Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Tamu Sahla


__ADS_3

Setibanya Bima dan Sahla di rumah, setelah bermalam di perkemahan. Mereka dikejutkan dengan seorang lelaki yang sedang duduk di teras rumah Bima. Bima dan Sahla saling pandang, karena tak mengenali lelaki tersebut. Masker dan topi menutupi wajahnya. Penampilan seperti itu membuatnya sulit untuk langsung dikenali oleh Bima dan Sahla. 


Namun ada satu hal yang langsung dikenali oleh Sahla, yaitu sebuah tas yang cukup besar yang ada di sisinya. Sahla sangat terkejut, karena tas tersebut adalah tas miliknya yang ada di perantauan. Ia sudah meminta tolong teman sekamarnya untuk mengirimkan barang-barang pribadinya lewat jasa pengiriman.


"Siapa dia Dek ? Kamu kenal ?" Tanya Bima setelah turun dari motor. Namun pertanyaannya tidak kunjung dijawab oleh Sahla. Sahla yang masih terkejut, bahkan saking terkejutnya sampai mengabaikan pertanyaan Bima, langsung mempercepat laju jalannya menghampiri lelaki tersebut. 


Melihat Sahla sudah berjalan mendahuluinya, Bima pun langsung menyusul Sahla.


"Hai, Sahla." Sapa lelaki tersebut. Ia pun langsung membuka topi dan maskernya.


"Pak Juna. Bagaimana Bapak bisa ada di sini?" Tanya Sahla, ekspresi wajahnya tak bisa membohongi kalau ia benar-benar terkejut dengan kedatangannya.


Belum sempat Pak Juna menjawab. Bima sudah terlebih dahulu bertanya.


"Siapa dia Dek ?"


"Oh iya, kenalin Kak, ini Pak Juna atasanku. Dan ini suamiku, Kak Bima." Ucap Sahla.


Mereka pun saling berjabat tangan.


"Silahkan duduk." Bima mempersilahkan Juna untuk duduk. Lalu ketiganya duduk bersama, dan Bima duduk di antara keduanya.


"Kalau boleh tahu, ada keperluan apa sampai jauh-jauh datang kemari ?" Tanya Bima.


"Maaf sebelumnya, jika kedatangan saya mengejutkan kalian berdua."


"Saya mau bertemu Sahla, karyawan saya. Ada urusan yang belum saya selesaikan dengannya."


Bima langsung menatap Sahla yang dari tadi hanya menunduk.


"Dek ?" Panggil Bima pada Sahla. Namun yang dipanggil hanya diam saja, tak menanggapi sama sekali.


"Kalau diizinkan, saya ingin berbicara empat mata dengan Sahla," lanjut Juna.


Sekali lagi Bima manatap Sahla. Sahla pun tak kalah terkejutnya.


"Baiklah. Selesaikan secepat mungkin. Setelah itu, pergilah." Bima beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya. Hatinya sedang bergejolak, antara marah dan cemburu. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak ingin terlalu mengekang istrinya.


Setelah Bima pergi, kini tinggal Juna dan Sahla. Mereka masih saling diam.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini ?" Tanya Juna.


 


Sahla masih menunduk, tangannya sibuk memilin kerudung yang menjuntai sampai pangkuannya.


"Kamu benar-benar tak menganggapku ada," lanjut Juna.


"Maaf, aku tak mengabari sebelumnya."


Juna tersenyum sinis. "Lalu kenapa kamu membuatku menunggu jika sudah ada dia di hatimu ?"


Sahla menggeleng. " Tidak, bukan seperti itu, dia orang yang baru kukenal."


"Kamu lebih memilih orang yang baru kamu kenal dibanding aku yang sudah lama menunggumu ?"


"Kita jauh berbeda."

__ADS_1


"Perbedaan bukan alasan untuk tak bersatu."


"Tapi orang tuamu tak merestui."


"Kita bahkan belum memperjuangkannya."


"Aku tidak ingin menjadi penyebab seorang anak durhaka pada ibunya."


Juna menghela nafas. "Beri aku alasan, kenapa kamu lebih memilih dia ?"


"Aku memilih dia karena kami sepadan, keluarga kami saling mendukung. Sedangkan denganmu, terlalu jauh untuk kujangkau."


Juna menggelengkan kepalanya, tak terima dengan ucapan Sahla barusan. "Bukan aku yang sulit dijangkau, tapi dirimu sendiri yang tidak mau menjangkauku."


"Aku hanya sadar diri saja. Lebih baik mundur ketika tak diharapkan. Dari pada memaksakan, yang pada akhirnya akan saling menyakiti."


"Kamu tak memikirkan perasaanku ?"


Sahla menatap Juna. "Kamu sendiri bagaimana ? Apakah memikirkan perasaanku ? Memikirkan perasaan orang tuamu juga ?" Sahla menggeleng. "Tidak, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri."


Juna terdiam. Tertampar oleh perkataan Sahla.


"Menikah bukan hanya tentang aku dan kamu. Tapi tentang keluargaku dan keluargamu. Dan keluargamu tak mau menerimaku. Lalu aku bisa apa ? Aku bukan Tuhan yang bisa dengan mudahnya membolak balikan hati manusia. Aku hanya wanita biasa yang bisa kapan saja terluka dan terpuruk oleh perlakuan keluargamu. Aku tak sekuat itu, Juna."


"Sahla, maafkan aku. Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Ternyata aku sangat egois, hanya memikirkan diriku saja. Memang aku tidak pantas untuk dicintai."


"Jangan seperti itu. Kamu pasti akan menemukan wanita yang lebih baik dariku. Yang bisa mencintaimu dan tentunya bisa diterima oleh keluargamu."


"Terima kasih Sahla. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Meski berat, aku akan menerima keputusanmu ini. Terima kasih, karena telah menghadirkan cinta di sini," ucap Juna sembari menunjuk pada dadanya. "Meski ternyata cinta ini bertepuk sebelah tangan," lanjutnya lagi.


"Benar apa yang kamu ucapkan, Sahla."


"Baiklah. Aku pamit. Semoga kamu bahagia dengan takdirmu."


"Aamiin. Terima kasih Pak Juna telah mengantarkan barang-barangku.


"Tak masalah. Bukan sesuatu yang berat."


Setelah kepergian Juna, Sahla menyusul suaminya ke kamar dengan menuntun tas miliknya yang barusan diantar oleh Juna. Ternyata Bima sedang terbaring dengan tangan menutup mata. Entah tidur atau hanya pura-pura saja. Perlahan, Sahla mendekati Bima dan duduk di samping Bima.


"Kak, tidur ya." Bisik Sahla. Tak ada tanggapan dari Bima. Apakah Kak Bima benar-benar tidur ? Padahal masih terlalu pagi untuk tidur siang. Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 10 pagi.


"Sudah ngobrol berduanya ?" Ucap Bima tiba-tiba tanpa merubah posisi tidurnya.


"Iya, barusan Pak Juna  pamit pulang."


"Atasanmu ganteng ya, pasti betah kerja dengannya."


"Apaan sih Kak."


"Ada apa sampai mencarimu kesini ?"


"Tidak ada apa-apa. Bukan sesuatu yang penting.


"Jika tidak penting, dia tak akan mencarimu sampai ke rumah."


Sahla terdiam. Ia tidak mau bercerita, karena memang bukan sesuatu yang penting bagi hidupnya.

__ADS_1


"Tidak mau cerita ?" Tanga Bima lagi.


"Kita hanya meluruskan kesalahpahaman saja."


"Aku tak percaya."


Sahla menghela napas. "Dia hanya masa lalu saja, Kak. Bukan sesuatu yang penting yang harus diceritakan."


"Baiklah, aku percaya."


"Kakak cemburu ?"


"Tidak. Mana ada aku cemburu."


Sahla malah mencibirnya. "Masa? Kenapa ngomongnya ketus gitu ?"


"Baiklah. Kakak memang cemburu."


"Kalau cemburu, kenapa membiarkan istrimu duduk berdua dengan laki-laki lain ?"


"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi."


Sahla mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu." Lalu Sahla bangkit, tapi ternyata Bima menahannya.


"Apa sekarang kamu sudah lega?" Tanya Bima.


"Katanya tak usah dibahas lagi ?"


"Aku hanya penasaran saja."


"Hmm… bagaimana ya ?"


Bima menatap Sahla, menunggu jawabannya.


"Setidaknya sekarang aku semakin yakin, bahwa keputusanku ini tidak salah."


"Keputusan apa ?" Tanya Bima.


"Keputusan menikah dengan Kakak. Aku tidak akan pernah menyesalinya, karena ini adalah takdirku. Takdir yang harus aku jalankan."


"Jangan berlebihan seperti itu."


"Kenapa ?"


"Aku takut suatu saat nanti akan menyakitimu." Ucap Bima dalam hati. Mengingat kelakuannya yang jauh dari kata baik selama hidup di perantauan.


"Kok malah bengong ?"


"Tidak apa-apa. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Tapi, jika suatu saat aku khilaf, aku mohon sadarkanlah aku dan jangan tinggalkan aku."


"Kakak ngomong apaan sih ? Sepertinya ada niat untuk berbuat jahat padaku."


"Manusia tempatnya salah dan khilaf, Dek. Kita juga tidak tahu ujian rumah tangga kita akan seperti apa."


Sahla mengangguk. "Baiklah, aku paham. Kita akan sama-sama berjuang."


"Terima kasih. Bersamamu adalah awal baru hidupku." Bima menarik Sahla ke dalam pelukannya. 

__ADS_1


__ADS_2