Sembunyi

Sembunyi
Rumah yang mana ?


__ADS_3

" Dimana Ari ? " Alex berjalan dengan sedikit lesu . Tugasnya sangat menumpuk hari ini karena ia sudah mengambil cuti untuk seminggu kedepan . Elizabeth memaksanya untuk ikut ke Spanyol memburu aneka koleksi fashion terbaru untuk musim semi .


Bahkan , setelah semua keinginannya sudah terpenuhi , ia masih tak disambut hangat ketika sampai di rumah . Wanita itu masih sibuk dengan sebuah majalah di temani secangkir kopi yang asapnya masih mengepul . Eliza hanya melirik dan menggerakkan dagu untuk memberitahu bahwa Ari sedang berlatih beladiri .


Alex menyipitkan mata , maju beberapa langkah untuk mengamati Ari lebih dekat . Ari tak pernah ada dihalaman belakang . Anak itu lebih suka menghabiskan waktu dengan bermain PS .


Setelah lebih leluasa mengamati , Alex sedikit tersentak dan langsung belari kearah Ari . Ia membuka pintu kaca itu dengan sangat terburu sampai terdengar suara terbanting , untung pintu kaca itu tidak pecah . Dengan gerakan implunsif , Alex mendorong palatih yang tak tau bahwa ia sudah dibelakangnya . Pelatih itu bahkan hampir terkena gunting rumput yang ada di dekat pagar tanaman . Lelaki itu langsung memeluk Ari dan membawanya masuk .


Bisa Eliza lihat bahwa terjadi perdebatan kecil diantara mereka sebelumnya . Tapi , ia tak perduli . Persetan dengan itu semua . Ia ingin fokus tentang apa saja yang akan ia beli sesampainya di Spanyol nanti . Uhh , ini jauh lebih menyenangkan .


" Apa kau gila , Eliza ? " Ia masih sibuk membolak-balikkan majalah edisi terbaru itu ketika teriakan Alex mulai sampai ke telinga .


Tentu saja Eliza tak merespons . Ia tak ingin merusak mood-nya di sore yang sangat cerah . Langit berwarna sedikit merah dan ungu . Cantik .


Alex menggeram , melepaskan genggaman pada Ari dan berjalan pada Eliza . ia menarik kasar majalah dan membuang yang sembarang . " Lihat aku saat aku sedang berbicara ! "


Dengan malas , Eliza menaikkan pandangan pada Alex . Matanya bertabrakan langsung dengan manik coklat seperti warna madu . " Apa ? " Ujarnya dengan suara yang sedikit mencibir .


" Kau membiarkan Ari melakukan beladiri ? "


" Dia laki-laki , tentu saja ia harus melakukan itu . UNTUK MENJAGA HARGA DIRINYA . " Menekan setiap kalimat terakhir yang Eliza ucapkan . Ari harus memulai sesuatu yang baru . Anak itu harus melampaui Cahaya bagaimanapun caranya .


Ari yang sedari tadi berdiri disana langsung terpaku di ambang pintu . Ia merasa tak enak dengan ayahnya , Alex sudah memberitahunya untuk tidak melakukan hal semacam ini . Tapi Eliza selalu memprovokasi , mengatakan bahwa ia takkan pernah mengalahkan Cahaya seujung kuku pun jika Ari selalu lemah .


Alex menatap mata Eliza dengan marah . Sebelum berbalik , Alex menghela nafas sedikit dan memaksakan tersenyum . " Ganti baju dan istirahatlah . Minggu depan setelah kembali dari Spanyol , kita akan periksa . "

__ADS_1


Ari hanya mengangguk tidak berniat untuk membantah satu kalimat pun . Ia berjalan dengan sedikit cepat tak menghiraukan Eliza yang sedari tadi menatapnya seakan ingin membunuh .


" Menjaga harga diri tak selalu pintar dalam bela diri , Eliza . " Alex mulai sedikit menaikan nada bicaranya kembali . Alex tak habis pikir , Eliza selalu melakukan hal di luar nalar .


" Oh , apakah saat ini kau sedang menasehati dirimu sendiri , Mr.Maxmillan ?! " Eliza sedikit mencibir , senyumannya terlihat sangat mengejek . Alex ingin marah tapi itu takkan mungkin . Wanita itu adalah belahan jiwanya sedari dulu .


Ari menarik rambut dengan semua sela-sela jari . Ari harus mengubur rasa marah agar Eliza tak takut . Kemudian sebuah ketukan pelan mengintrupsi , mereka segera melihat dan ternyata Tonny yang sedang berdiri tak tau dari mereka .


" Ada apa ? " Lelaki itu merenggangkan dasi yang seolah sudah mencekiknya sedari di kantor .


" Mobil sudah siap , tuan . Kita bisa pergi sekarang . " Tonny sedikit menunduk , enggan melihat raut muka Alex yang terlihat berantakan .


Alex memijat pangkal hidung mancungnya , sebenarnya ia lelah . Ia ingin dimanja oleh Eliza , tapi tiba-tiba kantor ada masalah jadi mau tak mau ia harus kembali kesana , sialan .


" Apa yang kau harapkan ? kau bisa mengambilnya sendiri jika kau mau . "


Alex hanya mengangguk dan kembali memakai jas itu . Sudahlah , dia cukup lelah . " Beri aku kecupan . "


Eliza memutar kedua matanya lalu mencium pipi kiri Alex dengan sangat malas . Pipi putihnya bersentuhan langsung dengan jambang Alex yang baru tumbuh . Geli , tapi Eliza tak suka itu .


...***...



" Aku menyuruhmu datang dalam waktu 20 menit , dan kau terlambat . " Benjamin menaikkan satu alis dan menatap Alex dengan sedikit menghina . Dia sedang duduk di sofa bersama seketarisnya untuk membahas beberapa mega proyek yang akan segera di bangun dalam waktu dekat .

__ADS_1


" Hanya 2 menit , Komisaris . " Alex sedikit tertunduk , kedua tangan ia taruh kedepan . Ia masih berdiri seperti orang bodoh .


Benjamin sialan . Jelas-jelas ini adalah jam makan siang . Tentu saja jalanan macet tak terkira . Jarak dari rumah ke kantor saja 30 menit jika jalanan lenggang , apalagi kalau macet ?!


" Yang jelas kau sudah terlambat . " Benjamin kembali menekankan kesalahan Alex secara jelas . Menurutnya , seorang yang sukses itu adalah orang yang bisa menghargai waktu sebaik mungkin .


" Tapi , itu hanya 2 menit . Lagipula dari rumah menuju kantor sangat tak mungkin untuk waktu 20 menit , Komisaris . " Alex berusaha melawan dengan nada yang dibuat setenang mungkin . Emosi sudah mulai memburu , Benjamin memang sialan . Jika tidak ingin repot , berikan saja jabatan itu pada dirinya . Tentu saja Alex takkan keberatan - Sedikit pun .


" Rumah mana yang kau maksud ,hm ? Aku selalu mempertimbangkan semua hal dengan sangat jeli . " Benjamin sedikit mendesah . Lalu berjalan sambil membawa secangkir anggur mendekati Alex . Ia sudah muak dengan semua sifat Alex yang semena-mena . Hei , lelaki itu hanya menantu bukan anak kandung . Jika saja Malikka tidak memohon untuk mempertahankan lelaki bajingan ini , Benjamin sudah sedari lama menendangnya hingga tak bernyawa . " Tak bisakah kau hanya meminta maaf saja dibanding harus berdebat denganku ? "


" Maafkan aku , komisaris . Untuk kedepan aku akan semakin disiplin . " Sepanjang ucapan itu , sepanjang itu pula anggur yang Benjamin tumpahkan di atas kepalanya . Rasa manis dari anggur sedikit mampir ke bibir .


Cheval Blanc , lelaki tua itu bahkan membahas proyek ditemani dengan sebotol anggur yang Alex tau bahwa Checal Blanc pernah dijual oleh pihak pelelangan di Hong Kong dengan harga Rp 3,2 miliar per botol. Parahnya , Anggur ini adalah botol pertama yang dibuat oleh Baron James de Rothschild dengan rasa ceri yang unik . Sialan !


" Karena kau Seorang Pecundang , maka aku maafkan kau untuk kali ini . " Alex membeku . Amarahnya benar-benar menumpuk sekarang .


Benjamin memang tak pernah tau bagaimana cara menghargai .


Setelah puas menghina Alex , lelaki tua itu kembali duduk dengan kaki kanan yang di topang oleh kaki kiri . Ia terlihat sangat arogan meskipun sudah memasuki kepala 5 . Wibawa Benjamin tak bisa dianggap remeh .


" Jangan duduk , kau akan mengotori sofa-ku . Kau tidak akan keberatan jika hanya berdiri , kan ? " Dengan mengepal kedua tangan , Alex kembali mundur beberapa langkah . Dia bahkan sampai tak sadar bahwa tadi sedikit mendesis .


" Tentu . " Balasnya dengan tersenyum kecut . Untuk beberapa jam kedepan , ia akan benar -benar berdiri . Lelaki tua itu selalu tau bagaimana menghukum seseorang dengan cara yang berbeda .


...***...

__ADS_1


__ADS_2