
Bima berjalan menuju rumah Sahla. Ia begitu gugup namun rasa penasarannya lebih besar. Ia berharap dugaannya meleset.
Setelah terlihat dekat rumah Sahla. Bima berhenti. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Mencari tempat persembunyian yang strategis. Akhirnya Bima mendapatkan tempat persembunyian yang cukup bagus. Yaitu rumah yang tepat berada di depan rumah Sahla. Dan kebetulan rumah itu dalam keadaan kosong. Sudah cukup lama ditinggalkan pemiliknya.
Bima perlahan mendekati rumah tersebut. Matanya tetap mengawasi orang di sekitar rumah. Ia takut tindakannya diketahui orang lain. Setelah cukup lengang, Bima segera masuk dan bersembunyi di balik pagar rumah tersebut.
Bima mengeluarkan Hp dari saku jaketnya. Lalu mengirimkan pesan singkat ke nomor pengirim video tersebut.
"Cepatlah datang. Aku sudah menunggumu."
Tring.
Tak butuh waktu lama, pesan balasan masuk.
"Tunggulah sebentar lagi, masih dalam perjalanan ke rumahmu."
Bima tersenyum puas. Rencananya berjalan dengan lancar.
"Sebentar lagi aku akan tahu siapa dalang dari ini semua." Lirihnya.
Suara deru motor memasuki pekarangan rumah Sahla dan berhenti tepat di depan rumahnya.
Bima mengamati dengan seksama orang yang mengendarai motor tersebut.
Bima memicingkan matanya dan dadanya bergemuruh dengan kencang. Bima menghela nafas panjang, mengendalikan dirinya agar tak tersulut emosi sebelum benar-benar yakin orang itu adalah yang ia maksud.
"Ari. Jadi benar kamu orangnya. Aku tidak akan memberi ampun." Lirihnya.
Terlihat Ari turun dari motornya, dan langsung mengetuk pintu rumah Sahla. Dan tak lama kemudian, Bu Marni membukakan pintunya.
"Kamu! Mau apa kamu kemari lagi ?" Tanya Bu Marni ketus.
"Putri Ibu yang memintaku kesini ?"
"Sahla ? Untuk apa Sahla menyuruhmu datang ?"
"Ibu bisa tanyakan langsung ke anak Ibu."
Bu Marni masuk ke dalam rumah, sementara Ari masih menunggu di luar.
"Neng!" Panggil Bu Marni saat masuk ke dalam kamar Sahla. Sahla yang tengah mengaji, berhenti dan menengok ke arah Ibunya.
"Neng, kamu menyuruh laki-laki itu datang kesini ?" Tanya Bu Marni.
"Laki-laki siapa, Bu ?" Tanya Sahla heran.
"Yang tadi pagi datang kesini. Sekarang ada di luar. Katanya kamu yang menyuruhnya untuk datang kesini."
__ADS_1
"Sahla gak ada omongan apa-apa ke dia sebelum pulang, Bu."
Bu Marni mulai sedikit geram, karena ia merasa dibohongi.
"Ayo Neng! Kita temui dia."
Bu Marni keluar dari kamar diikuti Sahla dibelakangnya.
"Kamu itu tukang bohong ya! Anak saya tidak menyuruhmu datang kesini." Ucap Bu Marni dengan kesal.
"Saya tidak bohong. Anak Ibu yang ingin bertemu saya dan memintaku datang kesini."
Sahla merasa heran, karena ia tidak merasa menyuruhnya. "Maaf! Mungkin kamu salah orang. Saya tidak merasa memintamu datang kesini."
Lelaki itu mengambil Hp miliknya, dan memperlihatkan pesan yang ia maksud. "Lihat! Ini benar nomor kamu kan ?"
Sahla melihat dengan jelas, memang benar itu adalah pesan dari nomornya. "Apa mungkin Kak Bima yang mengirimnya ?" Batin Sahla.
"Iya, ini memang nomorku. Tapi Hpnya saya tinggalkan di rumah mertua saya."
Lelaki itu terlihat terkejut mendengarnya. Dia mulai menyangka siapa yang mengirimnya pesan.
"Aku yang menyuruhmu kesini, Ari." Ucap Bima yang sontak mengagetkan mereka bertiga. Bima keluar dari persembunyiannya. Ia merasa saat ini adalah waktu yang pas buat ia keluar.
"Kenapa Ari ? Kaget ?" Tanya Bima lagi.
"Aku tidak menyangka kamu melakukan itu padaku."
Ari hanya bisa diam, ia terus memutar otaknya agar bisa segera pergi dari sini.
"Neng! Panggil Bapak sebentar kesini. Ibu takut terjadi keributan." Ucap Bu Marni pelan.
Sahla langsung menjalankan perintah Ibunya. Ia masuk ke dalam rumahnya menuju warung tempat ayahnya berjualan. Hanya melewati pintu ruang tengah, Sahla sudah berada di warung.
"Pak! Ikut Sahla sebentar." Tanpa basa basi Sahla langsung menarik tangan ayahnya. Beruntung warung sedang tidak ada pelanggan.
"Ada apa Neng! Ngomong aja langsung disini. Takut ada yang beli." Pak Edi mencoba menolak ajakan Sahla.
"Ada hal gawat, Pak."
Merasa penasaran hal gawat apa yang sedang terjadi, Pak Edi akhirnya mengikuti Sahla.
Terdengar percakapan dari arah depan rumah.
"Kenapa kamu melakukan itu kepadaku ? Apa salahku padamu ?" Bima bertanya sekali lagi pada Ari dengan suara yang lebih keras. Ia sudah mulai kesal pada Ari, namun sebisa mungkin mengendalikan diri untuk tidak memukulnya.
"Aku hanya kasihan kepada istrimu, itu saja. Apa aku salah ?" Ari mencoba sebisa mungkin mengelak.
__ADS_1
Bima malah tertawa. "Kasihan kepada istriku ? Kenapa ? Kamu suka ?"
Ari terkesiap, matanya sedikit membesar. Tidak menyangka Bima berkata seperti itu.
"Ada apa ini ?" Tanya Pak Edi. Namun tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
"Bima! Ada apa ini ?" Tanya Pak Edi lagi. Lalu Pak Edi beralih menatap Ari, memperhatikannya dengan seksama.
"Dan kamu! Ada perlu apa kesini ?" Tanya Pak Edi lagi.
"Lebih baik kita selesaikan masalah ini di dalam." Bu Marni mengajak semuanya masuk ke dalam. Ia tidak ingin masalah ini menjadi ramai terdengar ke luar.
"Silahkan duduk!" Ucap Bu Marni. Setelah mempersilahkan duduk kepada semuanya, Bu Marni pergi ke belakang, diikuti Sahla anaknya.
Setelah semuanya duduk dan lebih tenang. Pak Edi langsung memulai pembicaraannya.
"Jadi apa permasalahannya ? Ada yang bisa jelasin?" Tanya Pak Edi.
Namun lagi-lagi tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
"Baiklah, Bima kamu bisa bicara lebih dahulu." Ucap Pak Edi.
"Bapak pasti sudah tahu permasalahan aku dan Sahla. Dan dia adalah biang keroknya." Ucap Bima sambil menunjuk Ari.
"Saya tidak tahu apa-apa. Kenapa saya yang disalahkan ?" Sela Ari.
"Kamu yang menaruh sesuatu di minuman yang kamu beli kan ?"
Ari gelagapan. "Tidak!" Ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Jangan asal menuduh!" Lanjut Ari.
Bima menatap tajam Ari, "Jangan mengelak lagi! Cepat akui saja perbuatanmu!"
"Sabar, Bima! Coba kamu ceritakan yang sejelas-jelasnya, dan kenapa bisa sampai menuduh dia." Pak Edi mencoba menenangkan Bima. Ia juga ingin mendengar cerita dari sisi Bima.
Lalu Bima menceritakan semua kejadiannya, dari awal ia ikut reuni sampai dengan rencana menangkap basah Ari di sini.
"Dari yang Bapak dengar, sepertinya memang ada orang yang sengaja menjebakmu." Ucap Pak Edi. Bima sangat lega karena Pak Edi bisa memahami kejadiannya dan sepemikiran dengannya.
Sementara Ari yang menjadi tersangka utamanya terlihat gelisah. Lalu Pak Edi menatap kepada Ari.
"Benar kamu yang melakukannya seperti yang Bima duga ?"
Ari menelan salivanya, tidak tahu harus menjawab apa. "S**l! Aku harus segera pergi dari sini." Batinnya. Matanya terus memandang ke segala arah, mencari celah agar ia bisa kabur dari sini.
Kemudian saat Bima dan Pak Edi terlihat lengah, Ari langsung bangkit dan lari secepat mungkin. Sontak Bima Dan Pak Edi kaget.
"Ari!"
__ADS_1