Sembunyi

Sembunyi
Abu-abu


__ADS_3

Mata Cahaya membesar melihat sosok yang sangat ia pikirkan beberapa minggu belakang . Dassa Allaric .


Telinga Cahaya serasa berdengung . Ia tak bisa mendengarkan apapun saat ini . Pandangannya hanya tertuju pada satu sosok di depan kelas .


Seketika kelas sedikit kacau kala anak perempuan dikelas itu dengan tidak tau malunya meneriaki nama Dassa secara terang-terangan .


Setelah di persilahkan duduk , Dassa berjalan dengan sangan cool dan berhenti di hadapan wanita bermanik coklat yang sedang duduk .


" Hi . " Dassa mengeluarkan salah satu tangan dari saku kantongnya dan melambaikan dengan pelan . Cahaya semakin merasa terhipnotis begitu saja . Bahkan , Cahaya lupa untuk berkedip .


Kemudian , terasa sedikit guncangan di bahu . Hanni pelakunya . Sebenarnya , Hanni masih terisak melihat seseorang yang selama ini ia cari ada di hadapannya . Tapi , Hanni harus menyadarkan keterkejutan Cahaya terlebih dulu .


Cahaya menggerjap beberapa kali , lalu menoleh pada Hanni . " Kau melihatnya ? " Cahaya masih seolah tak percaya karena Dassa sudah tak ada di hadapannya .


Hanni hanya mengangguk . Dassa memilih untuk duduk di belakang Hanni . Sebenarnya masih ada 2 bangku kosong di belakang , tapi Dassa memilih untuk duduk dibelakang Hanni .


...***...


Hanni dan Cahaya bergandengan tangan untuk pulang . Mereka berjanji untuk pulang bersama hari ini .


" Apakah Xanderious.Corp benar-benar sudah berhasil mengakuisisi perusahan keluargamu , Han ? " Mereka berjalan beriringan . Hanni hanya mengangguk pelan , salah satu tangannya digunakan untuk memutar-mutar lopipop yang ada di dalam mulutnya .


" Tapi , kenapa keluargamu terlihat baik-baik saja ? Maksudku - "


" Ya , aku paham maksudmu . Aku juga bingung , pasti ada yang tidak beres . Sudah 3 bulan semenjak Xanderious.Corp memimpin tapi sepertinya keluargaku baik-baik saja ."


" Aku curiga , jangan-jangan orang tuamu adalah pemilik Xanderious.Corp yang sebenarnya . "


" Jangan bergurau , nona . Kau menggelikan . "


Mereka berdua masih berjalan berdekatan . Tiba - tiba , Zander datang dengan beberapa anak PMR yang lain dari arah yang berlawanan .


Mau tak mau , Hanni dan Cahaya menghentikan langkah ketika Zander sudah berhenti lebih dulu . Mereka memblokir jalan .


" Kalian akan pulang , sekarang ? "


" Apa kami terlihat seperti akan piknik di alun-alun kota ? "


Zander terkekeh , beberapa teman PMR-nya ada yang memilih untuk pergi terlebih dahulu . Tinggal mereka bertiga sekarang .

__ADS_1


" Kau sangat sarkas . " Cahaya hanya diam , Hanni juga tampaknya agak takut sekarang . Wanita berponi itu mengeratkan pelukannya di tangan Cahaya .


" Kalau begitu kami permisi dulu , kak . " Tak mau berlama-lama , Hanni memilih untuk pergi saja . Suasana mulai tidak mendukung . Terlebih Zander juga sedikit mengeratkan rahang .


" Apakah itu sopan ? "


Cahaya langsung menarik Hanni untuk berbalik namun tiba-tiba Cahaya seperti menabrak beton di hadapannya .


" Da-Dassa . " Hanni hanya mencicit . Seharian ini mereka berusaha keras untuk tak berinteraksi dengan Dassa . Mereka berdua menghindar sebelum Dassa menghampiri .


Cahaya terdiam .


Dan , Zander ? Tentu saja lelaki itu masih disana . Sepertinya ia akan menggantikan peran Ari dikisah ini . Menyebalkan .


" Masih mau berlari dari masalah ? " Dengan cepat mereka berdua mundur beberapa langkah . Cahaya masih setia dalam keterdiamannya . Akhirnya , dia memutuskan untuk memberanikan diri melihat legam hitam yang selalu memikat itu .


Mereka menatap dalam hening . Ketika berkedip , sebulir air telah jatuh di pipi tirusnya . Ia , menangis .


Rasa sesak yang selama ini tak bertuan , berhamburan keluar . Bibirnya bergetar . Dassa menggerakan tangan ingin menggapainya namun , Zander terlebih dahulu berdiri di hadapan Dassa , membelakangi Cahaya hingga tubuh kecil wanita itu tertutup sempurna .


Dassa berhenti sebentar . Semua akan rumit , mulai hari ini.


Dassa masih diam sedangkan sudah terdengar isakan pelan dari mulut Cahaya . Dan tiba-tiba suara derap langkah berlari menghancurkan konsentrasi mereka berdua .


Hanni dan Cahaya sudah berlari terbirit-birit .


...***...


" Sampai kapan kau akan terus menangis , matamu sudah sangat sembab seperti di sengat lebah . " Hanni kembali memberikan tisu untuk menghapus air mata yang kembali tumpah di wajahnya .


Sejujurnya , Cahaya juga binggung apa yang sedang ia tangisi saat ini . Alasannya benar - benar tak berdasar . Hanya karena melihat wajah lelaki itu , ia merasa sesak dan emosinya membucah begitu saja .


" Pasti ada alasan kenapa dia kembali lagi . " Hanni masih berusaha membujuk Cahaya untuk mendengarkan alasan kenapa Dassa pergi tanpa pamit kemarin .


" Aku tak siap berhadapan dengannya besok . "


" Kita harus melakukannya . Ini demi meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi , Cahaya . " Cahaya menatap Hanni , lalu mengusap wajahnya sedikit kasar .


" Aku mengerti itu . Tap- "

__ADS_1


" Berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang kau pikirkan . Mereka hanya segelintir overthinking yang berasal dari rasa khawatirmu . Mereka tak nyata , Cahaya . "


Isakan kembali terdengar . Sedari pulang hingga sekarang terhitung Cahaya sudah menangis selama 3 jam non-stop .


Hanni mendengkus kesal , dia juga menangis tadi tapi tidak sampai separah itu . Apa mata wanita keras kepala itu tidak perih ?


" Aku mengerti perasaanmu . Akupun sama , aku juga masih kecewa . Tapi jika kita melihat jauh kebelakang beberapa waktu yang lalu , Dassa-lah orang yang paling sakit diantara kita . " Cahaya mengangguk setuju . Tangannya berusaha meraih teh oolong yang sudah disediakan oleh maid yang melayaninya .


" Sekarang , istirahatkan dirimu . Tidurlah , besok kita akan menemui Dassa dan berbicara dengannya . " Hanni berdiri dan mengambil salah satu bolu yang menjadi camilan mereka . " Aku harus pulang sekarang . Kurasa , Banin sudah tertidur di mobil . Ia pasti lelah menunggu . Sampai besok . " Hanni melambaikan tangan dan menutup pintu dengan sedikit pelan .


Sepeninggalan Hanni , Cahaya masih tercenung memikirkan hal apa yang harud ia lakukan esok . Terlebih bebannya semakin pelik ketika Zander yang tiba-tiba sok dekat dengannya . Bukan lagi , anak haram itu meng-klaim bahwa dia adalah adik Cahaya . Sialan .


" Boleh ibu masuk , hm ? " Malikka membuka pintu dan menyembulkan kepalanya . Cahaya hanya mengangguk setuju , lalu ia duduk di tepi ranjang .


" Ada apa dengan matamu ? " Malikka melotot ketika melihat mata Cahaya yang - mengerikan ?


" Biasa , Drama sekolah . " Ucap Cahaya singkat . Namun bisa ia lihat bahwa Malikka sedikit khawatir sekarang .


" No , i'm ok . Bukan hal yang serius , bu . " Malikka hanya berdehem lalu memeluk Cahaya .


" Kau sudah besar sekarang . " Malikka memupuk pucuk kepala putrinya dengan pelan .


" Aku bahkan belum datang bulan , bu . "


" Aku lupa . " Malikka terkekeh jika Cahaya sedang mode polos seperti sekarang .


" Ibu harap , masa putih - biru mu akan selalu dihiasi dengan warna , ya . "


" Apakah abu-abu termasuk warna ? "


" Tentu . Ada apa ? " Cahaya hanya menggeleng pelan dan semakin mengeratkan pelukan .


" Bagaimana sekolahmu ? "


" Menyebalkan , itulah kenapa mataku hampir sebesar kentang sekarang . " Malikka kembali tertawa . Bahkan , Malikka tertawa dengan sangat lepas . Putrinya memang yang terbaik dalam memainkan emosi . Dan lihat , bibirnya hampir sama dengan bibir bebek jika sedang merajuk .


" Tak apa , ini baru hari pertama . Semua akan membaik seiring dengan waktu yang berjalan , kan . " Cahaya kembali mengangguk dan tersenyum hangat kepada ibunya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2