Seorang CEO Menikahi Gadis SMA

Seorang CEO Menikahi Gadis SMA
BAB 71


__ADS_3

Tiga tahun kemuadian


Pagi hari yang cukup cerah secerah hati sepasang suami istri beserta dengan bocah laki laki yang berusia tiga tahun yang sedang menikmati sarapan di sebuah manshion yang sangat mewah. Hanya ada canda tawa yang terdengar memenuhi ruang makan yang cukup luas itu.


"Ihhh papa i don't like mama" Suara manja boca laki laki yang terdengar begitu menggemaskan di telinga kedua orang tuanya.


" Why boy " Tanyanya kemudian kepada sang anak.


"Mama melarangku ketemu stela " Ujarnya menjawab sang papa.


" Stela?? stela siapa boy? " Tanyanya lagi namun kali ini iya malah fokus menatap sang istri untuk menuntut penjelasan.


Melihat suaminya menatapnya membuat Arina cukup cemberut.


" Itu tuh anak kamu masih bocah kok yang dipikirannya malah bocah perempuan yang di kompleks sebelah, Kessel aku tuh masi bocah udah genit "


" Ih mama, Stela itu baik kemarin nolongin aku yang hampir jatuh " Ujarnya yang terdengar marah kepada sang mama.


" Idih alesan, bilang aja mau genitkan sama dia?Kemarin malam aja kamu nyebut nyebut namanya" Jawab Arina dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, anaknya yang bahkan baru genap tiga tahun itu sudah sangat genit, Melihat bocah perempuan yang cukup cantik ajah matanya udah melotot. Bahkan bocah perempuan seusianya pun sudah iya gombal dengan kata kata rayu yang memabukkan, bukannya memabukkan malah menggelikan pikir Arina.

__ADS_1


" Ih papa nggak gitu " Ujarnya membela diri.


" Ih apanya nggak gitu, hampir semua bocah di kompleks ini udah kamu genitin tuh " Cerca Arina tak mau kalah kepada sang putra. Rupanya menggoda sang putra membuat kesenangan sendiri bagi Arina. Bahkan iya sering mengganggu anaknya itu sampai menangis, dan itulah yang kadang mengundang kemarahan Arnan sang suami tercintanya.


" Sayang jangan buat putraku kesal " Ujar Arnan memperingati istri kecilnya yang sudah mulai mengganggu ketenangan putranya.


" Ih apanya, akutuh yang harusnya kesal. Masa anaknya masih bocah kok udah genit?? Iyakan Leon sayang?" Tanyanya kemudian tertawa mengejek kepada sang putra.


" Ihh papa aku tidak mau mama "


" Yang jangan mulai deh " Peringatnya kepada Arina yang saja terus menerus menganggu putranya.


" Huwaaaaa papaaaaaa hikss hikss" Pecah sudah tangisan putra kesayangan Arnan itu. Mendengar tangisan Leon yang memenuhi ruang makan bahkan mungkin terdengar sampai ke tetangga pun membuat tawa mama mudah itu pecah.


Bukannya berhenti mala membuat Arina semakin gencar membuat putranya itu kesal.


" Mas, jangan jangan anak kita dulu tertukar yah di rumah sakit. Mungkin saja Leon itu bukan Putra kita mas " ujar Arina yang tidak mau diam. Niatnya menggoda putranya malah iya mendapatkan tabokan di kepalanya. Siapa lagi kalo bukan suami tampannya itu.


" Tertukar palamu, kau bahkan meraung berteriak di rumah saat melahirkannya " Ujarnya melototi istri kecilnya dengan pikiran yang tertuju pada waktu tiga tahun yang lalu, dimana sang istri harus melahirkan putranya di rumah karena keburu kepala bayinya keluar.

__ADS_1


" Ih mas, napasih nggak asik banget. Goda dikit anaknya nggak papa kali " Ucapnya nyengir kuda yang malah mendapati tatapan tajam dari mata sang suami.


" Huwaaa pa...paaa nggak mau maaa..ma " Berontak sudah bocah laki laki itu dalam gendongan sang papa. Tangisannya semakin pecah mendengar ucapan sang mama yang hanya candaan itu.


" Yang, sudah berhenti membuat putraku menangis "


" Hahaha anak pungut mama nangis yah " Candanya lagi yang berujung keterkejutan akibat teriakan sang suami


" Maaf mas " Ucapnya pelan dengan kepala tertunduk. Jika sudah begini maka sang suami benar benar sudah marah.


" Bercandamu kali ini benar benar keterlaluan "


" Kapan sih kamu bisa membuat putramu tidak menangis walau sebentar saja,, Pekerjaanmu hanya membuatnya kesal dan menangis " Ucap Arnan yang lagi lagi kesal setengah mati melihat tingkah istri kecilnya itu. Bagaimana tidak, Arina bahkan selalu saja membuat anaknya itu kesal seperti mengejeknya, mengerjainya sampai menangis kejer dan masih banyak lagi godaan godaan yang mampu mengundang tangisan sang putra. Tiada hari tingkah Arina tanpa membuat putranya kesal.


" Mau anakmu sakit lagi hemm??? Mau anakmu sakit seperti waktu itu. Waktu dimana kau mengerjainya sampai menagis tiada henti dan berujung deman tinggi. Kau mau anakmu sakit Arina " Bahkan suaminya kini tidak memanggilnya sayang. Pasti saat ini suaminya itu benar benar kesal dengan tingkahnya.


" Ingat nggak kamu waktu berjuang melahirkannya??? ingat nggak penderitaan kamu waktu itu? " Tanya beruntun kepada istrinya yang tengah menunduk itu.


" Sayang kamu boleh menggoda putramu tapi jangan sampai keterlaluan Seperti ini yah " Ujar Arnan melembut kemudian menarik sang istri kedalam pelukannya. Jadilah merekah bertiga berpelukan dengan penuh cinta.

__ADS_1


Begitulah Mereka saat bersantai seperti itu, kadang canda kadang pertengkaran yang terjadi. Namun dibalik itu semualah yang membuat keluarga kecil itu semakin bahagia.


__ADS_2