
"Sepertinya teman Kakak begitu penting ?"
Bima seperti mendapat tamparan mendengar pertanyaan Sahla, lalu ia menoleh pada Sahla. Tapi Sahla langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin bersitatap dengan suaminya.
"Kakak sudah terlanjur berjanji padanya."
"Tanpa memikirkan keadaan kita yang sedang terkena musibah ? Bahkan Kakak belum melaporkan masalah Ari kepada polisi." Sahla langsung menyambar ucapan Bima.
Bima menyugar rambutnya frustasi. "Maaf Dek…"
"Tunggu-tunggu…" Sahla memotong Bima yang sedang berbicara. "Dari semua perkataanmu, kenapa aku merasa Kakak akan pergi lama ?" Ucap Sahla, menatap tajam suaminya.
Bima menelan salivanya. Ia bingung bagaimana menceritakannya.
"Sebenarnya teman Kakak membutuhkan bantuan apa ?" Tanya Sahla lagi.
"Adiknya mengalami depresi, dan mengingatkanku kepada Dira. Kakak kasihan, dan ingin sedikit membantunya." Sengaja Bima tidak menceritakan secara detail, ia tidak ingin Sahla terluka karena cemburu kalau tahu adik yang dimaksud adalah mantan kekasihnya.
Sahla terdiam, ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Bagi Sahla, alasan Bima terdengar tidak masuk akal di tengah keluarganya yang sedang dilanda musibah. Kenapa harus menyampingkan masalah sendiri demi menyelesaikan masalah orang lain ? Sahla tidak habis pikir dengan pemikiran Bima. Apa Bima terlewat baik ?
"Untuk masalah Ari, Kakak akan meminta bantuan teman Kakak itu. Dia pasti akan membantu kita." Ucap Bima sedikit memberikan ketenangan pada istrinya.
Sahla menghela nafas. "Baiklah." Tanpa berbicara lagi, Sahla langsung berbaring membelakangi Bima, setelah sebelumnya menyimpan kembali uang dan buku tabungan ke dalam lemari.
Bima hanya bisa menatap Sahla begitu saja. Ia juga tak mengeluarkan sepatah katapun. Demi menghindari perdebatan yang tidak diinginkan. Lalu ia ikut berbaring menghadap Sahla, dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Tak ada penolakan. Bima merasa lega, karena itu artinya Sahla tak benar-benar marah padanya.
***
"Bima!"
"Bima! Mana Bima ?"
Suara teriakan Raina yang begitu tiba-tiba, membangunkan Reno yang tengah tidur di sofa kamar Raina.
Reno bergegas menghampiri sang adik yang tengah bingung mencari Bima.
"Raina tenanglah." Reno langsung memeluk adiknya, memberikan ketenangan kepada adiknya.
"Aku melihat Bima di sini. Mana Bima Kak?" Tanya Raina. Rupanya kali ini ia bangun dalam keadaan sadar.
"Besok ya kita bertemu Bima."
Raina menggelengkan kepalanya lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Aku yakin, tadi Bima ada di sini."
"Iya kamu benar, memang tadi ada Bima di sini."
__ADS_1
"Sekarang mana Bima ? Aku merindukannya."
"Bima pulang ke rumahnya, besok dia akan kesini lagi menemuimu."
Mata Raina langsung berbinar. "Benarkah dia akan kesini ?"
"Tentu saja. Dia akan menemuimu."
Tiba-tiba saja Raina melihat keadaan dirinya sendiri. "Aku harus ganti baju, aku harus berdandan cantik. Aku tidak ingin Bima melihatku seperti ini. Oh! Aku harus mandi terlebih dahulu."
Reno tersenyum, namun dalam hatinya ia menangis melihat adiknya seperti itu. "Raina, sebegitu besarkah rasa cintamu pada Bima ? Hingga melebihi cinta pada dirimu sendiri." Ucapnya dalam hati.
"Raina sayang, ini masih gelap. Kamu tidurlah kembali." Ucap Reno sambil membelai kepala Raina.
"Tidak Kak. Aku tidak mau tidur, aku akan menunggu Bima."
"Lihatlah, ini masih jam 1 pagi. Bima pun masih tidur." Reno berusaha membujuk Raina agar mau tidur kembali.
"Aku tidak mau tidur, aku harus mempersiapkan diri untuk bertemu Bima." Raina masih bersikeras dengan keinginannya.
"Baiklah." Reno pun akhirnya mengalah, menuruti keinginan adiknya. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan sambil menunggu Bima datang ?"
"Kak, Hpku mana ?"
"Buat apa ?" Tanya Reno heran. Entah kemana Hp milik Raina. Ketika ditemukan, ia sudah tak memilik Hp, entah hilang entah dicuri. Dan semenjak itu, Raina tak pernah memegang Hp. Bahkan ia tidak pernah menanyakan perihal Hp miliknya. Dan Reno pun tak pernah membelikannya lagi, karena melihat kondisi Raina yang labil.
Reno menghela nafas, ia sedikit meringis. Karena hal itu tidak mungkin ia wujudkan. Vila yang ia tinggali jauh dari rumahnya yang berada di luar kota ini. Dan Raina tidak tahu akan hal itu.
"Kak!"
"Biar Kakak yang menghubunginya. Kamu diamlah dulu di sini."
Raina mengangguk dan tersenyum bahagia.
Reno beranjak dari duduknya, lalu mengambil Hp yang ia simpan di atas meja samping sofa tempat ia tadi tertidur.
Begitu lama Reno memandangi Hpnya, ia sedang berpikir siapa yang harus ia hubungi. Sesekali ia menoleh pada Raina. Dan ternyata Raina terus memperhatikan Reno dengan senyum yang begitu merekah.
Lalu Reno keluar kamar dan memanggil seseorang lewat Hpnya.
"Tuan. Ada apa ?" Tanya laki-laki yang kemarin membawa Bima kesini.
"Edo, tolong carikan salon yang bagus di kota ini, dan suruh ke sini." Titah Reno.
"Sekarang Tuan ?" Tanya Edo ragu.
__ADS_1
"Iya sekarang."
"Tapi Tuan, semua salon pasti masih tutup jam segini."
"Aku tahu, makanya aku menyuruhmu untuk mencarinya. Carilah kemanapun dan jangan kembali sampai kalian dapatkan orangnya."
Edo mematung. Ia bingung harus mencarinya kemana.
"Kamu harus dapatkan orangnya. Aku tidak inging mengecewakan Raina. Mengerti ?"
"Baik Tuan." Ucap edo dengan terbata.
"Bawa anak buahmu juga. Terserah kamu mau bawa berapa. Aku beri waktu 2 jam."
"Apa ? Tapi, itu mustahil dilaksanakan Tuan. Dari sini ke kota saja membutuhkan waktu satu jam, itu pun kalau kita ngebut."
"Aku tidak mau tahu. Cepat pergi."
"Baik Tuan." Lalu Edo pun undur diri.
Reno menghela nafas panjang. Setidaknya dia sedikit lega karena ada anak buahnya yang mencari salon.
"Bagaimana Kak ?" Tanya Raina saat Reno masuk ke kamar dan menghampirinya.
"Tenang dan tunggu saja. Mereka sedang di perjalanan." Jawabnya.
"Waw cepat sekali Kakak menghubunginya, mereka sudah dalam perjalanan saja. Kakak memang hebat."
Reno terdiam mendengar ucapan Raina. Ia memaksakan untuk tersenyum. Kenapa Raina berpikir seperti itu ? Padahal yang Reno maksud adalah anak buahnya yang sedang berjalan mencari salon, bukan orang salon yang berjalan ke sini.
"Semoga mereka cepat menemukannya." Gumam Reno. Ia sedikit khawatir Raina akan terus bertanya jika salon yang dipesannya tidak kunjung datang. Mengingat jarak dari villa ini ke kota lumayan jauh, dan belum lagi mencari salonnya. Pastinya akan membutuhkan waktu yang lama.
***
"Nasib, nasib jadi anak buah. Harus selalu menuruti kemauan majikannya. Meskipun hal yang sulit didapat." Edo terus menggerutu sejak meninggalkan kamar adik Tuannya.
"Bangun! Bangun! Ada tugas dari si Bos." Edo membangunkan rekan kerjanya yang berjumlah 9 orang.
"Tugas apa Bang ? Ini baru jam 1 pagi." Jawab salah satu dari mereka ketika mereka melihat jam yang menempel di dinding.
"Jangan banyak omong. Cepat bangun, cuci muka kalian dan lekas berkumpul disini." Edo dengan tegas memerintahkan mereka. Melihat wajah yang begitu serius, mereka langsung melakukan apa yang diperintahkan Edo. Perlu diketahui juga, Edo adalah ketua dari mereka semua.
"Ada tugas yang harus kita selesaikan sekarang juga." Ucap Edo saat mereka sudah berkumpul.
"Kita harus mencari orang yang bekerja di salon, lalu membawanya kesini. Waktu kita hanya 2 jam." Ucap Edo.
__ADS_1
"Maksudnya salon kecantikan Bang ?" Tanya salah satu dari mereka.
"Kurang lebih seperti itu. Ingat, ini semua demi Nona."