
Dassa benar-benar terkurung di sini . Ia tak diizinkan kemanapun dirinya akan pergi sebelum Dassa mau kembali ke sekolah .
" Dia mengkhawatirkan kesehatan mentalku , tapi nyatanya wanita itulah yang menghancurkannya ." Dassa bergumam sendiri .
Sudah beberapa hari setelah kejadian itu . Namun , pertikaian di antara ibu dan anak ini masih berlanjut .
Tok ... tok... tokk ..
" Masuk ." Dassa kembali duduk ke meja belajar . Hari ini adalah jadwal ujian susulan . Ya , pada akhirnya Irina lagi-lagi mengalah atas sikap egois yang selalu Dassa berikan . Karena , bagaimanapun Dassa takkan bergeming sampai tujuannya tercapai .
" Selamat siang , Aku adalah salah satu pengawas ujian susulanmu hari ini . " Seorang wanita paruh baya sedikit membungkukkan badan membrri hormat kepada Dassa yang duduk di meja .
Dassa berdiri dan sebelah tangannya masuk kedalam saku celana dasar yang ia kenakan .
" Terima kasih sudah datang . Silahkan duduk . " Dassa tersenyum formal dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk di hadapannya .
Sang wanita mengangguk , lalu berjalan anggun . Setelah duduk wanita itu ingin berbincang sedikit untuk mencairkan suasana . Namun , dengan cepat Dassa menolaknya dengan sedikit - kasar .
" Bagaimana jika kita tak perlu basa-basi . Aku rasa kau juga tidak punya waktu untuk itu , kan ? " Dassa masih tersenyum formal dan menatap wanita separuh baya itu .
" Ah , itu lebih baik . Kau pemuda yang tak suka membuang waktu ternyata . "
...***...
" Bukankah kau bosan selalu di kamar ini ? Aku punya sebuah penawaran untukmu . " Irina masuk sesaat setelah wanita paruh baya itu beranjak pergi .
" Maaf , tapi alu sedang tidak berminat . Pergilah . " Dassa membereskan beberapa pensil dan perlengkapan lainnya yang bercecar diatas meja . Lelaki itu lalu mengambil acak koleksi novel yang tersusun rapi di lemari .
" Kau bisa meminta apa saja dariku , asal kau tetap melanjutkan study-mu . "
Dassa menatap Irina dengan tanpa minat . Lalu , kembali melanjutkan membaca novel yang ia pegang saat ini .
Irina sempat berpikir sejenak , lalu menimbang - apakah ia harus melakukannya lagi atau tidak , " Apakah itu terlalu berat , huh ? Aku ingin kau melanjutkan sekolahmu , bukan mencuri di bank . Apa susahnya ! " Ucapnya sambil sedikit menggunakan aksen ala wanita merajuk . Terakhir kali , ketika ia lakukan itu pada Dassa , berhasil .
" Apa akhir-akhir ini kita terlihat akrab ? Sampai kau mengajukan negosiasi untukku ? Bukankah ini yang kau inginkan , menjauh dari segala tentang kebahagiaan yang aku jalani ? Begitu ?! "
" Kemarin kau berjanji untuk memanggilku mommy , Dassa . Apa kau lupa ? "
" Ah , sebelum aku tau niat licikmu membawaku kemari . " Dassa kembali menatap novel bersampul merah darah itu . Sebenarnya , fokus Dassa tak lagi disana . Pikiran itu kembali kacau saat Irina memasuki kamar pribadinya .
Seperti ada listrik yang menyengat ulu hati . Meskipun sudah berkali-kali Dassa berbicara sedikit tak 'berbahasa ' , tapi hal itu selalu berhasil membuat Irina sakit dihati .
" Dassa , APAPUN . Kau boleh minta APAPUN asal kau mau kembali melanjutkan sekolahmu . "
Irina kembali memprovokasi lelaki itu untuk menerima negosiasi yang ia tawarkan . Sengaja ia menekan kata ' Apapun ' untuk mempercantik kosakata yang ia gunakan .
Dahi itu hanya berkerut sebentar . Lalu , kembali kebenruk semula . Seolah sang pemilik tak berminat sama sekali .
Tak ada yang berminat untuk berbicara .
" Apapun , katamu ? Meskipun kau tau aku sangat ingin mempunyai sebuah mansion di Florida ? "
__ADS_1
Ah , sudah Irina duga . Ia bahkan meleset sedikit pun . Bibir Irina sedikit tersungging tersenyum tipis .
" Kenapa harus Florida ? "
" Miami saja kalau begitu . "
" Deal . "
" Ah , aku sedikit menyukaimu , mom ."
...***...
Siang ini , matahari sangat terang nan terik . Entah kenapa , tiba-tiba ia tergiur untuk membenamkan diri di kolam yang jernih dihadapannya .
Setelah bolak-balik berenang , ia akhirnya duduk di pinggir kolam . Setiap sudut rumahnya memiliki suasana yang berbeda . Contohnya saja , kolam renang ini . Jika rumah disangkut pautkan dengan kemewahan , maka kolam ini akan disangkutkan dengan ketenangan . Siapa pun yang menginjakkan kaki disana , takkan pernah berpikir untuk berhenti berenang .
Cahaya sedikit tercenung menatap dirinya sendiri di air kolam . Ada lingkaran. hitam di mata monolid-nya yang menawan .
" Nona . "
" Astaga . Kau membuatku terkejut ! "
" Maafkan aku , nona . Tapi , anda memiliki telpon penting . " Ujar sang maid dengan sedikit gemetar . Lalu , ia menyodorkan telepon rumah itu pada Cahaya.
Hati Cahaya berdegup . Apakah itu , Dassa ? Dassa menghubunginya ? Setelah sekian lamanya ?
Cahaya ragu untuk menjawab . Namun , ia sangat penasaran sekarang . Jika benar itu Dassa , apa yang harus ia katakan ? Menangis ? Yang benar saja ! LALU APA ?!
" Ehemmm...ehemmm . " Wanita itu menjauhkan sebentar telepon itu untuk memperbaiki pita suaranya .
" Ha-halo . "
si*lan , lagi-lagi aku gugup !
" Cahayaaaaaaa . " Teriakan itu sangat khas .
' Baji*gan . Hanni ternyata ' , Umpatnya dalam hati .
" Hmm ? " Cahaya hanya berdehem tanpa ingin menyahut lebih jauh .
" Besok kita akan mulai sekolah . Astaga kita sudah junior high school sekarang . Aku merasa sangat keren . "
" Hm . "
" Apakah kau sibuk ? "
" Hm ? "
" Aku ingin mengajakmu berbelanja . Tas , sepatu , dan entahlah yang jelas mari berbelanjaaaaa !! " Suara Hanni sangat bersemangat . Ya tuhan .
__ADS_1
" em..emm ! " Cahaya kembali berdehem dan tak lupa ia menggelengkan kepala tanda bahwa tidak ingin . Padahal Hanni tidak akan melihat tingkahnya .
" Ayolah , aku akan membelikan apapun yang kamu mau . "
" Apakah kau lupa kalau kau sudah bangkrut , Ms.Westlly ? "
" Kau menyebalkan . Aku akan menjemputmu . " Suara wanita berponi itu sedikit mengecil . Seolah ia sedang kecewa berat sekarang .
" No . Aku sudah membeli semua bersama ibuku kemarin malam . "
Tak ada sahutan di ujung telepon .
" Ah , ya . Bersama ibumu , right . Apakah itu - menyenangkan , hm ? " Astaga , dia salah berbicara . Cahaya memukul pelan mulut yang terlewat lancang .
" 1 jam dari sekarang kau tak datang , jangan harap aku akan menemanimu meskipun kau menagis di depan gerbang rumah mewahku . "
" Jangan khawatir , aku bahkan sudah hampir di depan rumahmu . Mungkin 15 menit lagi . "
"Kau menyebalkan . "
" Heii , berkacalah . "
" Aku akan bersiap , jika sudah sampai masuk saja kekamarku . "
" I will . "
...***...
" Aku baru menutup telepon 2 menit yang lalu , dan kau berjanji akan datang setelah 15 menit , tapi apa ini ? "
Cahaya menggelengkan kepala tidak percaya . Bahkan , ia baru masuk kamar dan tiba-tiba wanita aneh itu menyusulnya dari belakang .
" Maafkan aku . Aku terlalu bersemangat . " Hanni memamerkan gigi rapinya . Dan , dia tidak berbohong sama sekali tentang ia yang sangat bersemangat sekarang .
Cahaya memutar matanya jengah . Lalu , meninggalkan Hanni untuk mandi . Kepalanya harus segera disiram karena telah mendidih melihat tingkah Hanni .
Selagi menunggu , Hanni memutari kamar Cahaya yang sialnya , sangat luas !
Mata Hanni tak berkedip . Kamarnya sangat - Feminim ? Bagaimanapun , kamar ini sangat manis berbanding terbalik dengan penunggunya .
" Wah , kamarnya bahkan lebih luas dibanding lapangan futsal di sekolah . "
Hanni masih belum sadar dari keterpanaannya pada setiap interior yang ada di kamar Cahaya . Hanya satu kata , Gila .
" Apa kabar dengan ruang ganti ? apa aku harus kesana juga ? Haha , maafkan aku Cahaya . "
Hanni membalik badan dan membuka salah satu pintu kaca yang ada di kamar wanita itu . Ketika ia masuk ..
__ADS_1
" Entah aku yang telah jatuh miskin sehingga melihat ini saja aku langsung kagum , atau bagaimana aku juga tak tau . " Keluhnya sebentar , lalu emudian mata Hanni mengerjap beberapa kali , " Ah , aku lupa . Anak setan itu adalah orang kaya . "