Seorang CEO Menikahi Gadis SMA

Seorang CEO Menikahi Gadis SMA
BAB 55


__ADS_3

kembali ke cerita Arnan dan Arina


Arnan yang sedang sibuk memeriksa file di kamarnya kesal karena terus saja diganggu oleh istri kecilnya.


Arina yang kesal karena keinginannya tidak diikuti pun merasa marah dan kesal. Akhirnya iya mengganggu suaminya yang sibuk dengan laptopnya.


" Hubby " Kesal Arina karena diabaikan


Arnan hanya menahan tawanya agar tawanya tak meledak. Apalagi melihat Arina seperti kebakaran jenggot.


" Hubbyyyyyyyyy " Teriak Arina di dekat telinga Arnan.


" Sayang " Kata Arnan marah lalu menutup telinganya.


" Aish " Arina berkaca kaca mendapatkan bentakan Arnan. Iya langsung lari keatas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Arnan yang melihatnya langsung menyusul istrinya yang marah.


" Sayang " Katanya lalu berusaha untuk menurunkan selimut yang menutupi tubuh Arina.


" Udah ah pergi sana " Kata Arina dengan suara serak.


" Sayang kamu nangis hm " Tanya nya dengan serius.


" Udah ah pergi " Teriak Arina dengan kesal.


Arnan merasa heran dan bingung dengan tingkah istrinya akhir akhir ini. Yang dimana kelakuannya kadang tidak bisa untuk dikendalikan, kadang marah, kadang manja dan kadang pula minta hal hal aneh.


Arnan pun berlalu meninggalkan Arina yang emosi.


" Huffff lebih baik pergi aja dari pada emosinya memuncak " Gumamnya.


Arnan pun keluar kamar kemudian menelpon Salim.

__ADS_1


" Halo "


"..... "


" Bawah Ellin kesini sekarang " Katanya lagi lalu mematikan telponnya.


Orang yang ditelpon hanya menggerutu kesal.


Tak berapa lama Ellin pun datang diantar oleh Salim.


" Kak ayo masuk " Ajak Ellin.


" Ayo " Kata Ellin lagi menarik tangan Salim yang hanya berdiam diri tanpa tahu kalau sebenarnya pria yang disampingnya itu sudah gemetar dingin.


Mau tidak mau Salim pun masuk mengikuti Ellin.


Saat masuk mereka berdua tidak mendapatkan siapa siapa. Rumah terasa sangat sepi dan semakin masuk maka semakin terasa aura sepi dan menakutkannya.


Saat hendak menaiki tangga, terdengar suara pintu tertutup dengan kencang. Sontak membuat Ellin dan Salim berteriak kaget.


" Hem mungkin angin " Jawabnya santai.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa saja dari pada naik ke lantai dua yang terlihat sangat gelap.


Saat duduk, Ellin samar samar mendengar suara aneh yang berasal dari arah dapur. Saat menoleh, matanya tak menangkap apa apa, karena ternyata lampu di sana juga rupanya mati.


Ellin mulai merasa takut dan merinding. Sesekali iya mengusap usap tangannya.


Rasa curiga mulai memenuhi pikirannya.


" Kak coba perhatikan deh, hanya beberapa ruang disini yang lampunya menyala. Selebihnya lampunya padam semua " Tanya Ellin serius dan berpindah duduk di dekat Salim.


Salim yang sedang sibuk memperhatikan Ellin pun tak sadar. Ia hanya menatap wajah Ellin yang terlihat sangat manis itu.

__ADS_1


" Kak, kak Salim " Ellin mengguncang tubuh Salim yang hanya bengong.


" Ah iya ada apa " Jawabnya karena kaget.


" Coba perhatikan deh Kak, kok disini aneh banget sih. Biasanya semua lampu menyalah lah ini sebagian kok padam " Kata Ellin menjelaskan.


Salim pun menyadarinya.


" Iya juga sih "


" Ayo coba kita naik ke atas. Siapa tahu mereka ada di atas " Ajak Salim.


Baru juga mereka berdua berdiri dari duduknya tapi langsung terkejut oleh suara pecahan yang berasal dari ruangan belakang.


Saat menoleh, terlihat lampu yang menyala kemudian tidak beberapa detik lampunya mati. Kemudian menyalah lagi dan kemudian padam lagi.


Bulu kuduk keduanya berdiri. Merasa ada yang aneh di rumah ini.


" Kak coba telpon Kak Arnan deh " Suruh Ellin kedinginan.


Salim pun menelponnya dan ternyata deringan handphone Arnan ada di atas meja depan sofa tempat duduk mereka tadi.


Keduanya kaget karena pasalnya saat duduk tadi, tidak ada apa apa di meja itu. Hanya ada vas bunga kecil.


Ellin menarik Salim untuk naik kelantai dua. Tapi disaat mau menaiki tangga terdengar jelas suara orang yang menangis dari taman belakang.


Keduanya berhenti dan seksama mendengar suara tangisan yang semakin kencang itu. Tapi yang membuat mereka takut adalah suara tangisan yang semakin terdengar jelas dan semakin mendekat, tapi tak ada siapa pun.


Hanya ada lorong lorong kecil yang hanya dilewati untuk ke arah taman belakang. Lorong lorong itu yang dihimpit oleh dua tembok terasa sangat sepi.


Salim pun melangkahkan kakinya ke arah lorong itu tapi baru beberapa langkah, terdengar suara pintu kamar tamu terbuka dengan sangat kencang dan terdengar suara pecahan kaca dari lantai atas.


Ellin sudah berteriak ketakutan. Dia berlari memeluk Salim.

__ADS_1


" Kak aku takut, ayo kita pulang Kak " Ajak Ellin yang sudah menangis.


" Tenang, kamu harus tenang " Salim membelai rambut Ellin yang sudah gemetar ketakutan.


__ADS_2