
Pagi ini Arnan pulang ke Indonesia. Sesampainya iya di bandara iya pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tapi ditengah perjalanannya iya melihat sebuah bunga mawar yang sangat indah dipandang membuat iya berniat untuk membelinya. Bukan hanya itu, iya juga melihat sebuah boneka yang berwarna merah muda dan karena iya sangat yakin bahwa itu pasti sangat disukai oleh gadis kecil yang dirindukan itupun akhirnya membelinya juga.
Tak lama kemudian, Arnan sudah sampai ke apartemennya yang sudah lama iya tidak tempati. Meskipun begitu, apartemen itu tetap bersih dan terawat karena memang setiap waktu ada pelayan dari manshion-nya yang datang untuk membersihkannya.
Setelah itu Arnan yang memang sudah tak sabar untuk menemui gadisnya pun segera membersihkan tubuhnya. Selesai mandi iya pun segera melajukan mobilnya menuju Apartemen gadisnya itu karena iya sudah menyuruh pengawalnya untuk mencari keberadaan gadis itu sekarang dan ternyata iya berada di apartemennya.
" hm, apakah gadis kecilku itu akan senang melihatku " Guman Arnan yang takut jika gadisnya itu tak mau menerima kehadirannya lagi.
Arnan yang telah berdebat dengan pemikirannya sendiri pun akhirnya memutuskan untuk naik menuju apartemen Arina gadis kecilnya.
Baru saja iya mau memencet bel tapi terlihat gadis yang berkulit putih nan mulus, rambut yang panjang dan mata yang bulat sedang membuka pintu.
Sontak mata mereka berdua beradu pandang menyiratkan tatapan kedua insan yang saling merindu.
__ADS_1
Sangat lama tatapan keduanya beradu hingga sepasang mata menitikkan air mata yang sudah tak terbendung. Itu Arina, iya menitikkan air mata karena melihat pria yang sekarang berada di depannya itu.
Ia sejujurnya marah karena selama ini pria yang selalu mengganggu pikirannya pergi tanpa berkata apapun. Hati berkecamuk namun ternyata rasa rindu tak bisa dikalahkan oleh apapun.
Rasa rindu yang begitu besar membuat iya benghamburkan pelukannya dengan pria yang ada di depannya itu dengan begitu sangat erat.
Hanya menangis yang bisa iya lakukan setelah iya berada diperlukan pria dewasa itu.
" om itu tidak berperasaan. Aku sangat membenci om " Arina yang semakin menangis membuat Arnan yang sangat merasa bersalah telah meninggalkan Arina gadis kecilnya.
Arina yang memang pada dasarnya sudah menyadari perasaannya terhadap Arnan membuat iya sangat kesepian selama ini. Ternyata kepergian Arnan tersebut menyadarkan iya akan cinta yang mulai tumbuh dihatinya. Menyadarkan iya bahwa selama ini ternyata iya sangat, sangat dan sangat membutuhkan sosok pria dewasa yang sekarang iya panggil om Arnan itu.
Arnan yang mendengar tangisan piluh gadis itu pun dengan perlahan iya membelai rambut panjangnya, mengecup keningnya dan mengusap air matanya.
__ADS_1
" kenapa menangis gadis kecil hm? " Tanya Arnan dengan begitu lembut dengan terus menghapus air mata yang terus saja lolos di mata gadisnya itu.
" gadis kecil ini ternyata masih sama yah?, masih sering menangis?. Sekarang tak perlu menangis lagi karena sekarang aku akan selalu ada untukmu " Arnan yang sudah melepaskan pelukannya terus membelai pipi mulus itu yang sudah memerah dan mata yang sembab.
" oom " Kata dengan begitu pilu lalu kembali menghamburkan pelukannya.
" sekarang tidak usah menangis lagi yah " Kata Arnan yang berusaha menenangkan gadis yang ada dihadapannya itu.
" om jangan pergi lagi yah " Kata Arina yang menatap kedua bola mata Arnan dengan sangat lekat menyiratkan sebuah permohonan.
" pertama-tama kamu jangan pernah lagi memanggil aku om " Kata Arnan yang serius menatap manik mata gadisnya itu.
" kenapa sekarang gadis kecil ini jadi manja hm ? " Tanya Arnan dengan mengecup kening Arina dengan begitu lembut.
__ADS_1