
Ari terdiam ketika melihat namanya berada di peringkat ke 14 , tepat di atas Hanni . Ini kabar buruk .
" Kurang aj*r ! Apa yang harus aku lakukan sekarang ? " Ari refleks berjongkok di lantai . Ia benar-benar kacau sekarang .
Ari mencengkram rambut diantara sela-sela jarinya dengan cukup kuat . Bahkan , beberapa helai rambut jatuh ke lantai .
Lelaki berbadan putih itu hampir menangis .
...***...
" Jadi , peringkat berapa ? "
Elizabeth sedang duduk menggunakan busana yang sangat manis . Warna bata itu sangat kontras dengan suasana di siang yang cerah .
Wanita itu sedang duduk menikmati secangkir teh dan camilan ringan di beranda taman . " Kau pasti tertinggal jauh lagi , kan ? " Dengan nada mengejek , Eliza masih menatap hamparan bunga yang sedang bermekaran .
Ari hanya diam . Itu memang benar . Percuma jika ia harus membela diri .
" Kau memang tak pernah bisa diandalkan . Mengecewakan . " Eliza melirik sedikit dan menarik salah satu sudut bibirnya ketika tatapannya bersiborok dengan putra tunggal nya itu .
" Astaga . Darah pecundang Maxmillan benar - benar tertanam di tubuhmu . "
Eliza berjalan melewati Ari tanpa reaksi . Wanita berumur 34 tahun itu berjalan seolah Ari tidak ada disana .
Tangan Ari mengepal , buku tangannya memutih . Ibunya benar - benar keterlaluan .
" Apa semua hanya tentang harta , bu ? " Elizabeth berhenti . lalu dengan anggun , ia berbalik badan menghadap Ari . Kedua tangan mulus itu , ia lipat di dadanya .
" Lantas , tentang apa ? " Tanya Eliza seolah pertanyaan itu sangat sulit di jawab .
" Aku tak tau ."
" Untuk apa aku melahirkanmu jika bukan untuk merebut harta lelaki bodoh itu , hmm ? " Eliza berjalan mendekat , Ari berdiri dengan sekuat tenaga menopang tubuh agar tidak terjatuh . Jujur saja , Ari masih takut dengan kelakuan ibunya yang sangat gemar menghempaskan barang tanpa pandang bulu .
" Tapi ternyata bukan harta yang aku dapat , melainkan anak yang sama pecundangnya dengan ayahmu . " Wanita berbaju bata itu pura-pura memijat pangkal hidungnya . Lalu , ia tertawa .
" Tak apa . Aku akan berusaha lagi . Dan kau , semoga tidak lelah padaku , anakku sayang . " Eliza menepuk pelan pipi lelaki yang ada didepannya dengan kekehan kecil persis seorang psikopat .
Lalu , ia melangkah pergi dan hilang di telan dinding raksasa yang di lewatinya barusan .
Napas Ari menderu . Jadi sejak ia dilahirkan , ia memang sudah di takdirkan untuk diperalat ? Ari tertawa sumbang .
...***...
__ADS_1
" Jadi , kau akan kehilangan kudamu ? "
" Aku- , aku bahkan belum mendapatkannya , ibu ! " Cahaya menangis sejadi-jadinya . Hancur sudah harapannya untuk menunggangi kuda sekelas ras Morgan .
Tadi , ketika sesampainya dirumah . Cahaya langsung menerobos masuk kamar Malikka tanpa mengetuk terlebih dahulu . Malikka sedang membaca buku di atas ranjangnya yang besar - seorang diri .
" Bagaimana jika ibu yang membelikanmu , hmm ? " Malikka berusaha untuk bernegosiasi dengan putrinya . Bagaimanapun , keinginan Cahaya adalah yang segalanya .
" No ! Aku ingin yang dari kakek . " Anak kecil itu sedikit berteriak dan kembali menangis tersedu .
" Tapi sama saja , sayang . Bahkan , ibu bisa belikan yang lebih baik dibanding ras Morgan , bagaimana ? "
Cahaya tak menjawab . Ia terlalu kalut dengan kesedihan yang ia hadapi sekarang .
Ceklek .
Tiba-tiba pintu kamar Malikka terbuka . Mata mereka berdua membulat . Apakah mimpi di siang bolong itu benar adanya ?
Tanpa berpikir panjang , Malikka langsung melompat dari ranjang dan berjalan dengan sedikit berlari kearah pintu .
Tanpa ragu ia langsung membantu Alexander untuk membuka jas dan dasi yang terikat di lehernya .
Wajah wanita cantik itu sumringah . Rindu pada Alex terbayarkan hari ini . Entah sudah berapa lama lelaki bermanik coklat itu tak pulang . 2 minggu atau 4 minggu ?
" Kenapa ? Kau tak suka jika aku pulang ? " Alex langsung menyambar pertanyaan Malikka dengan nada yang sarkas .
" Tentu saja aku suka , Lex . Kepulanganmu dirumah ini selalu aku tunggu . " Tangan Malikka sangat lincah membantu Alex melepaskan dasi . Alex sedikit melirik pada Cahaya , dan Cahaya melirik tatapan itu dengan tatapan yang sangat dingin .
" Baiklah , aku akan pergi . Nikmati waktu berdua kalian . " Cahaya turun dari kasur dengan sedikit lesu . Jujur saja , energinya sudah habis jika harus berdebat sekarang . Jadi , lebih baik ia memilih untuk mengalah sesekali .
" Kita akan berbicara setelah ibu selesai membantu ayahmu , oke ?! " Malikka berusaha meyakinkan Cahaya dengan mengedipkan sebelah matanya berkali-kali .
Cahaya hanya berdehem tanda setuju dan keluar dengan sedikit menabrak tubuh Alex .
...***...
Hanni melihat sekeliling rumahnya . Tak ada yang berubah . Sepi dan sunyi meskipun para maid bertebaran disana-sini .
" Ada apa , nona ? Apakah makanan yang saya sajikan tidak sesuai selera , nona ? "
Hanni hanya menggeleng pelan . Ia dorong piring itu dengan lesu . Tiba-tiba wanita berponi itu terdiam .
" Aku , merindukan orang tuaku . "
Para maid yang sedang berbaris itu seketika terpaku . Ya , orang tua Hanni sudah hampir 1 bulan tak pernah pulang .
__ADS_1
" Tolong , panggilkan Banin untukku . " Suara itu melemah dengan seiring waktu . Salah satu maid langsung berlari keluar mencari Banin .
Setelah 10 menit menunggu ...
" Saya disini , nona . "
Setelah mendengar suara Banin , Hanni langsung melompat kedalam pelukkan sopir tua itu .
" Banin . " Suara itu bergetar . Tak lama pecah sudah suara tangisan nona muda mereka . Ia nangis tersedu menyayat hati . Hampir seluruh orang yang ada disana menyeka air mata tak tega padanya .
Banin langsung sigap dengan memeluk nona-nya itu . Ia tau bagaimana hancurnya hati Hanni saat ini . Ditinggal pergi sahabat dan kedua orang tuanya . Tak ada yang lebih sakit daripada itu .
" Banin . " Sekali lagi Hanni menyebut nama sang sopir dengan lembut .
" Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak menangis seperti ini , nona ? " Banin memegang bahu Hanni dan membawanya untuk ia tatap .
" Bawa orang tuaku pulang , aku merindukan mereka dengan segenap jiwaku , Banin . " Hanni menatap dengan air mata pilu yang sudah lama ia pendam .
" Tak apa jika mereka bangkrut . Aku tak perduli . Aku akan belajar dengan giat . Lalu , aku akan melamar menjadi sekretaris Cahaya , mereka tak perlu lagi berkerja untukku . Aku yang akan menghidupi mereka . " Lanjutnya .
" Kenapa harus , nona Cahaya . Hmm ? " Tanya Banin disela-sela ia menyeka air mata Hanni yang terus menetes .
" Karena , dia selalu menawarkan perkerjaan itu padaku , Banin . "
" Kau dikelilingi orang yang baik ternyata ." Banin tersenyum tulus pada Hanni . Lalu , ia mengusap pelan surai hitam itu .
Hanni hanya mengganguk pelan .
" Kau tau dimana orang tuaku sekarang ? " Suaranya kembali serak , pertanda bahwa sedih akan kembali menerjangnya sebentar lagi .
" Nona , mereka sedang di Kanada . " Suara Banin sangat halus dan lembut .Beberapa maid bahkan terkejut dengan sikap Banin yang sekarang . Karena , Banin terkenal sangat pendiam dan dingin .
" Apakah jauh ? " Tanyanya dengan nada polos . Sorot mata Hanni seolah meminta penjelasan yang lebih rinci .
" Tentu . "
" Kau sopir pribadiku , bisakah kau mengantarku kesana ? "
Terdengar Banin menghela nafas sambil sedikit menahan tawa mendengar ucapan polos dari nona muda-nya itu . " Itu akan sangat membutuhkan banyak wantu , nona . Menggunakan pesawat saja bisa memakan waktu kurang lebih 25 jam . Kurasa jika kita menggunakan mobil , kita baru akan sampai disana saat kau sudah berusia 20 tahun . "
Mata Hanni melebar dan kemudian bibirnya mengerucut .
" Kau berlebihan , Banin . "
...***...
__ADS_1