Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bima Dan Sahla (2)


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, Sahla dan Bima pergi berdua. Mungkin bisa dibilang ini adalah kencan pertama mereka.


"Kita mau kemana Kak ?"


"Kita keliling saja, cari tempat yang sekiranya bagus untuk usaha kita nanti," ucap Bima.


Ada perasaan yang menggelitik di hati Sahla, saat Bima mengucapkan kata 'usaha kita'. Seperti sebuah pernyataan bahwa tidak akan ada lagi milik aku atau milik kamu, yang ada kini milik kita, milik bersama.


Cukup lama mereka berkeliling, namun mereka tak menemukan yang sesuai harapan mereka. Hingga tak terasa matahari telah sampai di atas kepala.


"Kita makan siang dulu ya." Bima mengajak Sahla ke sebuah tempat makan sederhana. Tempatnya begitu asri dan ada beberapa kolam ikan hias, menambah keindahan tempat tersebut.


Bima dan Sahla memilih tempat dekat kolam ikan. Ada kesenangan tersendiri bila melihat ikan-ikan yang berwarna-warni berenang. Seperti sedang memamerkan keelokan tubuhnya.


"Mau makan apa ?" Tanya Bima pada Sahla yang duduk di sebelahnya. Sengaja Bima tak duduk berhadapan dengan Sahla, agar tak ada jarak di antara mereka. Seperti halnya orang yang sedang pdkt pada orang yang disukainya. Dan memang benar adanya, bahwa Bima telah jatuh hati pada Sahla sejak pertama kali melihatnya. Dan ternyata takdir berpihak padanya. 


"Gimana Kakak saja. Sahla suka apa saja."


Bima memesan ikan bakar dan sop iga sapi. Makanan kesukaannya. Dan es teh manis sebagai minumannya.


"Kamu jadi berhenti kerja?" Tanya Bima, sembari menunggu pesanannya datang.


Sahla mengangguk. " Iya Kak. Tadi pagi sudah mengirim pesan pengunduran diri ke atasanku."


"Syukurlah, jadi kamu tak usah berangkat lagi ke sana."


"Iya."


Dan akhirnya pesanan yang dinantikan datang juga. Sop iga dan ikan bakar. Bima menyendokan daging ikan bakar untuk Sahla.


"Makanlah." Ucap Bima.


"Tak usah repot-repot Kak, nanti aku ambil sendiri."


"Tidak apa-apa. Makanlah." 


Sahla mengangguk, tak bisa menolaknya.


"Makan sop nya juga." Lalu Bima menaruh mangkuk sup di tengah-tengah mereka. "Tak apa-apa kan semangkuk berdua ?"

__ADS_1


Sahla tersedak.


"Pelan-pelan makannya." Ucap Bima sambil menyodorkan minuman untuk Sahla.


"Ayo lanjutkan makannya. Sepertinya kamu tak terbiasa makan sambil ngobrol," lanjut Bima.


Sahla hanya bisa diam, tak membalas sama sekali. Ia tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Meski sudah menjadi suami istri, tapi rasa canggung masih menguasai hatinya. Mungkin karena pernikahannya terlalu tiba-tiba, tanpa saling mengenal satu sama lainnya. Dan akhirnya mereka makan dalam diam. Tapi sesekali Bima melirik Sahla. Ia sangat gemas melihat Sahla yang hanya diam dan berbicara saat ditanya saja. Bima tidak tahu bagaimana caranya agar ia dan Sahla bisa leluasa ngobrol tanpa adanya penghalang apapun.


Selesai makan mereka langsung kembali ke rumah. Selama di perjalanan, mereka saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasananya semakin canggung. Membuat Sahla tak berani bersuara, bahkan seandainya bisa, napas pun jangan sampai terdengar.


Dan suasana itu, memang sengaja Bima ciptakan. Ia ingin tahu sejauh mana Sahla bisa bertahan dengan seseorang yang pendiam. 


Sampai rumah, Bima langsung masuk ke dalam kamarnya. Tanpa sepatah kata pun. Sikapnya membuat Sahla semakin tak karuan. Sahla merasa Bima marah padanya. Ia pun menyusul Bima ke kamar. Dan ternyata Bima sedang berbaring di atas tempat tidur dengan menghadap ke tembok.


Sahla menghampiri Bima, dan memandangnya cukup lama. Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut Sahla, hanya terdengar suara helaan nafasnya saja.


Sebenarnya Sahla merasa heran dengan sikap Bima yang tiba-tiba berubah seperti itu. Tiba-tiba cuek dan mendiamkannya. Namun ia sendiri tidak tahu apa salahnya hingga Bima bersikap seperti itu. Sahla hendak membangunkan Bima, namun hatinya ragu. Takut Bima semakin marah bila diganggu istirahatnya. Jadi Sahla mengurungkan niatnya. Dan akhirnya ia pun duduk di kursi, sambil memandang Bima yang berbaring membelakanginya. 


Menunggu seseorang tidur tanpa melakukan apapun, membuat Sahla mengantuk. Rasa kantuknya terus menguasainya. Karena memang semalam ia tak bisa tidur nyenyak. Akhirnya Sahla tertidur di kursi dan kepalanya bersandar pada meja di depannya.


Bima yang sedari awal tidak tidur, hanya berbaring saja. Tak mendengar pergerakan dari Sahla. Ia pun bangun, dan mendapati Sahla ternyata tertidur di kursi. Tak tega melihat istrinya tidur di kursi, Bima memindahkan Sahla ke atas tempat tidur dengan perlahan. Takut Sahla terbangun.


Kali ini Bima yang memandangi wajah istrinya. Ingin mengusap wajahnya, namun ia tak berani melakukannya. Ia tidak ingin menjadi seorang pencuri, mengambil kesempatan tanpa seijin pemiliknya. Bima memutuskan keluar kamar, ia takut tak bisa mengendalikan diri lagi.


"Mungkinkah Kak Bima yang memindahkanku ke sini," gumam Sahla.


Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. 


"Sudah bangung ?" Tanya Bima masuk ke dalam kamar dan mendapati Sahla sudah bangun.


Sahla tak menjawab, ia terus memandangi Bima yang sudah berpakaian rapi, seperti hendak  bepergian.


"Sudah memandangnya ?" Sekali lagi Bima bertanya, membuat Sahla gelagapan.


"Ayo bangun, mandi dan bersiaplah. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat." Tanpa menunggu jawaban dari Sahla, Bima keluar dari kamarnya.


Sahla mengernyitkan dahi dan akhirnya tersenyum. Heran sekaligus lega, karena sepertinya Bima sudah kembali seperti yang ia kenal.


Tak ingin Bima menunggunya lama. Sahla bergegas ke kamar mandi. Setelah ritual mandi selesai, Sahla langsung bersiap. Tak lupa shalat ashar terlebih dahulu.

__ADS_1


Sahla mengenakan gamis berbahan katun berwarna hitam polos, dipadukan dengan kerudung pashmina berwarna mocca.  Setelah dirasa cukup dengan penampilannya, Sahla keluar dari kamarnya. 


"Aduh cantiknya menantu Ibu. Mau kemana ?" Tanya Ibu melihat Sahla keluar dari kamarnya. Tak berbeda jauh dengan Ibunya, Bima pun terkesima dengan Sahla. Meskipun tak bermake up, Sahla tetap cantik dengan wajah naturalnya.


"Nggak tahu Bu, tadi Kak Bima yang ngajakin keluar," jawab Sahla sedikit malu-malu.


Bu Ratih tersenyum, ia hanya ingin sedikit menggoda menantunya, karena ia tahu bahwa anak dan menantunya akan pergi ke suatu tempat. 


"Bu, sepertinya kita tidak akan pulang." Bisik Bima pada Ibunya.


"Baiklah, ibu paham." Jawab Bu Ratih.


Setelah berpamitan pada Bu Ratih, Bima dan Sahla langsung pergi dengan motor yang Bima beli tadi pagi. Seperti biasa, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Padahal, perjalanan mereka cukup jauh, hampir 1 jam perjalanan yang mereka tempuh. 


Sahla terlihat kedinginan setibanya mereka di tempat yang Bima tuju. Dengan jalan yang terus menanjak, dan pemandangan sawah, ladang dan perkebunan. Mereka berakhir di tempat wisata perkemahan di kaki gunung. 


"Lain kali pakai jaket kalau mau bepergian." Ucap Bima, sambil memakaikan jaketnya pada Sahla.


Sahla jengkel sekaligus terharu. Jengkel karena perkataan Bima barusan, dan terharu karena sikap Bima barusan.


"Kakak tidak bilang kita mau pergi kemana." Jawab Sahla.


"Sini tanganmu." Ucap Bima sambil mengulurkan tangannya.


"Buat apa?" Tanya Sahla tak mengerti.


Tiba-tiba saja Bima langsung mengambil tangan Sahla dan menggenggamnya. Sahla terkejut, tapi ia membiarkannya saja.


"Tangan kamu dingin. Biarkan begini saja." Ucap Bima menggenggam erat tangan Sahla. 


"Tempat apa ini Kak ?" Tanya Sahla.


"Tempat kemping. Indah kan. Apalagi kalau malam hari."


Sahla mengangguk. Ia juga mengakui bahwa pemandangan disini sangat bagus. Melihat perkampungan dari tempat yang tinggi sangat menakjubkan.


"Ayo, kita harus cari tenda dulu, sebelum keduluan orang lain," ajak Bima.


"Tenda? Buat apa?"

__ADS_1


"Kita akan bermalam disini?"


"Apa?"


__ADS_2