
Di pagi hari yang mendung membuat kedua suami istri Arnan dan Arina itu enggang untuk bangun. Keduanya masih saja asik berpelukan guna menghangatkan satu sama lain.
Sampai pukul sembilan pun mereka sama sekali belum ada tanda tanda untuk bangun dan meninggalkan mimpi mereka.
Arina yang merasakan sakit pada bagian perutnya pun mulai membuka matanya. Di elusnya perut buncitnya itu dan berfikir mungkin hanya kontraksi biasa karena perkiraan dokter masih ada dua Minggu lagi baru iya melahirkan.
Tapi semakin lama rasa sakit itu semakin bertambah, membuat kerutan di dahinya terlihat jelas.
" Akhhhhhh " Rintihannya mulai terdengar saat ada dorongan yang terasa begitu besar dari dalam perutnya.
Cairan putih mulai keluar merembes pahanya.
" Akhhhhhh sakiiit " Rintihannya yang terdengar begitu pilu, tangannya mencengkram kuat lengan Arnan yang melingkar di tubuhnya.
Merasakan itu Arnan membuka matanya dan betapa terkejutnya iya melihat sang istri menangis kesakitan sambil mencengkram perut buncitnya serta tangan yang satunya mencengkram lengan Arnan dengan begitu kuat.
" Sayang " Air mata lolos dari pelupuk matanya. Hatinya sakit melihat istri tercintanya kesakitan.
" Sakit Bi, akhhhhhh "
" Sayang bertahanlah demi aku "
Tak lama kemudian Mama Desi masuk ke dalam kamar Arnan karena tak sengaja mendengar teriakan.
" Ya Allah menantuku, apa yang terjadi apakah cucuku mau keluar " Tanyanya heboh dan panik.
" Ayo kita ke rumah sakit sayang "
" Iya Arnan, cepat bawa istrimu kerumah sakit " Ujarnya dengan begitu heboh karena saking paniknya melihat menantunya yang tiba-tiba mau melahirkan.
" Aku tidak kuat lagi jika harus kerumah sakit " Pekik Arina saat merasa ada sesuatu yang keluar di bawah sana. Iya dengan cepat kilat menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Dan betapa terkejutnya iya saat melihat kepala muncul di vag**anya.
" Ya Allah " Teriak mama Desi.
" Akhhhhhh sakit Bi, aku takut " Lirihnya melihat kepala bayi keluar di area sensitifnya.
Arnan hanya bisa menangis melihat itu. iya membantu istrinya membuka kakinya lebar lebar agar sang bayi tak kesusahan.
" Yang kuat sayang, bertahanlah " Lirihnya dengan penuh air mata. Iya tak melepas pelukan sang istri.
__ADS_1
Sedangkan mama Desi meminta salah satu pelayan yang ada di rumah untuk menyiapkan segala apa yang di perlukan, sementara dia sudah siap siaga membantu sang menantu dalam persalinannya.
" Ayo sayang dorong lagi nak "
" Maaaa ini sakit sekali " Pekiknya tak tertahan.
" akhhhhhhhhh, sakkkkiit "
" Sayang kamu pasti bisa " Bisiknya ditelinga sang istri.
" Sakiiit.. Bi " lirih Arina dengan terus berusaha mengejan.
" Akhhhhhh hiks kenapa lama sekali " Teriakan histeris terdengar begitu menyakitkan dalam kamar. Arnan hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apapun.
" Sabar Nak, " mama Desi terus menguatkan Arina.
" Sabar sayang, sebentar lagi "
" Kapan hhaa? ini sudah sangat sakit " Teriaknya dengan sangat nyaring.
" Akhhhhhhhhh "
" Terima kasih sayang, terimakasih " Arnan terus memeluk tubuh lemah Arina setelah melihat dengan langsung proses anaknya keluar dari dalam perut Arina.
Rasa syukur tak henti iya dan mama Desi ucapkan. Bayi mungil yang berjenis kelamin laki laki itu terus saja menangis dengan nyaring.
Arina mendekap bayi mungil itu di atas dadanya. Suara tangisan kini mulai tak terdengar saat bayi mungil itu mendapatkan dan menghisap sumber kehidupannya.
Arnan menganga melihat itu, melihat bayinya menghisap tempat favorit nya.
" By anak kita " Suara lirih Arina membuyarkan lamunannya.
" Iya sayang anak kita " iya memeluk kedua makhluk yang sangat berharga itu.Tangan kekarnya mengelus pipi bayi merah kini menyusu. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan dalam hatinya, yang jelas perasaan bahagia itu benar benar iya rasakan.
Sementara di belahan dunia lain tepatnya di rumah sakit terlihat terjadi ketegangan yang begitu mencekam. Terutama bagi seorang wanita yang kira kira berumur 45 tahunan.
Lain halnya dengan wanita kecil yang kini berada diruang operasi yang sedang mempertaruhkan nyawa untuk kehidupan lain yang akan segera hadir di dunia, walau sebenarnya waktu yang diperkirakan tidak sesuai.
Anak yang seharusnya iya lahirkan dua bulan lagi, dengan terpaksa harus dikeluarkan diusianya yang masih tujuh bulan dalam perut ibunya.
__ADS_1
Satu jam, dua jam terlewatkan. Tapi tak ada tanda tanda operasi telah berhasil di lakukan.
" Ya Allah apa yang terjadi dengan anakku? " Gumamnya dengan sangat khawatir mengenai anak dan cucunya yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana.
Air matanya tak terasa lolos begitu saja. Perih menerima kenyataan bahwa gadis kecil yang sudah iya anggap anak itu sekarang berada di antara hidup dan mati.
Ceklek
Pintu ruang operasi terbuka, terlihat dokter yang masih lengkap menggunakan baju operasi itu berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang terlihat begitu lelah.
" Dokter bagaimana dengan anak dan cucu saya ? " Tanyanya sambil menangis.
" Alhamdulillah cucu ibu sehat dan lahir tanpa kekurangan apapun, walau belum waktunya untuk dilahirkan tapi semuanya Alhamdulillah baik baik saja "Jelas dokter itu.
Jelas saja terpancar kebahagian di raut wajah wanita yang sedang menunggu itu tapi secepat kilat raut wajahnya berubah.
" Lalu anak saya bagaimana dokter? "
" Maaf Bu, tapi kondisi anak ibu tidak baik. Diusianya yang tergolong masih sangat mudah dan ditambah lagi usia kandungannya yang masih tujuh bulan membuat tubuhnya tak mampu untuk menerima semua yang terjadi " Mendengar itu membuat wanita itu semakin menangis.
" Dengan berat hati saya mengatakan anak ibu koma, dan tidak ada yang tahu kapan iya bisa bangun. Hanya keajaiban dari sang pencipta lah yang bisa membangunkannya " Tubuh itu telah lirih kelantai, tubuh nya seakan akan tak bertulang. Air mata terus saja menderai begitu saja.
" Bolehkah? saya menemui anak saya dok? "
" Untuk saat ini ibu belum bisa menemuinya " imbuhnya " Sebaiknya ibu melihat cucu ibu dulu di ruang bayi " Jelas dokter.
Dengan langkah gontai iya melangkahkan kakinya ke ruang khusus bayi.
Tak lama iya melihat bayi yang masih sangat merah tertidur pulas dengan tenangnya. Hatinya bertambah gusar melihat bayi sekecil itu lahir tanpa seseorang yang sangat utama dalam hidup.
" Nak! kita sama sama mendoakan ibu ya sayang, agar ibu bisa cepat bangun " katanya dengan terisak.
Dia mengangkat bayi itu lalu mendekapnya dengan begitu cinta.
" Nenek janji akan menjagamu dengan baik. Itu janji nenek sayang "
" Dan semoga saja ibumu cepat bangun nak " Ujarnya lalu mencium pipi bayi mungil itu.
Putri anakku cepatlah bangun sayang, bayi mungilmu membutuhkanmu.
__ADS_1