
" Apa kamu tidak bisa diam " Suara bariton itu kembali terdengar di telinga Putri.
" Dasar guru killer " Batin Putri kesal.
Lain halnya dengan Arina yang melongo melihat keindahan gedung perusahaan yang memiliki ketinggian dan kemewahan serta keindahan yang mengelilingi gedung tinggi tersebut.
Di dalam hatinya sibuk memikirkan betapa kayanya orang yang memiliki perusahaan tersebut.
" om ngapain bawa saya kesini?, memang Kak Arnan ada disini? " Tanya Arina dengan serius.
" iya, ayo masuk " Jawab Salim lalu mengajak Arina masuk karena jika sudah terlambat maka Arnan sang bos pasti akan mengeluarkan taringnya.
Sesampainya di lantai terakhir, Salim pun menyuruh Arina masuk sendiri karena Salim yang tidak mau mendengar ocehan sang bos karena sudah terlambat beberapa menit.
Arina pun dengan cepat langsung masuk keruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ruangan yang sangat luas dengan desain yang sangat indah dipandang, barang barang yang mungkin harganya mencapai milyaran bahkan semuanya lengkap dengan berbagai fasilitas.
Ia mematung di balik pintu yang sudah tertutup, melongo melihat betapa indahnya ruangan yang sangat luas itu bahkan ia tak berkedip sedikitpun. Bahkan iya tak menyadari sepasang mata yang duduk dengan tegaknya sedang memperhatikannya.
Mata yang bulat itu menelusuri satu persatu seluruh ruangan, Sampai matanya tertuju pada sosok pria yang sangat dikenalnya sedang duduk dengan tegaknya.
__ADS_1
" sungguh luar biasa " Batin Arina melihat ketampanan sosok pria yang sudah ada di depan matanya itu.
" sudah tampan kaya lagi, ohh lelaki idaman tungguh-tungguhla aku " Batin Arina yang sudah seperti konser.
Beberapa saat kemudian, ia dikejutkan dengan suara yang begitu nyaring sedang berteriak kepadanya. Ia bahkan tersentak kaget dibuatnya.
" ngapain mematung disitu? kemarilah " Sahut Arnan lagi setelah melihat Arina sudah tersadar dari lamunannya.
" eh iya ada apa kak " Jawab Arina lalu berjalan menuju meja kerja Arnan.
" Sudah makan? "
" em, jadi kak ngapain nyuruh aku kesini? " Tanya Arina menatap manik mata Arnan.
" mama saya hari ini akan pindah lagi ke Jerman, dan dia menyuruh saya kesana " kata Arnan. " dan kamu harus menemani saya kesana " lanjut Arnan.
" kamu serius kak?, tapi kenapa juga harus ditemani kak? " Tanya Arina yang tidak bisa diam.
" udah enggak usah banyak tanya " kata Arnan dengan serius.
Setelah lama berdebat akhirnya kedua wanita yang akan mengubah penampilan dari Arina datang. Tapi dengan keras kepala yang dimiliki Arina membuat kedua wanita itu sangat lengah akibat Arina yang selalu saja protes apabila tak sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1
Dan setelah lama kedua wanita itu bergulat dengan susah payah akhirnya Arina telah selesai di make over. Bahkan kedua wanita itu dibuat melongo oleh kecantikan dari gadis itu, putih mulus, rambut panjang yang di kuncir tinggi serta gaung pendek di atas lutut menambah kecantikannya apalagi gaung yang mengekspos bahu mulusnya membuat mata yang melihatnya tak berhenti memandang. Gadis yang masih terlihat polos kini menjadi lebih dewasa yang terlihat sangat anggun.
Setelah memastikan semuanya telah selesai, Arina pun keluar dengan cukup percaya diri karena pasalnya iya memang dulu sering menggunakan pakaian yang sedikit lebih terbuka.
Arnan yang melihat Arina hanya bisa menelan air liurnya dengan kasar karena pasalnya gadis yang selama ini iya lihat hanya biasa-biasa saja tapi sekarang terlihat seperti bidadari tak bersayap.
Mata tak berhenti memandang membuat sang gadis merasa sangat risi.
" sungguh bidadari tak bersayap " Batin Arnan yang tak berhenti memandang tubuh gadis yang ada di depannya itu.
Namun tatapan itu berhenti kala dia melihat sang asisten yang juga tak mengedipkan matanya melihat Arina.
" kurang ajar sekali dia memandang gadisku dengan tatapan mesum " Batin Arnan yang geram melihat tatapan Salim.
Dengan rasa cemburu iya pun mengambil sebuah botol air aqua yang terletak di atas mejanya lalu melemparkannya ke kepala Salim. Yang dilempar hanya mengerang kesakitan.
" Woi bos apa-apaan sih, asal melempar aja " teriak Salim dengan kesal kepada bos sekaligus sahabatnya itu.
" itu ada kecoa di rambut kamu tadi " Jawab Arnan dengan melototkan matanya.
Arina yang melihat semua itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1