
" Apa kau dekat dengan Nana , Nana Jackson ? " Dassa melonjorkan kedua kakinya . Bahkan ketika sedang duduk sekalipun Dassa benar-benar kewalahan dengan tinggi badannya .
" Demi planet Pluto yang sempat hilang lalu kembali . Aku pun baru tau namanya hari ini , bagaimana kau bisa dengan mudah bertanya seperti itu padaku ! "
Untuk pernyataan pertama pun Dassa sudah bisa membakar emosi Cahaya sampai sehebat ini . Luar biasa .
" Hei , santai , girl . Aku hanya bertanya padamu . " Dassa menoleh dan merentangkan salah satu tangannya untuk memberikan isyarat bahwa ia hanya bertanya , tidak lebih .
" Jika kau terlalu banyak bertanya aku benar-benar akan pergi sekarang . " Cahaya sudah siap dengan keputusannya , dengan cepat Dassa berdiri dan menghadang tubuh Cahaya untuk maju .
Dassa mendesah , entah untuk yang keberapa kalinya .
" Oke . Aku pertama kali bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu di salah satu pameran lukisan di galeri ternama di kotaku . "
" Ah , dia punya uang ternyata ." Cahaya kembali duduk dan menyilangkan kedua tangannya di dada . Detak jantungnya mulai meningkat . Sepertinya perang batin akan dimulai .
" Bisakah kau menghargai orang lain ? " Ucap Dassa dengan sedikit mendesak .
" Bagian mana yang kau anggap aku tidak menghargai orang lain ? " Cahaya semakin melebarkan senyumnya , namun sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia rasa sekarang . Perlahan namun pasti remasan kuat di jantungnya mulai terasa .
Ah , sakit beberapa saat yang lalu kembali pulang .
" Apa perlu kita debatkan ? kau bahkan hanya memberi ku waktu 7 menit . "
lelaki manis itu bahkan mengangkat kedua tangannya memberikan angka '7' di depan wanita tomboy itu .
" Dan masih tersisa 5 menit lagi . "
Cahaya pura-pura melihat jam tangan untuk mengalihkan bulir air di mata monolid-nya .
Dassa bahkan mau repot-repot untuk menjelaskan hal tidak penting demi membela sang pujaan hati , Menggelikan .
Lagi , Dassa mendesah .
" Saat itu , aku sedang menemani ibuku bertemu para koleganya . Entahlah , apa yang sedang mereka katakan sampai aku bosan dan akhirnya pergi dari sisi ibuku .
" Aku berkeliling hingga tersesat di gedung sebesar gedung teater itu . Jadi ketika aku mencari jalan keluar , aku tidak sengaja bertemu dengan , Nana . Saat itu , Dia sedang memegang gagang pel , dan satu tangannya lagi sibuk menarik ember air .
" Gayanya sedikit lusuh , namun wajahnya sangat bersinar . Dia sangat cantik meskipun rambutnya di ikat persis seperti maid dirumahku.
" Aku bahkan lupa bertanya kearah mana seharusnya aku pergi . Pertanyaan ku malah mengorek kehidupan pribadinya . Siapa namanya , dimana ia sekolah dan kenapa ia ada disana dengan penampilan seperti itu . "
__ADS_1
Dassa sedikit menjeda , selama pernyataannya sedari tadi dapat Cahaya lihat bahwa Dassa sangat bersemangat dalam bercerita .
" Dan kau tau , dari banyaknya pertanyaan yang kulontarkan dia hanya menjawab bahwa ia sedang membantu ayahnya lalu ia mengantarku kembali ke ruang pameran dan hilang begitu saja ."
Dassa menunduk dan sedikit menepuk-nepuk lutut kaki jenjangnya .
Cahaya nampak sedikit berpikir , mencerna setiap kata yang lelaki ia kagumi itu . Lalu ia teringat sesuatu .
" Bukankah kau dari kota sebelah ? "
" Itulah kenapa aku mengejarnya sampai kesini . Bahkan , hanya untuk memenuhi biaya hidup dan sekolah ia rela menjadi pekerja paruh waktu di salah satu gedung opera terbesar di kota yang pernah aku tempati . Disaat kita sibuk bermanja , Nana bahkan sibuk mencari uang . "
Bukan satu atau dua , tapi ada belasan belati yang menghunus hatinya secara bersamaan . Sesak perlahan mendera dirinya . Ini sangat keterlaluan .
" Jadi ? " Suaranya sedikit bergetar namun berusaha ia tahan .
" Aku sebenarnya terkejut ketika sekretaris ayahku memberikan info tentang , Nana . Maksudku , yang membuat terkejut bukan karena ia berkerja paruh waktu . Tapi , karena ia rela membantu ayahnya sampai keluar kota . Jadi aku memutuskan pindah kesini untuk lebih mengenalnya . "
Apa masih ada yang belum Dassa katakan ? jika belum , jujur saja Cahaya sebenarnya susah tak kuat mendengarkan ini .
" Apa rumor yang tersebar tadi pagi itu benar ? " Cahaya akhirnya menembak pada inti pembicaraan mereka .
" KENAPA HARUS KAU PERJELAS , SETAN ! " Sudahlah cukup dalam hati saja Cahaya menggila .
" Lantas , yang mana jika bukan yang itu ? " Jawabnya seketus mungkin .
Dassa tertawa ringan . Ya tuhan , disaat seperti ini pun lelaki itu masih bisa meluluh lantahkan perasaannya .
" Aku , akan sangat senang jika rumor murahan itu benar terjadi . Tapi , sayangnya aku tidak berkencan dengan Nana , Mungkin belum untuk saat ini . "
Lelaki itu berbicara seolah tak ada beban yang berarti untuknya .
" Ah , kau di tolak rupanya . " Cahaya berusaha untuk menghibur diri sendiri .
" Bisa kau gunakan bahasa yang lebih halus ? " Dassa mengerutkan kedua alis menawan itu .
" seperti ' dicampakkan ' mungkin ? " Tak mau kalah , Cahaya malah mengangkat salah satu alisnya .
" Astaga , kami bahkan belum sempat berkencan . "
" Kenapa kau di tolak ? " Cahaya berusaha untuk lebih mengorek .
__ADS_1
" Dia berkata , bahwa dia yang tidak pantas untuk menyukaiku . " Suara itu sedikit melemah beberapa oktaf . Pun dengan 'cahaya' di mata itu sedikit menghilang .
" Setidaknya , dia waras untuk tidak berurusan dengan orang kaya . " Akhirnya Cahaya punya bahan untuk kembali terlihat sedikit kuat .
" Kau - mengerikan . "
" Terima kasih . " Wanita itu mengedipkan salah satu mata monolid miliknya dan sesegera mungkin meninggalkan sakit itu sampai disini saja . Cukup untuk hari ini .
" Kau , mau kemana ? " Lelaki itu menarik salah satu gantungan tas milik Cahaya .
" Kelas , aku lupa jika aku belum mengerjakan prakarya . " Jawabnya asal .
" Aku belum selesai . " Astaga , Dassa mengandalkan wajah memelas nya itu .
" Kenapa kau malah mencurahkan semua keluh kesahmu padaku , datang saja pada Hanni . "
Jika ini di teruskan , dapat di pastikan bahwa hanya ia yang akan mati kesakitan disini .
" Apakah itu cukup membantu jika aku menemui Hanni ? "
Astaga Dassa ini polos atau bagaimana ?
" Ya , dia akan membantumu agar merasa lebih buruk . " jawabnya Asal .
" Kau teman yang buruk . " Dassa menunjukan muka kesalnya dan itu sangat menawan . Otak Cahaya benar-benar sangat bermasalah .
"Hahaha , kau baru paham rupanya . " Cahaya tertawa mendengar apa yang Dassa katakan . Dahulu lelaki ini sedingin kutub sekarang malah sehangat pantai tropis .
" Tapi kau tetap temanku . " Bibir tipis itu mencebik . Bagaimanapun Dassa masih dibawah umur jadi wajar saja terkadang ia bersikap seperti anak sebayanya .
" Apakah kau yakin aku yang akan selalu menjadi temanmu ? " Cahaya sedikit menajamkan telinganya , barangkali apa yang akan dijawab setelah ini akan membuat suasana hatinya membaik .
" Tentu saja , kau akan selalu menjadi temanku . "
Dassa menaikkan jari kelingkingnya . bahkan ia ' memaksa ' Cahaya untuk berjanji bahwa ia juga akan menerima keputusan sepihak yang tak adil itu .
" Ah ya , teman . Dan akan selalu menjadi teman . "
Dengan berat dan tersenyum getir , wanita kecil yang sedang berpatah hati itu di paksa untuk berdamai dengan keadaan yang bahkan tak pernah ia inginkan .
...***...
__ADS_1