
Salim yang sudah sampai di kantor merasa lesuh. Ia masuk kedalam ruangannya dengan muka masam.
" Huff gadis cerewet sungguh merepotkan ku, Untung cinta " Batin Salim.
Baru saja iya ingin mendudukkan bokongnya tapi Handphone yang iya letakkan di sakunya berdering. Dengan cepat iya mengangkatnya dan ternyata itu Arnan.
" Cepat ke ruanganku " Katanya dibalik telpon yang membuat Salim mendengus kesal.
Arnan yang sudah menunggu Salim pun merasa kesal. Berani-beraninya iya membuat bosnya menunggu.
Saat Salim sudah memasuki ruangan Arnan, sontak Arnan dengan cepat melemparnya dengan beberapa berkas yang ada di tangannya.
Salim yang mendapatkan lemparan itu melototkan matanya.
" Jangan melototiku seperti itu " Arnan yang sedikit meninggikan suaranya.
__ADS_1
" Siapkan semua yang dibutuhkan oleh Arina gadis kecilku itu, jangan sampai iya kekurangan apapun " Lanjut Arnan.
" Yaelah bos " Jawab Salim yang mendapatkan tatapan tajam dari Arnan. Dengan cepat Salim mengiyakan apa yang diinginkan oleh bos sekaligus sahabatnya itu.
Malam hari di restoran Arnan yang melakukan pertemuan dengan Rendy yang ditemani oleh Salim pun membicarakan soal kelanjutan kerja samanya itu.
Ia menjadi pusat perhatian dan banyak wanita yang sengaja mencari cari kesempatan untuk sekedar mengobrol kepada ketiga pria itu.
Ditengah-tengah pembicaraannya Arnan melihat gadis yang tidak asing sedang tertawa lepas dengan makanan yang penuh di mulutnya. Sesekali iya terlihat tersedak karena kelakuannya itu. Tapi yang membuat Arnan mengepalkan tangannya kuat yaitu bocah tengil yang berada di samping Arina. Terlihat lelaki tengil itu sedang membersihkan sisa sisa makanan yang menempel dibibir Arina.
Tak lama bocah tengil itu terlihat meninggalkan ketiga gadis itu.
Arnan yang melihat itu semua berlalu meninggalkan asisten Salim dan Rendy yang sedang menikmati makanan penutup. Arnan yang melihat gadis itu beranjak dari duduknya pun dengan cepat menghampirinya.
__ADS_1
Arina yang melihat Arnan sudah ada didekatnya merasa jantungnya dangdutan lagi. " Kurang ajar nih jantung, selalu saja dangdutan jika berhadapan dengan kak Arnan, padahal kan hampir setiap hari kita berjumpa. Mungkin sekarang aku adalah calon calon pasien yang terkena serangan jantung " Batin Arina.
Arnan yang melihat Arina melamun pun langsung menggenggam tangannya dan berkata " Ayo ikut denganku di meja sana, dan kalian juga" Kata Arnan.
Arina, Putri dan Ellin yang diajak pun langsung ikut. Arina yang sedari tadi tangannya digenggam pun sangat merasa gugup tapi sebisa mungkin iya menetralkan perasaannya.
Arina, Putri dan Ellin yang ingin mendudukkan bokongnya di kursi pun kaget melihat Pak Rendy guru killer itu satu meja dengan Arnan. Apalagi setelah Rendy menatap tajam membuat Arina dan kedua sahabatnya bergidik ngeri.
" Dasar siswa nakal, kerjanya hanya keluyuran, apalagi bersama dengan seorang pria tengil " Batin Rendy.
Arnan yang melihat ketiga gadis itu enggang untuk duduk pun menyuruhnya untuk duduk. Salim yang mendengar Arnan menyuruh seseorang untuk duduk langsung mendongakkan kepalanya dan tatapannya langsung tertuju kepada gadis cerewetnya yang berwajah kalem.
" Cantik sungguh cantik ciptaan Tuhan yang satu ini " Batin Salim yang mulai berfikiran aneh apalagi melihat penampilan Ellin dan kedua sahabatnya cukup seksi.
Tatapan matanya tak terlepas dari gadis yang dianggapnya begitu cerewet. Berbeda dengan Rendy yang sesekali melirik Putri yang terlihat sangat gugup.
__ADS_1
" Cantik jika seandainya tidak nakal " Batin Rendy terus menatap Putri.
SELAMAT MEMBACA READERSKU SEMUANYA😍😍