
" Apa aku mengganggu jam patah hatimu , Ms.Senja ? "
Cahaya hanya berdecih . Ia bahkan tak tau pasti apa yang sedang ia rasakan sekarang tapi anjing gila ini seenaknya mengatakan bahwa dirinya sedang dirundung patah hati . Luar biasa .
Cahaya masih berusaha mengabaikan , tapi pria yang sedang berhadapan dengan nya saat ini benar-benar menguji ketebalan imannya .
" Wahhh , bahkan kau tak menyanggah sedikit pun . Berarti apa yang aku katakan tadi benar bukan , kau anak kecil yang sedang patah hati . " Gelak tawa mereka memenuhi lorong itu .
" Bukankah aku sudah memenuhi syarat untuk menjadi teman yang baik , ya , kan . " Ari masih mencoba untuk semakin menggoyahkan kesabaran .
" Bahkan Ari memperhatikan tindak tandukmu setiap saat . " Sahut salah satu dari babunya .
Mereka adalah komplotan musuh bebuyutan yang sangat Cahaya benci , Ari dan para babunya .
Tadi , saat Cahaya sedang berjalan di lorong menuju kelas , ia dihadang oleh beberapa babu Ari . Cahaya dibawa ke arah lorong kosong tempat mereka sering bertemu .
Melihat sang macan masih terlihat tenang , perlahan Ari sedikit mendekat dan berbisik di telinga kiri Cahaya , " Biar sedikit ku perjelas , itu bukan rumor tapi itulah kenyataannya ."
" Dan aku tidak asal berbicara , aku bahkan sudah beberapa kali mendapati bukti seperti ini ."
Cahaya mengepalkan tangannya . Si*lan . kenapa mulutnya diam saja , kenapa tak ada bantahan barang sedikit pun !
" Oh , Ms.Senja yang malang . Pantas saja 'cahaya'-mu agak meredup hari ini . Nyatanya Hatimu yang belum siap sempurna itu malah sudah terkoyak lebih dulu . "
Ari tertawa di iringi para babu miliknya . Lelaki itu bahkan berperan seolah sedang memberikan simpati .
Wajah manis itu memerah . Emosi sudah melahap habis napasnya .
" Apa kau sikat gigi tadi pagi ? aroma mulutmu seperti bangkai tikus . " Cahaya menutup hidung . Seketika Ari terdiam tanpa berkata .
Ia dengan mudahnya diserang balik , bahkan ketika kondisi anak itu sedang tidak stabil . Keterlaluan .
" Jika tidak ada urusan lagi aku akan pergi dan aku sarankan agar kau segera menggosok gigi kuning milikmu itu . Aku tau ibumu orang miskin , tapi setidaknya ia masih mampu membelikanmu sikat gigi . "
Cahaya pergi sambil menampakkan senyum miring di bibirnya .
Jujur saja dirinya hampir terprovokasi oleh mulut murahan milik musuh sehidup sematinya itu . Ari Maxmillan .
...***...
" Kau sudah makan siang ? "
Cahaya hanya mengangguk . Ia masih fokus di earphone yang sedang ia gunakan . Bahkan matanya ikut tertutup .
" Tumben tak mengajakku ." Tanya seseorang dengan lembut dan duduk di hadapannya .
Mata coklat itu sedikit terbuka , melirik ponsel dan kembali tertutup . Tak memandang yang lain .
" Heii , aku sedang berbicara denganmu . "
" Dan aku sedang tak ingin berbicara denganmu , dude ! "
" Kau mengabaikanku ? "
" Jika kau merasa di abaikan maka pergilah dari sini , apa kau b*doh ! "
" Cahaya Senja ."
__ADS_1
"Berhenti memanggil namaku ! "
" Cahaya Senja . "
" Aku tidak akan menjawab ."
" CAHAYA SENJA , APA KAU TIDAK MENDENGARKAN AKU ! "
Hatinya bergemuruh , jika ia buka matanya , bulir air itu akan terjatuh .
" BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU , SI*LAN ! "
Tentu saja Cahaya hanya berteriak di hati kecilnya .
Tak ada panggilan lagi . Tak ada sampai earphone itu terangkat dan menjauh dari telinga .
" Apa karena earphone ini kau jadi mengacuhkan temanmu yang tampan ini , huh ? astaga harga diriku jatuh melihat earphone murahan ini . "
Cahaya masih terdiam , matanya masih setia tertutup . Kenapa lelaki itu selalu berusaha untuk menarik perhatian darinya ?
" Senja . "
ia tak bergeming.
" SENJA ! " Akhirnya Dassa memilih untuk meneriakkan nama wanita yang sedang berada dihadapannya .
Namun , sang pemilik mata memilih untuk mengeluarkan bulirnya bukan terbuka seperti yang orang lain pinta . Cahaya bahkan kalah telak oleh keinginan keras kepala air matanya yang ingin keluar begitu saja .
Dassa terdiam . Apa dirinya terlalu kasar tadi ? jangan salahkan dia , siapa yang tidak kesal di abaikan seperti tadi ?
Cahaya membuka mata , tatapannya tajam menghunus tepat pada kristal pekat milik Dassa .
Cahaya memilih diam beberapa saat lalu mulai meluncurkan kalimat tajam .
" Apa aku terlihat seperti lelucon bagimu ? "
" Kenapa kau berkata seperti itu ? "
" Aku yang seharusnya bertanya padamu ' kenapa kau seperti itu ' ? "
Dassa mengerutkan alis menawannya .
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan ? kau terus bertanya tanpa tujuan yang jelas . Maksudku , kau berputar-putar . "
Cahaya tertawa masam . Air matanya pun masih terjun dengan sendirinya .
" Lupakan . Pergi dari sini . " Cahaya menarik earphone yang di pegang oleh Dassa . Namun , Dassa menahan earphone itu agar tak mudah di rebut .
" Hei , bukankah kita adalah teman ? teman akan selalu saling membantu . Sekarang katakan padaku apa yang mengganggu mu , apa ini ada hubungannya dengan Ari ? "
Lagi dan lagi Cahaya hanya memilih diam , tangannya masih sibuk menarik .
" Apakah ada hubungannya dengan rumor pagi ini ? " Gerakan cahaya terhenti . Tepat . Tebakan yang Dassa pikirkan ternyata tepat .
" Astaga , ternyata rumor murahan itu yang membuat teman manis ku ini merajuk , ingin aku jelaskan ? " Tawarnya sambil tersenyum .
Cahaya masih terdiam .
__ADS_1
" Ya tuhan , kenapa susah sekali membujuk wanita keras kepala sepertimu . " Dassa meremas rambut menggunakan sela-sela kedua jari panjang miliknya .
Cahaya menghembuskan napas berat . Ia sedikit frustasi dengan kelakuan ' temannya itu '.
"7 menit . Katakan atau tidak sama sekali . " Ucap wanita manis itu sambil tak melepaskan pandangan dari jam di tangan kirinya .
" Itu terlalu tanggung , genapkan saja menjadi 10 menit . " Ya ampun , kelakuan lelaki ini imut sekali .
" Kau sudah membuang 10 detik dariku . " Cahaya masih berusaha untuk bersikap baik-baik saja .
" Apa kau gila ? " Dassa menaikan suara .
" Aku calon investor terbaik jika kau lupa . " Tangan itu masih belum ia turunkan pertanda bahwa Cahaya benar-benar profesional dalam bernegosiasi .
" Kau dan kesombonganmu . " Dassa mendesah dengan pasrah .
" Terima kasih but 6.30 detik . Hurry up , dude . " Cahaya masih terus mengejar Dassa dengan semangat .
" ASTAGA AKU BAHKAN TAK TAU HARUS MEMULAI DARI MANA ! "
AMBIL NYAWA TUKANG OJEK , TUHANNNN !
"Semakin kau mengeluh maka semakin banyak waktu yang terbuang , belajarlah untuk menghargai waktu , Mr.Alaric . "
" Berhenti memanggil nama keluargaku . "
" Baiklah , kau sudah kehilangan 1 menitmu hanya untuk hal tidak penting. "
" OK.. berhenti berhitung dan duduk disini bersamaku . "
Dassa berlari dan mencari tempat duduk , tak lupa ia menepuk-nepuk tempat duduk persis disampingnya .
" 5.47 detik ."
" Kau mau mati ? Aku bilang berhenti . "
" Baiklah . " Cahaya menurunkan tangan kirinya dan mengikuti arah pandang Dassa .
" Baiklah . Sekarang aku akan menjelaskan . dengarkan baik-baik . "
" Bisakah kita berhenti untuk tidak berkata ' Baiklah ' ? "
Cahaya diam dan menetralkan detak jantungnya . Ini kacau . Sangat kacau . Apa yang sedang ia lakukan sekarang ?
" Kenapa ? " apa lagi masalahnya sekarang .
" Karena sepanjang percakapan kita hanya berkata ' Baiklah ' ! "
" Baiklah. " Dassa memamerkan gigi rapi nanti menawan miliknya sendiri .
" begini . " sambung lelaki itu .
tapi Dassa malah berhenti dan tak melanjutkannya .
" Berhenti menatapku seolah aku ketahuan mencuri di supermarket ."
" Astaga , kau benar-benar membuang waktuku ! aku akan pergi sekarang ! "
__ADS_1
"OK , FINE . Jangan pergi . Ayo kita luruskan rumor pagi ini . "
...***...