
" Apakah wanita tadi , ibunya Ari ? " Cahaya hanya mengangguk pelan . Setelah kejadian beberapa menit lalu , mereka sedang turun menuju basemant untuk segera pulang . Wanita sweater coklat itu sudah tampak kegerahan meskipun AC di Mall itu masih berfungsi dengan sangat baik . Banin , sang sopir tua hanya mengekori mereka dengan berbagai kantong di kedua tangannya .
Setelah sampai , Cahaya langsung menghempaskan bokong di sofa empuk mobil Hanni . " Wow , kau masih terlihat berapi-api . " Cibir Hanni yang masih saja geli melihat kelakuan sahabatnya .
" Wanita tadi sedang mencoba untuk memprovikasi ku didepan orang banyak . Bahkan , aku saja hampir kelepasan . " Akunya . " Dan kau , kenapa tidak membantuku tadi ? "
" Aku ? Apa yang harus kulakukan ? Kejadian itu sangat cepat , aku masih mode terkejut . " Hanni menunjuk dirinya dengan tangan manis . 'Kenapa aku kena juga ? ' Wanita berponi itu sedikit kesal sekarang .
" Kau selalu saja mengelak jika aku berada disituasi seperti tadi . " Cahaya mendengkus kesal dan mengibaskan tangannya tanda dirinya sedang kepanasan sekarang .
" Astaga , apa aku seburuk itu dimata sipit-mu ? " Cahaya tak menanggapi . " Ngomong-ngomong , ibunya Ari cantik juga , ya . Aku sempat terpana tadi SEBELUM AKU TAU BAHWA DIA SIMPANAN AYAHMU ! " Hanni sedikit berteriak seolah marah ketika mata tajam Cahaya sedikit melotot kepadanya .
" Kau mau mati ? " Mata monolid beriris coklat sedikit menipis karena Hanni masih saja membahas ja*ang itu .
" Maafkan atas kebodohan hambamu ini , B.I.T.C.H ! "
" B.i.t.c.h ? " Mata Cahaya kembali melebar . Ya ampun ! Dari mana anak polos ini mendapatkan kata-kata se'keren' ini ? siapa yang mempengaruhinya ? Setelah ini , Cahaya akan menelusuri circle siapa saja yang sudah Hanni lewati .
" Sabar dulu , itu hanya sebuah singkatan , Nona . B untuk Beautiful , I untuk Intelligent , T untuk Talented , C untuk Charming , dan H kau pasti menyukainya . " Wanita itu berbicara dengan tanpa dosa sedikit pun . Cahaya sudah tak paham lagi . Astaga , lihat . Hanni memainkan alisnya naik-turun . Persis seperti om-om yang sedang menggoda anak remaja .
" Apa ? " Pipinya sudah sedikit bersemu sekarang . Apakah dia memang sebagus itu , haha Hanni sangat menggelikan .
" H.O.T - HOT ! " Hanni mengeja dengan aksen sok inggris .
" idgaf . " Cahaya melemparkan pandangannya keluar jendela . Setidaknya , Hanni berhasil membuatnya sedikit tertawa sekarang . Hanni benar-benar pelipurlara-nya .
Setelah 20 menit , mereka sampai di gerbang megah milik Cahaya . " Aku berjalan saja dari sini , kau tak perlu masuk . " Hanni sampai terkejut mendengar kalimat sarkas dari seorang yang ia anggap sebagai teman itu .
" Kau ! Aku ingin mampir . " Hanni sedikit mengeluarkan kepalanya dari jendela .
" No..No.. Kau harus bersiap untuk besok . Aku tak ingin ada kehebohan besok karena kau lupa membawa sesuatu . " Cahaya langsung menggeleng cepat dan menahan pintu mobil untuk tetap tertutup ketika Hanni ingin membuka pintu .
__ADS_1
" Aku tak seheboh itu ! "
" Iki tik sihibih iti . " Cibir Cahaya sambil menirukan kalimat yang Hanni ucapkan . " Terakhir , bahkan kau sampai menangis meraung-raung karena peraut yang baru kau beli di Madrid , tertinggal di mobil . Mungkin kejadiannya beberapa hari yang lalu. " Cahaya mulai berdiri dan kedua tangannya bersikedap di dada . Jangan lupakan , mata monolid itu menatap remeh wajah Hanni yang mulai memerah menahan tangis .
" A-aku .. "
" Tak apa , aku hanya mengingatkan jika kau lupa . Jadi , aku akan menarik lidahmu jika kau lakukan hal seperti itu lagi . Pulanglah . "
Hanni tak bisa melakukan apapun selain - Mengangguk lemah dan mengancungkan jari tengahnya pada Cahaya . Wanita itu malah terdiam , masih mencerna hal biadab yang baru saja anak polos itu lakukan . Perlahan mobil mulai menjauh .
" Akan aku hancurkan circle yang merusak teman polosku . " Ujarnya seraya masuk ke pagar yang sudah terbuka dengan beberapa kantong belanjaan di tangan kanannya .
...***...
Elizabeth merutuki dirinya sendiri karena sudah membiarkan anak kecil tak bermoral itu mempermalukannya di toko ber-merk yang sering ia singgahi .
Lihatlah , tak ada satu pelayan pun yang secara iklas melayaninya seperti dulu . Astaga , senyuman mereka tak sekemariterakhir kali ia datang .
Elizabeth benar - benar dibuat geram oleh anak kurang ajar itu . Tentu saja , Elizabeth akan mengadukan ini kepada Alex selaku ayah kandung dari Cahaya .
Ia akan memprovokasi lelaki bodoh itu untuk semakin membenci darah dagingnya sendiri . Ini akan sangat menarik .
Tiba-tiba , pintu kamar wanita itu terketuk beberapa kali . Lalu , masuk seorang lelaki yang selama ini selalu ada bersamanya . Ia tersenyum manis , pun dibalas sedikian rupa oleh lelaki itu .
" Kau sudah pulang . Kau terlihat lelah . "Eliza langsung menghampiri lelaki yang berada di ambang pintu kamarnya .
" Ya , hari yang sangat melelahkan . " Lelaki itu tidak segan untuk memeluk Elizabeth . Bukti nyata bahwa mereka benar saling mencinta dan mendamba .
Dengan lembut , lelaki itu mengelus rahang tirus Eliza . Mata mereka saling memandang . " Perkerjaanmu sudah selesai ? "
Lelaki itu mengangguk sebentar lalu tersenyum manis , " Tentu saja . Aku sudah menyelesaikan semua tugasku dari lelaki tua itu hari ini .Dan , disinilah aku , menghabiskan jam istirahatku bersamamu sekarang . "
__ADS_1
Elizabeth mengelus ringan dada lelaki yang sedang memegang pinggang rampingnya . " Bagaimana dengan berendam ? Aku punya koleksi lilin aromaterapi baru yang menenangkan . Kau pasti suka . "
" Denganmu ? "
" Tentu saja denganku . Apa kau ingin dengan maid saja , hm ? " Goda wanita bermanik sedikit biru itu . Oh , jangan lupakan bahwa ia sedang menggigit bibir bawahnya sendiri sekarang . Iyuhhhh .
" Lalu apa yang kau tunggu ? " Alis lelaki itu bertaut . Pasalnya , mereka masih belum memasuki kamar mandi Elizabeth sekarang .
" Menunggu persetujuan darimu , sayang . " Eliza semakin gencar menggoda lelaki yang ada dihadapannya saat ini . Bahkan , Eliza dengan percaya diri mengedipkan sebelah matanya .
" Wow , apa ini. Kau memanggilku sayang ? Tak biasanya . Katakan , apa yang harusku lakukan kali ini , hm ? " Lelaki itu sedikit terkekeh dengan tingkah lucu wanita kesayangannya ini .
" Kau selalu bisa membaca pikiranku . " Eliza kembali menatap lelaki yang hampir sejajar dengannya itu . " Akan aku katakan setelah kita selesai berendam , bagaimana ? "
" Hanya berendam , hm ? " Skak ! Lelaki itu mulai menyerang Eliza dengan cara membalik menggodanya .
" Apa ada kegiatan lain , selain berendam ? " Astaga , dia memerah sekarang . Bahkan , warna itu dipastikan sudah merambat ke telinga .
" Tentu , sayang . "
" Beri aku satu contoh ." Eliza semakin menyelami manik lelaki itu .
" Kau bisa memijatku selagi aku terpejam . " Lelaki itu tersenyum smirk dengan tatapan menghunus iris biru milik wanita berbaju merah itu .
" Dibagian mana yang harus aku pijat , hm . " Kembali , Eliza memainkan tangannya dida lelaki itu . Tangan Eliza berlarian dengan lembut didada bidang itu .
" Menurutmu ? "
" Ah , bagaimana kalau disini ? Kau menyukainya ? " Jari telunjuknya menjalar dan semakin menjalar , naik hingga akhirnya berhenti di bahu lebar lelaki itu .
" Aku tak salah memilihmu sebagai orqng yang ku cinta . "
__ADS_1
...***...