
"Neng, kamu mau tinggal disini ?" Tanya Bima memecah keheningan di antara mereka berdua. Bima dan Sahla, kini sedang berada di kamar Bima. Ini adalah malam kedua bagi mereka.
"Sahla nurut aja, Kak." Sahla terlihat salah tingkah. Rasa canggung masih menguasai hati keduanya. Sahla duduk di kursi, sementara Bima duduk di tepi ranjang.
Bima mengangguk, "Baiklah, bagaimana dengan pekerjaanmu ?"
"Sahla gimana Kak Bima aja."
"Hmm… Kalau Kakak suruh berhenti kerja gimana ?"
"Tidak apa-apa, Sahla nurut. Benar apa yang dikatakan Ibu, seorang istri tempatnya di rumah."
"Kamu gak takut hidup susah ? Apalagi Kakak sekarang belum bekerja."
"Aku percaya Kakak akan menafkahiku sebaik mungkin."
Bima terdiam. Hening kembali.
"Baiklah. Sudah malam, kita tidur saja," ucap Bima.
Sahla menurut. Ia bangkit dari duduknya, dan naik ke atas ranjang. Sahla berbaring di sisi ranjang dekat dinding, dan Bima di sisi sebelahnya. Di antara mereka ada sebuah guling.
Sebenarnya Bima menginginkan Sahla malam ini. Namun Sahla masih terlihat tidak nyaman dengannya, ia urungkan. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang egois, yang hanya mementingkan kesenangannya sendiri. Sebisa mungkin menahan diri sampai Sahla bisa menerima kehadiran dirinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tapi Bima tak bisa memejamkan matanya. Begitu pun dengan Sahla.
"Sahla…" panggil Bima. Yang dipanggil hanya terdiam, pura-pura tidur.
"Aku tahu kamu belum tidur." Bima bangun dari posisi tidurnya lalu duduk dan bersandar pada papan yang ada di bagian atas kasur.
Sahla membuka matanya. "Iya Kak. Ada apa ?"
"Aku tahu kamu tidak bisa tidur, karena suasana yang canggung ini. Aku pun begitu. Kita masih belum terbiasa satu sama lain," ucap Bima. Sahla masih tak bergeming.
"Duduklah. Lebih baik kita ngobrol, biar lebih akrab," lanjut Bima.
Sahla menurut, ia bangun lalu duduk berjajar dengan Bima. Tapi tetap masih ada jarak di antara mereka. Karena Sahla sedikit mepet pada dinding.
"Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama menggangguku?" Tanya Bima.
"Pertanyaan apa Kak?"
"Kenapa kamu mau menikah denganku? Padahal kita baru bertemu sekali ?"
Sahla menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Mungkin karena Kakak anaknya Bi Ratih, teman dekat Ibu."
Bima mengangguk. "Emangnya kamu tidak punya lelaki yang disukai atau pacar di tempat kerjamu?"
Sahla terdiam cukup lama. Lalu menggelengkan kepalanya lagi.
"Kakak sendiri bagaimana ?" Tanya Sahla.
"Sepertinya kita punya alasan yang sama untuk menikah."
__ADS_1
Kembali keduanya terdiam.
"Hmm… Bolehkan …" setelah cukup lama terdiam, Bima kembali membuka suara. Namun Bima tak melanjutkan ucapannya, karena melihat Sahla yang ternyata sudah tidur dengan kepala bersandar pada dinding.
Bima tersenyum. "Baiklah, mari kita tidur. Mungkin belum saatnya." Ucapanya pada diri sendiri.
Lalu membangunkan Sahla dengan pelan agar membenarkan posisi tidurnya. Setelah memastikan Sahla tertidur kembali, kini Bima pun memejamkan matanya.
Pagi hari, setelah mereka sarapan. Bima lekas pergi ke suatu tempat seorang diri.
"Pergi kemana Neng, suamimu ?" Tanya Bu Ratih.
"Nggak tahu Bu. Kak Bima tidak bilang apa-apa."
Bu Ratih mengangguk.
"Bu, boleh Sahla ajakin Dila keluar ?"
"Kemana Neng ?"
"Di depan rumah aja Bu."
"Baiklah, jika itu tidak merepotkanmu."
"Tentu saja tidak Bu."
Dengan riang Sahla masuk ke kamar Dila.
"Hai Dila. Seperti janjiku kemarin. Aku akan ajak kamu ke depan rumah. Sekalian kita berjemur, cahaya matahari pagi bagus buat tubuh kita." Ucap Sahla. Lalu menggandeng tangan Dila sampai ke teras rumah. Matahari yang menyorot langsung ke arah mereka, membuat mata mereka silau. Dila yang sudah lama tak keluar dari kamarnya, refleks mengahalanginya dengan tangan. Keengganannya berinteraksi dengan dunia luar, membuatnya lebih memilih berdiam diri di kamar. Hingga datang Sahla yang ternyata membuatnya nyaman, karena Sahla memperlakukannya seperti seorang teman, bukan seorang pesakitan.
"Aku senang sekarang kita sudah menjadi keluarga. Aku berharap kamu mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Kita bisa lebih banyak waktu bersama." Ucap Sahla. Dila terdiam, masih sama seperti sebelumnya, tak pernah merespon seseorang yang berbicara padanya meskipun sebenarnya ia mendengar dan memahami apa yang dibicarakan.
Sahla tersenyum lalu menggenggam hangat tangan Dila. "Sekarang aku sudah menjadi Kakak iparmu, tapi aku berharap kamu tak menganggapku Kakak. Anggaplah sebagai sahabatmu. Aku lebih senang jika kamu mau menganggapku sahabat daripada Kakak."
Dila melirik ke arah Sahla, tapi Sahla tak menyadarinya. Ia tetap fokus memandang lurus ke depan. Ada haru yang Dila rasakan. Namun ia tak mau mengekspresikannya.
Tak berapa lama terlihat Bima datang dengan mengendarai sepeda motor. Membuat Sahla mengernyitkan dahi.
"Bentar ya, Dila. Kakakmu datang dengan membawa motor. Sangat mengejutkan." Ucapnya, lalu berdiri dan menyambut kedatangan Bima.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam," jawab Sahla sembari menyalami Bima. "Motor siapa Kak ?"
"Motor kita. Bagaimana menurutmu ?"
Sahla mengamati motor yang dibawa Bima.
"Motor bekas, tapi masih bagus. Baru setahun dipakainya," lanjut Bima.
Sahla mengangguk.
"Kakak pikir, kita membutuhkannya. Biar lebih gampang kemana-mana."
__ADS_1
"Iya Kak. Gimana baiknya aja," ucap Sahla.
Lalu Bima menghampiri Dila dan duduk di sampingnya. "Lain kali kita jalan-jalan ya, hanya berdua saja." Ucap Bima pelan, namun begitu masih terdengar jelas di telinga Sahla. Dan Sahla hanya tersenyum penuh haru, karena melihat betapa besarnya cinta seorang Kakak pada adiknya.
Tak ingin mengganggu, Sahla masuk ke dalam untuk membuatkan Bima secangkir kopi.
"Ada tamu siapa Neng di luar ?" Tanya Bu Retno setibanya Sahla di dapur.
"Nggak ada tamu yang datang Bu." Jawabnya sambil menyeduh kopi.
"Itu tadi ada suara motor berhenti di depan rumah ? Terus itu bikin minum juga buat siapa ?"
"Kak Bima Bu yang pulang, bawa motor. Ini kopi buat Kak Bima."
Bu Ratih mengernyitkan dahi. "Bawa motor ?" Tanyanya heran.
"Iya Bu. Ayo ke depan." Ajak Sahla. Lalu mereka berdua berjalan ke depan. Tak lupa Sahla membawa kopi untuk suaminya.
"Ini Kak kopinya." Ucap Sahla sambil meletakkan kopi di atas meja yang ada di depan Bima.
"Makasih Neng."
"Kamu beli motor, Bim?" Tanya Bu Retno setelah mengamati sejenak motor yang dibawa Bima.
"Iya Bu. Biar gampang kemana-mananya."
Bu Ratih mengangguk.
"Rencananya, Bima ingin sewa toko di pinggir jalan besar Bu. Jadi biar gampang pulang perginya."
"Emangnya kamu mau buka toko apa, Nak ?"
"Belum pasti Bu, mau cari lokasinya dulu. Nanti baru dipikirkan kira-kira yang cocoknya apa."
"Ibu doain semuanya lancar."
"Aamiin." Lalu Bu Ratih kembali masuk ke dalam rumah.
"Neng, ayo ikut. Kita cari lokasinya."
"Sekarang Kak ?"
"Iya. Lebih cepat lebih baik."
"Sahla siap-siap dulu ya." Sahla masuk ke kamarnya, untuk berganti baju.
"La, kamu mau ke kamar ?" Tanya Bima pada Dila. Dan Dila masih dalam diamnya.
"Ayo, Kakak antar." Bima menggandeng tangan Dila, membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Udah siap?" Tanya Bima setelah melihat Sahla keluar dari kamarnya. Sahla hanya mengangguk.
"Bu, Bima sama Sahla keluar dulu." Pamit Bima.
__ADS_1
"Iya, hati-hati di jalan."