
Kumandang adzan subuh bergema ke seluruh langit dan bumi. Membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap dalam buaian mimpi. Termasuk Bima yang samar-samar terdengar suara adzan subuh. Bima mengerjapkan matanya berkali-kali. Mencoba mengumpulkan jiwanya yang masih belum tersadar sepenuhnya. Tangan kirinya terasa kebas, setelah dilihat ternyata ada kepala yang menjadikan tangannya sebagai bantal. Perlahan Bima menggeser kepala tersebut, agar tangannya bisa terbebas.
Bima mencoba bangun. Kepalanya masih terasa berat. Ia mencoba memijat kepalanya, berharap sedikit meringankan sakit kepalanya.
"Dek. Bangun." Ucap Bima perlahan, sambil mengguncang tubuh yang ada di sampingnya.
"Kamu sudah bangun ?"
Bima tersentak mendengar suara perempuan yang ada di sampingnya. Karena suaranya berbeda dengan suara istrinya. Seketika rasa pusingnya teralihkan oleh rasa penasarannya.
Bima menoleh ke arah samping. "Ma… Marisa ?" Ucap Bima gagap saking terkejutnya.
"Kenapa kaget begitu ?" Tanya Marisa.
Bima semakin kaget setelah ia benar-benar sadar bahwa dirinya dan Marisa tak berbusana sama sekali. Hanya sehelai selimut yang menutupi mereka berdua.
"Kenapa?" Tanya Marisa lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?"
"Hmmm… menurutmu apa ?" Tanya balik Marisa.
"Katakan yang sebenarnya! Apa yang telah terjadi tadi malam?" Bentak Bima.
"Kamu sungguh tidak ingat ?"
"Jika aku ingat, mana mungkin bertanya padamu ?"
Marisa tertawa. "Jangan marah begitu. Bukankah kamu juga menikmati malam kita berdua ?"
Bima mengernyitkan dahi. "Aku tidak percaya kita melakukannya."
"Bahkan aku masih ingat rasanya saat kulit kita saling bersentuhan." Marisa menge**p pipi Bima. "Seperti ini." Lanjutnya sambil tersenyum.
Bima sangat terkejut dengan apa yang Marisa perbuat. "Apa-apaan kamu!" Bima tak terima dengan perlakuan Marisa.
Bima menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh Marisa. Ia sudah tak peduli lagi auratnya terlihat oleh Marisa. Yang ada dipikirannya hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini. Secepat mungkin memakai kembali pakaiannya yang tergeletak begitu saja di lantai.
"Tidak baik meninggalkan wanita begitu saja setelah apa yang terjadi tadi malam." Ucap Marisa. Bima tak merespon ucapan Marisa.
"Aku yakin kamu akan kembali menemuiku."
"Tidak akan pernah!"
"Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi… Apa kamu yakin akan pulang dengan wajah seperti itu ?"
__ADS_1
Bima mengernyitkan dahi. "Memang kenapa dengan wajahku ?" Tanyanya dalam hati.
Marisa tersenyum sinis. "Lebih baik kamu membersihkan wajahmu dulu sebelum keluar dari sini."
Bima terdiam. Ia tidak ingin mempercayai omongan Marisa. Lalu tanpa berkata apa-apa, Bima keluar kamar meninggalkan Marisa sendirian.
Marisa tersenyum. "Kita lihat, seberapa cepat kamu kembali."
Suara deru motor terdengar jelas lalu semakin mengecil hingga tak terdengar lagi di telinga Marisa. Ia pun melanjutkan kembali tidurnya.
Bima terus melajukan motornya dengan cukup kencang. Namun bukan arah pulang yang ia tuju, melainkan arah menuju warung.
Tiba di depan warung, ternyata warungnya sudah terbuka. Dan terlihat Ari sedang menyapu teras depan. Melihat Bima turun dari motor, Ari menghentikan kegiatan menyapunya.
"Bim…" panggil Ari.
Namun Bima masuk begitu saja tanpa menyapa kembali Ari. Dan membuat Ari mengernyitkan dahi.
"Kenapa Bima?" Ari mengedikkan bahunya, lalu kembali melanjutkan kegiatan menyapunya.
Bima melepaskan helm yang sedari tadi ia pakai. Lalu ia buru-buru masuk ke kamar mandi.
"Bren***k!" Umpat Bima, ketika melihat dirinya di cermin. Ternyata apa yang Marisa bilang tentang wajahnya, benar adanya. Beberapa gambar berbentuk bibir berwarna merah terpampang jelas di wajahnya. Sangat memalukan.
Cukup lama Bima berada di kamar mandi. Mengguyur dan menggosok tubuhnya beberapa kali.
Tok… Tok… Tok…
"Bim! Bima!" Panggil Ari dari luar setelah sebelumnya mengetuk pintu kamar mandi.
Bima terdiam mendengar panggilan dari Ari.
"Bima! Ngapain di kamar mandi lama-lama ?" Agak kencang Ari bertanya pada Bima.
"Ayo buruan! Aku sudah tak tahan lagi ingin buang air." Lanjut Ari.
Mendengar Ari berkata seperti itu, Bima menyudahi mandinya. Ia menyambar handuk dan melilitkannya di pinggang. Ia lupa untuk membawa baju ganti ke kamar mandi karena ingin bersegera membersihkan diri.
"Lama betul Bim mandinya ?" Tanya Ari setelah Bima keluar dari kamar mandi. Namun Bima tak menjawab pertanyaan Ari. Bima berjalan begitu saja melewatinya. Ari yang sudah tak tahan lagi tak menghiraukan Bima yang seperti itu.
Bima segera memakai baju yang memang sengaja disimpan di warung. Tak lupa Bima menunaikan sholat subuh walaupun waktunya sudah hampir habis.
Setelah selesai menunaikan kewajibannya. Bima mengambil Hp dari dalam tas yang selalu ia bawa. Ia heran, karena tak terdengar satu pun panggilan atau pesan yang masuk ke Hp nya, padahal seingatnya tadi malam hpnya dalam keadaan full baterai.
"Kok mati ?" Gumamnya. Bima mencoba menghidupkan Hpnya yang mati. Hp menyala. Beberapa notifikasi pesan dan panggilan masuk bersamaan. Bima membuka aplikasi pesan yang berwarna hijau. Lalu membuka pesan dari sang istri. Seketika mata Bima membelalak membaca isi chat di dalamnya.
__ADS_1
Sebuah foto dirinya dan Marisa yang sedang tidur bersama dalam satu selimut dengan pesan "Jangan tunggu aku pulang. Tidurlah duluan".
Bima terlihat sangat marah. "Pasti ini ulah Marisa," pikirnya. Bima beranjak dari duduknya, menyambar tas dan memasukan Hp ke dalamnya. Lalu bergegas keluar dari warung. Pikirannya tertuju pada istrinya. Ia sangat khawatir dengan keadaannya setelah menerima pesan seperti itu. Bima benar-benar sangat frustasi.
Tak butuh waktu lama, Bima akhirnya sampai di rumahnya. Ia buru-buru masuk menuju kamarnya.
Tok… Tok… Tok…
"Neng… Neng Sahla. Buka pintu, Nak!" Panggil Bu Ratih di depan kamar Bima dan Sahla.
Bima melihat pemandangan itu, semakin takut dengan keadaan istrinya.
"Kenapa Bu ?"
"Duh Bima, untung kamu datang. Cepat bujuk istrimu! Dari tadi Ibu panggil-panggil tidak mau menyahut."
"Memangnya kenapa Bu ?"
"Ibu juga gak tahu. Dari semalam Ibu denger Neng Sahla nangis. Ibu mau tanya, tapi gak mau bukain pintunya."
Mendengar penjelasan Ibunya, pikiran Bima bertambah kalut. Bima menempelkan telinganya di daun pintu. Terdengar samar-samar suara tangis dari dalam. Bima semakin tak karuan.
"Dek! Ini Kakak. Tolong buka pintunya." Dengan menahan tangis Bima mencoba membujuk Sahla.
"Dek! Ini tak seperti yang kamu duga. Kakak dijebak!"
Bu Ratih mengernyitkan dahi mendengar penuturan anaknya.
"Dijebak apa Bima ? Sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya Bu Ratih.
Bima menghela nafas. "Bima juga tidak tahu Bu." Ucapnya.
Bu Ratih semakin tak mengerti. "Semalam kamu tidak pulang? Kalian bertengkar ?" Tanya Bu Ratih lagi yang semakin penasaran.
"Tidak Bu. Kita baik-baik saja." Jawab Bima. "Sebelum insiden tadi malam terjadi." Lanjut Bima dalam hati. Ia tidak mungkin menceritakan kejadian yang dialaminya semalam.
"Dek! Kakak mohon, buka pintunya. Kakak mau menjelaskan semuanya." Bima kembali membujuk Sahla yang masih tidak mau membukakan pintu.
"Jika kalian tidak bertengkar, kenapa istrimu mengunci diri di kamar dan menangis ?" Kembali Bu Ratih memberikan pertanyaan yang semakin membuat Bima tak karuan.
Bima kembali menghela nafas, meredam segala emosi yang seakan ingin menyeruak ke luar. Dengan lembut, Bima berkata pada Ibunya, "Bu, Bima mohon. Tolong bantu Bima bujuk Sahla keluar, Bima ingin menjelaskan sesuatu padanya. Nanti Bima akan cerita juga pada Ibu apa yang tengah terjadi."
Ceklek. Suara pintu terbuka dari dalam.
"Dek."
__ADS_1