
Embun pagi terasa begitu hangat, sehangat pelukan kedua insan yang habis dimabuk oleh indahnya cinta. Tak sadar jika hari sudah semakin siang tapi kedua insan itu masih saja saling menghangatkan satu sama lain.
Rasa lapar yang melanda perut membuat salah satu diantara mereka menggeliatkan tubuhnya dan itu tak lain adalah Arnan. Saat matanya terbuka dengan lebar iya tersenyum tipis melihat istrinya memeluknya bak guling dan wajah yang di sembunyikan di dadanya.
Ia masih saja memikirkan malam panjang yang telah dilaluinya, rupanya iya mengingat jelas bagaimana Arina istrinya itu mendesah nikmat, berteriak teriak dan menangis di bawahnya. Di otaknya terus memikirkan bagaimana waktu iya mengentak hentakkan miliknya dengan begitu keras sehingga membuat istrinya Arina terus meringis kesakitan. Tapi tak bisa dipungkiri Arina juga begitu menikmati permainan yang dilakukan oleh suaminya.
Tak lama kemudian Arina menggeliatkan tubuhnya dan terbangun. Tubuhnya seakan remuk, semuanya terasa perih apalagi daerah kewanitaannya.
" Apakah itu nya masih sakit sayang " Tanya Arnan melihat istrinya membuka mata.
" Sakit " Jawab Arina dengan malu dan langsung menyembunyikan wajah merahnya di balik dada kekar suaminya itu.
" Yasudah ayo bangun, kau pasti lapar kan? sedari tadi aku dengar perutmu terus berteriak " Lanjut Arnan dan tanpa aba aba iya mengangkat tubuh istrinya itu ke dalam kamar mandi tanpa menggunakan sehelai benangpun, begitu pula dengan Arnan. Jangan ditanya, pipi Arina terasa panas karena begitu malu.
" Tidak usah malu sayang, aku sudah mencicipi semuanya kemarin " Bisik Arnan ketika memasukkan tubuh mini Arina kedalam bathtub.
Arina yang tambah malu hanya mengerucutkan bibirnya kedepan dan Arnan tertawa melihatnya, rupanya Arnan punya kesenangan tersendiri jika menggoda dan mengerjai istrinya itu.
Bahkan mandi yang biasanya mereka habiskan hanya 30 menit tapi sekarang mandinya hampir 3 jam. Itu semua gara gara Arnan yang tak hentinya menggoda sang istri mulai dari mencium dan mengambil ngambil kesempatan untuk merasakan manisnya tubuh Arina. Arnan yang sengaja menyuruh Arina menggosok punggungnya, dadanya dan seluruh badannya ditambah hal hal gila yang diluar batas seperti mengelus-ngelus pisangnya yang sudah terlanjur bangun agar mau tertidur kembali.
Setelah keduanya mandi bersama sekarang mereka sudah berada di restoran hotel yang berada di lantai terakhir. Mereka berdua sarapan dengan menu menu spesial dan tentu saja harganya selangit.
Arina hanya menarik nafasnya berat ketika semua makanan yang dipesan bisa mencapai harga semahal itu.
__ADS_1
Arnan yang seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya itu berkata " Ini tidak seberapa sayang, uangku bahkan tidak akan habis sampai tujuh turunan " Kata Arnan yang membanggakan diri.
" Ampun ya Allah suamiku sombongnya selangit " Batin Arina jengah.
Ternyata permainan konyol Arnan belum selesai. Ia rupanya tak kehabisan ide untuk membuat istrinya itu jengkel.
" Sayang suapi aku " Kata Arnan lalu membuka mulutnya lebar lebar, seperti sekarang anak kecil yang meminta disuapi oleh ibunya.
" Tapi sayangku cintaku padamu, aku juga sedang makan " Tolak Arina dengan kesal. Tapi Arnan ya tetap Arnan, bilang begitu yah harus itu.
Arina mengalah demi ketentraman jiwa raga dan batin. " aaaaaa " Arina seperti ingin memberi makan kepada bayinya, iya bayinya, bayi besarnya.
Arnan yang disuapi merasa sangat senang dan berfikir jika setiap hari disuapi maka makannya pasti sangat nikmat.
Setelah selesai makan, Arnan dan Arina kembali ke mansion mereka berdua karena hari ini adalah hari Minggu dan Arina mempunyai tugas sekolah yang harus dikerjakannya.
" Sayang mau jalan kemana lagi hari ini " Tanya Arnan yang tangannya fokus menyetir tapi tatapan matanya malah fokus kepada istrinya.
" Tidak, aku mau di rumah saja hubby " Jawab Arina yang mau tertidur.
" Apa kau bilang tadi? " Tanya Arnan
" Apa? " Tanya balik Arina.
__ADS_1
" Itu tadi, hubby? "
" Iya hubby, aku akan memanggilmu hubby karena aku geli memanggilmu dengan sebutan Mas " Jawab Arina jujur.
Arnan tertawa mendengarnya " hahahaha kenapa emang "
" Karena aku merasa aku sedang memanggil Mas Mas penjual cilok dan Mas penjual siomay di sekolahku dulu " Lanjut Arina lagi tanpa melihat wajah Arnan yang ditekuk karena kesal.
Arina yang sadar suaminya diam pun langsung melihat wajahnya dan benar saja wajah yang ganteng itu sudah ditekuk seperti habis dikucek.
" Kenapa hubby " Tanya Arina.
" Emang suamimu ini yang ganteng, tinggi, kaya raya, serta berwibawa ini tampangnya seperti Mas Mas penjual cilok apa? " Jawab Arnan dingin.
" Astaga kembali lagi menjadi es batu " Batin Arina.
" Jadi kamu ngambek hubby " Tanya Arina yang langsung mencium pipi Arnan suaminya.
" Jangan marah lagi nanti cepat tua baru tahu rasa, udah tua nanti tambah tua " Ujar Arina.
" Tua tua gini tetap suami kamu kan?, apalagi kamu-nya cinta " Jawab Arnan seraya mengedip-ngedipkan matanya.
Hay guys maaf lambat up nya.
__ADS_1