Sembunyi

Sembunyi
Selalu Seperti Itu


__ADS_3

" Hanni , kurasa aku harus pergi berlibur bulan depan . "


Cahaya segera membuka obrolan pada teman sebangku nya sesaat setelah , Mr.Gerrald . Guru bahasa matematika mereka keluar kelas .


Jam sekolah masih panjang , dan ini bahkan baru jam 11 pagi .


" Dengan siapa ? kemana ? " Tanya Hanni dengan antusias sambil membereskan buku dan memasukan kedalam tas . Lalu berbalik bertopang dagu untuk menunggu jawaban teman karibnya itu .


" Entahlah , mungkin bersama ibuku . Aku ingin pergi ke tempat yang bisa sedikit membuat kami bahagia . Kau tau , meskipun tinggal di perumahan elit dengan semua fasilitas yang tak terhitung nikmatnya bukan berati kita tak membutuhkan liburan , kan ."


Hanni hanya mengangguk-angguk menunggu kalimat apa lagi yang harus ia dengar .


" Jadi bagaimana menurutmu ? aku harus pergi kemana ? apa kau punya beberapa ide ? " Lanjutnya . Cahaya menjawab dengan tak kalah antusias . Meladeni sikap Hanni yang OVERACTIVE memang sangat menyenangkan .


Hanni memegang kepalanya , seperti sedang berfikir keras . Bahkan , keningnya pun ikut berkerut . Hanni benar-benar memikirkannya dengan sangat profesional .


" Ahhhhaaa , aku tau . Akhir-akhir ini Pantai di ujung timur pulau Jawa sedang tranding topic di berbagai artikel perjalanan . " Hanni menjentik-jentikkan kedua jarinya .


" Kau tau , Hanni . Aku benci berpikir .Tinggal katakan saja apa nama pantai di ujung timur pulau Jawa itu . " Cahaya sedikit mencebikkan bibir tipisnya .


Hanni meng-OH tanpa suara dan tersenyum .


" Pantainya ada di Banyuwangi , namanya pantai Greenbey . Kau tau kan bahwa pamanku tinggal di Banyuwangi , jadi dia selalu menceritakan hal-hal menarik tentang pantai itu untuk menarik perhatianku . Percaya atau tidak , kurasa ia sedang merayu supaya aku berkunjung kerumahnya . "


Hanni berbicara dengan sedikit berbisik dan tertawa geli karena pemikirannya yang biasa saja itu .


" Selain itu , apa lagi ? " mengibas-ibaskan tangannya seolah sedang berkata 'PAST '.


" Bagaimana kalau ke Bali ? "


" Selain itu ? aku bahkan sudah 5x kesana . "


" Malang ? " Hanni mengangguk-anggukkan kepalanya berharap temannya akan setuju dengan idenya.


" Selain itu ? "


" Padang ? Bukit tinggi ? Pariaman ? Sumatera barat ? "


" Nilai IPS ku memang memprihatinkan tapi aku masih tau kalau saat ini kau sedang membodohi ku , CANTIK ! "


" Apa kau manusia purba ? gunakan ponselmu ! " Cahaya menaikan alisnya , apa yang salah , ia hanya bertanya .


" Kenapa kau berteriak ? " sungguh , beberapa detik yang lalu wanita yang selalu berkepang ini baik-baik saja .

__ADS_1


" Kau bersikap menyebalkan dan kau malah bertanya kenapa aku berteriak ? oh demi Neptunus , kau benar-benar harus enyah dari hadapanku sekarang ".


...***...


" Sudah ada perkembangan antara kau dan Cahaya ? "


Hanni memberikan sebotol minuman dingin pada Dassa . Mereka baru saja selesai berolahraga .


Dassa hanya menggeleng sambil membuka tutup botol yang diberikan oleh Hanni .


" Hufffftttt.... Itulah kenapa ia tak punya teman selain aku . Aku pun dulu berjuang sangat keras untuk bisa ada di posisi sekarang . " Hanni mimum hingga batas maksimal yang dibutuhkan oleh tubuh miliknya .


" Dia selalu seperti itu ? " Tanya Dassa penasaran .


" Ya , itulah dia . Entah apa yang membuatnya seperti sangat anti terhadap orang luar . Bahkan aku masih penasaran kenapa ia dan Ari sangat bermusuhan . "


" Apa ada terjadi sesuatu di masa lalu ? maksudku , ketika mereka pertama bertemu ? "


" Seingatku , awalnya mereka baik-baik saja , sama seperti yang lainnya . Namun semakin kesini mereka semakin ' SALING MENUNJUKKAN TARING ' masing-masing . " Ucap Hanni sambil membenarkan sedikit poni yang terkena angin .


Dassa masih melerai satu per satu benang yang sedang kusut antara Ari dan Cahaya .


" Mereka selalu ingin menunjukan bahwa mereka bisa menundukkan salah satu diantara mereka . "


" Dan ? " Dassa semakin penasaran penjelasan itu .


Untuk kesekian kalinya Dassa hanya bisa mengangguk mengerti namun mata tajamnya tak lepas dari wanita yang sedang duduk jauh di depannya .


Seketika Hanni membelalakkan mata lalu menutup mulutnya dengan satu tangan lalu berseru " Astaga , apakah aku terlalu banyak berbicara ? "


" menurutmu ? "


" Ahh , apakah kalian akan berjodoh dimasa depan ? kalian sangat sama . Sama - sama suka membuatku marah . "


Ketika Dassa ingin meladeni , Hanni malah cepat-cepat berdiri dan melemparkan botol sisa minumnya tadi .


" Aku membencimu , Boy ! " Seraya berteriak kencang .


" Baiklah , aku terima traktiran darimu nanti ." Dassa menaikan tangan , salam perpisahan .


Kesan terakhir yang Dassa tangkap dari ekspresi wajah temannya itu adalah , menjijikkan . Dassa hanya tersenyum sebentar lalu kembali melihat Cahaya .


Namun , Mata itu saling bertemu . Coklat dan Hitam berpadu . Mereka saling mengunci satu sama lain .

__ADS_1


Beberapa detik kemudian Cahaya tampak mengerjapkan matanya beberapa kali dan langsung membuang muka . Dan pergi begitu saja .


...***...


Ruangan sangat hening hari ini , kelas sudah banyak yang tertutup , tapi Cahaya masih belum ada tanda untuk bergerak . Matanya masih terkunci di satu arah tepat didepannya - Jam dinding .


Ia menghitung . Entah apa yang sedang ia hitung . Waktu yang baru saja berlalu atau waktu yang akan ia jumpai beberapa jam kedepan .


Ia masih kecil namun sepertinya beban yang Cahaya emban sangat berat . Ini tak masuk akal tapi itulah yang terjadi . Dan sekarang satu masalah lagi timbul di hidupnya .


DING...DONG...DING...DONG


Suara jam perlahan memelan . Kelas sudah menjingga . Matahari sore masuk dari sela-sela jendela yang tak tertutup . Sudah pukul 5 sore . Hari akan segera berakhir .


Cahaya menghembuskan nafas lelahnya .


" Baiklah , mari kita pulang sekarang . "


Dengan sedikit berberat hati , ia berdiri dan melangkah menjauhi tempat duduk . Dieratkan jaket rajut tebal yang baru ia beli beberapa bulan yang lalu .


" Cahaya senja . " Ia tersenyum ketika merapalkan namanya didalam hati . Sambil berjalan melewati lorong , ia masih setia melakukannya .


Jujur saja ia agak risih dengan namanya, Cahaya bahkan menganggap bahwa namanya terlalu sempurna .


Jika didalam 24jam bagian terbaiknya adalah ketika senja menyingsing . Maka , apakah ia salah satu hal terbaik layaknya senja ? Senja yang selalu membuat orang terpikat oleh cahayanya ?


Lagi , ia tertawa lagi .


Sopirnya sudah lama menunggu , mungkin sudah sejak 2 jam yang lalu pria itu datang .


" Anda baik-baik saja nona ? " Sang sopir bertanya ketika majikan sudah masuk ke dalam mobil .


" Selama aku masih bernapas , aku baik-baik saja , Tonny ."


" Kau tampak sedikit lelah , apa ada yang mengganggumu hari ini ? "


" Kau tau persis apa yang selalu mengganggu ku ,Tonny . Jadi berhenti sok perduli terhadapku jika pada akhirnya apa yang aku katakan akan sampai di telinga ayahku " ketusnya . Memuakkan .


Tonny terdiam . Tak ada yang bisa ia lakukan . Memang benar itu faktanya .


" Kapan ayah bisa mengantar ku sekolah lagi ? "


" Uhhhmmmm , saya juga kurang tau . Saya harap beberapa waktu kedepan tuan bisa memiliki waktu lebih banyak untuk anda , nona . "

__ADS_1


Cahaya tersenyum kecut . Lagi , ia akan selalu di hadapkan dengan beragam jawaban , namun inti nya sama , ayahnya takan pernah ada waktu untuknya . S*alan .


...***...


__ADS_2