Sembunyi

Sembunyi
Beban Mental


__ADS_3

Dassa benar-benar terkurung di sini . Ia tak diizinkan kemanapun dirinya akan pergi sebelum Dassa mau kembali ke sekolah .


" Dia mengkhawatirkan kesehatan mentalku , tapi nyatanya wanita itulah yang menghancurkannya ." Dassa bergumam sendiri .


Sudah beberapa hari setelah kejadian itu . Namun , pertikaian di antara ibu dan anak ini masih berlanjut .


Tok ... tok... tokk ..


" Masuk ." Dassa kembali duduk ke meja belajar . Hari ini adalah jadwal ujian susulan . Ya , pada akhirnya Irina lagi-lagi mengalah atas sikap egois yang selalu Dassa berikan . Karena , bagaimanapun Dassa takkan bergeming sampai tujuannya tercapai .


" Selamat siang , Aku adalah salah satu pengawas ujian susulanmu hari ini . " Seorang wanita paruh baya sedikit membungkukkan badan membrri hormat kepada Dassa yang duduk di meja .


Dassa berdiri dan sebelah tangannya masuk kedalam saku celana dasar yang ia kenakan .


" Terima kasih sudah datang . Silahkan duduk . " Dassa tersenyum formal dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk di hadapannya .


Sang wanita mengangguk , lalu berjalan anggun . Setelah duduk wanita itu ingin berbincang sedikit untuk mencairkan suasana . Namun , dengan cepat Dassa menolaknya dengan sedikit - kasar .


" Bagaimana jika kita tak perlu basa-basi . Aku rasa kau juga tidak punya waktu untuk itu , kan ? " Dassa masih tersenyum formal dan menatap wanita separuh baya itu .


" Ah , itu lebih baik . Kau pemuda yang tak suka membuang waktu ternyata . "


...***...


" Bukankah kau bosan selalu di kamar ini ? Aku punya sebuah penawaran untukmu . " Irina masuk sesaat setelah wanita paruh baya itu beranjak pergi .


" Maaf , tapi alu sedang tidak berminat . Pergilah . " Dassa membereskan beberapa pensil dan perlengkapan lainnya yang bercecar diatas meja . Lelaki itu lalu mengambil acak koleksi novel yang tersusun rapi di lemari .


" Kau bisa meminta apa saja dariku , asal kau tetap melanjutkan study-mu . "


Dassa menatap Irina dengan tanpa minat . Lalu , kembali melanjutkan membaca novel yang ia pegang saat ini .


Irina sempat berpikir sejenak , lalu menimbang - apakah ia harus melakukannya lagi atau tidak , " Apakah itu terlalu berat , huh ? Aku ingin kau melanjutkan sekolahmu , bukan mencuri di bank . Apa susahnya ! " Ucapnya sambil sedikit menggunakan aksen ala wanita merajuk . Terakhir kali , ketika ia lakukan itu pada Dassa , berhasil .


" Apa akhir-akhir ini kita terlihat akrab ? Sampai kau mengajukan negosiasi untukku ? Bukankah ini yang kau inginkan , menjauh dari segala tentang kebahagiaan yang aku jalani ? Begitu ?! "


" Kemarin kau berjanji untuk memanggilku mommy , Dassa . Apa kau lupa ? "


" Ah , sebelum aku tau niat licikmu membawaku kemari . " Dassa kembali menatap novel bersampul merah darah itu . Sebenarnya , fokus Dassa tak lagi disana . Pikiran itu kembali kacau saat Irina memasuki kamar pribadinya .


Seperti ada listrik yang menyengat ulu hati . Meskipun sudah berkali-kali Dassa berbicara sedikit tak 'berbahasa ' , tapi hal itu selalu berhasil membuat Irina sakit dihati .


" Dassa , APAPUN . Kau boleh minta APAPUN asal kau mau kembali melanjutkan sekolahmu . "


Irina kembali memprovokasi lelaki itu untuk menerima negosiasi yang ia tawarkan . Sengaja ia menekan kata ' Apapun ' untuk mempercantik kosakata yang ia gunakan .


Dahi itu hanya berkerut sebentar . Lalu , kembali kebenruk semula . Seolah sang pemilik tak berminat sama sekali .


Tak ada yang berminat untuk berbicara .


" Apapun , katamu ? Meskipun kau tau aku sangat ingin mempunyai sebuah mansion di Florida ? "

__ADS_1


Ah , sudah Irina duga . Ia bahkan meleset sedikit pun . Bibir Irina sedikit tersungging tersenyum tipis .


" Kenapa harus Florida ? "


" Miami saja kalau begitu . "


" Deal . "


" Ah , aku sedikit menyukaimu , mom ."


...***...


Siang ini , matahari sangat terang nan terik . Entah kenapa , tiba-tiba ia tergiur untuk membenamkan diri di kolam yang jernih dihadapannya .



Setelah bolak-balik berenang , ia akhirnya duduk di pinggir kolam . Setiap sudut rumahnya memiliki suasana yang berbeda . Contohnya saja , kolam renang ini . Jika rumah disangkut pautkan dengan kemewahan , maka kolam ini akan disangkutkan dengan ketenangan . Siapa pun yang menginjakkan kaki disana , takkan pernah berpikir untuk berhenti berenang .


Cahaya sedikit tercenung menatap dirinya sendiri di air kolam . Ada lingkaran. hitam di mata monolid-nya yang menawan .


" Nona . "


" Astaga . Kau membuatku terkejut ! "


" Maafkan aku , nona . Tapi , anda memiliki telpon penting . " Ujar sang maid dengan sedikit gemetar . Lalu , ia menyodorkan telepon rumah itu pada Cahaya.


Hati Cahaya berdegup . Apakah itu , Dassa ? Dassa menghubunginya ? Setelah sekian lamanya ?


Cahaya ragu untuk menjawab . Namun , ia sangat penasaran sekarang . Jika benar itu Dassa , apa yang harus ia katakan ? Menangis ? Yang benar saja ! LALU APA ?!


" Ehemmm...ehemmm . " Wanita itu menjauhkan sebentar telepon itu untuk memperbaiki pita suaranya .


" Ha-halo . "


si*lan , lagi-lagi aku gugup !


" Cahayaaaaaaa . " Teriakan itu sangat khas .


' Baji*gan . Hanni ternyata ' , Umpatnya dalam hati .


" Hmm ? " Cahaya hanya berdehem tanpa ingin menyahut lebih jauh .


" Besok kita akan mulai sekolah . Astaga kita sudah junior high school sekarang . Aku merasa sangat keren . "


" Hm . "


" Apakah kau sibuk ? "


" Hm ? "


" Aku ingin mengajakmu berbelanja . Tas , sepatu , dan entahlah yang jelas mari berbelanjaaaaa !! " Suara Hanni sangat bersemangat . Ya tuhan .

__ADS_1


" em..emm ! " Cahaya kembali berdehem dan tak lupa ia menggelengkan kepala tanda bahwa tidak ingin . Padahal Hanni tidak akan melihat tingkahnya .


" Ayolah , aku akan membelikan apapun yang kamu mau . "


" Apakah kau lupa kalau kau sudah bangkrut , Ms.Westlly ? "


" Kau menyebalkan . Aku akan menjemputmu . " Suara wanita berponi itu sedikit mengecil . Seolah ia sedang kecewa berat sekarang .


" No . Aku sudah membeli semua bersama ibuku kemarin malam . "


Tak ada sahutan di ujung telepon .


" Ah , ya . Bersama ibumu , right . Apakah itu - menyenangkan , hm ? " Astaga , dia salah berbicara . Cahaya memukul pelan mulut yang terlewat lancang .


" 1 jam dari sekarang kau tak datang , jangan harap aku akan menemanimu meskipun kau menagis di depan gerbang rumah mewahku . "


" Jangan khawatir , aku bahkan sudah hampir di depan rumahmu . Mungkin 15 menit lagi . "


"Kau menyebalkan . "


" Heii , berkacalah . "


" Aku akan bersiap , jika sudah sampai masuk saja kekamarku . "


" I will . "


...***...


" Aku baru menutup telepon 2 menit yang lalu , dan kau berjanji akan datang setelah 15 menit , tapi apa ini ? "


Cahaya menggelengkan kepala tidak percaya . Bahkan , ia baru masuk kamar dan tiba-tiba wanita aneh itu menyusulnya dari belakang .


" Maafkan aku . Aku terlalu bersemangat . " Hanni memamerkan gigi rapinya . Dan , dia tidak berbohong sama sekali tentang ia yang sangat bersemangat sekarang .


Cahaya memutar matanya jengah . Lalu , meninggalkan Hanni untuk mandi . Kepalanya harus segera disiram karena telah mendidih melihat tingkah Hanni .


Selagi menunggu , Hanni memutari kamar Cahaya yang sialnya , sangat luas !



Mata Hanni tak berkedip . Kamarnya sangat - Feminim ? Bagaimanapun , kamar ini sangat manis berbanding terbalik dengan penunggunya .


" Wah , kamarnya bahkan lebih luas dibanding lapangan futsal di sekolah . "


Hanni masih belum sadar dari keterpanaannya pada setiap interior yang ada di kamar Cahaya . Hanya satu kata , Gila .


" Apa kabar dengan ruang ganti ? apa aku harus kesana juga ? Haha , maafkan aku Cahaya . "


Hanni membalik badan dan membuka salah satu pintu kaca yang ada di kamar wanita itu . Ketika ia masuk ..


__ADS_1


" Entah aku yang telah jatuh miskin sehingga melihat ini saja aku langsung kagum , atau bagaimana aku juga tak tau . " Keluhnya sebentar , lalu emudian mata Hanni mengerjap beberapa kali , " Ah , aku lupa . Anak setan itu adalah orang kaya . "


__ADS_2