Sembunyi

Sembunyi
Takdir


__ADS_3

Ari terdiam ketika melihat namanya berada di peringkat ke 14 , tepat di atas Hanni . Ini kabar buruk .


" Kurang aj*r ! Apa yang harus aku lakukan sekarang ? " Ari refleks berjongkok di lantai . Ia benar-benar kacau sekarang .


Ari mencengkram rambut diantara sela-sela jarinya dengan cukup kuat . Bahkan , beberapa helai rambut jatuh ke lantai .


Lelaki berbadan putih itu hampir menangis .


...***...


" Jadi , peringkat berapa ? "


Elizabeth sedang duduk menggunakan busana yang sangat manis . Warna bata itu sangat kontras dengan suasana di siang yang cerah .



Wanita itu sedang duduk menikmati secangkir teh dan camilan ringan di beranda taman . " Kau pasti tertinggal jauh lagi , kan ? " Dengan nada mengejek , Eliza masih menatap hamparan bunga yang sedang bermekaran .


Ari hanya diam . Itu memang benar . Percuma jika ia harus membela diri .


" Kau memang tak pernah bisa diandalkan . Mengecewakan . " Eliza melirik sedikit dan menarik salah satu sudut bibirnya ketika tatapannya bersiborok dengan putra tunggal nya itu .


" Astaga . Darah pecundang Maxmillan benar - benar tertanam di tubuhmu . "


Eliza berjalan melewati Ari tanpa reaksi . Wanita berumur 34 tahun itu berjalan seolah Ari tidak ada disana .


Tangan Ari mengepal , buku tangannya memutih . Ibunya benar - benar keterlaluan .


" Apa semua hanya tentang harta , bu ? " Elizabeth berhenti . lalu dengan anggun , ia berbalik badan menghadap Ari . Kedua tangan mulus itu , ia lipat di dadanya .


" Lantas , tentang apa ? " Tanya Eliza seolah pertanyaan itu sangat sulit di jawab .


" Aku tak tau ."


" Untuk apa aku melahirkanmu jika bukan untuk merebut harta lelaki bodoh itu , hmm ? " Eliza berjalan mendekat , Ari berdiri dengan sekuat tenaga menopang tubuh agar tidak terjatuh . Jujur saja , Ari masih takut dengan kelakuan ibunya yang sangat gemar menghempaskan barang tanpa pandang bulu .


" Tapi ternyata bukan harta yang aku dapat , melainkan anak yang sama pecundangnya dengan ayahmu . " Wanita berbaju bata itu pura-pura memijat pangkal hidungnya . Lalu , ia tertawa .


" Tak apa . Aku akan berusaha lagi . Dan kau , semoga tidak lelah padaku , anakku sayang . " Eliza menepuk pelan pipi lelaki yang ada didepannya dengan kekehan kecil persis seorang psikopat .


Lalu , ia melangkah pergi dan hilang di telan dinding raksasa yang di lewatinya barusan .


Napas Ari menderu . Jadi sejak ia dilahirkan , ia memang sudah di takdirkan untuk diperalat ? Ari tertawa sumbang .


...***...

__ADS_1


" Jadi , kau akan kehilangan kudamu ? "


" Aku- , aku bahkan belum mendapatkannya , ibu ! " Cahaya menangis sejadi-jadinya . Hancur sudah harapannya untuk menunggangi kuda sekelas ras Morgan .


Tadi , ketika sesampainya dirumah . Cahaya langsung menerobos masuk kamar Malikka tanpa mengetuk terlebih dahulu . Malikka sedang membaca buku di atas ranjangnya yang besar - seorang diri .


" Bagaimana jika ibu yang membelikanmu , hmm ? " Malikka berusaha untuk bernegosiasi dengan putrinya . Bagaimanapun , keinginan Cahaya adalah yang segalanya .


" No ! Aku ingin yang dari kakek . " Anak kecil itu sedikit berteriak dan kembali menangis tersedu .


" Tapi sama saja , sayang . Bahkan , ibu bisa belikan yang lebih baik dibanding ras Morgan , bagaimana ? "


Cahaya tak menjawab . Ia terlalu kalut dengan kesedihan yang ia hadapi sekarang .


Ceklek .


Tiba-tiba pintu kamar Malikka terbuka . Mata mereka berdua membulat . Apakah mimpi di siang bolong itu benar adanya ?


Tanpa berpikir panjang , Malikka langsung melompat dari ranjang dan berjalan dengan sedikit berlari kearah pintu .


Tanpa ragu ia langsung membantu Alexander untuk membuka jas dan dasi yang terikat di lehernya .


Wajah wanita cantik itu sumringah . Rindu pada Alex terbayarkan hari ini . Entah sudah berapa lama lelaki bermanik coklat itu tak pulang . 2 minggu atau 4 minggu ?


" Kenapa ? Kau tak suka jika aku pulang ? " Alex langsung menyambar pertanyaan Malikka dengan nada yang sarkas .


" Tentu saja aku suka , Lex . Kepulanganmu dirumah ini selalu aku tunggu . " Tangan Malikka sangat lincah membantu Alex melepaskan dasi . Alex sedikit melirik pada Cahaya , dan Cahaya melirik tatapan itu dengan tatapan yang sangat dingin .


" Baiklah , aku akan pergi . Nikmati waktu berdua kalian . " Cahaya turun dari kasur dengan sedikit lesu . Jujur saja , energinya sudah habis jika harus berdebat sekarang . Jadi , lebih baik ia memilih untuk mengalah sesekali .


" Kita akan berbicara setelah ibu selesai membantu ayahmu , oke ?! " Malikka berusaha meyakinkan Cahaya dengan mengedipkan sebelah matanya berkali-kali .


Cahaya hanya berdehem tanda setuju dan keluar dengan sedikit menabrak tubuh Alex .


...***...


Hanni melihat sekeliling rumahnya . Tak ada yang berubah . Sepi dan sunyi meskipun para maid bertebaran disana-sini .


" Ada apa , nona ? Apakah makanan yang saya sajikan tidak sesuai selera , nona ? "


Hanni hanya menggeleng pelan . Ia dorong piring itu dengan lesu . Tiba-tiba wanita berponi itu terdiam .


" Aku , merindukan orang tuaku . "


Para maid yang sedang berbaris itu seketika terpaku . Ya , orang tua Hanni sudah hampir 1 bulan tak pernah pulang .

__ADS_1


" Tolong , panggilkan Banin untukku . " Suara itu melemah dengan seiring waktu . Salah satu maid langsung berlari keluar mencari Banin .


Setelah 10 menit menunggu ...


" Saya disini , nona . "


Setelah mendengar suara Banin , Hanni langsung melompat kedalam pelukkan sopir tua itu .


" Banin . " Suara itu bergetar . Tak lama pecah sudah suara tangisan nona muda mereka . Ia nangis tersedu menyayat hati . Hampir seluruh orang yang ada disana menyeka air mata tak tega padanya .


Banin langsung sigap dengan memeluk nona-nya itu . Ia tau bagaimana hancurnya hati Hanni saat ini . Ditinggal pergi sahabat dan kedua orang tuanya . Tak ada yang lebih sakit daripada itu .


" Banin . " Sekali lagi Hanni menyebut nama sang sopir dengan lembut .


" Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak menangis seperti ini , nona ? " Banin memegang bahu Hanni dan membawanya untuk ia tatap .


" Bawa orang tuaku pulang , aku merindukan mereka dengan segenap jiwaku , Banin . " Hanni menatap dengan air mata pilu yang sudah lama ia pendam .


" Tak apa jika mereka bangkrut . Aku tak perduli . Aku akan belajar dengan giat . Lalu , aku akan melamar menjadi sekretaris Cahaya , mereka tak perlu lagi berkerja untukku . Aku yang akan menghidupi mereka . " Lanjutnya .


" Kenapa harus , nona Cahaya . Hmm ? " Tanya Banin disela-sela ia menyeka air mata Hanni yang terus menetes .


" Karena , dia selalu menawarkan perkerjaan itu padaku , Banin . "


" Kau dikelilingi orang yang baik ternyata ." Banin tersenyum tulus pada Hanni . Lalu , ia mengusap pelan surai hitam itu .


Hanni hanya mengganguk pelan .


" Kau tau dimana orang tuaku sekarang ? " Suaranya kembali serak , pertanda bahwa sedih akan kembali menerjangnya sebentar lagi .


" Nona , mereka sedang di Kanada . " Suara Banin sangat halus dan lembut .Beberapa maid bahkan terkejut dengan sikap Banin yang sekarang . Karena , Banin terkenal sangat pendiam dan dingin .


" Apakah jauh ? " Tanyanya dengan nada polos . Sorot mata Hanni seolah meminta penjelasan yang lebih rinci .


" Tentu . "


" Kau sopir pribadiku , bisakah kau mengantarku kesana ? "


Terdengar Banin menghela nafas sambil sedikit menahan tawa mendengar ucapan polos dari nona muda-nya itu . " Itu akan sangat membutuhkan banyak wantu , nona . Menggunakan pesawat saja bisa memakan waktu kurang lebih 25 jam . Kurasa jika kita menggunakan mobil , kita baru akan sampai disana saat kau sudah berusia 20 tahun . "


Mata Hanni melebar dan kemudian bibirnya mengerucut .


" Kau berlebihan , Banin . "


...***...

__ADS_1


__ADS_2