Sembunyi

Sembunyi
Crispy Fried Rice


__ADS_3

Hari demi hari berlalu . Dan ketegangan antara Cahaya dan lelaki sok dingin itu masih saja berlangsung . Mereka terlalu kekanak - kanakan , meskipun mereka benar adanya .


Jika Dassa memasuki kelas saat jam istirahat atau tak ada guru , maka Cahaya akan enyah dari kelas itu . Jika Dassa memasuki area kantin , maka Cahaya akan lebih memilih makan di tempat lain .


Pergi kemana saja asal tidak bertemu seseorang ' yang mengkhianati ' perasaannya . Ah , Cahaya terlalu Drama ternyata .


Seperti siang ini , ketika Mr.Gellard menjadikan mereka berdua team dalam praktikum IPA untuk ujian akhir beberapa hari mendatang , dengan sikap sok kerennya , Cahaya mengacungkan tangan tak setuju . Lihatlah , bahkan ia sampai rela berdebat dengan Mr.Gellard . Siapapun pasti tau bahwa lelaki tua bangka itu terkenal sangat tidak mau mendapat kritik tentang sistem pembelajarannya .


Dassa hanya menggeleng tak percaya . Maksudnya , Hey ! Wanita itu juga bersalah didalam kasus ini . Coba saja jika ia tidak mudah terbawa suasana , maka semuanya tak akan terjadi .


Setelah perdebatan alot dengan guru tua itu , akhirnya - TENTU SAJA Cahaya tak akan menang . Itu hanya akan membuang-buang waktu .


" Sepertinya , kau masih menyukaiku ? " Bisik lelaki itu ketika Cahaya sudah duduk tanda perdebatannya dengan Mr.Gellard telah berakhir .


Cahaya hanya mendengkus kesal . Ini bukan hasil yang ia inginkan . Terlebih , bisa ia rasakan bahwa semua orang sedang mengejeknya kini .


Ia berusaha menuli , tak ia hiraukan Dassa yang terus berkicau sedari tadi . Bahkan hanya untuk menatap lelaki itu saja , Cahaya benar-benar sudah tidak bertenaga .


" Masih berusaha mengabaikan ku ? meskipun kau tau bahwa itu , omong kosong belaka . "


Terdengar kekehan ringan dari bangku paling belakang . Ari . Ari Maxmillan .


" Apakah kalian sedang bertengkar ? kalian tak seakur biasanya ." Ucap Ari sambil di kipasi oleh kacungnya .


Dassa menoleh , ia sedang tak ingin berdebat dengan lelaki pecundang sekarang . Sekali lagi ia menolehkan wajahnya pada Cahaya , wanita itu masih saja seperti tadi . Dassa sedikit jengkel dan menerjang pelan kursi disebelahnya - milik Cahaya .


1 kali -


2 kali -


3 kali - " Kau mau mati secepatnya ? "


Sumringah Dassa sangat lebar . Ia akhirnya berhasil membuat beruang kutub itu berbicara .


Dassa memajukan badan dan kepala , kedua tangan ia tangkupkan di dagu sembari kesepuluh jarinya bergerak - gerak manja . Mata itu ia kedipkan segenit mungkin .


" Mau makan ayam goreng ? "


Cahaya hanya menatap legamnya iris yang Dassa punya . Sedalam mana ia menyelami iris itu , hanya ada kegelapan disana , bahkan ia lupa jalan kembali hingga terjebak .


" Bagaimana kalau mie tek-tek ? "


Cahaya masih membisu .


" Tidak suka ? Soto lamongan ? aku jamin kau pasti suka . "


" Bagaimana kalau sesuatu yang baru , seperti ehem....eheemmm ...." Dassa dengan dramatis membenarkan suaranya sebentar .


" How about CRISPY FRIED RICE ,girl ? "


Dassa menaik-naikan alisnya . Kedua tangannya sudah di lepaskan dari dagu barusan . Dari kacamata pengelihatan nya , Cahaya agak memiringkan kepalanya kekanan 20 derajat , dengan alis yang hampir bertabrakan menandakan bahwa ' wanita itu sedang dilanda kebingungan '


Setelah mendengar apa yang Dassa katakan , Hanni langsung menabrakan tubuhnya ke tubuh Cahaya dengan kuat sehingga Cahaya terdorong kedepan dan semakin jelas melihat wajah yang sialan tampan itu .


Si*lan , lagi dan lagi pipinya terasa panas .


Hanni si*lan !


" Apakah itu jenis makanan baru ? aku belum pernah mendengarnya .

__ADS_1


" Hanni bertanya dengan suara antusiasnya yang khas . Ewww .


" Apa kau penasaran ? " Dassa melirikan matanya dan bertanya pada Hanni yang berada tepat di samping Cahaya .


Hanni mengangguk dengan sangat antusias .


" Bagaimana denganmu ? "


Wanita kecil itu berdehem sebentar dan membenarkan tubuh nya yang sempat terdorong . Degup jantungnya mulai bertingkah .Setelah pipi yang memerah , sekarang jantungnya yang berulah . Ah , menyakitkan kepala saja .


" Katakan jika kau ingin katakan . Jangan bertingkah seolah kau ingin mengatakan tapi sebenarnya kau tak akan mengatakannya ."


Cahaya menyindirnya secara terang - terangan . Dassa memegang jantungnya , lalu berekspresi seolah jantungnya baru saja di tembak .


" Apa harus kita lanjutkan agar mereka semua tak penasaran lagi kenapa kita bisa tak sering bersama lagi , hmm ? "


" Apa maksudmu ? "


" Entahlah , aku hanya menyampaikan rumor yang ku dengar di sepanjang koridor ."


" Lagi - lagi rumor . " Cahaya menyunggingkan bibir . Ada rasa kesal menjalar disetiap inci urat nadinya .


Cepat - cepat Hanni bertanya dari mana lelaki sok tau itu mendengarnya " Siapa yang mengatakan hal tak penting seperti itu ? "


Dassa mengedikkan dagu seolah menunjuk wanita yang sedang duduk 2 didepan mereka . Hanni hanya Meng-Oh sambil membenarkan posisi duduknya kembali .


" Jadi , bisa kau jelaskan makanan apa yang terdengar sangat lezat tadi , apa namanya , fried , friends ? "


" CRISPY FRIED RICE , Hanni . "


Oh , sungguh . Cahaya benar -benar bisa gila jika selalu berhadapan dengan Hanni .


" Ya ,itu maksudku . " Hanni tersenyum lebar bahkan matanya sampai membentuk bulan sabit .


" Apa ? " Wajar Cahaya bertanya pada Hanni , sebab , wanita itu mencengkram kedua tangan Cahaya dengan sangat kuat .


" Huh ? apa yang barusan lelaki bajingan itu bilang ? " Mata nya masih tertatap di depan pintu kelas yang digunakan Dassa untuk melarikan diri barusan .


" RENG-GI-NANG ."


" Astaga , dia mempermainkan ku ? "


" Dia tidak mempermainkan mu . "


" Lalu ? " Alis tipis itu berkerut dan cengkraman itu sedikit melonggar .


" Kau yang terlalu berekspektasi tinggi padanya ."


Cahaya menepuk tangan Hanni beberapa kali lalu ia pergi dari sana .


...***...


Tas itu tertarik kebelakang ketika Cahaya sedang berjalan untuk pindah ke kelas musik . Dia berjalan sendirian , karena dirinya yang paling akhir keluar kelas .


Tak ada niat melawan sedikitpun , karena Cahaya bisa memastikan hanya 2 manusia yang berani melakukan itu , jika bukan si anak haram , berarti si anak menyebalkan , Hanni .


Ia memutar matanya ketika tubuhnya ikut terseret kebelakang . Saat sampai di dekat ruang olahraga , gerakan itu berhenti . Lantas ia memutar badan , dan tercengang .


Yang menariknya adalah - Dassa ?

__ADS_1


" Ada masalah - apa ? " Astaga , ternyata pura-pura untuk sok keren itu , susah .


" Kita memang sedang bermasalah , Cahaya . " Dassa sedikit mendesah gusar . " Kau , menghindar dariku ? "


Ya tuhan . Lelaki itu berdiri di hadapan Cahaya dengan sangat , Astagaaa ! Kedua tangan lelaki itu ia masukkan ke dalam saku celana , mata legam itu pun ikut berusaha untuk mengintimidasi keberanian nya .


" Bukankah itu yang kau mau ? "


" Aku hanya memintamu untuk berhenti menyukaiku , bukan malah menjauhiku. "


" Untuk berhenti harus menjauh , Mr.Alaric . "


" Bukan seperti itu konsepnya ."


" Aku membencimu !" Kali ini Cahaya benar-benar mengeluarkan segala rasanya dalam bentuk sebuah kalimat .


" Kenapa semakin bertambah parah ? kita sudah besar , Cahaya . Aku tau IQ mu bahkan hampir menyentuh batas di atas rata-rata . Tapi , kenapa hal sekecil ini saja tidak bisa kita bicarakan baik-baik ? "


Kuping wanita bermanik coklat madu itu serasa panas . Bisa -bisa nya Dassa berkata ' hal sekecil itu ' dengan nada suara yang - tenang ?


Cahaya maju 2 langkah mendekat , meskipun tingginya hanya sebatas bahu lelaki itu , tapi ia tidak peduli .


PERSETAN DENGAN TINGGI BADAN !


" Berhenti berlagak seolah kau yang menjadi korban disini . Kau yang memintaku untuk berhenti , maka langkah yang harus aku ambil terlebih dahulu adalah menjauhi mu ."


Dassa mulai uring-uringan . Ia selipkan rambut legam itu di sela-sela jarinya . Kemudian , Dassa berjalan mondar -Mandir tanpa henti .


" Tapi kita masih bisa berteman . "


" Biarkan aku sembuh terlebih dahulu , dan - jangan perduli kan aku . "


" Bagaimana denganku ? "


" Habiskan saja waktumu dengan anak miskin itu ."


Mata lelaki manis itu memerah . Demi tuhan , ia akan sangat mudah di provokasi jika itu berhubungan dengan NANA , Nana Jackson


" WATCH YOUR MOUTH , CAHAYA . aku tidak suka jika harus memilih !"


" I DON'T ! BERHENTI MENERIAKIKU , BAJIN*AN ! "


Hatinya terdenyut lagi .


" I am sorry , Cahaya . Aku kelepasan . "


" Jika kau masih menganggap ku sebagai teman , ada baiknya jika kau menjauhiku . Aku lebih menyukai dirimu yang lalu , tidak banyak bicara dan tenang . "


Dassa hanya terdiam . Sorot mata nya tak lagi menandakan bahwa ia bisa diajak kompromi . Dia , terluka dengan ucapan teman terdekatnya .


" Jadi , aku harus , men-menjauh dan tidak memperdulikan dirimu , hmm ? "


Cahaya terdiam .


" Apa itu bisa membuat hubungan kita membaik ? "


Masih , terdiam .


" Baiklah aku anggap diam mu adalah ' ya ' ."

__ADS_1


Tanpa sadar dibalik tembok itu ada sepasang kuping yang sedang mendengar pembicaraan mereka .


...***...


__ADS_2