
Pagi hari Arina merasa perutnya seperti diaduk aduk. Ia terbangun karena merasa perutnya ingin memuntahkan segala isinya. Ingin langsung terbangun tapi tangan kekar milik suaminya memeluk pinggangnya.
Dengan hati hati iya memindahkan tangan suaminya lalu berlari ke dalam toilet. Tubuhnya tiba tiba melemah, kepalanya pusing ditambah lagi muka yang pucat serta keringat dingin bercucuran di dahinya.
Arnan terbangun dan tak mendapatkan Arina istrinya disampingnya. Ia ingin keluar untuk mencari keberadaan Arina tapi tak sengaja mendengar suara istrinya di dalam toilet.
Ia langsung masuk menghampiri istrinya yang sudah terlihat melemah.
" Sayang kamu sakit ? " Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Arnan.
" Hueekkk, hueekkk " Arina terus saja memuntahkan isi perutnya.
" Sayang ayo kita ke rumah sakit "
" Tidak usah Hubby " Jawabnya dengan suara yang teramat kecil.
" Tapi kamu muntah muntah sayang "
" Tidak Hubby, aku hanya merasa pusing saja " Jawabnya lagi.
Melihat sifat keras kepala istrinya. Arnan langsung menggendong Arina keluar dari toilet kemudian membaringkannya di atas tepat tidur. Diusapnya kepala Arina dengan lembut kemudian mencium keningnya.
" Tunggu disini yah, aku akan membuatkan mu bubur " Kata Arnan lalu keluar dari kamar. Ia menuju dapur untuk memasak bubur untuk istri tercintanya.
Salah satu pembantu di rumah itu yang melihat Arnan sedang berkutat di dapur pun menghampirinya.
__ADS_1
" Maaf tuan, biar saya saja "
" Tidak apa apa. Biar aku saja " Kata Arnan dengan dinginnya. Para pembantu pun sudah tak heran dengan sifat dingin dari majikannya itu.
Setelah selesai membuat bubur rasa cinta, Arnan kembali ke kamar. Melihat Arina tertidur dengan pulasnya membuat Arnan tak tega membangunkannya. Ia hanya setia duduk dipinggir ranjang dengan tatapan yang tak pernah lepas dari tubuh sang istri.
Hampir satu jam menunggu, tapi Arina tak kunjung bangun. Arnan pun mengecup bibir Arina dengan lembutnya " Sayang ayo bangun " Bisiknya.
Arina merasa ada yang mengecup bibirnya pun menggeliat. Tak lama mata bulatnya terbuka dengan lebar dan disuguhi pemandangan yang indah. Suaminya yang semakin hari semakin tampan saja membuat Arina ingin melakukan sesuatu.
" Sayang mengapa menatapku begitu hm? " Tanya Arnan mengecup hidup Arina.
" Ayo bangun, suamimu yang tampan ini sudah membuatkan mu bubur rasa cinta dan kasih sayang "
Arina terkekeh mendengarnya. Karena merasa lapar ia pun bangun untuk memakan bubur buatan suaminya itu yang katanya rasa cinta dan kasih sayang.
Hueeekk, hueeekk
" Perutku Hubby " ujar Arina melemah sambil memegangi perutnya yang terasa keram itu.
" Sayang jangan membuatku panik " Kata Arnan sudah menangis.
Arina yang melihat Arnan menangis pun berusaha menenangkannya. Setelah merasa perutnya terasa nyaman, ia menarik tangan suaminya dan mendudukkannya di sofa.
Arina memeluk tubuh suaminya itu dan meletakkan wajahnya di dada kekar Arnan. Rasa nyaman dan damai selalu iya rasakan saat bersama dengan suaminya itu. Walaupun usia keduanya terpaut cukup jauh tapi tak mengurangi sedikit pun rasa cinta diantara keduanya. Rasa canggung itu sudah tidak ada lagi, sekarang hanyalah rasa aman yang iya rasakan.
__ADS_1
" Sayang "
" Hem "
" Apa Hubby " Tanya Arina yang masih setia menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Arnan.
" Jangan sakit lagi kumohon. Aku mencintaimu istriku " Kata Arnan.
" Aku juga mencintaimu Hubby " Jawab Arina lalu mencium bibir Arnan. Hanya ciuman biasa tapi lama kelamaan ciuman itu menjadi ciuman yang buas.
********
Berbeda dengan Rendy yang terus saja masih setia menemani Putri yang dirawat di rumah sakit. Ia begitu menikmati waktunya merawat gadis kecil yang tak lain siswanya di sekolah.
Hari ini hari dimana sudah satu Minggu Putri berada di rumah sakit dan baru tiga hari yang lalu iya membuka matanya.
Sangat terlihat raut ketakutan di matanya itu, tubuh yang semakin kurus dan wajah yang sudah memucat membuat Rendy merasa teriris.
Sama dengan hari ini, Rendy begitu telatennya menyuapi Putri sarapan. Gadis itu belum pernah berbicara selama dua hari ini. Hanya ada tatapan sendu dan kepala yang mengangguk jika ditanya.
" Kata dokter, Kau boleh pulang hari ini " Beritahu Rendy kepada Putri.
" Apa " Batin Putri.
" Kau tenang saja. Ibumu itu tidak bisa menganggumu lagi " Kata Rendy dengan tenangnya.
__ADS_1
Putri yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya dan berkata " Ma...Maksud Bapak apa? " Tanya Putri dan tanpa sadar iya baru saja mengeluarkan suaranya selama tiga hari tak bersuara.