya dengan rumor pagi ini ? " Gerakan cahaya terhenti . Tepat . Tebakan yang Dassa pikirkan ternyata tepat .


" Astaga , ternyata rumor murahan itu yang membuat teman manis ku ini merajuk , ingin aku jelaskan ? " Tawarnya sambil tersenyum .


Cahaya masih terdiam .

__ADS_1


" Ya tuhan , kenapa susah sekali membujuk wanita keras kepala sepertimu . " Dassa meremas rambut menggunakan sela-sela kedua jari panjang miliknya .


Cahaya menghembuskan napas berat . Ia sedikit frustasi dengan kelakuan ' temannya itu '.


"7 menit . Katakan atau tidak sama sekali . " Ucap wanita manis itu sambil tak melepaskan pandangan dari jam di tangan kirinya .


" Itu terlalu tanggung , genapkan saja menjadi 10 menit . " Ya ampun , kelakuan lelaki ini imut sekali .


" Kau sudah membuang 10 detik dariku . " Cahaya masih berusaha untuk bersikap baik-baik saja .


" Apa kau gila ? " Dassa menaikan suara .


" Aku calon investor terbaik jika kau lupa . " Tangan itu masih belum ia turunkan pertanda bahwa Cahaya benar-benar profesional dalam bernegosiasi .


" Kau dan kesombonganmu . " Dassa mendesah dengan pasrah .


" Terima kasih but 6.30 detik . Hurry up , dude . " Cahaya masih terus mengejar Dassa dengan semangat .


" ASTAGA AKU BAHKAN TAK TAU HARUS MEMULAI DARI MANA ! "


AMBIL NYAWA TUKANG OJEK , TUHANNNN !


"Semakin kau mengeluh maka semakin banyak waktu yang terbuang , belajarlah untuk menghargai waktu , Mr.Alaric . "


" Berhenti memanggil nama keluargaku . "


" Baiklah , kau sudah kehilangan 1 menitmu hanya untuk hal tidak penting. "


" OK.. berhenti berhitung dan duduk disini bersamaku . "


Dassa berlari dan mencari tempat duduk , tak lupa ia menepuk-nepuk tempat duduk persis disampingnya .


" 5.47 detik ."


" Kau mau mati ? Aku bilang berhenti . "


" Baiklah . " Cahaya menurunkan tangan kirinya dan mengikuti arah pandang Dassa .


" Baiklah . Sekarang aku akan menjelaskan . dengarkan baik-baik . "


" Bisakah kita berhenti untuk tidak berkata ' Baiklah ' ? "


Cahaya diam dan menetralkan detak jantungnya . Ini kacau . Sangat kacau . Apa yang sedang ia lakukan sekarang ?


" Kenapa ? " apa lagi masalahnya sekarang .


" Karena sepanjang percakapan kita hanya berkata ' Baiklah ' ! "


" Baiklah. " Dassa memamerkan gigi rapi nanti menawan miliknya sendiri .


" begini . " sambung lelaki itu .


tapi Dassa malah berhenti dan tak melanjutkannya .


" Berhenti menatapku seolah aku ketahuan mencuri di supermarket ."


" Astaga , kau benar-benar membuang waktuku ! aku akan pergi sekarang ! "

__ADS_1


"OK , FINE . Jangan pergi . Ayo kita luruskan rumor pagi ini . "


...***...


__ADS_2