Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 30


__ADS_3

"Ari sudah merampok semua isi warung."


"Ari teman kamu yang bekerja di warung ?" Tanya Bu Ratih memastikan. Bima mengangguk lemas, kepalanya masih terasa pusing. Ia mencoba kembali memijit pelipisnya.


"Astaghfirullah… innalillahi wa innailaihi raji'un." Bu Ratih mengusap-usap dadanya yang mendadak terasa sesak. Ada berbagai pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tapi ia urungkan karena melihat anaknya seperti tak berdaya.


"Bima ke kamar dulu." 


Bu Ratih mengangguk. Ia memandang iba pada anaknya. Tak kuasa air matanya meluncur bebas membasahi pipi.


Bima masuk ke dalam kamar, tak lupa ia mengunci pintu. Ia tidak ingin memperlihatkan sisi terlemahnya di hadapan Sang Ibu, karena tidak ingin membuatnya khawatir.


Bima kemudian berbaring dan menutup mata dengan lengan kanannya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Ucapnya lirih. "Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Ucapnya lagi.


***


"Assalamualaikum. Rat… Ratih…" terdengar suara Bu Marni memanggil. Bu Ratih yang sedang melamun di dapur, langsung tersentak mendengar namanya dipanggil. Ia buru-buru mengusap wajahnya dengan tangan. Menghapus sisa-sisa air matanya.


"Iya, sebentar!" Jawab Bu Ratih sembari bangkit dan berjalan ke ruang tamu.


"Ratih… aku dengar Bima dirampok ? Apa benar ?" Tanpa basa basi Bu Marni bertanya tentang kebenaran kabar tersebut.


"Masuk dulu, Mar." Lalu Bu Ratih mengajak Bu Marni ke dapur dan duduk di meja makan.


"Kita bicara disini saja." Ucap Bu Ratih.


Bu Marni mengangguk. "Jadi, apa benar kabar tersebut ?"


"Kamu tahu dari mana?"


"Tentu saja dari orang yang mampir ke warung."


"Cepat sekali beritanya menyebar." 


"Jadi benar Bima telah dirampok!"


Bu Ratih mengangguk pelan. 


"Ya Allah… bagaimana ceritanya Ratih ?" Tanya Bu Marni mulai histeris.


Bu Ratih hanya menggeleng. "Aku juga tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa." 


"Sekarang Bima dimana ?"


"Ada di kamarnya. Setelah pulang dari warung, dia hanya berkata bahwa Ari telah merampok semua isi warung."


"Ari ?! Benar-benar ya itu orang. Dia orang mana Rat ?" Tanya Marni sambil menahan emosi.


"Tidak tahu. Emangnya kamu mau ngapain ?"


"Kita labrak dia ke rumahnya. Lalu kita hajar ramai-ramai."

__ADS_1


"Istighfar, Mar."


"Astaghfirullah… aku geram sekali sama yang namanya Ari, tega sekali tuh orang. Sudahlah menjebak Bima sekarang merampok lagi." Bu Marni terlihat geram. 


"Sabar Mar. Jangan gegabah seperti itu. Lagian dia pasti tidak ada di rumahnya."


Bu Marni menghela nafas. "Aku kesal kalau hanya berdiam diri saja, Rat."


"Kita tunggu Bima dulu. Mungkin Bima sudah punya rencana kedepannya seperti apa."


"Baiklah."


"Sahla bagaimana sekarang ? Aku belum sempat menjenguknya hari ini." 


"Dia sudah lumayan membaik. Mungkin masih butuh waktu sedikit lagi untuk mau menerima dan memaafkan Bima."


"Syukurlah. Biarkan Sahla di rumahmu dulu, sampai masalah ini terselesaikan. Kasihan Sahla, jangan terlalu banyak pikiran."


Bu Marni mengangguk. "Kamu benar Rat, lebih baik kita tidak memberi tahu masalah ini padanya."


***


Seharian Bima tak keluar sama sekali dari kamar. Bu Ratih sangat mengkhawatirkannya. Sudah beberapa kali Bu Ratih memanggil Bima untuk makan. Tapi tak ada respon sama sekali dari Bima.


"Bima…" Bu Ratih mencoba lagi memanggil Bima setelah ia menyelesaikan shalat magrib.


"Bima… makan dulu. Seharian kamu belum makan." Bu Ratih mencoba membujuk Bima.


"Bima. Jangan buat ibu khawatir. Tolong, bukalah pintunya." Namun masih tak ada pergerakkan dari dalam.


Bu Ratih berjalan bolak-balik di depan pintu kamar Bima. Raut wajahnya benar-benar menyiratkan ia sedang sangat khawatir. 


Lalu tiba-tiba saja ia teringat akan Sahla. Buru-buru ia pergi ke rumah Sahla.


"Assalamualaikum. Mar.. Mar.."


Tak begitu lama Bu Marni membukakan pintu.


"Ratih ? Ada apa ?" Bu Marni terkejut dengan kedatangan Bu Ratih dengan wajah yang terlihat gelisah.


"Bima, Mar. Pulang dari warung, belum keluar sama sekali. Bahkan makan pun tidak."


"Astaghfirullah… Ayo masuk dulu." Bu Marni mengajak Bu Ratih masuk ke dalam rumah.


"Aku khawatir terjadi apa-apa pada Bima." Ucap Bu Ratih.


"Ibu. Ada apa Bu ?" Tanya Sahla saat keluar dari kamarnya. Ia langsung keluar saat mendengar suara Ibu mertuanya yang terdengar gusar.


"Tolong Ibu, Neng." Bu Ratih menghampiri Sahla.


"Ada apa, Bu ?" 

__ADS_1


"Bima tidak keluar dari kamarnya dari pagi. Bahkan ia mengabaikan makan dan minum."


"Astaghfirullah… kenapa bisa begitu, Bu ? Apa yang telah terjadi ?"


Bu Ratih dan Bu Marni tercekat, mereka hanya terdiam. Bingung mau menjelaskannya seperti apa.


"Kita dobrak saja pintunya." Ucap Bu Marni mengalihkan perhatian Sahla.


"Bu, sebenarnya Kak Bima kenapa sampai mengurung diri di kamar ?" Tanya Sahla lagi. Ia merasa sedikit kesal karena kedua Ibunya mengacuhkan pertanyaannya.


"Sudahlah, labih baik kita bergagas ke rumah suamimu saja. Dan bujuk Bima keluar." Bu Marni sedikit menyeret Sahla untuk ikut ke rumah Bu Ratih.


Sahla hanya bisa diam menuruti perkataan Ibunya tanpa bisa sedikitpun menolak. Tentu saja tidak bisa menolaknya, karena dalam hatinya ia begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya.


Degup jantung Sahla tiba-tiba saja berdetak kencang saat memasuki kembali rumah Bima.


"Ayo Neng! Bujuk Bima agar keluar." Titah Bu Marni setelah tiba di depan kamar Bima. Sahla pun mengangguk pelan. 


Tok… tok…tok…


Sahla mengetuk pintu. Lalu Sahla menelan salivanya sebelum memanggil Bima.


"Kak… Ini Sahla."


"Iya, Kakak tahu kamu Sahla."


Ketiga wanita itu terkejut dan saling pandang. Karena suara Bima terdengar sangat jelas di telinga mereka.


"Jangan kaget begitu. Aku bukan hantu." Lanjut Bima berjalan menghampiri mereka.


Sontak ketiganya menengok ke arah sumber suara.


"Ya Allah Bima. Akhirnya kamu keluar juga." Bu Ratih langsung menyambar anaknya dan memeluknya erat.


"Badanmu panas sekali, Nak." Bu Ratih merasakan suhu yang panas pada tubuh Bima saat memeluknya. Lalu meraba wajah Bima.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit demam."


"Tidak apa-apa bagaimana. Lihat saja badanmu panas begini." Ucap Bu Ratih dengan suara yang sedikit keras.


Bu Marni pun menghampiri Bima dan memegang dahinya. "Iya, badanmu panas Bima. Lebih baik kita ke dokter saja." 


"Tidak apa-apa Bu, Bima minum obat yang ada saja. Nanti juga sembuh. Apalagi sekarang sudah ada Sahla yang mengurus. Ya kan, Dek?"


Tiba-tiba saja Sahla terbatuk. Dari tadi ia hanya diam memperhatikan saja. Entahlah apa yang ia rasakan sekarang terhadap suaminya. Ia sendiri masih bingung. Meski sudah memaafkan namun ia masih belum bisa melupakan perbuatannya. Dan jujur saja, ia pun rindu kepada suaminya, tapi ia malu untuk mengakuinya. Entahlah, Sahla masih bingung dengan perasaannya sendiri.


"Dek?" Panggil Bima.


"Aku mau pulang." Tiba-tiba saja Sahla mengatakan itu. Ia sendiri kaget dengan ucapannya. Dan melihat ekspresi suami dan kedua Ibunya yang terkejut, karena tidak menyangka dirinya akan meminta pulang. Sahla merasa sedikit bersalah. Memang tak seharusnya ia pulang, terlebih lagi suaminya dalam keadaan sakit. Namun Sahla tak mau meralat perkataannya, karena ia masih ingin menunjukkan bahwa ia masih marah pada Bima, meskipun hatinya telah memaafkan. Sahla langsung membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Sahla! Kamu tidak kasihan melihat suamimu sakit seperti ini ?"

__ADS_1


__ADS_2