
Dassa masih tersenyum sedikit mengejek ketika Irina masuk dengan sedikit 'merajuk' kedalam kamarnya .
" Kenapa kau tersenyum seperti itu ? "
Mata Dassa melirik Betty sebentar seolah bertanya ' aku kenapa ? ' . Namun , lagi - lagi Betty memilih untuk pura-pura tidak mendengar .
" Jangan ganggu , Betty . Boy . " Astaga , ia tertangkap basah sedang melirik pada Betty .
Tak mau jadi bulan-bulanan , Betty memilih untuk pergi dari sana secepat mungkin karena merasa ia memang tak pantas diantara ibu dan anak itu . Ketika pintu tertutup , Irina langsung melotot pada Dassa .
" Apa ? " Tanya Dassa ketika pelototan itu masih belum selesai juga sedari Betty pergi 5 menit yang lalu .
" Kau belum menjawab pertanyaan ibumu ! "
" Yang mana ? " Kedua tangan lelaki bermata legam itu sedikit terangkat .
" Jangan kembali bertanya ! "
" Tentang mengejekmu ? " Irina hanya mengangguk tapi mata itu masih melotot .
" Baiklah , aku minta maaf , Irina . "
" Ibu . Panggil aku ibu , Boy . " Suara Irina sedikit melembut dan tersenyum manis arahnya . Dassa terdiam dengan muka datar nya .
Terdengar helaan nafas yang sangat disengaja . " Bahkan jika aku bertemu dengan wanita yang melahirkanku saja , aku takkan memanggilnya dengan sebutan 'ibu '. "
Mendengar itu air muka Irina kembali marah . Wanita elegan itu berjalan sedikit cepat ke arah Dassa dan , happp !
" Awwww.... Ini sakit , lepaskan cubitanmu , Irinaaaaaa . " Dassa menjerit ketika Irina mencubit pinggangnya . Lelaki itu sampai melintingkan badan agar Irina melepaskannya .
" Tidak , sampai kau memanggilku ibu . "
" Apa kau gila ? "
" Ibu ."
" Aku tidak mau , Awwwwww ! Kau menyakitiku ! "
" IBU . " Irina semakin menguatkan cubitan di ujung jarinya .
" Oke . Mommy . bukan ibu tapi mommy . "
MendAku ngar itu , reflek Irina sedikit memelan cubitannya , namun tidak sampai terlepas .
" Katakan sekali lagi . " Katanya dengan kembali tersenyum 'menggoda' anak itu .
" Mom - Mommy Irina Bexley ."
" Jangan lupakan gelar ku , anak nakal . "
__ADS_1
" Astaga ! kau benar - benar keterlaluan ! Mommy Irina Bexley Allaric ! Kau puas ?! "
" Sangat . Terima kasih , son . Habiskan makananmu , lalu kita mengurus masalah kepindahanmu di sekolah barumu . "
Irina melepaskan cubitan itu dengan wajah yang cerah . Anak laki - laki sok keren ini memang harus di hukum sesekali . Senyumpun tak pernah lepas dari bibir berwarna coral itu .
Dassa hanya mengangguk pasrah . Dia tak mau di cubit lagi . Dassa bisa pastikan bahwa pinggangnya akan membiru dalam beberapa jam kedepan . Menyebalkan .
Melihat respon Dassa yang menurutinya , sekali lagi senyuman dari Iriana semakin mengembang . Lalu wanita itu segera berbalik dan meninggalkan Dassa untuk makan siang .
" Lihatlah , dia tertawa seperti orang bodoh . Bukankah senyum itu terlalu lebar ? Itu bisa merobek separuh pipinya . " Ujar Dassa sambil mengusap pinggang yang telah jadi korban kekerasan dari ibu - bukan , dari mommy nya .
Kemudian , Dassa bersandar di pinggiran meja untuk menyantap makanan ringan terlebih dahulu .
...***...
Nirwana International School , Pengumuman ranking ujian .
" Kau siap ? " Wajah penuh semangat dari Hanni sangat mengganggu . YA TUHAN ! Banyak orang disini . Maksudnya , anak kelas 6 yang memenuhi papan pengumuman itu .
Gemetar kembali merasuk jiwanya . Cahaya takut hasilnya akan mengecewakan . Tangannya sudah penuh dengan keringat . Ia sudah sangat memimpikan kuda ras Morgan yang dijanjikan oleh kakeknya .
" Astaga . Aku terlihat seperti pecundang sekarang . " Batinnya .
Hanni berusaha 'membelah' antrian . Ketika sudah di tengah , Hanni malah kembali tertarik kebelakang .
" Apa yang kau lakukan ? "
" Ayolah , Cahaya . Kau pasti masih teratas . Aku bisa jamin itu . "
" Apa kau yakin dengan kemampuan ku ? "
Hanni melepaskan pegangan dari Cahaya , lalu sedikit melipat tangan dengan malas . Jangan lupakan bahwa Hanni sedang memutar kan kedua bola matanya .
" Tentu . Aku ingat ada salah satu anak yang aku panggil untuk meminta jawaban , dan dia berkata ' masih banyak yang kosong . ' Bodohnya aku yang terlalu percaya . Lalu , sedetik kemudian ketika pengawas meminta mengumpulkan kertas ujian . Anak itu malah menjadi orang pertama yang maju .
Demi Patrick sang pengangguran . Hatiku sangat terluka saat itu . Tapi anak itu malah melenggang keluar tanpa menoleh . Sia*an . Akan aku beri pelajaran jika aku bertemu nanti . " Hanni berbicara dengan sangat menggebu . Dan Cahaya , ketika ia tau bahwa anak itu adalah dirinya , ia malah terkekeh geli .
" Astaga , kau bisa menjawab pertanyaan ku ' ya ' atau ' tidak ' , Hanni . "
" Aku lebih suka sesuatu yang jelas dan clear . " Hanni menekan setiap kata yang ia lontarkan . Anggap saja dirinya sedang berkampanye sekarang .
" Bagaimana jika kita tunggu sepi dulu . Aku ingin melihat tanpa terjadi dorongan . Kau tau kan bahwa aku - "
" Terserah kau saja . "
...***...
" kurang sepi seperti apa lagi ? Demi tuhan ! kita hanya berdua sekarang . "
__ADS_1
Hanni mengoceh karena sedari tadi Cahaya mengatakan ' tunggu sepi '. Dan sekarang , hanya tinggal mereka berdua disekolah . Jangan lupakan beberapa staff yang masih lalu-lalang .
Mereka berjarak beberapa meter dari papan pengumuman . Mereka berdiri disana sedari tadi .
" Baiklah...baiklah . Aku akan tutup mata dan tugasmu menuntun telunjukku untuk mencari namaku , mengerti ? " Cahaya sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri untuk melihat apakah Hanni bisa mengerti atau tidak .
" Aku sudah mendengar lebih dari 10x hari ini . "
" Good . Kau memang pantas menjadi asistenku dimasa depan , Ms.Westlly . "
Tanpa mau menjawab , Hanni langsung menarik tangan Cahaya dengan sangat antusias . Penasarannya sudah di ubun-ubun . Jika bukan karena Cahaya yang meminta , dia takkan sudi menekan rasa penasaran hingga berjam-jam lamanya .
Ketika sampai di depan papan pengumuman , jantung Cahaya berdetak tanpa ritme yang teratur . Fikiran nya bercabang , dan mulutnya selalu merapalkan bahwa dia ada posisi teratas . Setidaknya , 5 besar .
Hanni menoleh dan mendapat ide .
Wanita berponi itu membimbing telunjuk Cahaya untuk mencari namanya . Dengan sengaja , Hanni menurunkan tangannya hingga ke bawah . Bisa ia lihat bahwa alis Cahaya berkerut , dan ...
" Astaga , ini posisi 78 . "
Tubuh Cahaya menegang seketika . Tamat lah riwayat hidupnya .
" Apakah aku disana ? "
" Diposisi 78 ternyata , Auddy Geogia kelas 6B . " Hanni terkikik geli melihat Cahaya yang hampir memukulnya .
" Lakukan dengan benar , bo*oh ! "
Hanni hanya mendengkus . Sangat tak tau terima kasih !
Telunjut itu digiring sekali lagi . Melewati rangking 20 . Naik lagi - melewati rangking 10 dan ...
" Kita ada di 10 besar sekarang . " Hanni tetaplah Hanni . Pembuat onar .
Jantung Cahaya semakin berdetak tak jelas hingga rasanya ia ingin meledak .
" Dan kau disini . Selamat atas keberhasilanmu , girl . "
' Kumohon 5 besar , please . '
Ketika membuka mata , pertama kali yang ia lihat adalah Hanni yang tersenyum - Bahkan , anak itu lebih mirip dengan kuda . Perlahan ia membuka namanya dan ..
" Selamat karena telah berdiri di posisi ke-6 se-Nirwana International School , kawan . Dan kau lihat aku ada di posisi ke-15 , menyebalkan . "
Kuping Cahaya mendadak tuli .
ASTAGA ! BAGAIMANA BISA TUHAN MEMPERMAINKAN CAHAYA SEBEGITU PAYAHNYA ? PERINGKAT KE-6 ?
Lalu bagaimana dengan kuda Morgan-ku yang sudah berada didepan mata ?
__ADS_1
...*NIRWANA FU*KING INTERNATIONAL SCHOOL* !...