
Setelah pertengkaran ' kecil ' antara ia dan Irina , Dassa memilih untuk tidak pergi sekolah terlebih dahulu . Sepertinya benar , tubuhnya perlu istirahat . Ia butuh memulihkan energi lagi .
Dan disinilah dirinya sekarang . Tercenung menatap kamarnya yang nampak sangat ' polos ' karena sekat kaca yang ia punya sudah habis Dassa pecahkan kemarin sore .
Kamarnya sudah bersih sekarang , tak sehancur kemarin . Ia tidurkan tubuh jangkung itu di atas kasur bernilai puluhan juta . Namun , kakinya masih menjuntai di bawah . Kasur itu seperti membelainya hingga ia berhasrat untuk kembali tidur .
Sepeninggalan Irina tadi , Dassa segera menghabiskan makanan itu dan langsung pergi dari kamar yang berdominasi warna cream itu .
Tak butuh waktu lama hingga dunia tidur menyambutnya untuk berbaur .
...***...
" Tuan . "
Perlahan Dassa merasakan tubuhnya sedikit di guncang pelan . Ia membuka mata . Pertama kali yang ia lihat adalah , Betty . Kepala pelayan dirumahnya . Wanita berumur yang ayah nya perkerjakan entah sejak kapan . Mungkin usia kerja Betty lebih tua di banding usia nya saat ini .
" Kenapa ? " Suara serak khas orang bangun tidur menyapa pendengaran Betty . Dassa duduk sambil mengecek matanya yang masih lengket .
" 2 jam lagi peringatan kematian tuan besar akan dimulai , tuan . Lebih baik , tuan bersiap-siap sekarang ."
" Jam berapa sekarang ? "
" Jam 5 sore , tuan . "
" Siapa saja yang akan datang ? "
" Saya kurang mengerti masalah itu , tuan . Maaf . " Betty menundukkan kepalanya dengan dalam . Ia tau , bahwa ia takkan dimarahi karena itu bukan perkerjaannya . Namun tetap saja ia merasa gagal melayani tuan muda nya .
" Tak apa , pergilah. "
Betty mengangguk mengerti dan mundur selangkah untuk undur diri . namun , ketika akan berbalik , Betty langsung teringat sesuatu .
" Perban anda harus sering di ganti , tuan . Ini luka yang serius karena luka nya cukup terbuka lebar dan tuan menolak untuk di jahit kemarin ." Betty sedikit meringis jika mengingat luka Dassa yang ia bersihkan kemarin malam .
" Ah , ya . Aku juga merasa agak sedikit risih sekarang , mungkin darah terlalu banyak yang keluar sampai hampir membasahi perban ."
Betty hanya menganggukan kepala sambil menunggu instruksi apa yang akan ia terima .
" Bagaiamana jika aku mandi terlebih dahulu . Nanti , jika perban ini memang tidak nyaman lagi , aku akan memanggil mu "
__ADS_1
" Baiklah , tuan . Kalau begitu saya undur diri ."
Tubuh gempal Betty hilang saat ia menutup pintu kamar Dassa . Dassa kembali menatap sekeliling kamarnya , ia masih saja berharap jika ini hanyalah mimpi dan ia akan terbangun nanti .
...***...
Dassa turun dengan di topang oleh seorang pengawal . Bagaimana tidak , jika manusia ' normal ' akan memberikan betadine atau sejenisnya untuk sekedar membersihkan luka . Maka , berbeda dengan Dassa .
Menurutnya Betadine tak membantu apapun . Ia ingin cepat luka itu mengering . Jadi , Dassa menemukan cara gila , yakni menyiramkan asam asetat pada luka itu . Cairan ini dipercaya oleh medis lebih efektif melawan berbagai jenis bakteri maupun jamur, dan dinilai cocok untuk membersihkan luka yang mengalami infeksi.
Bahkan , kabar baiknya adalah cairan asam asetat dianggap mampu mendukung dan mempercepat proses penyembuhan luka. Sebab , asam cuka ini dapat menurunkan pH pada luka sehingga patogen seperti bakteri tidak dapat berkembang.
Namun resiko yang ia dapat adalah seperti sekarang , ia bahkan tak bisa berjalan karena sensasi menyengat yang masih terasa sampai sekarang .
Ketika sampai pada undukan tangga terakhir , semua teman sekolah menyerbunya dengan haru .
Mereka semua hampir menangis melihat kondisi mengenaskan dari teman kelas nya . Ucapab belasungkawa datang bertubi-tubi . Ketika suasana telah mengangsur membaik , Hanni mendekati Dassa yang sedang duduk di salah satu kursi tamu .
" Hai , bagaimana perasaanmu ? membaik ? "
" pertanyaan bodoh . "
" Maaf aku baru datang hari ini . Aku benar - benar tak tau jika Ms.Ponix tidak mengumumkannya di depan kelas tadi pagi ."
" It's ok . Terima kasih sudah datang ." Hanni hanya menganggukan kepala sebagai respon yang ia berikan . " Dimana , Cahaya ? "
" Uuuu , kau mencarinya ? " Hanni menyipitkan mata untuk menggoda temannya itu .
" Hanya dia yang tak ada disini , right ? "
" Kemarin ketika kelas musik berakhir , Cahaya izin pulang , katanya badannya tak sehat ."
Dassa melihat ada yang salah dari temannya itu . Dassa memang tak begitu dekat dengan Hanni . Tapi , yang benar saja . Bayi saja mungkin tau bahwa Hanni sedang berbohong .
Dassa hanya memandangi Hanni tanpa ekspresi . Dan itu membuat Hanni sangat salah tingkah .
" Baiklah , fine . Akan aku jelaskan . Aku sebenarnya tidak berniat menguping atau bahkan ikut campur dalam urusan orang lain . Tapi , hei kalian bertengkar begitu hebat . Aku yang tertinggal karena izin ke toilet jadi penasaran .
Dan , ya kau tau , ak- aku mendengar semua . Jangan tanya , kau tau sendiri maksudku . Mungkin , ia sedang menenangkan diri . Aku yakin besok ia akan kembali sekolah . "
__ADS_1
" Aku tak mengatakan apapun sedari tadi , Han . " Dassa sedikit terhibur dengan kelakuan Hanni , wanita berbaju dress coklat panjang itu terlihat sangat gugup karena hanya ia tatap .
" Tapi kau mengintimidasi ku dengan tatapan murahan itu ."
Suasana kembali hening , hanya ada beberapa orang yang terdengar sedang berbicara pelan .
Dassa mengetuk meja dengan jari telunjuknya , ia bosan .
" Kau bisa menghubunginya ? "
" Belum , mungkin nanti . Kenapa ? "
" Kemarin aku menghubunginya , tapi tak di angkat . Lalu , ketika aku telpon ulang , malah suara operator yang menyambut ku " Dassa mendesah .
Pikiran nya kalut . Bercabang hingga tak paham dari mana sampai kemana pikiran nya saat ini . Setitik rasa bersalah mulai menggerogoti nuraninya . Apakah ia terlalu keras kemarin ? terlalu kasar ? atau terlalu memojokan teman nya itu ?
Tapi , Dassa tak pernah beranggapan bahwa wanita bermata monolid itu akan mengsalah-artikan perbuatannya itu .
Maksudnya , Dassa sangat menyayangi Cahaya . Tapi jika harus disejajarkan dengan Nana , maka ia tak bisa memilih .
Cahaya sudah seperti adiknya . Jika melihat Cahaya , Dassa merasa bahwa ia sedang melihat cermin . Dassa menyukai apapun yang ada pada wanita itu .
...***...
Dengan langkah lebar dan tak sabaran , Dassa berjalan menuju kelasnya . Ia harus minta maaf dan memperbaiki hubungan nya dengan Cahaya . Bahkan , hal ini sudah ia fikirkan dari semalam .
Sesampainya di kelas , semua orang terkejut melihat Dassa . Pasalnya , ia sudah diberikan izin libur selama seminggu kedepan , tapi kenapa tiba-tiba ia muncul di kelas sekarang .
Matanya mengedar ke seluruh ruangan , mencari wanita itu . Tak ada .
' Mungkin , Cahaya sedang dalam perjalanan ' Batinnya .
Perlahan berjalan dan duduk di kursi tepat di sebelah kursi Cahaya . Ia sedikit menoleh untuk memastikan apakah Cahaya benar-benar belum datang .
Dassa mengabil buku novel di dalam tas , membuka dan melanjutkan bacaannya . Meskipun demikian , fikiran nya tak fokus sama sekali .
Tiba - tiba .
Ada seseorang yang tanpa aba-aba langsung duduk di kursi yang ia intai sedari tadi . Dassa langsung menoleh dan , kecewa yang harus ia telan .
__ADS_1
Itu bukan Cahaya , Tapi Ari . Ari Maxmillan . Si*lan !