Sembunyi

Sembunyi
Biduanita


__ADS_3

Mereka berdua sedang berkaca dikamar Cahaya sekarang . Menilik apa yang kurang dari penampilan yang mereka kenakan saat ini .



Cahaya menggunakan outfit yang sangat simple . Ya , sesuai dengan kepribadiaannya . Jangan lupakan bahwa ia adalah pecinta warna gelap , meskipun warna favorite-nya adalah merah muda .


Dan , oh si nona berponi yang manja hari ini masih menggunakan pakaian yang sangat - feminim .



Kemudian , keduanya pun tertawa . Entah apa yang mereka tertawakan . Sampai akhirnya Cahaya mengajak Hanni untuk turun . Hanni mengangguk tapi sebelum turun , ia terlebih dahulu menghabiskan teh yang disajikan oleh maid beberapa waktu lalu .


Mereka pergi ditemani oleh Banin .


Masuk toko sana - sini tanpa henti membust Banin sedikit murka . Pasalnya , sudah hampir 2 jam berkeliling , dua perempuan meranjak remaja itu baru mendapatkan tas . " Aku lapar . " Sela Hanni ketika mereka sedang mencari sepatu di salah satu toko terbaik di pusat perbelanjaan itu .


Cahaya hanya menoleh sebentar , lalu lanjut mencari sepatu yang ia inginkan .


" Cahaya , aku lapar . " Banin bahkan sampai berdehem sedikit memberi kode agar Cahaya mengerti . Namun , wanita bermanik colkat itu masih pura-pura tidak mengerti .


" Astaga , aku laparrrrrrrrr . " Hanni berjalan ke arah pintu keluar sambil sedikit berteriak stres .


" Nona . " Banin mengintrupsi Cahaya dengan suara rendah . " Dia sudah keluar ? " Lelaki paruh baya itu sedikit mengangguk .


" Lebih baik kita menyusulnya , nona . " Giliran wanita tomboy itu yang mengangguk lalu pergi meninggalkan Banin sendiri .


...***...


" Kau juga lapar . Tapi kenapa tidak menjawab ajakanku tadi ? " Muka Hanni masih sedikit memerah menahan kesal . Mereka sedang berada di kedai makanan jepang sekarang .


Cahaya menaruh sumpit yang sedari tadi ia gunakan , lalu menatap wanita cerewet didepannya dengan sedikit senyum .


" Jika aku jawab , kau pasti akan meminta aku untuk memberimu pilihan tentang makanan apa yang harus kau makan . Lalu , ketika aku sudah memberi pilihan , kau takkan suka . Dan kita akan berdebat . Hingga akhirnya kita akan berakhir makan di rumah masing-masing .

__ADS_1


Kalau dari awal aku sudah tak menjawab permintaanmu , maka mau tak mau - kau akan memutuskan sendiri tempat makan mana yang akan kau datangi . Sesimpel itu , nona . " Final , Cahaya menjelaskan panjang lebar dan kembali memegangi sumpit untuk melanjutkan makanan . Dan Banin ? Ia terkekeh pelan di meja sebelah , menyantap sushi sambil menguping pembicaraan mereka berdua . Menggemaskan .


Wajah Hanni kembali memerah . Ia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak setuju dengan ucapan sahabatnya . " Aku tak tau bahwa kau sepicik itu . "


" Hei , itu strategi , Hanni . "


" Apapun namanya , yang aku tau kau sudah berbuat licik . Persetan dengan strategi . "


Cahaya malas untuk menanggapi ocehan Hanni yang sangat menyebalkan . Mereka kembali makan dengan tenang dan lahap .


" Habis ini , masih ingin melanjutkan pertualangan ? "


" Tentu saja , aku bahkan baru mendapatkan satu tas . Banyak yang tak ku sukai disini . "


Cahaua sedikit menyerengai , " Aku jadi sedikit ambigu dengan kata-katamu . Tak kau sukai itu dalam bentuk model atau dalam bentuk nominal , hm ? "


Seketika Hanni pipi kembali memerah . Astaga dia sangat malu . Limit kartu yang ia terima dari Banin hanya 100 juta .


" Aku , Aku . Maksudku - "


Wanita itu sudah mengamati Hanni saat belanja tadi . Sebenarnya , banyak barang yang ia suka . Namun , Hanni selalu melihat tag harga yang terselip di ujung barang yang ingin ia beli .


Tak jarang juga Cahaya menangkap wajah terkejut Hanni yang unik .


...***...


Selesai makan , Hanni dan Cahaya langsung masuk kesalah satu toko brand yang ada di pusat perbelanjaan itu . Mereka masih sibuk mencari . Toko itu cukup sepi , hingga suara seorang terdengar memecah konsentrasi mereka .


" Astaga , Cahaya . Is it you , honey ? " Suara itu masuk ketelinganya selembut mungkin dan sebuah jari lentik mendarat di pundaknya .


' iyuhhh , siapa yang berani menyentuhku . ' Batinnya berteriak .


Cahaya yang sedang sibuk memilih jam tangan itu pun menoleh dengan wajah dingin . Ia tampak tak terkejut sama sekali . Malahan , sepintas keinginan jahilnya kembali kamuh . Dengan gerakan cepat , wanita bermanik madu itu langsung menutup matanya dengan kedua tangan .

__ADS_1


" Ya tuhan , kenapa kau bersinar sekali Ms.Pertov ? Atau warna bajumu yang terlalu mencolok sehingga semenawan layaknya malaikat maut ? " Cahaya perlahan membuka jari-jari yang tadi ia gunakan untuk menutup mata . Wajahnya tak berubah sedikit pun . Dingin .


Elizabeth Petrov langsung menegang . Tidak , ia tak boleh terprovokasi oleh anak kecil . Dia paksakan senyumannya tetap berkembang di pipi tirusnya .



" Ck..ck..ck.. Aku kira biduanita mana yang bisa lolos masuk ke toko ternama ini . Lihatlah , manik-manik dan potongan dada rendah ini . " Cahaya memegang baju Eliza tanpa izin dengan cara yang terlihat sedikit menjijikkan . Dia hanya menggunakan kedua ujung jari jempol dan jari manis . Muka Cahaya masih sangat dingin .


"Astaga . Maafkan aku , tapi sebagai penikmat fashion , aku ingin bertanya . Konsep apa yang kau gunakan saat ini ? Bahkan , kau hanya pergi menghabiskan uang suami orang , Ms.Petrov . Kenapa sampai begini hebohnya ? "


Air muka Eliza semakin memerah . Bahkan , ia belum berbicara sepatah pun . ' Anak kecil ini benar-benar tak tau sopan dan santun . ' Elizabeth hanya bisa mengutuh di dalam hati kecilnya . Dia masih waras untuk tidak mencari masalah dengan Cahaya di toko ternama itu . Bisa-bisa , dirinya lah yang diusir dari sana .


" Aku , sangat tersanjung ketika kau mengomentari selera fashion-ku . Tapi , sweater-mu nampak lusuh dan warnanya nampak sedikit pudar . Apa aku harus membelikanmu baju baru , sekarang ? Apa AYAH-mu tak pernah membelikanmu baju ? atau keuangan keluargamu baik-baik saja ? "


Eliza berusaha untuk memukul balik serangan dari Cahaya dengan memprovokasi atas nama ayahnya.


" Ah , tentu baik-baik saja , Ms.Petrov . Jika tidak , bagaimana kau bisa ada disini ? Bukankah , kau mendapatkan uang dari hasil menjilat kaki ayahku , kan ? "


Cahaya berhasil menghadap Eliza yang sedari tadi ada di sampingnya dengan penuh minat , senyumnya tersungging meremehkan - No , tepatnya merendahkan . Oh , jangan lupakan api di dalam mata itu.


Semua orang disana terkejut bukan main . Apalagi bisik-bisik para pengunjung yang rata-rata adalah sosialita . Pekerja di toko itu pun nampak sedikit meremeh ketika melihat Eliza .


' Apa ini ? kenapa tak ada satu pun karyawan yang melayaniku ? ' Eliza semakin menjadi-jadi didalam hati .


Tak mau berdebat lebih jauh , Cahaya memilih untuk pergi . Ia takut lepas kontrol dan berakhir Eliza yang merenggang nyawa di marmer toko ini .


" Baiklah , aku ambil yang sempat pilih tadi .Dan , Hanni . Apakah kau sudah selesai memilih ? Black card-ku sudah tak sabar ingin digesek sekarang . Ambil saja yang kau mau . 5 pun tak masalah . "


Cahaya masih berusaha menstabilkan suara dan amarahnya .


" Astaga , Ms.Petrov . Aku sampai melupakanmu . Maafkan kelancangan diriku yang memakai sweater lusuh ini . Apakah kau juga inginku bayarkan ? " Tanyanya dengan sedikit menggoyangkan kartu berwarna hitam menggoda itu sambil tersenyum nakal .


"Tak usah malu , bukankah meminta dibayarkan adalah motto didalam hidupmu ? Ah , mungkin kau malu meminta pada anak kecil jadi wajar kau selalu meminta pada ayahku . Aku memaklumi itu . " Ia menjeda sebentar , intonasi suaranya sedikit meninggi . Bahkan , Cahaya berdehem pelan .

__ADS_1


"Kalau begitu , aku undur diri . Senang bisa mempermalukanmu- Ah , maksudku , senang bisa berbincang denganmu . Semoga kita tertemu lagi di lain hari , Ms.Petrov . Permisi . " Cahaya langsung mengambil Black card yang sudah di transaksi lalu memberikan belanjaan pada Banin yang sudah menunggunya di belakang .


...***...


__ADS_2