
Hari demi hari berlalu . Dan ketegangan antara Cahaya dan lelaki sok dingin itu masih saja berlangsung . Mereka terlalu kekanak - kanakan , meskipun mereka benar adanya .
Jika Dassa memasuki kelas saat jam istirahat atau tak ada guru , maka Cahaya akan enyah dari kelas itu . Jika Dassa memasuki area kantin , maka Cahaya akan lebih memilih makan di tempat lain .
Pergi kemana saja asal tidak bertemu seseorang ' yang mengkhianati ' perasaannya . Ah , Cahaya terlalu Drama ternyata .
Seperti siang ini , ketika Mr.Gellard menjadikan mereka berdua team dalam praktikum IPA untuk ujian akhir beberapa hari mendatang , dengan sikap sok kerennya , Cahaya mengacungkan tangan tak setuju . Lihatlah , bahkan ia sampai rela berdebat dengan Mr.Gellard . Siapapun pasti tau bahwa lelaki tua bangka itu terkenal sangat tidak mau mendapat kritik tentang sistem pembelajarannya .
Dassa hanya menggeleng tak percaya . Maksudnya , Hey ! Wanita itu juga bersalah didalam kasus ini . Coba saja jika ia tidak mudah terbawa suasana , maka semuanya tak akan terjadi .
Setelah perdebatan alot dengan guru tua itu , akhirnya - TENTU SAJA Cahaya tak akan menang . Itu hanya akan membuang-buang waktu .
" Sepertinya , kau masih menyukaiku ? " Bisik lelaki itu ketika Cahaya sudah duduk tanda perdebatannya dengan Mr.Gellard telah berakhir .
Cahaya hanya mendengkus kesal . Ini bukan hasil yang ia inginkan . Terlebih , bisa ia rasakan bahwa semua orang sedang mengejeknya kini .
Ia berusaha menuli , tak ia hiraukan Dassa yang terus berkicau sedari tadi . Bahkan hanya untuk menatap lelaki itu saja , Cahaya benar-benar sudah tidak bertenaga .
" Masih berusaha mengabaikan ku ? meskipun kau tau bahwa itu , omong kosong belaka . "
Terdengar kekehan ringan dari bangku paling belakang . Ari . Ari Maxmillan .
" Apakah kalian sedang bertengkar ? kalian tak seakur biasanya ." Ucap Ari sambil di kipasi oleh kacungnya .
Dassa menoleh , ia sedang tak ingin berdebat dengan lelaki pecundang sekarang . Sekali lagi ia menolehkan wajahnya pada Cahaya , wanita itu masih saja seperti tadi . Dassa sedikit jengkel dan menerjang pelan kursi disebelahnya - milik Cahaya .
1 kali -
2 kali -
3 kali - " Kau mau mati secepatnya ? "
Sumringah Dassa sangat lebar . Ia akhirnya berhasil membuat beruang kutub itu berbicara .
Dassa memajukan badan dan kepala , kedua tangan ia tangkupkan di dagu sembari kesepuluh jarinya bergerak - gerak manja . Mata itu ia kedipkan segenit mungkin .
" Mau makan ayam goreng ? "
Cahaya hanya menatap legamnya iris yang Dassa punya . Sedalam mana ia menyelami iris itu , hanya ada kegelapan disana , bahkan ia lupa jalan kembali hingga terjebak .
" Bagaimana kalau mie tek-tek ? "
Cahaya masih membisu .
" Tidak suka ? Soto lamongan ? aku jamin kau pasti suka . "
" Bagaimana kalau sesuatu yang baru , seperti ehem....eheemmm ...." Dassa dengan dramatis membenarkan suaranya sebentar .
" How about CRISPY FRIED RICE ,girl ? "
Dassa menaik-naikan alisnya . Kedua tangannya sudah di lepaskan dari dagu barusan . Dari kacamata pengelihatan nya , Cahaya agak memiringkan kepalanya kekanan 20 derajat , dengan alis yang hampir bertabrakan menandakan bahwa ' wanita itu sedang dilanda kebingungan '
Setelah mendengar apa yang Dassa katakan , Hanni langsung menabrakan tubuhnya ke tubuh Cahaya dengan kuat sehingga Cahaya terdorong kedepan dan semakin jelas melihat wajah yang sialan tampan itu .
Si*lan , lagi dan lagi pipinya terasa panas .
Hanni si*lan !
" Apakah itu jenis makanan baru ? aku belum pernah mendengarnya .
__ADS_1
" Hanni bertanya dengan suara antusiasnya yang khas . Ewww .
" Apa kau penasaran ? " Dassa melirikan matanya dan bertanya pada Hanni yang berada tepat di samping Cahaya .
Hanni mengangguk dengan sangat antusias .
" Bagaimana denganmu ? "
Wanita kecil itu berdehem sebentar dan membenarkan tubuh nya yang sempat terdorong . Degup jantungnya mulai bertingkah .Setelah pipi yang memerah , sekarang jantungnya yang berulah . Ah , menyakitkan kepala saja .
" Katakan jika kau ingin katakan . Jangan bertingkah seolah kau ingin mengatakan tapi sebenarnya kau tak akan mengatakannya ."
Cahaya menyindirnya secara terang - terangan . Dassa memegang jantungnya , lalu berekspresi seolah jantungnya baru saja di tembak .
" Apa harus kita lanjutkan agar mereka semua tak penasaran lagi kenapa kita bisa tak sering bersama lagi , hmm ? "
" Apa maksudmu ? "
" Entahlah , aku hanya menyampaikan rumor yang ku dengar di sepanjang koridor ."
" Lagi - lagi rumor . " Cahaya menyunggingkan bibir . Ada rasa kesal menjalar disetiap inci urat nadinya .
Cepat - cepat Hanni bertanya dari mana lelaki sok tau itu mendengarnya " Siapa yang mengatakan hal tak penting seperti itu ? "
Dassa mengedikkan dagu seolah menunjuk wanita yang sedang duduk 2 didepan mereka . Hanni hanya Meng-Oh sambil membenarkan posisi duduknya kembali .
" Jadi , bisa kau jelaskan makanan apa yang terdengar sangat lezat tadi , apa namanya , fried , friends ? "
" CRISPY FRIED RICE , Hanni . "
Oh , sungguh . Cahaya benar -benar bisa gila jika selalu berhadapan dengan Hanni .
" Ya ,itu maksudku . " Hanni tersenyum lebar bahkan matanya sampai membentuk bulan sabit .
" Apa ? " Wajar Cahaya bertanya pada Hanni , sebab , wanita itu mencengkram kedua tangan Cahaya dengan sangat kuat .
" Huh ? apa yang barusan lelaki bajingan itu bilang ? " Mata nya masih tertatap di depan pintu kelas yang digunakan Dassa untuk melarikan diri barusan .
" RENG-GI-NANG ."
" Astaga , dia mempermainkan ku ? "
" Dia tidak mempermainkan mu . "
" Lalu ? " Alis tipis itu berkerut dan cengkraman itu sedikit melonggar .
" Kau yang terlalu berekspektasi tinggi padanya ."
Cahaya menepuk tangan Hanni beberapa kali lalu ia pergi dari sana .
...***...
Tas itu tertarik kebelakang ketika Cahaya sedang berjalan untuk pindah ke kelas musik . Dia berjalan sendirian , karena dirinya yang paling akhir keluar kelas .
Tak ada niat melawan sedikitpun , karena Cahaya bisa memastikan hanya 2 manusia yang berani melakukan itu , jika bukan si anak haram , berarti si anak menyebalkan , Hanni .
Ia memutar matanya ketika tubuhnya ikut terseret kebelakang . Saat sampai di dekat ruang olahraga , gerakan itu berhenti . Lantas ia memutar badan , dan tercengang .
Yang menariknya adalah - Dassa ?
__ADS_1
" Ada masalah - apa ? " Astaga , ternyata pura-pura untuk sok keren itu , susah .
" Kita memang sedang bermasalah , Cahaya . " Dassa sedikit mendesah gusar . " Kau , menghindar dariku ? "
Ya tuhan . Lelaki itu berdiri di hadapan Cahaya dengan sangat , Astagaaa ! Kedua tangan lelaki itu ia masukkan ke dalam saku celana , mata legam itu pun ikut berusaha untuk mengintimidasi keberanian nya .
" Bukankah itu yang kau mau ? "
" Aku hanya memintamu untuk berhenti menyukaiku , bukan malah menjauhiku. "
" Untuk berhenti harus menjauh , Mr.Alaric . "
" Bukan seperti itu konsepnya ."
" Aku membencimu !" Kali ini Cahaya benar-benar mengeluarkan segala rasanya dalam bentuk sebuah kalimat .
" Kenapa semakin bertambah parah ? kita sudah besar , Cahaya . Aku tau IQ mu bahkan hampir menyentuh batas di atas rata-rata . Tapi , kenapa hal sekecil ini saja tidak bisa kita bicarakan baik-baik ? "
Kuping wanita bermanik coklat madu itu serasa panas . Bisa -bisa nya Dassa berkata ' hal sekecil itu ' dengan nada suara yang - tenang ?
Cahaya maju 2 langkah mendekat , meskipun tingginya hanya sebatas bahu lelaki itu , tapi ia tidak peduli .
PERSETAN DENGAN TINGGI BADAN !
" Berhenti berlagak seolah kau yang menjadi korban disini . Kau yang memintaku untuk berhenti , maka langkah yang harus aku ambil terlebih dahulu adalah menjauhi mu ."
Dassa mulai uring-uringan . Ia selipkan rambut legam itu di sela-sela jarinya . Kemudian , Dassa berjalan mondar -Mandir tanpa henti .
" Tapi kita masih bisa berteman . "
" Biarkan aku sembuh terlebih dahulu , dan - jangan perduli kan aku . "
" Bagaimana denganku ? "
" Habiskan saja waktumu dengan anak miskin itu ."
Mata lelaki manis itu memerah . Demi tuhan , ia akan sangat mudah di provokasi jika itu berhubungan dengan NANA , Nana Jackson
" WATCH YOUR MOUTH , CAHAYA . aku tidak suka jika harus memilih !"
" I DON'T ! BERHENTI MENERIAKIKU , BAJIN*AN ! "
Hatinya terdenyut lagi .
" I am sorry , Cahaya . Aku kelepasan . "
" Jika kau masih menganggap ku sebagai teman , ada baiknya jika kau menjauhiku . Aku lebih menyukai dirimu yang lalu , tidak banyak bicara dan tenang . "
Dassa hanya terdiam . Sorot mata nya tak lagi menandakan bahwa ia bisa diajak kompromi . Dia , terluka dengan ucapan teman terdekatnya .
" Jadi , aku harus , men-menjauh dan tidak memperdulikan dirimu , hmm ? "
Cahaya terdiam .
" Apa itu bisa membuat hubungan kita membaik ? "
Masih , terdiam .
" Baiklah aku anggap diam mu adalah ' ya ' ."
__ADS_1
Tanpa sadar dibalik tembok itu ada sepasang kuping yang sedang mendengar pembicaraan mereka .
...***...