
Kini Arnan sudah berada di dalam kamarnya. Perdebatan sengit terjadi antara dirinya dengan istrinya yang kini tengah mengandung keturunannya.
" Kau harus memakannya sayang. Aku sudah begitu lelah untuk mencari keong sawah yang kau inginkan tapi sekarang dengan mudahnya kau bilang bilang tidak mau " Arnan dengan kesalnya menceramahi istri kecilnya itu. Bagaimana tidak, iya sampai rela keliling Jakarta untuk mencari penjual keong sawah. Bahkan iya sampai dirumahnya dengan sangat terlambat.
" Aku sudah tidak ingin. Iya emang tadi aku mau tapi sekarang sudah tidak berselera lagi " Jawab Arina dengan entengnya lalu naik keatas ranjang kemudian menutupi semua tubuhnya dengan selimut.
" Astaga istri sialan, aku keliling kota untuk membeli ini tapi, akhhhhhh untung sayang " Batin Arnan berteriak.
Sedangkan Arina tertawa puas dibalik selimut karena membayangkan ekspresi murka sang suami.
****
Disisi lain Rendy yang telah menyelesaikan pekerjaannya di Bandung pun bersiap untuk kembali ke kotanya. Ia sudah cukup lama di Bandung.
Sudah kurang lebih empat bulan iya berada di Bandung yang awalnya ia berencana hanya sepekan untuk mengurus pekerjaannya tapi semuanya harus berubah karena gadis kecil yang bernama Putri Avila itu.
__ADS_1
Gadis itu benar benar membuatnya harus extra sabar. Bagaimana tidak, gadis kecil itu tak mau ikut dengannya dengan beralasan ingin hidup mandiri.
Dan hari ini iya sudah memutuskan untuk kembali. Jabatannya sebagai seorang guru sudah berteriak minta pulang. Dengan berat hati iya harus meninggalkan Putri yang sama sekali tidak mau ikut dengannya.
Rendy yang telah siap siap pun menghampiri Putri yang sedang belajar di ruang tengah apartemen.
" Eh pak Rendy ! maaf saya terlalu serius jadinya tidak melihat bapak hehehe " Ujarnya setelah melihat Rendy yang duduk di sofa tepat di depannya.
" Bapak mau kemana membawa koper ? " Tanya Putri melihat koper di samping Rendy.
Putri mendengarnya pun merasa ada yang aneh dalam dirinya. Iya merasa tak rela jika Pak Rendy pergi. Hatinya mendadak cemas dan ada perasaan takut ditinggalkan. Bagaimana tidak, kurang lebih empat bulan iya berada di samping laki laki dewasa itu. Setiap hari iya bertatap muka dengan pria dewasa itu. Semua kebutuhannya dipenuhi mulai dari kehidupan sehari harinya ditambah iya diberikan dan diizinkan untuk tetap belajar oleh pria yang tak lain adalah gurunya di sekolah.
Rendy yang melihat Putri melamun pun melanjutkan ucapannya. " Aku harus pergi. Jaga dirimu baik baik dan tetap belajar karena aku sudah menyewa guru untuk mengajari sampai kau mendapatkan ijazah SMA mu " Kata Rendy kemudian berdiri dari duduknya.
Putri masih mematung. Ada yang aneh dalam hatinya. Tak relah jika harus ditinggalkan oleh Rendy. Sampai iya tak sadar jika Rendy sudah keluar dari apartemen.
__ADS_1
" Tapi bagai... " Kata Putri terpotong kalah kesadarannya kembali dan sudah tak melihat sosok pria yang di depannya.
Matanya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tapi tak mendapatkan sosok yang dicarinya. Tak terasa setitik bening lolos ke pipi mulusnya.
Ia langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari kamar apartemennya lalu dengan tak sabarnya iya memasuki lift menuju lantai dasar.
" Tidak aku,, aku tidak boleh kehilangan pak Rendy. Dia tidak boleh meninggalkanku " Guman Putri.
" Aku mencintainya " Lirih Putri disertai air mata.
Hay guys maaf yah kalo ceritanya kurang bagus dan ceritanya terkesan tak masuk akal.
Dan jika kalian suka dengan cerita ini jangan lupa like, vote and komen yah agar aku tetap semangat Up-nya.
Selamat membaca
__ADS_1