
Hanni masuk kerumah dengan berlari . Nafas sangat menderu kontras dengan laju jantung yang tak bisa di kendalikan .
Marah dan kecewa , tentu saja - pada dirinya sendiri .
Beberapa maid yang melihatnya berlari , sempat kebingungan . Sang sopir , Benin akhirnya menjelaskan apa yang telah nona manis mereka hadapi sekarang .
Dari lantai dua , terdengar bahwa Hanni membanting pintu . Hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya , selain hari ini dan mungkin beberapa hari kedepan .
Berkali-kali ia mencoba menghubungi Cahaya melalui ponsel pribadinya . Tersambung , namun sepertinya manusia di ujung sana sudah tak bernyawa !
Ia harus memberitahukan berita ini . Persetan dengan alasan Cahaya yang tidak bisa hadir di hari kedua pemakaman ayah lelaki itu , dia tak perduli .
Setelah percobaan kelima pun , Hanni masih di abaikan . Wanita berponi itu memutar otak . Mondar - Mandiri sambil berkacak pinggang .
TELEPON RUMAH ! Ya , ia akan menghubungi kediaman Maxmillan melalui telepon rumah . Segera ia bongkar semua isi tas itu , mencari buku penting miliknya .
Buku kecil yang berisi beberapa nomor penting yang sudah ia catat jika Hanni mengalami keadaan darurat . Seperti sekarang , misalnya .
Hanni meminta nomor itu langsung pada Cahaya . Meskipun Cahaya sempat menolak , namun akhirnya wanita bermata monolid itu memberikannya .
Tak butuh waktu lama , telepon mendapat respon . Jantungnya semakin menjadi-jadi . Suaranya tercekat setelah ia yakin bahwa itu adalah suara salah satu maid yang berkerja di rumah kelewat mewah itu .
Astaga ! Wanita manis itu hanya menelepon temannya bukan malah ingin berkencan .
" Ha-halo . " Bahkan , Hanni sudah menumpahkan air matanya .
"..."
" Aku-Aku Hanni . Hanni Westlly yang berkunjung kesana beberapa hari yang lalu . " Suara itu masih saja bergetar . Si*lan !
"..."
" Apakah Cahaya benar-benar tidak bisa dihubungi ? Maksudku , ini sangat darurat untuk kami . "
"..."
" Aku mohon , jika kau sudah bisa berbicara padanya . Sampaikan bahwa aku sangat frustasi saat ini . Suruh dia meneleponku , SECEPAT MUNGKIN ! "
"..."
Tut...tut..tut...
ARGHHHHH.....
__ADS_1
Setelah dipastikan sambungan telepon itu terputus , Hanni langsung berteriak histeris . Mau dilihat dari sisi manapun , dirinya tetap salah !
Ia bisa saja di ' tuduh lalai dalam memberikan amanat . '
Ya tuhan !
Air matanya sederas air terjun sekarang . Terjun bebas tanpa bisa di halangi . Secara reflek kedua tangannya menutup mata cantik itu .
...***...
Sekali lagi , bunyi pintu yang ditutup dengan keras terdengar . Para maid yang sedang berkerja sampai terlonjak kaget di buatnya .
Meskipun ia memiliki rumah berlantai dua , dan mempekerjakan para maid sama seperti Cahaya . Bukan berarti rumahnya semewah itu .
Jika rumah Hanni seharga 100 milliar versi mata uang indonesia , maka rumah Cahaya hanya seharga 10 juta namun versi mata uang dolar .
Ah ! Ini menyakitkan .
Hanni turun dengan tergesa . Ia menggunakan flat shoes berwarna biru muda , dan dress senada
Hampir saja ia terjatuh Jika salah satu maid yang sedang membersihkan meja di samping tangga itu menangkap lengannya .
Banin yang baru saja akan makan siang tak kuasa menahan keinginan sang nona . Meskipun saat ini , perutnya menjerit minta di isi , Banin hiraukan itu .
Hanni terus menyeret pria berumur itu memasuki mobil dan ia duduk di belakang . Setelah siap di belakang kemudi , Banin baru berani bersuara . " Kita akan kemana , nona ? "
" Astaga , apa kau tak melihat kacaunya keadaanku sekarang ? Pasti kau tau tujuanku , Banin . "
Banin meringis mendengar ucapan dari Hanni . Gaya sangat manis tapi tidak dengan sikapnya hari ini .
Tanpa berfikir panjang , Banin langsung memutar stir dan menuju kediaman Mr.Maxmillan .
Ketika sudah hampir sampai di gerbang keluar dari perumahan elit itu , Hanni mengerutkan keningnya .
" Kemana kita akan pergi , sopir tua ? "
" Menurut petunjuk , aku harus mengendarai mobil ini ke kediaman Mr.Maxmillan , Nona . "
Mata Hanni terbuka sempurna .
" Demi tuhan , Banin . Aku ingin mengejar temanku , Dassa . Temanku yang rumahnya berada 1 blok dibelakang blok kita . " Hanni sedikit berteriak frustasi ketika tau bahwa lelaki itu tidak bisa mengerti posisinya saat ini .
__ADS_1
Bahkan . Coba lihat , wanita manja itu kembali menangis tersedu di dalam mobil . Seberat itukah beban yang ia pikul saat ini ?
Banin hanya tersenyum dan langsung memutar stir nya kembali . Ya , beginilah jika kau sedang menghadapi seorang wanita yang sedang ' bermasalah '. Mau tak mau , suka tak suka - Kau pasti akan terkena imbasnya juga .
Karena terlalu larut dalam tangisnya , Hanni sampai tak sadar jika ia sudah sampai di depan pagar tinggi milik keluarga Dassa .
Banin membuka pintu , tapi ia tak berani bersuara . Banin tak mau jika harus mendapat ocehan lagi dari wanita kecil itu .
Setelah turun , ia menyempatkan berdoa sebentar .
" Ya tuhan , aku mohon . Sekali ini saja . Jika lelaki sok paling tenar itu belum pergi aku berjanji , besar nanti aku akan menjadi seseorang yang taat kepada-Mu ."
Beberapa kali ia menekan tombol bel di sudut tembok pagar . Namun , tak ada jawaban . Air matanya kembali memenuhi pelupuknya , ini tidak benar .
Sekali lagi , tidak - maksudnya berkali-kali ia sembunyikan bel itu lagi dan lagi . Seperti tak pernah puas . Sampai seorang satpam blok itu mendekati Hanni ketika sedang patroli siang menggunakan hoverboard .
" Selamat siang . Ada yang bisa saya bantu , nona ? "
Banin segera turun dan menutupi tubuh kecil Hanni dengan badannya yang tinggi . Terserah dengan apa yang mereka bicarakan , Hanni bahkan masih menekan bel itu berkali - kali sambil menggigit bibir bawahnya tangisan itu tidak lolos begitu saja .
" Ah , selamat siang pak . Kami dari penghuni rumah di blok 1A , keluarga Mr.Westlly . " Ujar Banin sambil mengulurkan tangan .
Sang satpam langsung menyambar uluran tangan itu dengan sopan . " Oh , senang bertemu secara langsung dengan anda , tuan . Ada yang bisa saya bantu ? " Satpam sedikit melirik kearah Hanni sebentar dan kembali menatap Banin .
" Kenapa rumahnya kosong , pak ? "
" Ms.Allaric memutuskan untuk pindah kembali ke kota asalnya setelah kematian tuan Allaric beberapa hari yang lalu . "
" Kapan mereka pergi ? "
" Sudah 2 hari yang lalu , tuan . Tapi sepertinya , barang - barang akan di kemas beberapa hari lagi melalui jasa pengiriman barang . "
Hanni seketika menghentikan gerakan jari manisnya setelah mendengar penjelasan dari satpam khusus blok perumahan Dassa .
" Mereka , sudah pergi dari 2 hari yang lalu ? " Ia termenung sejenak , " Dan baru di umumkan tadi pagi ! " Akhirnya runtuh sudah pertahanan nya . Tak ada lagi yang harus ia perbaiki , baik itu perasaan Cahaya ataupun persahabatan antara Dassa dan Cahaya .
Ia menangis sejadi - jadinya . Banin memberi isyarat kepada satpam untuk pergi . Perlahan , Banin membelai lembut pipi wanita itu . Matanya sudah sangat merah , badan wanita kecil itu bergetar .
" Hari yang cukup berat , ya . Kau hebat , nona . Aku bangga padamu . Kau benar - benar menunjukan betapa kuatnya arti persahabatan untukmu . Istirahatlah dulu , siapa tau ketika kau bangun nanti , semua membaik , nona ." Ujar Banin pelan masih dengan menepis air mata yang terus mengalir .
Memegang pundak dan menuntun Hanni untuk duduk di mobil . Bagaimanapun , wanita kecil itu sudah seperti anaknya sendiri meskipun sampai saat ini Banin belum pernah menikah karena loyalitasnya kepada keluarga Westlly .
...***...
__ADS_1
Hoverboard merupakan skateboard listrik. Yang biasa disebut juga dengan istilah skuter swa-seimbang atau self-balancing scooter karena bentuknya menyerupai skuter namun tanpa pegangan. Hoverboard alat transportasi listrik berupa papan yang memiliki dua roda dan dikendarai dengan menyeimbangkan diri dan mengandalkan baterai. Kendaraan ini memungkinkan penggunanya untuk bergerak tanpa perlu mengayuh atau mendorong menggunakan kaki .