
"Neng! Kamu kenapa lagi ?"
Bu Marni menghampiri Sahla di dalam kamarnya, setelah kepergian Bima.
"Kamu masih marah sama suamimu ? Suamimu sudah terbukti tidak bersalah."
"Sahla masih belum bisa melupakan video itu." Jawabnya lirih di tengah isak tangisnya.
Bu Marni menghela nafas. Ia mengerti bagaimana perasaan anaknya. Namun ia juga harus bersikap realistis.
"Neng! Itu adalah sebuah kecelakaan. Dan Bima juga tidak menginginkannya." Ucap Bu Marni dengan lembut sembari mengusap kepala Sahla.
"Ibu tahu kamu menderita, tapi Bima lebih menderita. Dia mungkin merasa j*j*k pada dirinya sendiri karena telah berbuat z**a tanpa ia sadari."
"Dia butuh dukunganmu, Neng! Jangan biarkan dia merasa sendiri menghadapi musibah ini. Lagi pula, penyebab dari semua ini kan kamu, Neng!"
"Kok aku sih, Bu ?"
"Kan laki-laki itu dendam karena ditolak sama kamu, dan ternyata kamu malah menikah sama temennya sendiri. Gimana dia gak sakit hati ?" Bu Marni malah memojokkan Sahla. Sengaja ia lakukan agar Sahla tidak menyudutkan suaminya dan akhirnya mau memaafkan suaminya.
Melihat anaknya merengut, Bu Marni tersenyum. Ia yakin dengan cara itu, Sahla mau memaafkan Bima. "Ya sudah! Kamu istirahatlah." Kemudian Bu Marni bangkit dan keluar dari kamar Sahla.
Sahla merenungkan semua perkataan Ibunya. "Benar apa yang dikatakan Ibu. Tapi… Aaa." Sahla berteriak namun suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan ?"
***
Bima terbangun saat adzan subuh berkumandang. Matanya terlihat sayu, menandakan bahwa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus mengembara pada istri dan temannya.
"Jadi apa rencanamu sekarang ?" Tanya Bu Ratih saat mereka sedang menyantap sarapan pagi. Sepulangnya dari rumah Sahla, Bima menceritakan semua kejadian di rumah tersebut. Bu Ratih merasa kasihan terhadap anaknya, mendapatkan ujian rumah tangga seberat ini.
"Bima mau ke warung dulu, Bu."
Bu Ratih hanya mengangguk. Setelah menyelesaikan sarapannya. Bima segera mengeluarkan motornya dan pergi ke warung.
"Tutup! Tentu saja tutup, mana berani dia kembali lagi kesini." Lirih Bima, saat tiba di warung dan mendapati warung dalam keadaan terkunci. Bima lalu memutar kembali motornya. Ia ingin mencari tukang ahli kunci.
"Bima!" Suara Bapak-bapak mengurungkan Bima yang hendak pergi.
"Eh, Pak Rudi." Bima lalu menyalami Pak Rudi yang memang lebih tua darinya. Mungkin dilihat dari wajahnya, seusia dengan ayah Bima.
"Kamu kok gak bilang-bilang mau pindah ? Memangnya disini kenapa ? Bukannya warungnya ramai ?" Bertubi-tubi Pak Rudi memberikan pertanyaan kepada Bima.
Bima tentu saja bingung dengan pertanyaan Pak Rudi.
"Pindah ? Saya gak ada niat pindah warung Pak ?"
"Lho! Tadi malam si Ari bilang mau pindah warung. Semua barang-barangnya diangkut semua."
"Apa?!!"
__ADS_1
"Kamu ?" Pak Rudi heran dengan respon yang diberikan Bima yang seolah-olah tidak tahu. "Tunggu-tunggu… kamu tidak menyuruh Ari buat mindahin semua barang-barangnya?"
Bima menggeleng, "tidak. Memangnya jam berapa Ari memindahkan barang-barangnya, Pak?"
"Tengah malam. Kebetulan Bapak belum tidur, dan terdengar di luar sangat berisik. Jadi Bapak keluar untuk melihatnya. Dan ternyata Ari sedang mengangkut semua isi warung ke dalam mobil pick up."
"Bapak tidak menegurnya ?"
"Tentu saja Bapak tanya sama Ari, dan Bapak percaya-percaya saja."
Bima menghela nafas panjang. "Pak boleh pinjem sesuatu buat mendongkel kunci warung ?"
"Tentu saja, Bapak ambilkan dulu ya."
Tak berapa lama, Pak Rudi kembali dengan sebuah linggis kecil di tangannya.
"Pakai ini saja, ya ?" Pak Rudi menyerahkan linggis tersebut kepada Bima.
"Terima kasih, Pak." Bima lalu memukulkan linggis ke gembok warung. Hanya butuh dua hentakkan, gembok pun terlepas.
"Astaghfirullah…" ucap Bima lirih. Seketika lututnya lemas setelah melihat keadaan warungnya yang telah kosong.
"Ya Allah… ini namanya perampokan Bim." Pak Rudi merasa kasihan melihat Bima. Lalu mengajak Bima duduk di bangku depan warung.
"Duduklah dulu. Bapak ambilkan minum."
Bima tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya seperti berhenti begitu saja. Satu masalah belum selesai, kini datang masalah baru. Bima menunduk, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tega sekali tuh orang, sudah dikasih kerjaan malah ngerampok."
"Kayaknya minta kerjaan cuma modus aja, niat aslinya buat ngerampok."
"Kasihan sekali Bima ya, baru beberapa bulan buka warung sudah mengalami perampokan seperti ini. Sama karyawannya lagi."
Kasak kusuk pembicaraan warga yang melihat warung terdengar bagaikan dengungan lebah bagi Bima. Kepalanya mendadak pusing. Ia mencoba memijit pelipisnya untuk meringankan rasa pusingnya.
"Istirahat di rumah Bapak dulu, Bim. Jangan memaksakan pulang sekarang sebelum keadaanmu stabil."
Bima menggeleng. "Saya mau pulang saja, Pak!"
Pak Rudi tak kuasa melarang Bima untuk pulang, walaupun ia mengkhawatirkan keadaan Bima yang terlihat seperti orang yang linglung.
"Baiklah! Tapi jangan pulang sendiri, biar nanti diantar saja."
"Tidak apa-apa, saya pulang sendiri saja."
"Tidak Bima. Bapak khawatir terjadi apa-apa di jalan."
"Baiklah."
__ADS_1
Lalu Pak Rudi meminta dua orang laki-laki yang ada di sana untuk mengantarkan Bima pulang. Satu orang untuk membonceng Bima, dan yang lainnya untuk membawakan motor Bima.
"Jika kamu mau melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib, Bapak siap jadi saksinya." Ucap Pak Rudi sebelum Bima pulang.
"Terima kasih banyak, Pak. Sudah mau membantu."
"Sama-sama. Jangan sungkan begitu."
Bima pun mengangguk.
"Terima kasih A sudah mau mengantarkan saya." Ucap Bima saat tiba di rumahnya.
"Sama-sama. Kami pulang dulu. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan ya."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Bu Ratih keluar dari rumah, setelah mendengar deru motor berhenti di depan rumahnya.
"Siapa mereka Bim ? Kok gak disuruh masuk dulu ?" Tanya Bu Ratih.
Namun tiba-tiba saja Bima berlutut dan memeluk kaki Ibunya. Bima pun tak kuasa menahan tangisnya.
"Bu, maafkan Bima. Bima belum bisa menjadi anak yang baik buat Ibu."
Bu Ratih sangat terkejut dengan tingkah Bima yang begitu tiba-tiba.
"Bima, bangun! Kenapa begini ? Apa yang telah terjadi ?"
"Mungkin semua ini adalah akibat dari dosa-dosa Bima."
"Maksud kamu apa ? Ibu tidak mengerti."
Bima semakin erat memeluk kaki Ibunya.
"Bima. Bangun dulu ya, kita masuk. Malu dilihat tetangga."
Bima pun menurut. Ia bangun dan berjalan bersama Ibunya ke dalam rumah.
"Duduklah. Ibu ambilkan minum dulu."
Tak lama Bu Ratih kembali dengan segelas air hangat di tangannya.
"Minumlah." Bu Ratih menyodorkan gelas tersebut kepada Bima.
Bima menggeleng. Karena Bima menolak, Bu Ratih meletakkannya di atas meja.
Bu Ratih membiarkan Bima hanyut dalam tangisnya. Meskipun dalam hatinya, ia sangat penasaran dengan apa yang dialami Bima sampai menangis seperti ini.
"Jadi, apa yang telah terjadi ?" Tanya Bu Ratih setelah melihat Bima terlihat lebih tenang.
__ADS_1
"Ari telah merampok semua isi warung."