Seorang CEO Menikahi Gadis SMA

Seorang CEO Menikahi Gadis SMA
BAB 44


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul dua dan itu menandakan semua siswa harus menghentikan aktivitas belajarnya untuk segera pulang. Begitu pula dengan kedua gadis yang sudah terlihat tak bersemangat.


Ya Arina dan Ellin yang sudah keluar kelas sangat terlihat tidak bersemangat. Kakinya terus melangkah tapi pikirannya entah kemana. Hanya tatapan datar yang terlihat dan kepala yang menunduk sampai Ellin dan Arina tak sengaja menabrak seseorang yang cukup membuat nyalinya terciut.


Mata keduanya melotot melihat orang yang ditabraknya menahan amarahnya dan muka yang sudah memerah.


" Saat jalan mata itu harus berfungsi " Ketus Pak Rendy yang terlihat sangat dingin.


" Maaf Pak " Jawab Ellin dan Putri bersamaan tapi dalam hati keduanya sudah menggerutu kesal dan memaki maki pria yang ada di depannya itu yang tak lain gurunya sendiri.


" Tidak usah minta maaf jika di hati kalian masih sibuk memaki maki saya " Kata pak Rendy lagi yang seakan tahu apa yang ada dipikiran oleh kedua gadis itu.


Sontak mata Arina dan Ellin melotot seperti bijinya ingin keluar. " Sangat tidak cocok menjadi guru tapi cocoknya menjadi seorang dukun atau peramal " Batin Arina heran.


" Sepertinya memang saya lebih cocok menjadi seorang dukun atau peramal dari pada menjadi seorang guru " Kata Pak Rendy yang sengaja menatap Arina.


" What " Batin Arina mengidik ngeri.

__ADS_1


" Dengar saya, jika teman anda masih saja ingin membolos dan tak mau masuk sekolah maka saya tak segan segan mengeluarkannya dari sekolah " Ujar Pak Rendy.


" Cih memang bapak siapa? sok so'an mau ngeluarin teman saya dari sekolah. Kepala sekolah juga bukan " Batin Ellin mencibir Pak Rendy tanpa mengetahui siapa sebenarnya Pak Rendy.


" Kalau Bapak mau, hapus saja namanya di absen. karena sebenarnya tanpa Bapak sibuk sibuk toh mamanya juga nanti akan dihapus sendiri oleh pihak sekolah " Jawab Ellin santai kemudian langsung menarik Arina pergi menjauh meninggalkan Pak Rendy yang seperti orang bodoh yang sedang berfikir keras.


Benar saja Rendy sekarang berfikir keras mengenai ucapan Ellin barusan. Padahal kata kata Ellin sangat mudah dicerna hanya saja Pak Rendy yang saat itu otaknya berada di mode of.


Ellin dan Arina kemudian kembali dan Ellin yang juga ikut diantar pulang oleh sopir pribadi Arina. Setibanya Ellin di apartemen, Arina pun berlalu meninggalkannya untuk pulang ke mansion.


Saat masuk ke kamar mata bulatnya langsung menangkap paper bag yang berada di atas kasur. Entah apa isinya Arina pun juga merasa penasaran tapi ia sudah bisa menebak kalau ini dari suaminya.


" Apa ini yah " Batin Arina sudah mengambil paper bag itu.


Saat iya buka ternyata isinya sepasang gaung yang sangat indah dengan gaya yang begitu pas ditubuhnya. Gaung di atas lutut dan bahu yang sedikit terekspos jika dipakai. Ditambah lagi dengan tas limited edition dan high heels yang kira kira tingginya mencapai 8 cm. Dan semua itu tak lepas dari pilihan Salim sang sekertaris atas perintah dari sang raja Arnan.


Arina yang melihat semua itu hanya tersenyum dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah iya selesai dengan urusan mandinya iya keluar dengan pakaian santai.

__ADS_1


Karena merasa mengantuk iya pun membaringkan tubuhnya di atas kasur yang begitu empuk. Saat hendak memejamkan matanya, handphone yang berada di atas meja dekat sofa berdering dan dengan rasa malas Arina berlalu untuk mengangkatnya.


" Hal.." Kata Arina yang terpotong.


" Halo sayang, apakah kamu sudah melihat " Kata Arnan yang sudah dipotong oleh Arina.


" Iya aku sudah melihatnya dan itu sangat indah " Jawab Arina.


" Baiklah sebentar malam Salim akan menjemputmu dan aku menunggumu di sini " Kata Arnan.


" Memang kita mau kemana " Tanya Arina penasaran.


" Kau lihat saja nanti. Kau hanya perlu bersiap siap karena akan datang orang yang membantumu sayang " Jawab Arnan yang langsung mematikan telponnya karena tahu jika istrinya itu akan menyerangnya dengan pertanyaan apalagi jika mode penasarannya sudah on. Arnan tertawa terpingkal-pingkal membayangkan wajah istri kecilnya yang sudah pasti memerah menahan kesal. Dan benar saja Arina menahan kekesalannya dan rasanya Arina saat itu juga ingin menghampiri suaminya itu lalu menyiramnya dengan air panas yang baru saja mendidih.


Jangan lupa vote, like and komen yah


😍😍

__ADS_1


__ADS_2