Sembunyi

Sembunyi
ROFFTOP


__ADS_3

Cahaya melotot tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Hanni barusan ! Wanita ini benar-benar harus di ruqiyah secepatnya . Ini tidak akan baik untuk pertumbuhan di sel otak kecil itu .


Dassa dan semua orang dikantin meledakkan tawa begitu saja , dan Cahaya ? dia sudah tutup muka sedari tadi karena malu . Sialan , ini baru hari kedua tapi Cahaya sudah sangat tak betah disini .


Tak tahan jadi bahan tertawaan , Cahaya akhirnya beranjak untuk pergi dari sana . Sebentar lagi panic attack-nya akan kambuh jika ia tetap disana .


Ia berusaha berdiri dan mengangkat muka tapi , keberaniaannya semakin menciut ketika lelaki itu sudah berdiri tepat dihadapannya .


' Apa lagi ini !? ' Jujur saja , Cahaya benar-benar frustasi sekarang . Apa lagi ketika -- Astaga , Hanni sudah berlari sambil melambai ke arah Cahaya barusan . Hanni meninggalkannya . Cahaya tak percaya ini .


" Kau , mau kemana ? " Dassa sedikit menunduk , tinggi Cahaya mulai sedikit menyusut sekarang . Wanita itu sedikit mendongak , menatap mata legam yang dimiliki oleh Dassa .


" Pergi . Awas . " Cahaya sedang berusaha menggeser tubuh jangkung Dassa . Salah satu rahasia Cahaya adalah - Kekuatannya takkan pernah bisa keluar jika ia tak menggunakan jurus bela diri . Jadi , bisa dipastikan bahwa saat ini Cahaya sedang minim energi .


Lelaki itu tak bergeser seinci pun . Muka yang tadi tertawa , kini sedang menatap serius tepat di maniknya . Kedua tangan Cahaya mulai sedikit gemetar , pertanda bahwa dia akan kumat .


Dia masih berusaha . " Minggir atau , atau aku akan menjatuhkanmu disini . " Mata gadis itu tidak fokus . Ia sedari tadi melirik kesana-kesini , pertanda bahwa Cahaya sedang tidak nyaman sekarang .


Dassa sedikit menyerengai . " Kau belum bertanya apa yang aku lakukan disini , dan kau malah ingin pergi sekarang . " Dia mengeluarkan salah satu tangan dan sedikit mengelus surai hitam itu .


Cahaya membeku seketika . Astaga ! Hanya seringan bulu pun , sentuhan itu masih bisa membuatnya menggila . Ia bahkan ingin menangis sekarang .


" We need to talk . " Ucapnya ketika tangan manis Dassa sudah sampai di ujung rambut wanita bermanik coklat itu .


" Not us , just you . " Dassa kembali terdiam , menarik tangannya dan kembali memulai dari ubun-ubun rambut Cahaya .


" Come on , kau bisa memberiku waktu seperti dulu . Biasanya kau sering seperti itu , kan ? "


" Aku tak punya waktu . Minggir . " Cahaya mulai berjalan mencari celah , ketika berjalan selangkah kekiri , maka Dassa menghadang begitu sebalik dan seterusnya .


Cahaya menutup mata . Membiarkan emosi itu hanya membakar didalam dada . " Kau ak-- " Perkataannya terhenti ketika sepasang tangan menepel di kedua bahu dan menariknya lembut kebelakang . Ia termundur beberapa langkah . Tentu saja dia terkejut .


Dassa yang melihat itu refleks langsung menarik salah satu tangan Cahaya agar tetap berada didepannya . Namun , gapaiannya tak sampai . Ia kehilangan Cahaya untuk beberapa langkah .


" Apa yang kau lakukan ? Kau hampir membuat adik kecilku menangis , LAGI " Itu suara Zander . Dengan menekan kata LAGI agar Dassa ingat kelakuannya di lorong sekolah beberapa hari yang lalu .

__ADS_1


" Berikan dia padaku ? " Ujarnya dingin .


" Oh , berikan ? padamu ? sejak kapan dia adalah milikmu ? " Zander pura-pura terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan . Seperti banci .


Lalu ia menoleh kearah Cahaya yang masih enggan melihatnya . " Kau miliknya , Aya ? "


Seketika ia menoleh ketika dipanggil seperti itu " Aya ? " Beo-nya . Siapa lagi Aya ?


" Ah , aku lupa . Itu panggilan sayangku untukmu . Tak apa bukan ? "


Dassa langsung naik pitam saat itu juga . " Berhenti bermain-main dan kembalikan dia padaku , Zander . "


" Aku seniormu disini . "


Ari dan teman barunya hanya memantau dari jauh . Ini tampak seru . Tapi bukan saatnya bermain untuk figuran sepertinya . Dia akan masuk sebenar lagi . Ia menyunggingkan senyum licik dan kembali menyeruput teh hijau dihadapannya .


Terlihat Dassa semakin mengeratkan rahangnya ketika Cahaya hanya diam saja saat tangan lelaki itu masih bertengger di bahunya .


" Cahaya , kemari . " Dassa menatap Cahaya dengan sedikit menyipitkan mata lalu merentangkan tangan untuk disambut .


Cahaya hanya terdiam . Dia masih dendam tapi memilih tinggal bersama lelaki gila ini juga bukan pilihan terbaik .


Setelah sedikit dilema , Cahaya menyambut tangan itu sedikit bergetar . Entah apa yang lebih dia takutkan setelah menyambut tangan itu .


Seketika ia tertarik kedepan dan langsung pergi begitu saja dari kantin yang mulai sedikit sepi . Setelah itu , bisik-bisik mulai terdengar disana-sini .


Zander bukan terbaik tapi dia bisa menjadi salah satu incaran para wanita disekolah internasional itu .


...***...


' Rofftop ? '


Cahaya masih diam ketika Dassa sudah melepaskan tautan tangan itu . " Bisa kita mulai ? " Ujarnya dengan sedikit dingin . Ia kembali menjadi Dassa yang dulu , dingin dan misterius .


" Kenapa kau tak menolak ketika Zander itu menyentuhmu tadi ? " Lelaki itu membelakangi Cahaya sambil menutupi wajhnya dengan tangan . Tampak masih sedikit kesal dengan kejadian tadi .

__ADS_1


" Itu tidak bisa dikatakan menyentuh . Dia hanya merangkul , tak lebih . Kau lihat sendiri , bukan ?! " Tentu saja Cahaya menyangkal . Ini tidak masuk akal , Zander tak melewati batas , itulah kenapa Cahaya tidak merasa terancam tadi .


Dassa menoleh dan sedikit tertawa sumbang untuk menetralkan amarahnya . Lalu ia berjalan dan berhenti sedikit dekat dengan Cahaya . " Selama disekolah , kau bahkan tak pernah bersenggolan dengan lelaki lain selain Adik tirimu . "


" Kita hanya bertemu setahun , Dassa . Jangan suka berkhayal seolah kau benar-benar sudah dekat denganku . " Cahaya memalingkan pandangnnya dan memilih untuk melihat deretan burung yang sedang istirahat di pembatas besi rofftop . Percakapan mereka mulai menyesakkan .


" Aku dekat denganmu , Cahaya ! " Ia sedikit menggeram dengan nada suara yang rendah . Persis seperti seekor harimau kelaparan .


" Tapi kenapa kau buta dengan perasaanku saat itu , hah !? "


Telak ! Dassa terdiam , hanya terdengar napasnya yang begitu menggebu . Matanya sedikit memerah menahan emosi .


" Dan kau malah mencintai orang miskin . Tragis ! " Cahaya tertunduk meratapi betapa menyedihkan perasaannya saat ini . Sama seperti yang lalu .


Dassa sedikit melotot ketika Cahaya kembali menyinggung status sosial seorang Nana Jackson .


" Apa ? kau masih mau membelanya ? " Ujar Cahaya sambil membalas lototan itu . Ah , betapa menggemaskannya pertengkaran mereka saat ini .


Dassa memilih untuk mengalah . ia mendesah pelan , sepertinya emosi mulai sedikit turun sekarang . Lalu tanpa tak terduga ia maju dan langaung menjatuhkan kepala tepat di bahu kirinya . " Kenapa kau dan Hanni menjauhiku ? "


Cahaya sampai menahan napas . Bajingan ini ! " Apa aku tak salah dengar ? "


Dassa kembali memilih diam . Ia sengaja mengungkit unek-unek yang sudah Cahaya pendam beberapa waktu belakangan .


" Bukankah kau yang meminta . Kau pergi tanpa pamit . Tak pernah ada kabar . Dan sekarang , kau kembali disaat kami sudah terbiasa tanpamu . Apa kami tampak seperti lelucon untukmu ? Apa menurutmu itu lucu ?!


" Aku bisa saja melacakmu dimana saat itu , tapi melihat kau yang pergi dengan cara murahan membuatku berpikir dua kali terlebih kau sudah membuat hati Hanni patah sepatah patahnya . "


Cahaya berteriak . Berteriak sejadi-jadinya . Persetan jika ada yang mendengarkan pertengkaran mereka saat ini . Dia hanya ingin memberitahu bajingan yang ada di pelukannya saat ini sudah menghancurkan kepercayaannya dan Hanni .


Ia adalah saksi hidup bagaimana terpukulnya Hanni saat kepergian dassa dan orang tuanya yang tak pernah pulang .


Hati Dassa mendenyut . Benarkah ia sejahat itu ? Benarkah Hanni , si manja mereka telah menanggung beban itu , sendiri ?


" Maafkan aku . Aku gagal menjadi sahabat yang baik . "

__ADS_1


" Ingat , yang gagal bukan kau , tapi aku . Aku sangat membenci diriku yang selalu meminta perasaanmu . Dan kabar baiknya , aku sudah selesai sekarang . Terima kasih . "


...***...


__ADS_2