Sembunyi

Sembunyi
Awal dari Semua


__ADS_3

" Apakah kau serius , kau ingin aku benar - benar tak memperdulikanmu ? "


Dassa kembali lagi setelah beberapa langkah dirinya pergi . Perasaannya terlalu lemah jika didefinisikan sebagai rasa cinta , tapi terlalu kuat jika hanya sekedar teman . Ini sangat membuatnya bingung .


" Berhenti seperti anak kecil , Boy ."


" Yes , i'm ! "


" Astaga , Dassa ! kau benar -benar membuatku muak . Pergi dari hadapanku . Kelas musik ku mungkin sudah mulai sedari tadi . "


Bisa Cahaya lihat bahwa mata beriris legam itu sedikit mengembun . Bibirnya samar sedikit bergetar . Namun badannya kaku seperti batu .


YA TUHAN , APAKAH DIA KESURUPAN ?


" Dassa , Kau baik-baik saja ? "


" Ya , aku baik -baik saja sebelum kau mengatakan bahwa aku memuakkan untukmu . "


ARGHHHHHH ! Kenapa jadi dirinya yang seperti orang jahat . Bahkan ia harus menanggung rasa bersalah sekarang .


Mereka sama -sama terdiam . Sepertinya ini benar-benar sudah berakhir sekarang . Pertemanan mereka , hanya topeng semata .


Tak lama ...


" Panggilan kepada Dassa Allaric kelas 6A , silahkan menuju ruang guru . Sekali lagi panggilan kepada Dassa Allaric kelas 6A silahkan menuju ruang guru sekarang . Ditunggu , terima kasih ."


Itu suara dari salah satu penyiar terkenal di NIS yang di umumkan dari ruang pengumuman sekolah .


Dengan berat hati Dassa melangkah pergi menjauhi Cahaya . Hingga pada akhirnya Dassa hilang di ujung lorong sepi itu . Tanpa aba-aba Cahaya langsung ambruk di satu waktu .


Ia benci terlihat lemah . Cahaya benci menangis . Menangis bahkan hanya membuang - buang waktu tanpa bisa di memperbaiki masalah .


Akhirnya , ia menyerah .


Cahaya biarkan air bening itu mengalir begitu saja , tanpa hambatan . Biarlah semua rasa sakitnya pergi bersama air mata yang terjatuh .


Dada itu ia pukul dengan sedikit keras , berharap rasa sesak yang sedari tadi mengurungnya itu , menguar ke langit .


Digigit nya bibir tipis yang ia punya agar isakan yang ia tahan takkan lolos . Kepalanya tertunduk , tangannya masih setia memukuli dadanya .


Cinta pertamanya telah usai .


Sebuah pelukan hangat merangkulnya dengan kuat . Seolah tau , bahwa Cahaya sangat membutuhkan pelukan itu .


Biarlah , siapapun yang sedang memeluknya saat ini , melihat kondisi menyedihkan yang ia punya . Cahaya sudah lelah untuk berpura - pura kuat . Untuk sekali ini saja , biarkan ia bertingkah layaknya remaja seusianya .


" Suttt ... semua akan baik - baik saja ."

__ADS_1


Perlahan getaran bahu wanita bermata monolid itu sedikit mereda . Tubuhnya juga tak sekaku tadi . Pelukan itu pun masih sama hangatnya , aroma sistrus yang lembut dan manisnya madu menggelitik penciumannya .


Cahaya sedikit tenang karena yang memeluknya saat ini adalah Hanni , sahabat nya . Ya , sahabat .


...***...


Perlahan angin membelai lembut wajah manis yang sedang duduk di teras balkon . Di temani sepasang camilan favorite , Teh Sencha terbaik yang langsung di impor dari Jepang dan tentu saja roti berselai stroberi hangat kesukaannya .


Tapi , untuk hari ini , Cahaya tampak tak begitu tergiur dengan mereka - teh dan roti .


Mata masih sembab dan tenggorokan terasa sangat kering bukan main . Sepertinya , dia sudah menghabiskan 3 jam disini . memandangi jejeran rumah elit yang tertanam di komploks itu .


" Senja ."


Cahaya merasakan kursi di sampingnya terisi oleh seseorang . Ibunya , Malikka .


" Hmm ." cahaya hanya bergumam tanpa perlu menatap lawan bicaranya . " Aku masih belum niat untuk kembali kesekolah , bu . Mungkin nanti , setelah tubuh ku tak terlalu sakit lagi . "


Kemarin setelah pulang sekolah , Cahaya langsung masuk ke kamarnya tanpa memberikan salam kepada Malikka . Bahkan , Cahaya sampai mengurung diri , tak ingin makan dan tak mau sekolah .


" Tapi , kau akan mulai TO besok , sayang ."


" aku tidak butuh TO , bu . Itu hanya akan membuang-buang waktu . Dan juga bagaimana aku bisa berfikir jika badanku sakit seperti ini ? "


Malikka hanya mendesah pelan . Jika sudah mode begini , upaya apapun yang ia lakukan untuk membujuk sang putri tak kan berhasil . Sama persis seperti ayahnya .


" Mungkin habis daya . "


" Isi kalau begitu , Hanni terus menelponmu . Mungkin ada sesuatu yang sangat penting , Ja . "


Cahaya masih setia dengan kebungkamannya , tak mau menoleh dan mata masih terpaku dengan entah apa yang ia lihat sekarang . Fikiran nya belalang buana , selalu memutar tentang kenangan - kenangan manis yang pernah disuguhkan oleh Dassa . Sialan !


Rekaman itu selalu memutar - mutar hingga ia merasa bodoh sendiri . Itu sungguh menyakitkan . Beruntung sekali anak miskin itu bisa mendapatkan perhatian Dassa .


...***...


Ini hari rabu , jadwal TO terakhir . Tapi ini adalah TO pertama bagi Cahaya . Setelah penenangan diri yang panjang , akhirnya Cahaya putuskan untuk kembali kesekolah . Ia tak perduli dengan TO , dia hanya ingin menyelesaikan ujian praktiknya . Dan sial , Cahaya baru ingat jika partner kerjanya adalah , Dassa .


Ketika langkah pertama memasuki kelas ...


" Astaga , Cahaya . Itu kau ? " Teriakan tidak percaya dari Hanni sukses membuat semua mata tertuju kepadanya .


Bahkan meskipun sekelas , Cahaya masih saja merasa sesak nafas jika mendapatkan perhatian berlebih dari teman-teman dikelasnya .


Dengan masih memasang muka jutek , Cahaya melangkahkan kakinya masuk dan berjalan menuju meja belajar . Atsmofir yang ia rasa sangat canggung .


Sempat ia melirik kursi di sebelahnya , milik lelaki beriris legam . Namun ia tidak ada disana .

__ADS_1


Berhenti mencari milik orang , Bod*h !


" kau kemana saja ? aku menelepon ponsel dan rumahmu tapi ibu mu yang angkat , katanya kau , ehemm - demam . Bahkan aku sampai kerumahmu , tapi lagi-lagi ibumu bilang kau tak bisa di ganggu dulu . "


Dari nada bicaranya Hanni terdengar sangat khawatir . Setelah kejadian di depan ruang olahraga , Hanni sudah tau yang sebenarnya . Sampai-sampai Hanni menawarkan diri untuk mengantar nya pulang .


Cahaya masih diam , namun ada luka yang berusaha ia tekan mati - matian . Ia berusaha baik-baik saja , tapi ia malah terlihat menyedihkan .


" Apakah , semenyakitkan itu , hmm ? "


Hanni sedikit berbisik sambil mengelus-elus dada wanita bermata coklat itu .


" Tak apa , semua akan membaik seiring berjalannya waktu . Hatimu akan sembuh . "


Hanni berusaha menghibur namun masih tersenyum getir . Tak tega melihat temannya hancur begitu saja .


" Membaik seperti apa ? perusahaan keluargamu ? "


" Oh , ayolah . Kita sedang tidak membicarakan nasibku sekarang . "


" Haha , oke oke . Maafkan temanmu yang cantik ini . " Cahaya tertawa renyah dengan mata monolid yang semakin mengecil " kemana dia ? " Cahaya memberi kode dengan matanya .


" siapa ? " Hanni malah mengulangi adegan mata Cahaya yang bergerak


" astaga . "


" Oh , dia . " Hanni memberikan ekspresi terkejut sambil menutup mulutnya .


" Aku sampai lupa memberitahumu . "


" Tentang apa ? "


" tentang ... " Hanni menggerakkan matanya menuju kursi Dassa .


" Then , say it ! "


" Apa dia tidak menghubungi mu ? "


" Ada apa denganmu ? jelas-jelas kau tau bahwa ponselku tak pernah ku urus. "


" Ya ampun , kau seperti manusia goa ."


" jangan bertele-tele , Hanni . " Cahaya sedikit mengeram dan menajamkan matanya pada Hanni .


Hanni menarik nafas dan ...


...***...

__ADS_1


__ADS_2