
Alex mengetuk-ngetuk jari telunjuk di meja . Ia sudak kembali ke ruang kantornya yang berada di lantai 30 . Setelah dihina dan di usir secara ' halus ' oleh Benjamin - Ya , meskipun hanya ada seorang seketaris pribadi dan dirinya disana , masih saja ia merasa sakit diperlakukan seperti tadi .
Lelaki itu kembali mengacak-acak kepalanya , stes yang ia tanggung bukan kepalang . Hari ini benar-benar membuat Alex serasa ingin bunuh diri .
" Kapan tua bangka itu akan mati ? " Alex berbisik diantara kekalutan yang sedang bermain di otaknya . Bukan rahasia umum lagi jika perebutan tahta selalu terjadi dikalangan konglomerat .
" Arggghhhhhh !!! " Alex kembali mengamuk , sekarang giliran beberapa file yang tadi rapi di meja , sekarang sudah berhamburan di lantai . Persetan jika itu hal penting atau semacamnya - ALEX TIDAK PERDULI .
Dengan langkah besar , Alex keluar dari ruang kerjanya lalu membanting pintu dengan kasar . Tentu saja , seketarisnya terkejut sampai terpekik histeris . Lantai itu cukup sepi dan hanya ada ruangannya dan ruang meeting para petinggi saja .
" Mau kemana , pak ? 30 menit lagi bapak ada meeting dengan Xanderious.Corp . "
" Gantikan aku . " Lalu tanpa bersalah , lelaki itu menglenggang begitu saja . Sang seketaris hanya bisa mendesah pasrah dan terduduk di kursi setelah Alex menghilang di telan lift .
" Ya tuhan , jobdesk-nya setingkat Direktur tapi gaji-nya setingkat karyawan . Terima kasih , tuhan . " Meskipun mengomel , namun seketaris itu sudah bersiap-siap untuk menggantikan posisi Alex untuk meeting .
Dengan langkah sedikit diseret , seketaris itu memaksakan tersenyum untuk terlihat profesional . Tak lama , ponselnya berbunyi . Matanya sedikit melebar ketika Alex mengiriminya pesan singkat .
From : Anjing Gila .
" Aku akan memberikanmu bonus jika meeting kali ini berlangsung dengan baik . Aku tunggu laporanmu sore nanti . "
...***...
Alex tercenung ketika ia sudah sampai di depan mansion mewah didepannya . " Apa yang aku lakukan ? " Sejujurnya , ia sedikit heran kenapa Alex bisa sampai kesini .
Ia menggeleng-gelengkan kepala , ini tidak benar . dia harus kembali . Ketika lelaki itu anak menghidupkan mobil , tiba-tiba terdengar ketukan kecil dari kaca mobilnya .
Alex mengerenyit ketika Malikka seolah maksanya untuk menurunkan kaca mobil , jangan lupakan sumringah lebar itu tak kendur seinci pun .
Baiklah , tak apa jika dia hanya menurunkan kaca .
__ADS_1
" Apa ? " Alis Alex bertaut , berakting seolah dirinya sedang terganggu . Jangan lupakan wajah yang ia buat sedatar mungkin .
" Kau mau kemana ? Tidak masuk dulu ? " Malikka masih bertahan dengan tersenyum . Lalu , dia memajukan kepala dan menyandarkan lengan tangannya di jendela . Malikka sedikit menungging untuk lebih jelas melihat suaminya , Alexander .
" Pergi . Sebenarnya , ada yang ingin aku ambil disini . Tapi tak apa , aku bisa mengambilnya lain waktu . " Alex sudah sedikit salah tingkah ketika Malikka menatapnya dengan hangat . Wanita itu selalu melakukannya .
Alis Malikka sedikit mengerut , oh dan lihat , bibirnya bahkan sedikit mengeru ut seperti anak kecil yang tidak di beri permen . Lucu sekali . " Kau baru sampai , bagaimana jika masuk dulu ? ingin ku buatkan kopi ? atau - kau sudah makan siang hati ini ? Aku akan senang hati membuatkan makanan seafood untukmu . "
Alex tanpa sadar terkekeh ringan mendapat rentetan pertanyaan panjang dari wanita cerewet itu . " Aku tidak punya waktu untuk hal semacam makan siang . Aku terlalu sibuk . "
" Apa itu artinya kau menyambut undanganku ? " Astaga , Malikka salah tanggap . Alex langsung menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat . Lagipula , kenapa ia kesini ? Kenapa ia malah tak pergi kerumah Eliza ?!
" Aku anggap diammu sebagai jawaban , ya . " Senyum Malikka semakin melambung tinggi . Bahkan , tangannya sudah menarik kunci mobil agar Alex tak melarikan diri . Wanita licik .
" Tapi aku menggeleng barusan , Malikka . "
Malikka sedikit memainkan matanya kekiri dan kekanan , seolah sedang memantau siapa saja yang akan mendengar ucapan mereka berdua . Lalu , tanpa disadar Malikka malah sedikit mamasukkan tubuhnya memalui jendela mobil dan sedikit berbisik pada Alex . " Isss , apa kau sudah mulai bodoh karena jarang makan ? aku kan bilang , ' diammu ' bukan ' gelenganmu ' . "
Alex mendorong Malikka hingga kepalanya keluar dari mobil itu . " Aku menggeleng yang artinya tidak . "
" Ayoooooooo .. " Malikka sampai menggunakan seluruh tenaganya untuk menarik Alex , tapi sialnya , Alex tak bergerak sedikitpun .
Malikka melepaskan tangan Alex dan berkacak pinggang . Nafasnya sedikit terputus-putus . Tenaganya sudah habis , mungkin .
" Kau mau turun sendiri atau bagaimana ? " Jika Alex masih tak menurut , ia akan segera menanggil satpam untuk menariknya maduk kerumah .
" Kenapa kau memaksaku ? " Tak ada tatapan tajam dan nada mencemooh nan merendahkan kali ini . Ini murni sebuah pertanyaan .
Malikka sedikit menghangat , perutnya serasa dipenuhi oleh ribuan kelabang - Ralat , maksudnya ribuan kupu-kupu yang siap lepas landas . " Kau belum makan siang , sayang . Setidaknya untuk kali ini saja . "
Suara Malikka sangat lembut , manis dan manja . Tidak pernah dibuat-buat dan manjanya tidak melampaui batas .
__ADS_1
Entah kenapa tiba-tiba Alex serasa menjadi orang bodoh . Tidak lagi ia ingin meneriaki Malikka seperti yang lalu-lalu .
Meskipun hari ini Benjamin sudah membuatnya naik pitam , namin tak lagi ia berniat untuk berdebat lebih jauh . Biasanya , dia adalah orang yang pertama yang selalu ingin Malikka hancur secara batin . Ia sangat bersemangat untuk menjatuhkan segala tentang Malikka .
Alex sedikit berpikir , sebenarnya ia memang sangat lapar ditambah beberapa kejadian hari ini sangat mengganggu . Setidaknya , ia butuh isi perut dulu , tak apa , kan ?
Ia turun dan Malikka langsung menyentuh tangannya . Alex sedikit menunduk untuk melihat tautan antara jari mereka , Malikka yang menyadari itu langsung menarik tangannya dan berdehem sebentar .
" Ehhemm , maafkan aku . Aku terla- "
" Jangan ulangi lagi . " Suara Alex sedikit mendingin . Lelaki itu masuk terlebih dulu .
Malikka segera mengangguk . Ketika berjalan lebih dekat , Malikka melihat kemeja biru dongker lelaki itu sedikit ada noda gelap diberbagai titik . Kerahnya yang sangat dominan .
" Apa kemejamu keluaran terbaru ? " Alex sedikit bingung dengan pertanyaan Malikka yang random . Dia tak pernah kehabisan pertanyaan untuk membuatnya bicara .
Melihat Alex yang menatapnya sedikit binggung , buru-buru Malikka menunjuk area kerah baju lelaki itu . " Bukan , maksudku - corak di bahian lehernya sedikit mengganggu . "
" Aku ketumpahan wine tadi . " Alex yang mengerti hanya menaikan bahu seperti tak perduli , padahal sebenarnya ia sangat meradang jika ingat kejadian beberapa jam yang lalu .
" Ah , pasti sangat menyebalkan . "
" Begitulah . " Lelaki itu kembali berjalan , sebenarnya dia tak tau kemana arah kaki nya pergi . Dia hanya tidak mau selalu menatap wajah Malikka yang - Lucu ?
" Bagaimana jika sebelum makan , kau mandi terlebih dahulu . "
Akhirnya , Malikka sepertinya peka dengan kebingungan Alex . Karena sedari tadi lelaki itu hanya mondar-mandir saja . Dengan cepat , Alex mengangguk . Ya , sepertinya dia juga butuh mandi . Dari semalam ia lembur seperti orang kekurangan uang .
" Akan aku siapkan air hangat untukmu "
" Aku sedang tak ingin berendam . " Sela Alex cepat .
__ADS_1
Malikka hanya tersenyum lalu mengangguk , " Mandilah , aku akan memasak untukmu . "
...***...