
" Apakah kau serius , kau ingin aku benar - benar tak memperdulikanmu ? "
Dassa kembali lagi setelah beberapa langkah dirinya pergi . Perasaannya terlalu lemah jika didefinisikan sebagai rasa cinta , tapi terlalu kuat jika hanya sekedar teman . Ini sangat membuatnya bingung .
" Berhenti seperti anak kecil , Boy ."
" Yes , i'm ! "
" Astaga , Dassa ! kau benar -benar membuatku muak . Pergi dari hadapanku . Kelas musik ku mungkin sudah mulai sedari tadi . "
Bisa Cahaya lihat bahwa mata beriris legam itu sedikit mengembun . Bibirnya samar sedikit bergetar . Namun badannya kaku seperti batu .
YA TUHAN , APAKAH DIA KESURUPAN ?
" Dassa , Kau baik-baik saja ? "
" Ya , aku baik -baik saja sebelum kau mengatakan bahwa aku memuakkan untukmu . "
ARGHHHHHH ! Kenapa jadi dirinya yang seperti orang jahat . Bahkan ia harus menanggung rasa bersalah sekarang .
Mereka sama -sama terdiam . Sepertinya ini benar-benar sudah berakhir sekarang . Pertemanan mereka , hanya topeng semata .
Tak lama ...
" Panggilan kepada Dassa Allaric kelas 6A , silahkan menuju ruang guru . Sekali lagi panggilan kepada Dassa Allaric kelas 6A silahkan menuju ruang guru sekarang . Ditunggu , terima kasih ."
Itu suara dari salah satu penyiar terkenal di NIS yang di umumkan dari ruang pengumuman sekolah .
Dengan berat hati Dassa melangkah pergi menjauhi Cahaya . Hingga pada akhirnya Dassa hilang di ujung lorong sepi itu . Tanpa aba-aba Cahaya langsung ambruk di satu waktu .
Ia benci terlihat lemah . Cahaya benci menangis . Menangis bahkan hanya membuang - buang waktu tanpa bisa di memperbaiki masalah .
Akhirnya , ia menyerah .
Cahaya biarkan air bening itu mengalir begitu saja , tanpa hambatan . Biarlah semua rasa sakitnya pergi bersama air mata yang terjatuh .
Dada itu ia pukul dengan sedikit keras , berharap rasa sesak yang sedari tadi mengurungnya itu , menguar ke langit .
Digigit nya bibir tipis yang ia punya agar isakan yang ia tahan takkan lolos . Kepalanya tertunduk , tangannya masih setia memukuli dadanya .
Cinta pertamanya telah usai .
Sebuah pelukan hangat merangkulnya dengan kuat . Seolah tau , bahwa Cahaya sangat membutuhkan pelukan itu .
Biarlah , siapapun yang sedang memeluknya saat ini , melihat kondisi menyedihkan yang ia punya . Cahaya sudah lelah untuk berpura - pura kuat . Untuk sekali ini saja , biarkan ia bertingkah layaknya remaja seusianya .
" Suttt ... semua akan baik - baik saja ."
__ADS_1
Perlahan getaran bahu wanita bermata monolid itu sedikit mereda . Tubuhnya juga tak sekaku tadi . Pelukan itu pun masih sama hangatnya , aroma sistrus yang lembut dan manisnya madu menggelitik penciumannya .
Cahaya sedikit tenang karena yang memeluknya saat ini adalah Hanni , sahabat nya . Ya , sahabat .
...***...
Perlahan angin membelai lembut wajah manis yang sedang duduk di teras balkon . Di temani sepasang camilan favorite , Teh Sencha terbaik yang langsung di impor dari Jepang dan tentu saja roti berselai stroberi hangat kesukaannya .
Tapi , untuk hari ini , Cahaya tampak tak begitu tergiur dengan mereka - teh dan roti .
Mata masih sembab dan tenggorokan terasa sangat kering bukan main . Sepertinya , dia sudah menghabiskan 3 jam disini . memandangi jejeran rumah elit yang tertanam di komploks itu .
" Senja ."
Cahaya merasakan kursi di sampingnya terisi oleh seseorang . Ibunya , Malikka .
" Hmm ." cahaya hanya bergumam tanpa perlu menatap lawan bicaranya . " Aku masih belum niat untuk kembali kesekolah , bu . Mungkin nanti , setelah tubuh ku tak terlalu sakit lagi . "
Kemarin setelah pulang sekolah , Cahaya langsung masuk ke kamarnya tanpa memberikan salam kepada Malikka . Bahkan , Cahaya sampai mengurung diri , tak ingin makan dan tak mau sekolah .
" Tapi , kau akan mulai TO besok , sayang ."
" aku tidak butuh TO , bu . Itu hanya akan membuang-buang waktu . Dan juga bagaimana aku bisa berfikir jika badanku sakit seperti ini ? "
Malikka hanya mendesah pelan . Jika sudah mode begini , upaya apapun yang ia lakukan untuk membujuk sang putri tak kan berhasil . Sama persis seperti ayahnya .
" Mungkin habis daya . "
" Isi kalau begitu , Hanni terus menelponmu . Mungkin ada sesuatu yang sangat penting , Ja . "
Cahaya masih setia dengan kebungkamannya , tak mau menoleh dan mata masih terpaku dengan entah apa yang ia lihat sekarang . Fikiran nya belalang buana , selalu memutar tentang kenangan - kenangan manis yang pernah disuguhkan oleh Dassa . Sialan !
Rekaman itu selalu memutar - mutar hingga ia merasa bodoh sendiri . Itu sungguh menyakitkan . Beruntung sekali anak miskin itu bisa mendapatkan perhatian Dassa .
...***...
Ini hari rabu , jadwal TO terakhir . Tapi ini adalah TO pertama bagi Cahaya . Setelah penenangan diri yang panjang , akhirnya Cahaya putuskan untuk kembali kesekolah . Ia tak perduli dengan TO , dia hanya ingin menyelesaikan ujian praktiknya . Dan sial , Cahaya baru ingat jika partner kerjanya adalah , Dassa .
Ketika langkah pertama memasuki kelas ...
" Astaga , Cahaya . Itu kau ? " Teriakan tidak percaya dari Hanni sukses membuat semua mata tertuju kepadanya .
Bahkan meskipun sekelas , Cahaya masih saja merasa sesak nafas jika mendapatkan perhatian berlebih dari teman-teman dikelasnya .
Dengan masih memasang muka jutek , Cahaya melangkahkan kakinya masuk dan berjalan menuju meja belajar . Atsmofir yang ia rasa sangat canggung .
Sempat ia melirik kursi di sebelahnya , milik lelaki beriris legam . Namun ia tidak ada disana .
__ADS_1
Berhenti mencari milik orang , Bod*h !
" kau kemana saja ? aku menelepon ponsel dan rumahmu tapi ibu mu yang angkat , katanya kau , ehemm - demam . Bahkan aku sampai kerumahmu , tapi lagi-lagi ibumu bilang kau tak bisa di ganggu dulu . "
Dari nada bicaranya Hanni terdengar sangat khawatir . Setelah kejadian di depan ruang olahraga , Hanni sudah tau yang sebenarnya . Sampai-sampai Hanni menawarkan diri untuk mengantar nya pulang .
Cahaya masih diam , namun ada luka yang berusaha ia tekan mati - matian . Ia berusaha baik-baik saja , tapi ia malah terlihat menyedihkan .
" Apakah , semenyakitkan itu , hmm ? "
Hanni sedikit berbisik sambil mengelus-elus dada wanita bermata coklat itu .
" Tak apa , semua akan membaik seiring berjalannya waktu . Hatimu akan sembuh . "
Hanni berusaha menghibur namun masih tersenyum getir . Tak tega melihat temannya hancur begitu saja .
" Membaik seperti apa ? perusahaan keluargamu ? "
" Oh , ayolah . Kita sedang tidak membicarakan nasibku sekarang . "
" Haha , oke oke . Maafkan temanmu yang cantik ini . " Cahaya tertawa renyah dengan mata monolid yang semakin mengecil " kemana dia ? " Cahaya memberi kode dengan matanya .
" siapa ? " Hanni malah mengulangi adegan mata Cahaya yang bergerak
" astaga . "
" Oh , dia . " Hanni memberikan ekspresi terkejut sambil menutup mulutnya .
" Aku sampai lupa memberitahumu . "
" Tentang apa ? "
" tentang ... " Hanni menggerakkan matanya menuju kursi Dassa .
" Then , say it ! "
" Apa dia tidak menghubungi mu ? "
" Ada apa denganmu ? jelas-jelas kau tau bahwa ponselku tak pernah ku urus. "
" Ya ampun , kau seperti manusia goa ."
" jangan bertele-tele , Hanni . " Cahaya sedikit mengeram dan menajamkan matanya pada Hanni .
Hanni menarik nafas dan ...
...***...
__ADS_1