
Di pagi hari Arnan membuat ulah karena melarang sang istri yang tengah hamil mudah untuk datang ke sekolah. Berbagai macam cara iya gunakan agar istri kecilnya yang keras kepala itu mau menurutinya tapi tetap saja tidak berhasil.
Arina tetap pada pendiriannya. Menurutnya sekolah untuk belajar bukan untuk mengangkat beban berat, jadi untuk apa iya tidak ke sekolah. Tidak ingatkah iya dulu yang sering menghalalkan segala cara agar tak masuk sekolah. Akh sepertinya kehamilannya mengubah kemalasannya sedikit demi sedikit.
Karena capek berdebat yang tiada ujungnya membuat Arnan akhirnya mengalah dan membiarkan Arina tetap sekolah tapi dengan beberapa syarat tentunya.
Setelah perdebatan panjang Arnan mengantar Arina ke sekolah dan setelah itu iya melajukan mobilnya ke arah kantor. Sesampainya iya di kantor iya langsung masuk ke dalam ruangannya.
" Bos ada pertemuan penting dengan kolega bisnis kita dari Singapura " Kata Salim yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Arnan melotot membuat Salim menarik nafas panjang. " Jangan suka marah marah bos " Kata Salim sambil cengengesan.
" Jam berapa ? dan dimana sekertaris sialan itu? kenapa kau yang sibuk "
" Dia aku suruh buat kopi bos "
" Dasar sialan " Kata Arnan dengan melempar Salim dengan pulpen.
" Dia itu sekertaris ku bukan sekertarismu , enak aja kau suruh suruh " Timpal Arnan.
" Ya elah bos, ini itu pekerjaan "
" Sekali kau suruh bayarannya sepuluh juta " Kata Arnan dengan santainya.
__ADS_1
" Kamvrettt, itu sekertaris bukan ajang penghasil uang " Ketus Salim lalu melempark Arnan dengan pulpen.
" Siaal ! Akan kupecat kau lalu kubuang ke segitiga Bermuda. Agar tau rasa " Teriak Arnan.
Disisi lain Putri yang habis memasak sarapan untuknya dan untuk Pak Rendy dengan segeranya menghidangkan masakannya di atas meja. Ia begitu telaten dalam menyajikannya. Sampai di satu sudut terlihat seseorang yang tak berkedip. Sungguh pemandangan yang langkah menurutnya.
" Ahk gadis kecil ini, sungguh menarik " Batin Rendy.
Setelah Putri selesai menyajikan makanan iya pun berniat memanggil Rendy untuk sarapan. Baru saja iya memutar tubuhnya tapi dia sudah dikagetkan oleh kehadiran Pak Rendy yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Eh pak Rendy " Kikuk Putri.
" Ayo sarapan " Ujar Rendy sambil menarik tangan Putri untuk duduk.
" Eh iya Pak " Gugup Putri.
" Emm, Pak saya..sa...ya "
" Katakan dengan jelas "
" Begini Pak, saya mau tinggal sendiri saja " Kata Putri dengan menundukkan kepalanya.
Rendy yang mendengarnya menggenggam erat garpu dan sendok yang dipegangnya. Kenapa gadis di depannya itu kekeh sekali untuk tinggal sendiri batinnya.
__ADS_1
Rendy tetap diam tak menjawab. Dia ingin melihat seberapa besar keras kepala gadis yang di depannya itu.
" Pak aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain " Lanjut Putri merasa gugup karena tak kunjung mendapat respon dari Pak Rendy.
" Tidak " Bantah Rendy dengan tegasnya.
" Sekali tidak ya tetap tidak " Lanjut Rendy dengan suara beratnya.
" Ibumu sudah menjualmu dengan ku dengan harga yang tinggi. Jadi kenapa saya harus melepaskanmu " Kata Rendy yang tak menyadari jikalau kata katanya itu sungguh menyakitkan bagi gadis pendiam nan polos itu.
Sekuat tenaga Putri menahan air matanya agar tak jatuh tapi nyatanya air sebening embun itu tetap saja lolos ke pipi mulusnya. Hatinya hancur mengingat jika iya sudah dijual oleh ibu angkat serakahnya.
Ia berlari meninggalkan meja makan, tak sedikit pun makanan yang di sentuhnya. Sakit sungguh sakit jika iya mengingat hidupnya. Bila saja iya bisa menghilang maka iya memilih menghilang saja.
Iya masuk ke dalam kamarnya dan menangis tersedu-sedu disana.
" Kenapa ? kenapa aku dilahirkan ke dunia ini ? " Lirih Putri.
" Aku benci diriku sendiri " Lirih putri dengan air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya.
" Kenapa mereka melahirkanku ke dunia ini jika mereka ingin membuang ku " Tangis Putri pecah yang terdengar begitu pilu.
" Aku benci mereka. Dan sampai kapanpun aku akan membenci mereka semua " lirih Putri yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.
__ADS_1