Sembunyi

Sembunyi
Diluar Ekspetasi


__ADS_3

" Kau sudah akan pergi ? "


Alex hanya mengangguk samar , lalu mengancing kemeja berwarna biru gelap yang sudah disiapkan oleh Malikka . Sejujurnya , Alex merasa sedikit bersalah karena sudah memperlakukan wanita cantik itu dengan buruk . Namun , bayang-bayang ketika ia dijodohkan kembali mendidihkan akal sehatnya .


Malikka berdiri dari sofa disudut ruang kamarnya . Ia berjalan sedikit cepat karena Alex hampir selesai mengancing baju kemeja yang telah ia pilih tadi .


Dengan telaten , wanita bersurai hitam bergelombang itu memasangkan dasi di leher Alex . Dan hasilnya cukup memuaskan . Malikka tersenyum ketika Alex tak memprotes hasil karyanya .


" Terima kasih . " Ujarnya dingin sambil memasukkan baju kedalam celana dasar . Lalu , ia bersiap untuk pergi .


" Alex . " Alex menghentikan langkah lalu menoleh . Malikka segera berjalan sedikit terburu . " Kau tidak pulang selama hampir seminggu dan baru tiba dirumah beberapa jam yang lalu . Sekarang , kau sudah ingin pergi lagi ? " Malikka berbicara dengan nada sedikit hati-hati . Wajahnya sedikit menyendu .


Alex menatapnya dingin . Sedingin malam yang selalu memeluk Malikka setiap hari .


" Aku harus menemui Eliza , istriku . " Lalu ia berbicara dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya .


" Tapi , K-kau baru pulang . " Alex menaikkan salah satu alisnya dan tertawa dengan suara yang sedikit rendah .


Alex menyentuh rahang Malikka dengan sangat lembut tapi bagi Malikka , itu menyakitkan . " Aku rasa kau masih ingat apa kosekuensinya jika kita menikah , kan ? Apa harus kita bahas lagi , hmm ?! " Tatapan datar itu masih setia bersama Alex .


Malikka tercekat . Hatinya teriris . Rasa sesak itu seolah tak pernah berniat terbiasa dengannya . Air matanya mulai menumpuk .


Ia memilih untuk mundur selangkah . Alex benar , ini adalah kosekuensi yang harus dia terima .


" Maafkan aku yang sudah lancang memintamu untuk tetap disini . Kalau begitu , aku akan berkebun , hati-hati dijalan . Kabari aku jika sudah sampai . " Malikka semakin banyak mengambil langkah mundur . Ia terhenti ketika punggungnya sudah menyentuh pintu . Ia masih berusaha untuk tersenyum meskipun terasa sangat getir .


" Aku , aku mencintaimu . " Putusnya sambil menutup pintu yang sudah ia buka tadi . Alex sedikit tertegun . Malikka tak pernah berhenti mengatakan hal konyol itu sejak hari pertama sumpah pernikahan hingga saat ini .eskipun tak pernah sekalipun Alex masukkan didalam hati.


Lamunannya terberai ketika getaran ponsel di kantong celana dasarnya bergetar . Dengan sedikit terburu ia mengangkat setelah melihat siapa yang menghubunginya .


" Hal- "


" Kenapa lama sekali , sayang ? " Suara diujung telepon itu sedikit merengek ketika memotong pembicaraan dari Alex .


" Aku baru akan pergi , ada apa ? "

__ADS_1


" Kau berjanji hanya 1 jam disana . Dan sekarang sudah 3 jam berlalu . Apa kau sudah tak mencintaiku lagi , hm ? " Suara itu semakin menjadi-jadi . Merengek seperti bocah yang tidak pernah makan .


" Sayang , apa yang kau katakan ? "


" Aku menunggumu dan kau malah asik-asik disana . "


" Kau tampak kesal , ada apa sebenarnya ? "


" Lorenna , teman arisanku . Baru saja memposting beberapa foto untuk pamer kepadaku . Dia baru membeli tas musim ketujuh dari merek H , sayang . Aku sangat kesal dibuatnya . Dan lagi , kau pasti sedang bermesraan dengan istrimu yang jelek itu . Kau menyakitiku . " Rengek wanita itu dengan ditambah sedikit drama menangis .


' Ah , masih tentang iri ternyata .' Bisiknya dalam hati .


" Maafkan aku . Apa ada yang kau inginkan agar aku bisa dimaafkan oleh malaikatku ini , hm ? " Alex sedikit memijat pilipisnya pelan , kepalanya sakit . Perkerjaannya luar biasa menumpuk , tapi Elizabeth tak pernah memahaminya . Alex berbicara dengan suara yang sedikit ditekan . Emosinya akan meledak , sebenarnya .


" Kau sangat pintar memanjakanku . Aku ingin tas koleksi terbaru dari LV , apa bisa kau penuhi ? "


" Tentu , hanya itu ? "


" Untuk sementara hanya itu . Nanti aku akan hubungi lagi jika ada tambahan lainnya ."


Telepon dimatikan secara sepihak oleh Elizabeth . Alex sudah sampai di halaman utama ketika tak sengaja dirinya melihat Malikka yang sedang menanam bunga bersama beberapa maid yang membantunya .


Hari ini , matahari sedang terik . Tapi wanita itu malah seperti tak merasakan apapun . Bahkan , ia hanya menggunakan topi berkebun dan bukan payung untuk menghalau panasnya matahari .


Malikka tersenyum kala tanaman itu sudah berdiri sendiri disangga oleh tanah dan pupuk . Senyumannya selalu tulus .


Jika dipikir , sebenarnya Malikka lebih mandiri dibanding Elizabeth . Malikka tak pernah meminta dan menuntut apapun selain meminta Alex untuk selalu pulang kerumah . Ya , meskipun pada kenyataannya Malikka juga gila terhadap barang branded . Berbanding terbalik dengan Eliza yang gila akan rasa glamor . Meminta ini itu tanpa rasa malu.


Tonny yang melihat itu langsung menegur Alex yang terlihat asik dengan memandangi Malikka dari jauh . " Tuan , kita harus segera berangkat . " Ujar sopir pribadinya itu . Alex hanya mengangguk dan memasuki pintu yang sudah terlebih dulu di buka oleh Tonny sedari tadi .


...***...


Hanni dan Cahaya sedang mengunyah sayap ayam ala korea itu di kantin sekolah . Mereka makan dalam diam . Menikmati gigitan demi gigitan yang mereka masukkan kedalam mulut untuk lidah mereka cecap . Tak jarang , Cahaya tersenyum sendiri ketika sayap itu memenuhi rongga mulutnya .


Hanni hampir tersedak ketika melihat Dassa yang sudah berdiri dengan tangan bersikedap dada . Tanpa suara karena mulutnya penuh , Hanni memukul tangan Cahaya agar wanita itu menoleh . Pasalnya mereka sedang duduk berhadapan , jadi Dassa berada di belakang punggungnya sekarang .

__ADS_1


Cahaya membuka mata karena Hanni yang terlalu heboh dalam menariknya kedunia nyata . Cahaya langsung melepaskan sayap ayam itu dan melotot seolah bertanya ' kenapa ? ' pada Hanni .


Hanni gamang , mulutnya terasa penuh . Jika ia telan , daging itu masih kasar jelas dia akan tersedak , namun jika ia buang tentu saja akan mubazir . Tuhan akan marah .


Maka Hanni memilih untuk tidak menelan dan tidak juga membuang daging ayam itu . Kedua opsi itu sangat berbahaya . Jadi , Hanni juga hanya melototkan mata dan menggeser mata kearah belakang punggungnya , berkali-kali . Hingga matanya perih karena tak berkedip .


Cahaya yang sedang menyedot soda dari pipet sontak langsung mengerti , dan berbalik sembari masih menyedot soda itu dengan nikmat .


" Anj ! " Cahaya terkejut sampai terbatuk . Soda itu bahkan sudah sukarela keluar dari hidungnya . Perih ! Ini sangat perih .


Ia terbatuk-batuk sampai memukul meja . Rasanya , malaikat pencabut nyawa sedang melambai padanya sekarang .


Hanni langsung menelan daging itu dan memukul-mukul punggung Cahaya dengan- SEKUAT TENAGA !


BUG..BUGG..BUGG..


" Kau ingin membunuhku ?! " Cahaya sedikit berteriak . Hanni seperti orang yang mempunyai dendam . Punggungnya terasa sangat panas .


" Aku sedang membantumu . " Jawab Hanni tak kalah sengit .


" Tapi itu terlampau kuat , bo*oh ! "


" Maksudku , membantumu untuk lebih cepat bertemu malaikat pencabut nyawa . "


Cahaya hanya berdesis marah . Tenggorokannya masih sakit . Dassa yang melihat itu hanya terkekeh karena kedua temannya itu sangat diluar ekspektasi .


Selangkah lagi ia akan sampai , namun ..


Cahaya dengan cepat menghentikan langkah Dassa dengan mengangkat kaki kanannya . Memberi jarak agar Dassa tak maju lagi . " Berhenti , atau kami akan - " Cahaya sedikit menoleh ke Hanni yang berada disebelahnya , ia menjeda ancaman itu dan meminta Hanni yang melanjutkan . Cahaya sedang tak tau ancaman apa yang akan efektif untuk lelaki sok keren yang ada di depannya itu .


Hanni yang melihat kode dari Cahaya pun langsung mengangguk paham . Sekarang adalah saatnya ia membantu Cahaya . Dirinya akan menjadi superhero .


Seketika Hanni berteriak dengan percaya diri di kantin yang agak ramai itu .


" Ah , kami akan memotong 'itu'-mu ! " Ujarnya sambil menunjuk 'itu' Dassa dengan tangan telunjuknya .

__ADS_1


...***...


__ADS_2